Chapter 42

—————–

https://www.youtube.com/watch?v=D29yyHXPvnI

Mereka bertiga bangkit berdiri, ikut mengkah keluar kamar. Namun saat di depan pintu langkah mereka terhenti karena Jasmine berdiri disana. 3 sahabat itu saling teridam melihat tiga dokter ahli jiwa yang berdiri bersama Janet. Mungkin para psikiater itu yang membuat langkah Jasmine berhenti.

Gadis itu berbalik menghadap ke arah 3 sahabatnya. Tangannya masih mengelus lembut kucing kesayangan. Tatapan dingin menatap. Sikap tenangnya membuat Lauda mati ketakutan. “Siapa yang mengizinkan kalian mengganti psikiaterku lagi? aku mau Dmitry Pritzker yang menagani aku.” Jasmine berbalik, melangkah meninggalkan sahabat-sahabatnya. “Usir mereka, atau kalian yang akan ku usir dari kehidupanku, selamanya” ucap Jasmine datar.

Lauda dan Miley langsung cepat bergerak hendak mengantarkan para dokter itu keluar. Naya menggeleng tidak setuju. “Jangan, dokter tetaplah disini!” seru Naya menahan pada dokter itu. kemudian ia melangkah mendekati Jasmine yang duduk anggun di sova merah favoritenya, memangku kucing. “Jasmine, dokter-dokter itu yang membuatmu pulih hingga berani menemui Benedict, me-“

  “Keluar kau” ucap Jasmine dingin tanpa menatapnya. “Pergi, atau seluruh bodyguardku melemparkanmu ke bawah sana” seru Jasmine sebelum Naya melanjutkan ucapannya lagi. Naya menggelengkan kepalanya tidak percaya. Sahabatnya setega itu hendak melemparkannya dari lantai tertinggi New York!

    “Atau kau ingin tanganku langsung yang mendorongmu hm?” lanjut Jasmine menatapnya seperti tidak memiliki hati.

    “Jas-“

    “Apa.? Kau mengatakan lagi bahwa aku egois? Kalian tidak akan mengerti prasaanku Naya. Kau tidak tau bagaimana menyambut sepi yang hadir menelusup dalam setiap malam. Dia, meski ia akan hidup dengan selang itu selamanya, aku tidak akan sudi membawa hatiku tuk mengasihani dia dan melupakan apa yang telah ia perbuat.” Seru Jasmine datar.

Ia bangkit berdiri, melangkah pelan ke arah dinding yang terbuat dari kaca transparan, tangan mengelus lembut kuncing lucu di gengdongannya. Tatapan menerawang kembali mengingat bagaimana pria itu masih membutuhkan selang oksigen tuk bernafas.

    “Dia harus menangis darah karenaku.” Bibir gadis itu menyeringai “Menangis darahlah untukku, Ben! Aku pernah menangis darah karenamu. Aku pernah menangis darah… karenamu Kau membuatku hampir gila. Atau aku memang benar-benar sudah gila.?” Jasmine terkekeh dingin “Sedangkan kau tak pernah meneteskan air mata. Sekedar merayuku tuk menyangkal salahmu pun tidak. Aku sangat berharap kau membangun pilar kemunafikan dalam diri demi merayuku kembali. Hah! Ternyata aku benar-benar memiliki gangguan jiwa”

Jasmine berbalik menghadap orang-orang diruang itu. Para dokter psikiater terlihat sibuk mencoret-coret di bukunya dan memperhatikan setiap detil gerakan mata, hembusan nafas, lapisan kulit yang mengkerut, dan setiap gerak bahasa tubuhnya sekecil apapun itu. Jasmine melangkah ke sova lainnya. Melipat kakinya anggun.

    “Ingat, aku ingat, semua yang dia katakan Naya. Dia sungguh menganggap cintaku terlalu hina. Dia bilang dua orang dewasa bisa melakukan seks tanpa cinta, dan dia melakukannya padaku.” Ia kembali terkekeh kecil. Kemudian terdiam, menatap benci pada lantai seakan lantai itu baru saja berbuat kesalahan besar padanya.

    “Pantas dia bisa tidur tenang disampingku saat itu, dia telah memuaskan nafsunya dengan wanita plastik menjijikkan.” ujung matanya mengkerut, petir di tatapan tajam, muak melebur pada rasa benci tak tertahankan.

    “Aku dan dia telah dihancurkan duri remeh dusta. Kini tak ada lagi kesempatan, untuknya dan untukku, takkan pernah ada. Aku tidak ingin iba melihat dia menganaskan seperti itu. Aku tidak mau dengan mengasihani kondisinya maka aku kan jatuh ke lubang ketulusan yang gelap tak berujung, atau kubangan kebodohan yang menggelitik nadi dan memutus semua logika. Bumiku yang tanpa dia, itu mungkin takdirku”

Naya melangkah mendekatinya, berlutut di hadapan gadis itu. Ia hendak berkata, namun Jasmine menatapnya tajam, menggelengkan kepalanya pelan. Menyuruh wanita itu menutup mulut. “Kau terus menghakimiku tanpa tau sakit begitu terasa hingga membuat lebam. Kalian mengatakan aku munafik dan egois tanpa tau kelamnya jiwaku. Kalian intimidasiku, Kalian bercelotah dan memakiku seakan-akan sakitku hanyalah luka gores biasa.” Jasmine menyingkirkan tangan Naya yang ada di lututnya, kemudian mengibas seakan sentuhan sahabatnya itu begitu menjijikkan berada di tubuhnya.

    “Kalian tidak mengerti seperti apa persis hitamnya hidupku. Kalian hanya penikmat dan mengamati. Jika kau mengerti hatiku yang Lebam. Kalian pasti berpikir 1000 kali untuk mengatakan aku egois, atau kau memang tidak memiliki otak? Lebih tepatnya kalian seperti iblis berhati keji yang menjijikkan menggodaku tuk terjun ke jurang kebodohan, menyundut api kesendirian. Lalu aku terbakar di dalamnya.”

Naya teridam beku, begitu juga Lauda di belakang Jasmine. Diam tak mampu menepis fakta itu. Miley melangkah lemah, ikut berlutut menggengam pergelangan tangan Jasmine. Ia mencengkram kuat saat tangan itu hendak menghindar.

    “Maaf Mine” pintanya lirih. “Aku tidak akan menjustifikasimu lagi, satu yang kupinta. Kau harus stop di tangani Dmitry Pritzker. Tujuan psikoterapi seharusnya merubah pikiran dan sikap negative dari pasien dengan pandangan yang lebih realistis mengenai dirinya sendiri dan dunia luar.! Bukan terapi menghipnotismu seakan-akan baru berap detik pria itu menyakitimu. Dua tahun telah berlalu Jasmine, kau bisa gila jika terus meminta di hipnotis ke waktu itu.”

    Naya mengangguk setuju, ia menarik wajah Jasmine dengan dua tangannya. Memaksa mata gadis itu menatapnya. Bumimu yang tanpa Benedict bukan? Itu berarti kau tidak membutuhkan si brengsek Dmitry Pritzker. Kami ingin kau bahagia, jika tidak bersama Benedict, setidaknya kau bisa lepas dari bayang-bayang depresimu. Jangan hidup seperti ini, kau menyakiti kami yang tidak mampu menerima jika sahabat kami memiliki jiwa yang sakit. Lupakan dia yang terus membuatmu menangis darah, kau harus sembuh. Sadarlah, depresimu lebih banyak disebabkan oleh kondisi mental dirimu sendiri.” Naya tidak mempu menahan iar matanya. Hatinya bagai kan remuk menjadi saksi sakitnya jiwa itu terenggut paksa.

********************

********************

    Benedict memasuki ruang kerja yang ada dikamarnya. Ia duduk di kursi yang selalu tempatnya termenung. Diam menatap surat cerai dan undangan takdir yang ditawarkan Naya, sahabat istrinya. Benedict memejamkan mata erat. Tangan kanan yang terperban, menyentuh dadanya yang terasa tertekan benda berat. Bibirnya mengkerut tak mampu menahan air mata itu yang mendesak ingin keluar.

Tangannya membuka laci, mengambil buku bersampul kulit coklat yang menjadi penampung lara seumur hidupnya. Buku berisi tarian pena dengan tinta hitam beruliskan semua tentang Claudia Jasmine. Buku tak habisnya ditulisnya banyak, kemudian dibaca sendiri. Buku tentang sedih dan tawa mencintai gadis itu. Beberapa halaman penuh coretan karena amarah yang merana, atau kadang terciprat cemburu yang memburu.

Buku yang menjadi bahan peledak kemurkahan istrinya. Buku yang diam-diam dicuri Nicole akibat bujuk rayu Sergio. Buku yang menceritakan pada Sergio kisah sebagaimana angkuhnya gadis itu disaat pernikahan mereka. Buku yang berisi kisah meski tidak dapat menyentuh dan menikmati tubuh yang amat ia cintai itu, meski hanya melihatnya, tidur disampingnya. Bahagianya sudah terpuaskan.

Buku yang membuat pria bodoh Sergio itu marah dan membeberkan pada Taylor dan sahabat-sahabatnya. Buku yang membuat akhirnya sahabat-sahabatnya tau jika Claudia Jasmine dengannya tidak pernah bersentuan fisik meski telah berbulan menjadi sepasang suami istri.

Buku yang membuat istrinya mengira bahwa ia adalah pria ‘besar mulut’ yang menjijikkan karena membeberkan kisah rumah tangga mereka pada Taylor.

Halaman pertama terbuka. Menampilkan segurat kisah dari pertama kali melihat gadis itu, 15 tahun yang lalu. Kemudian ia membuka lembaran terakir, ia telah sampai di lembar-lembar terakir.

Benedict mengambil bolpennya dari balik Jas. Menatap sesaat lembar berwarna coklat dan polos. Kamudian tangan kirinya bergerak menggoreskan kisahnya kembali. Sebuah rangkaian kalimat yang dia percaya tidak akan ada ujungnya.

 Halo World

Maafkanlah aku jika bicaraku tak karuan di setiap tulisanku pada tubuhmu yang coklat usang. Aku kesepian di sini malam ini. Semoga kau mendengarkan. Ada seseorang yang kurindukan. Rindu akan dia rasanya tak tertahankan. Aku telah menunggunya sekian lama. Dia berada di tempat yang salah selama ini, tapi dia menangis jika bersamaku.

Begitu pekat menahan rindu yang kian hari kian gersang. Setiap detik rindu begitu manja duduk di pangkuanku, berbisik-bisik, merayuku untuk segera menemui dia. Namun, akankah kuganggu sunyinya bila dia kutemui? Membayangkan senyum-nya nan permai, adalah caraku berdamai dengan rindu yang tersemai. 

Hari itu kami bertikai. Dia mengucapkan selamat tinggal meski dia mencintaiku. Itu membuatku sakit. Karena kesombongan dan bodohku. Aku merendahkannya dan meminta uang sialan itu. Ucapanku itu sepertinya telah menghancurkan hidupnya.

Waktu dan waktu. Waktu terus berlalu. Terlalu banyak waktu yang telahku sia-siakan. Bagaimana ternyata aku mencintai dan dicintai olehnya. Bagaimana kami berperang satu sama lain. Mendorong satu sama lain untuk menjadi orang lain dan saling menyakiti. Perang di antara kesiasiaan. Perang saling membuat luka, masing-masing mencari penawar untuk obati. Perang yang membwa masing-masing kami mencoba jalan yang lain, mengikuti cahaya yang salah, kemudian tersesat terkatung-katung dalam gelap dan dalamnya palung

Aku kira setelah dia puas bergumul dengan waktu yang telahku berikan. Mungkin sang waktu akan menyembuhkan perih itu. Mungkin waktu akan membuat dia mengerti akan segalanya. Kucoba tuk hidup tanpanya. Meski aku tidak pernah benar-benar membiarkan dia pergi. Karena meskipun aku memejamkan mata, aku masih bisa melihatnya. Meskipun aku menutup telingaku, aku masih mendengar suaranya. Itu semua karena aku tidak bisa melupakan dia.

Aku sendiri disini dan aku merasa hampa. Aku semakin mencintainya. Lebih dari sebelumnya. Semangkin hari semakin mencintainya, tak ada yang berubah, tak ada yang menggantikannya di sisiku. Dia telah masuk dalam jiwaku. Mengalir di sela butir darahku, keluar masuk dinding jantungku, menyapa setiap sel tubuhku, menjelma denyut jantungku. Dia memikat dalam pekat. Menggoda akal sehat. Memikat dengan nikmat, hingga aku sekarat.

Apa yang lebih pahit dari menunggu yang tidak pasti? Menunggu yang pasti, sudah jelas akan terasa menyakitkan. Aku sudah tahu apa akhir dari hubungan ini. Namun keegoisan diriku tetap menjerit menolak akhir yang telah semua orang ketahui.

730 hari 17520 jam telah aku tunggu dengan sabar. Sedetikpun tidak terlewati tanpa menerka-nerka dia akan meberiku peluk berselimutkan maaf atau dia akan menancapkan belati dendamnya ke jantungku. Semakin aku menunggu waktu itu, semakin sakit hati ini aku siapkan. Aku telah menunggu detik demi detik sebuah penantian menuju perpisahan.

Apa aku masih boleh berharap Tuhan? Kan kupinta agar dia di sisiku lagi. Aku rindu memilikinya. Atau, Aku ingin melakukan perjalanan kembali ke masa disaat tidak seharusnya aku menyakitinya. Dan mengatakan hal yang aku tidak katakan saat itu. Aku ingin memberitahunya semuanya, bahwa aku sangat merindukannya. Aku sungguh mencintainya.. Aku tahu cintaku telah membuatnya menderita. Buat dia mengerti aku Tuhan, buat dia mau memaafkanku. Meski aku merasa jahat mengharapkannya kembali. Meskipun itu salah, aku tidak bisa untuk berhenti berharap.

Tangan Benedict terhenti, ia mecengkram kuat bolpennya, tangan itu tidak bisa berhenti gemetar. Ia memejamkan mata, menarik nafas panjang, kemudian menghembuskan perlahan, menghasilkan perih. Wajahnya menampakkan kerut, tanda menekan sesak di dada. Ia mengusap air matanya. Tersenyum getir mengingat pertemuan tadi bersama Claudia Jasmine. Kembali mengguratkan rangkaian kaliamat.

Aku bagaikan terlahir kembali atas takdir yang menyapaku hari ini. Aku bertemu dengannya di pesta itu. Pertemuan yang bukan aku atau si bodoh Sergio rencanakan. Tanpa takdir yang ditawarkan sahabatnya, Naya. Aku tertawa getir, pertemuanku dengannya mendebarkan dada, rasanya seperti baru pertama jatuh cinta. Aku begitu rindu padanya. Namun bertemu dengannya justru membuatku semakin rindu.

Bahagiaku terlalu mudah, hanya dengan tak sengaja menatap mata itu. Bahagia itu membawaku terbang ke dunia kasih seindah dunia peri. Namun sedih terlampau lasuh, melihat api itu masih ada. Api itu membakar sayap peri yang membawaku, menjatuhkanku kembali ke bumi. Bumiku yang tanpa dia. Semua hanya mendekatkan aku, pada kesepian. Dia bukan lagi milikku.

Tuhan, hatiku sangatlah perih. Duniaku telah hancur, aku kira kami hanya istirahat. Ternyata dia telah mendapatkan kebahagiaanya bersama pria itu. Jiwaku berteduhkan duka melihat bibir itu di kecup. Setiap senyumnya untuk pria itu, bahagiaku yang terebut. Setiap tawanya dengan pria itu adalah bagian jiwaku terenggut. 

Kepedihan di dalam jiwaku jauh amat terasa saat melihat dia begitu ketakutan melihatku. Ada apa dengannya, Tuhanku.? Hatiku tercabik saat melihat dia menghindariku. Sebuah petir yang menghunjam denyut jantungku berupa rasa sakit. Ribuan jarum menerpa arteri mengisi denyut nadi seraya mengetahui istriku, disana, mentalnya tersakiti. Air mata menetes dari mataku melihat betapa hancur dan harunya jiwanya. Tak pernah terpikirkan olehku untuk tinggalkan dia seperti itu. Jiwanya begitu menderita karenaku. Tuhan, rasa ini begitu sakit. Tidak taukah kau?

Sadar diri. Mungkin aku harus pergi. Aku kan berhenti berharap. Aku tau aku sudah terlambat. Ku kan ubah permohonanku.

Ambil nyawaku Tuhan, hapuskan dukanya.

Aku rela merebahkan jasad hingga terbujur, hentikan haru jiwanya

Ada sedikit mati kurasakan di sini. Aku sungguh tak sanggup lagi Tuhan. Kau, sungguhlah kejam membuat dia juga menanggung luka yang begitu sakit ini. Aku rela perjuangkannya hingga nyawa dicabut. Mohon dengan sangat, jangan lagi menghunuskan pedang sendu padanya.

Aku tau, Cinta sejati butuh patah hati. Cinta yang hebat memang harus berkorban sampai sebegininya. Pengorbanannya tak pernah terbatas. Cinta yang sejati diminta bertahan hingga sekarat.

Namun aku tak lagi begitu gagah menahan sakit ini. Rasa ini begitu sakit Tuhan, luar biasa sakit. Aku tidak mengerti, mengapa engkau yang di sebut Tuhan begitu tega memberi sakit ini padaku. Kurang tinggikah doaku serahkan padamu? Segala doa, harapan setulus hati, tidak cukupkah untuk menghujammu, Tuhanku.?

Kepasrahanku enggan manut saat adik-adikku Harry dan Joychelline, kau rebut disaat aku baru saja yakin dapat membesarkan mereka bersama umurku yang kecil. Kepasrahanku hanyut saat ayahku, tak pernah menatap kedua mataku, bahkan menatap selayaknya menatap anjingpun, ia tidak pernah sudi memberi tatapan itu padaku. Aku tak pernah diinginkan oleh keluargaku.

Kini, satu-satunya orang yang aku cintai, kau juga merebutnya dari sisiku. Dia, satu-satunya alasan yang membuat aku bertahan mengorbankan sisa waktu hidupku hingga usia menggerogoti jasad ini. Kini ia telah pergi. Apalagi yang pantas aku tunggu mengorbankan sisa waktu hidupku? Aku tidak lagi memiliki alasan untuk hidup. Aku tak tahan lagi diterjang jarum detik tanpa dia.

Rasa itu tak kunjung pergi, rasa yang terbalut dalam kalut, malah aku yang hampir mati melihatnya begitu gemetar menatapku. Semakin ditancap hati ini rasanya dengan sebilah sembilu. Betapa sakitnya kurasakan ini. Aku tak sanggup lagi.

Jasmine.

Sayang, Apakah cinta sepedih ini? Yang tertusuk padamu, berdarah padaku. Tidak apa-apa Jasmine. Kupasrahkan kepedihan yang akan berlangsung selamanya ini. Demi kau mendapat ketenagan jiwamu kembali. Semoga kau mampu mengistirahatkan hati di jiwa orang yang tepat, yang tulus dalam mengasihi. Jika memang semuanya harus berakhir di sini, aku rela hati. Semoga kau menemukan dia yang mendapat restu dari dia-yang-satu-bernama Tuhan.

Ya. Engkau, Tuhanku yang Maha Agung dan Mulia!

Mine, semoga kau menemukan seseorang yang seperti menemukan rumah yang selama ini kau cari saat kau tersesat. Aku membekap luka ini sambil menahan perih, kan selalu berdoa untuk kebahagiaanmu yang baru. Mekipun orang yang membuatmu bahagia itu bukan aku. Meski kita tidak harus bersama-sama, meski kau dengan orang lain.

Telah kupersiapkan singgasana bagi nyeri yang kelak tak kunjung usai ini.. Meski semakin sakit hati ini aku siapkan, kuharap kau baik-baik saja saat ini. Sangat menyakitkan melihat kondisimu seperti itu. Sangat menyakitkan untukku melihatmu yang begitu ketakutan karenaku. Aku hanya ingin kau menemukan jalan keluar, semoga kau bisah sembuh dan menjadi bahagia. Sekalipun itu berarti selamanya aku tidak bisa berada di dekatmu. Sekalipun sakit yang kurasakan tidak kunjung mangkir.

Maaf., Ku Mohon Maafkanlah aku… . .

Selamat tinggal Mine,

Selamat tinggal cintaku.

          -Russel Heard Benedict.

Benedict memukul dadanya sendiri, terlalu sakit di dalam sana. Air mata tak henti mengalir menyusuri wajah. Dengan lemah, ia mengambil surat cerai yang telah ia terima dua hari yang lalu. Tanpa ragu ia mengguratkan tanda tangannya di atas kertas tersebut. Kamudian ia menatap undangan ‘takdir’ yang id berikan Naya. Ia merobek sekali dan membuangnya lemah

Dadanya semangkin terasa sesak. Ia membuka selang yang sedari bertengker dekat indra pernafasannya dengan kasar, selang oksigen itu tidak membantu dadanya yang perih dan sesak.

Sedikitpun tidak.

Ia berdiri, melangkah perlahan ke tempat tidur. Membaringkan tubuh yang lelah. Sepi; masih yang paling damai berteman nyeri. Ia membayangkan wajah istrinya. Kemudian merefleksikannya di langit-langit kamar. Kembali tersenyum getir, sosok itu datang seperti duri, lalu pergi seperti mimpi.. Sakit, perih bahkan pedih di dada membuat nafas putus-putus tidak lagi ia hiraukan, mata itu terpejam lemah. Menarik nafas panjang, kemudian menghembuskan perlahan, ‘sialan, lagi-lagi terasa perih melakukan itu’.

    Pria itu memejamkan mata lemah sambil berpeluh luka. Membekap pedihan yang akan berlangsung selamanya. Seumur hidup itu.

***********

    Urusan merelakan memang selalu pelik. Seperti menarik keluar hati, kemudian mengirisnya dengan sebilah belati. Sama-sama menghasilkan sakit. Namun sepasang manusia yang akhirnya rela saling melepaskan genggaman tangan hanya karena dirusak kerikil kecil prasangka, dihancurkan duri remeh dusta.

Cinta memang seringkali tak sejalan dengan logika. Ironis sepasang manusia bisa hancur hanya karena kerikil kecil. Dan itu bukan karena perbuatan semesta, kondisi, ataupun takdir, melainkan ketiganya.

Takdir tak bisa dielakkan, takdir memang kejam, tidak perduli dengan hati yang tidak berhenti berharap. Hanya dengan sedikit sentuhan takdir, rencana yang hampir sempurna sekali pun bisa porak-poranda.Jangan pernah remehkan kinerja semesta, semesta dibantu Tuhan. Atau sebaliknya? Tuhan dibantu semesta? Yang pasti kolaborasi mereka mematikan.

Semesta bahkan kejam, tega melumpuhkan Cupid agar tak sanggup menembakkan panah cintanya lagi, perintah sang takdir. Semesta berkonspirasi menyajikan, memisahkan kenyataan dan angan bahwa hidup tak selamanya sesuai harapan. Kolaborasi mereka sungguh mematikan. Kadang sangat menghidupkan, apa yang mati dan apa yang hidup. Cuma Tuhan dibantu semesta yang mampu menjawab.

Benarkah ribuan doa dapat Menghujam Tuhan? Akankah? Lagi, hanya Dia-yang-satu dapat menjawab.

          |……T.H.E E.N.D……|

Hah., setelah ada 600 komen sepertinya saya harus menjelaskan sesuatu karena ternyata masih ada kesimpangsiuran. Ending cerita bukan hanya 2. SAD dan Happy ending. Tp ada chlliffhanger

———-

Cliffhanger adalah teknik story telling di mana cerita dipenggal di saat yang tanggung. Teknik ini menawarkan kondisi yang dilematik agar penikmat cerita atau penonton dipersilahkan menafsifkan sendiri kelanjutannya. 

gak ada Prolog jadi GAK ADA EPILOG! jangan minta epilog ataupun ektra part

15 thoughts on “Chapter 42

  1. Masih aja nangis klo bacanya, emosi bgtt.. mksh thor…
    yg naya sm sergio terus forbidden love nya jg dterusin kaga thor.. pembaca berharap smua ceritanya dterusin..

  2. Aq udah berkali – kali baca chapter ini dn masih jg mewek. Sumpah sedih bgt dn aq berharap cerita mereka tidak sampai disini

  3. Udah berkali-kali baca ulang, tetep seru plus bikin mewek Apa kabar ben dan jasmine? Kangen banget sama cerita mereka berdua

  4. Ini pas baca pertama kali pas gue masih SMP smpe skg masih blm moveon sama endingnya ini author yg buat cerita blm dapat keajaiban apa yah buat ngobatin patah hati gue dari smp sampe dah kerja nyesek kalo ngulang baca jasmine sama ben

  5. KAK AYO BUAT MEREKA HAPPY ENDING! Gilak dah berapa kali gue baca bih cerita, endingnya sama, dan bikin gue haluin happy ending ajj

  6. Kak…bisa buat story baru setelah Mine baca buku Ben, Please….
    Setiap selesai baca cerita ini dari dulu pasti kebawa mimpi hahaha..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *