Chapter 41

-Dua chapter ini terinspirasi dari oka dara prayoga——————————–

    Akhirnya mata itu dapat melihat bola mata hitam yang begitu indah.

    730 hari, 17520 jam boleh berlalu. Namun seberapa banyak detik yang telah datang perlahan melebur bersama jarum menit dan jam melewati semua sang hari, bercinta panas bersama kesunyian menuju tahun. Tatapan itu tetap dapat menjinakkan rindu yang begitu beringas dihati. Tatapan itu membuat debar di dada yang rasanya seperti baru pertama jatuh cinta pada mata itu.

    Udara bagaikan membekukan detik yang berirama. Dingin angin menerbangkan angan tentang kerinduan yang tak berkesudahan. Bahagia terlalu mudah, hanya dengan tak sengaja menatap mata itu. Namun sedih terlampau lasuh, melihat api itu masih ada. Tanpa sengaja racun dari tatapan Jasmine tertelan oleh matanya. Rasa perih kembali berbisik manja. Kaki melangkah lemah ingin memeluk sosok yang menghunuskan pedang rindu. Namun malah dihunjam detik sendu saat melihat kaki itu melangkah mundur, sang pemilik rindu, mundur dengan tangan gemetar. Benedict menatap pilu, sosok itu seperti ketakutan menghindarinya.

       “Jasmine, kau baik-baik saja?” Tanya Peter melihat gadis itu kegelisahannya berlebihan. Tangan itu gemetaran. Tatapan kosong terus bergerak gugup. Tubuh itu gelisah, bibir bergetar seakan tersedak oleh kata-kata. Mengeluarkan keringat yang semakin lama semakin banyak. Tangannya gemetar aktif yang berlebihan.

“Mine, hey sweetheart” panggil Peter memegang kedua bahu gadis itu. Jasmine menoleh menatapnya. Tatapan itu ada gelisah tak terbendung.

Ia mendorong tubuh Peter, berjalan ke balik air mancur coklat buatan. Seperti anak kecil, meringkuk bersembunyi di samping meja yang penuh dekor coklat dari chef terbaik dunia, seperti ketakutan.

Peter mengkerutkan keningnya heran akan tingkah gadis itu. Namun ikut berjongkok dihadapannya. Menatap bingung akan perubahan suasana hati yang sangat amat ekstrim kekasihnya. Jasmine mengusap wajahnya dengan tangan terlihat jelas gemetaran. Peter menarik dua tangan itu. Meremas kuat sebagai tanda, bahwa ia ada. Tidak perlu takut akan apapun “Jasmine, Mine. Ka-kau kenapa?” tanya Peter semangkin cemas karena tatapan gadis itu begitu kosong seperti orang linglung.

     “Ta-s.. Ta” Jasmine kesulitan merangkai huruf membentuk sebuah kata. “Tasku Pet” Katanya seperti kepanikan. Ia tersadar bahwa tas- alias dompetnya di tangannya sendiri. Dengan tergesa-gesa ia membuka dompet itu dan mencari-cari isinya. Lipstik, dan beberapa dolar bertebaran akibat tangannya yang tak berhenti bergetar. Akhirnya ia menuangkan seluruh isinya dengan taksabar.

Merangkak mengejar butiran pil yang menggelinding hendak lari darinya.

Jasmine menerima gelas berisikan air yang di ambil Peter dari atas meja. Memasukkan tiga butir pil itu kedalam mulutnya. Namun sayang, perutnya memompa keluar semua air beserta pil itu. “Shit!” Desis Jasmine mengerang pedih di dada akibat muntah. Ia kembali mencari pil-pil yang ia butuhkan. Dan menegukknya cepat. Pil-pil itu mengenai dinding tenggorokan, terasa sakit.

     “Kau kenapa?” tanya Peter menahan nafas. Jasmine hanya diam, menumpukan kepalanya di tangan yang berpangku pada lutunya. Menggelengkan kepala seraya memejamkan matanya erat. Jantung berdebar-debar tidak nyaman akibat denyut jantung dengan kecepatan yang tidak wajar. Tubunya keringat dingin. Dadanya sakit, mendobrak agar air mata itu keluar. Peter menarik kepala gadis itu. Memaksa menatap wajahnya.

Namun menatap wajah itu membuat ia terdiam. Tatapannya pilu melihat mata Jasmine memerah dan mengeluarkan air itu bergerak cemas, namun tatapannya juga sungguh kosong. Itu bukan sebuah tangisan, namun rasa takut yang begitu berlebihan memaksa air mata itu keluar. “Sejak kapan kau mengosumsi obat antidepresan ini Jasmine?” Tanya Peter teriris perih melihat kondisi gadis itu yang begitu memprihatinkan.

     “Jasmine” panggil Peter bergetar, air matanya ingin menyeruak keluar. Sungguh tidak terima melihat sosok Jasmine yang jauh lebih menyedihkan dari pada Jasmine yang pendiam seperti memiliki dunianya sendiri. Peter menarik tubuh gadis itu dalam pelukannya. “Mine, apa yang membuatmu seperti ini” Tanyanya sedih.

Jasmine mendorong tubuh Peter lemah, hendak berdiri dengan bantuan menarik helai kain yang sebagai alas penuh coklat di atas meja. Namun tarikan itu mengakibatkan aneka macam bagunan-bangunan yang terbuat dari coklat itu seperti saling menimpa hingga semua hancur brantakan, lantai ber-permadani merahpun ikut berubah warna menjadi coklat.

Untung saja Peter lebih cepat menyembunyikan Jasmine di dalam jasnya. Air mancur buatan berisikan lava coklat yang setinggi dua meter itu pun ikut jatuh, menyiram seluruh tubuh Peter tak tersisah.

Peter memperbaiki posisinya. Menatap Jasmine yang tadi meringkuk dalam dekapannya. “Kau tidak apa-apa?” Tanya Peter cemas. Jasmine mengangguk takut menatap orang-orang yang melihat aneh menatapnya. “Tenanglah, kita akan pergi dari tempat ini” ucap Peter mencoba tersenyum lembut. Ia merengkuh tubuh gadis itu kegendongnya. Meninggalkan ruangan itu dengan mengabaikan seluruh mata menatap penuh tanya pada dua bintang besar itu.

Jasmine memeluk erat leher Peter. Di wajahnya yang bersembunyi ia dapat melihat Benedict yang duduk diam dikursinya, jantungnya yang bedebar sejak tadi menjadi terasa meledak, seperti sebuah petir yang menghunjam denyut jantungnya berupa rasa sakit saat begitu jelas melihat selang bening yang bertengker di dekat hidung pria itu.

Namun kemudian tatapnya bertemu pada bola mata abu-abu gelap milik Sergio. Ia memejamkan matanya erat. Tersedak akan tangsinya sendiri.

———–

Sergio, Nathaniel, Daniel dan Williams, 4 sahabat itu terdiam, frekuensi syok yang sama mereka rasakan. Dada terasa sesak. Seakan lupa cara bernafas, nafas seakan tercekat di pangkal tenggorokan. Seperti ada wajan besar menampari wajah mereka satu persatu, rasanya… rasanya sekedar untuk bergerakpun lupa caranya…. rasanya… tubuh itu mati rasa, hanya bola mata yang dapat bergerak seakan tidak percaya melihat kondisi Caudia Jasmine seperti itu, sungguh mengoyakkan jiwa perlahan-lahan.

Sempat memang beberapa kali paparazi menyebarkan gosip jika Claudia Jasmine depresi akut, gila. Karena tidak sekalipun gadis itu menghandiri penuntutan panjang yang dilayangkan Naya kepada Sergio. Hingga akhirnya pengadilan memberi keputusan jika 5 bilioner itu dilarang keras untuk mendekati Claudia Jasmine dalam radius 50 meter. Namun setiap gosip itu terbang, dengan seketika berhenti, seperti di hisap udara, tak nampak tanpa jejak. Dan terbantahkan sendiri dengan kesuksesan gadis itu mendepak Taylor Rybolovleva dari artis paling berpengaruh dan nomor 1 di dunia.

Benedict, dahi pria itu hanya bisa mengerut. Seperti menekan rasa yang teramat sakit di dalam diri. Topan badai menerpa arteri mengisi denyut nadi seraya mengetahui sang istri, disana, mentalnya tersakiti.

Matanya menatap kosong hidangan yang tersedia di meja. Mata itu bergerak lambat, menerka-nerka. Apa yang terjadi dengan istrinya. Apa yang membuat sosok itu ketakutan. Rahangnya mengeras sebagai tanda menggertakkan geraham kuat, amat kuat. Tangannya meremas kuat gelas tipis yang berisi anggur putih di hadapannya.

Remasan tangannya yang begitu kuat hingga mampu memecahkan gelas kaca itu dan mengoyak telapak tangannya. Tangannya semangkin meremas kuat. Pecahan beling semangkin menusuk ke dalam daging, buku-buku jemari yang awalnya memutih, kemudian mengalirkan darah kental. Cengkraman itu semangkin kuat…, semangkin kuat…. Tidak memperdulikan darah kental telah mngalir menyapa angur putih yang tersisah di dalam gelas.

Depresi merupakan gangguan mental mempengaruhi pikiran, perilaku, perasaan, dan kenyamanan. Kepanikan dan kecemasan yang berlebihan itu terlihat jelas bahwa Claudia Jasmine memiliki rasa cemas, sedih, dan kosong yang tidak dapat ia kendalikan.

Benedict memejamkan mata, rasa sakit begitu perih tak tertahankan melihat langsung derita gadis itu. Rasa pedih itu semangkin gagah. Membentur-benturkan dirinya ke dinding jiwa. Ia kembali meremas kuat gelas itu. Semangkin kuat hingga gemetar menampakkan denyut nadi. Cengkramannya semangkin kuat… semangkin kuat…. semangkin kuat. Berharap sakit di tangannya mampu menandingin luka di hati yang perih tak tertahankan.

Lagi-lagi bagaikan ada tangan yang begitu kejam menusukkan tombak besar ke ulu hati yang kecil, seraya ia mengetahui gadis yang ada di luar jangkauannya, bersedih. Seperti hujan belati menghunus pori-pori hati. Begitu sakit, amat sangat sakit hingga tak ada yang yang dapat mengerti rasa sakit yang ia tanggung.

Rasa itu jauh lebih mengerikan dari pada sakitnya tertembak di paru-paru. Amat sakit hingga Tuhan seperti sosok yang sangat kejam karena begitu tega memberi rasa sakit yang tak tertahankan.

Sebuah jarum yang tidak pernah berhenti menusuknya dengan ritme lemah, kini kembali beringas, kecepatan jarum itu lebih cepat bagaikan kecepatan petir menyambar. Jarum yang bahkan malaikat pun tak bisa hentikan itu terus menghunjam denyut jantungnya berupa rasa sakit. Sakit luar biasa, yang semuanya bermuara pada satu frasa.

    Rasa sesal.

    Rasa sesal yang tertumpuk

**********************

Miley dan Lauda memasuki apartemen Jasmine dan langsung disambut oleh kucing jantan kesayangan Jasmine. “Hey, liliot” sapa Lauda menggendong kucing berbulu lebat nan lembut itu.

     “Lilian” koreksi Miley

    “Whatever,” Lauda mendengus “Lil, where’s Your Mommy huh?” ia menanyakan Jasmine

    “Janet, dimana Jasmine?” tanya Miley pada Jenet, pelayan pribadi Jasmine di apartemennya.

        “Eum,” Janet terlihat ragu. “Di dia bersama nona Naya di kamarnya.”

Mendengar itu Lauda langsung hendak berbalik, membatalkan diri yang hendak memasuki kamar itu. Miley menarik rambutnya. “Mau kemana kau?”

    “Ti-tidak, hanya-“

    “Ayo” Miley langsung menarik Lauda yang hendak melarikan diri.

    “Tapi, Miley ka-kau tau aku Phobia terhadap orang gi-“

    “Dia tidak gila!!” bentak Miley sebelum sempat Lauda menyelesaikan ucapannya. “Dia hanya diselimuti depresi!!”

    “Miley, sadarlah. Kau hanya terlalu munafik untuk mengakui bahwa sahabatmu memang telah gi-“

    “No-nona” Janet menghentikan ucapan Lauda. Miley menoleh ke Janet. “A-apa jiwa yang sakit tidak dapat disembuhkan?” Tanya Janet menatap perih ke sahabat-sahabat tuannya.

Miley melangkah cepat dan menarik tangan Lauda. Mendorong kuat gadis itu hingga tersudut kedinding. “Dia tidak memiliki siapapun selain kita. Ayahnya, mengetahui anaknya hendak terbunuh dia hanya menambah pengawalan pada dia tanpa menjenguknya sekalipun! Kalaupun dia gila, tidak bisakah kau tetap ada untuk sahabatmu? Bukannya dia telah membayar banyak hutang-hutangmu selama ini huh? Bukannya dia telah memberikan sejumlah uang seberapapun yang kau minta tanpa bertanya untuk apa huh? Jika bukan karena dia, kau tidak akan bisa berada di sekeliling sosialita yang kau banggakan. Setidaknya balas budi, tidak bisakan kau?!!” Teriak Miley muak.

    “Janet, telpon psikiaternya” ucap Miley hendak melangkah, namun terhenti ia kembali berbalik. “Jangan hubungi Dmitry Pritzker. Ingat jangan Dmitry Pritzker, wanita itu brengsek. Dia terus memberi terapi membuat Jasmine semangkin mendalami perihnya.”

———————-

    Miley dan Lauda memasuki kamar Jasmine yang terdekor glamor berwarna ungu. Di sudut ruangan, seperti biasa Claudia Jasmine duduk termenung menatap dinding apartemen yang terbuat dari kaca transparan, tatapan kosong menyaksikan air hujan yang menyusuri dinding.

Naya duduk disampingnya menatap pilu pada gadis itu. Gadis itu terlalu sering merasa kesepian. Terlalu sering tiba-tiba menangis tanpa alasan yang jelas. Kondisi mentalnya ditandai oleh rasa pesimis dan sikap-sikap yang menunjukkan kesedihan mendalam murung, patah hati, putus asa. Salah satu penyebab utama depresi adalah trauma psikis yang berat karena kehilangan seseorang yang paling berharga bagi kehidupan si penderita, menyebabkan terjadinya kesedihan yang berlarut-larut.

Ia tidak mampuan membebaskan dari kegelisahan dan suasana-suasan yang tertekan, merasa seduh, menangis atau tidak mampu menangis. Keadaan jiwanya tertekan hampir sepanjang waktu dan hampir setiap hari. Stres berat yang tidak tertahankan, namun sulit diluapkan olehnya, sehingga membuat pribadi diri itu sendiri menjadi mudah rapuh dan mengalami perubahan secara psikologis, seperti sering melamun, menjadi pribadi yang pendiam, mudah marah, tempramental.

Naya menekan kedua bibirnya, sakit melihat keadaan Claudia Jasmine. Menekan perihnya sendiri melihat sahabat yang amat ia cintai layaknya mencintai lelaki itu masih setia berada di dasar jurang yang ia gali.

Jasmine mengadah ke angkasa. Senyumnya terlukis menatap ribuan air yang saling berpacu tuk segera menyentuh bumi. Tangannya benggerak lemah, menyentuh dingin-nya dinding yang terbuat dari kaca transparan yang tebal. Namun kemudian senyumnya menghilang. Seakan-akan begitu sedih tak dapat bersentuhan dengan hujan.

Naya tersenyum mengadah ke angkasa. ikut menatap ribuan air hujan yang tertepa cahaya. Andai bisa mendengar suara dari luar tempat itu. Ritme gerimis pasti akan terdengar sangat puitis.

    “Entah mengapa air yang turun beramai-ramai itu hanya menghadirkan sepi bukan?” Tanya Naya tanpa menatap ke arah gadis yang amat ia cintai itu. “Sepi berbisik membawamu membayangkan setiap senyum pria itu. Lalu secara otomatis mengembangkan senyummu sendiri, hingga kau merasa bahagia dan sedih dalam waktu bersamaan. Dan kau merasa dirimu gila.”

Kedua mata Jasmine mengkerut kecil, gerakan yang mengalirkan tetes air mata.

    “Semua sumringah yang menyelinap ke dalam kelopak mata. Mengubah semua benakmu menjadi layar putih, memproyeksikan khayalan demi khayalan tentang pria itu di setiap sela bulir-bulir kenangan yang turut bersama air dari langit. Bagai melihat sebuah film, film berjudul nama pria itu dan namamu. Semua hanya wajahnya yang terproyeksikan.”

Naya berhenti berkata, ia menarik tangannya dari menyentuh dinding, menatap Jasmine yang menangis perih, tanpa isakan.

    “Hingga akhirnya hujan redah, bahkan setelah hujan berhenti pun kesepian itu tak kunjung luruh bersama aliran air hujan. Yang tersisa hanyalah hujan yang baru. Dimatamu, karena rindu.” Ucap Naya mengusap air mata sahabatnya lembut.

    “Aku tau apa yang kau rasakan, Mine. Kesepian itu tak kunjung luruh. Semua bayangan wajah itu, khayalan demi khayalan tentang pria itu juga turut berhenti, yang kau dapatkan hanya akhir cerita yang terasa menusuk dan sakit walau sedikit. Membuat terhenyak walau sejenak.”

Jasmine menelungkupkan wajahnya di kedua lututnya yang bertekuk. Hati tetap terasa perih ingin menagih air mata itu kembali. Naya mengusap kepalanya lembut, menatap diam pada gelang yang di genggam gadis itu. Gelang, satu-satunya pemberian pria itu yang terus ia genggam jika berselimutkan rindu.

    “Aku tidak tau harus bagaimana denganmu, Mine. Pasir sepi mengisi sela jemarimu. Kau sengaja hidup dalam duniamu sendiri, menyimpannya dalam kotak kenangan. Kotak yang tidak pernah ingin kau buka, hanya kau bayangkan dan ingat-ingat,dan kembali membuatmu sakit.” Naya mengusap air matanya. Bibirnya mengkerut menahan tangis yang ingin meledak.

    “Entah kau tidak mau kami tolong atau kau meminta tolong pada kenanganmu. Rasanya tarik-menarik ini melelahkan kami. Kami tarik kau kehidupanmu sebelum mengenal pria brengsek itu, tetapi sepertinya kenagan pria itu jauh lebih keras membawamu menyelami sakitmu. Sapai kapan kau mau seperti ini Mine?”

Miley beranjak ikut duduk di sebelah kiri Jasmine, Lauda memilih duduk di ujung ranjang Jasmine yang berwarna ungu, seperti memberi jarak was-was. Miley menarik wajah Jasmine menatapnya.

    “Mine” panggilnya lirih, mengusap air mata itu. “Kau harus rela pasang badan menghadapi gengsi, kau harus perjuangkan rindu apa lagi sepi itu. Hanya kau yang bisa menyelamatkan dirimu Mine, bukan kami”

Jasmine menepis tangan Miley, namun Miley kembali memaksa menatapnya.

    “Satu hal yang aku, atau bahkan mungkin semua orang ketahui, sedetik setelah kau pergi hidup’nya dalam bayang-bayang depresi, Mine. Aku tau bagimu kesalahannya amatalah sangat fatal, amat sakit karena kau sendiri begitu mengagungkan Cinta. Tapi cobalah mengalah pada egomu sendiri. Pria melakukan seks ke wanita tanpa cinta itu adalah hal biasa, ini New York bukan negara asia Jasmine!”

Nafas Miley naik turun, ia sendiri tidak dapat membayangkan jika dia di posisi Jasmine akan bisa berdamai atau tetap mengibarkan bendera perang, namun satu yang pasti. Dua orang itu terlalu lama berdiam di balik dinding pengecut. Dinding egois yang memisahkan rasa dari hati yang ingin diraihnya. Dua orang yanghidup dalam bayang-bayang depresi

    “Aku tau sengaja menghadiri acara amal itu, kau sengaja ingin bertemu pria brengsek itu.” Jasmine menggeleng lemah. Menolak mengakui ucapan Naya “Ya kau!” Naya mengerang geram “Jika tidak, kau bisa saja hanya mengirimkan chek atau transfer dengan nominal hartamu itu. Bukankah kau menyembumbangkan dengan no-name? Lalu apa alasanmu untuk datang jika bukan pria itu hm? Kata Peter kau juga membawa obatmu. Semua itu terlihat jelas” seru Naya tepat sasaran.

    “Kau bertemu dengannya?” tanya Miley lembut. Jasmine hanya diam, namun kemudian mengangguk lirih. Miley tersenyum tipis. “Bagaimana dengan dia? Masih tampan? Sangat? Ah my Russel” guman Miley memejamkkan mata, membayangkan pria yang juga ia gila-gilain itu dari dulu. Namun sedetik kemudian ia kembali meludah karena merasa gila masih mengidolakan pria dingin itu.

Jasmine hanya diam, matanya kembali bergerak seperti orang linglung, ia seperti menahan nafas. “Di-, ak.. di-dia” ucap Jasmine sulit mengutarakan apa yang ada dipikirkan. “Dia, Naya…” Jasmine menoleh menatap Naya. Naya mengikuti gerak gerik mata itu seraya menunggu, kira-kira apa yang membuat gadis tergoyangkan jiwanya. “Naya, dia.. apa..” Jasmine kembali menggelengkan kepala dengan memejamkan mata. Menekan suatu yang sakit di dalam dada.

    Kemudian mata itu terbuka, menatap perih ke sahabatnya Naya. “Naya., di… dia., dia mengapa masih menggunakan selang itu? Dua tahun telah berlalu, Naya. Kenapa dia masih membutuhkan selang itu untuk bernafas hm?” Tanya Jasmine meneteskan air mata pedih, jiwanya bagaikan terkoyak kasar. Kemudian dia menoleh pada Miley. “Miley, apa yang terjadi dengannya sebenarnya? Mengapa dia masih menggunakan selang itu??”

Naya dan Miley terdiam, jika bisa memilih, mereka lebih baik memilih terjun dari apartemen itu daripada menjelaskan apa yang terjadi pada pria itu.

    “Paru-parunya tertembak, koma dan hanya dirawat dua minggu, kemudian berenang dan bercinta di tepi danau yang berkabut, kau pikir apa lagi kemungkinan yang dapat terjadi pada paru-parunya.”

Miley melemparkan vas bunga kecil ke Lauda untuk tutup mulut, namun Lauda menolak

    “Meski hanya beberapa mili terluka, tetap saja. Ia muntah darah dan paru-parunya kehilangan fungsi” ucap Lauda terdegar ketus. Bukan bermaksud jahat, ia hanya ingin kalau Jasmine tau jika pria itu tidak kalah menderita.

    “Dua minggu yang lalu, aku melihatnya kegereja bersama Taylor dan adik kecilnya. Semua mata gadis yang dulu memujanya, kini menatap ngeri akan pria Alfa namun menyedihkan karena hidup bergantungan dengan selang itu tuk benafas. Tatapan sedih dari semua orang itu sungguh membuat aku merinding, mengerikan” Seru Lauda mengendik ngeri, namun seketika kepalanya menerima hantaman novel yang dilemparkan oleh Miley.

    You’re so full of shit!Tutup mulutmu brengsek!” seru Miley kesal.

Naya menatap Jasmine panik. “Jangan dengarkan dia Jasmine, Lauda hanya belum bisa benar-benar merelakan pria itu adalah milikmu, dia hanya mengucapkan omong kosong, dia-“

Jasmine mengangkat tangannya untuk menghentikan ucapan Naya, gadis itu berdiri. Melangkah ke arah Lauda dan tersenyum. Lauda mengedik ngeri. Ia sungguh takut melihat Jasmine dua tahun lalu yang terlihat sungguh memprihatinkan. Bahkan terdasar hatinya juga menjerit tidak terima jika harus mengakui sahabatnya, gila. ‘Ah tidak, tidak, tidak, hanya nyaris gila!’ seru hatinya keras kepala untuk mengakui.

Jika tidak ada team tenaga profesional, seperti psikiater handal mencuci otaknya, maka akan timbul masalah yang lebih kompleks, dia beresiko merusak diri sendiri dan bisa berakhir dengan kematian akibat bunuh diri. Namun dendamnya yang begitu berakar mampu membuat ia bangkit. Bekerja secara gila-gilaan untuk mengumpul uang yang sangat fantastis. Dan memberikan pada pria itu.

Jasmine mengerjapkan matanya lambat, menunduk mengambil kucingnya dari pangkuan Lauda. Mengelus bulu lembut itu dalam gendongannya, melangkah meninggalkan sahabat-sahabatnya keluar dari kamar. Miley dan Naya bertatapan diam. Hanya bisa menghembuskan nafas frustasi melihat Jasmine yang langsung berubah 100% jika mendengar nama Taylor, bersama suaminya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *