Chapter 9

===komentar di 8. give me strength mom

ish bikin greget aja si jasminenya, kan kasihan si ben –tariciara121

cara penulisanmu sist. bener2 bikin org yg baca jd ikut terenyuh. berasa kita juga ngerasain prasaan ben. mataku berkaca2 pas baca. huhuhu -jejeishere

gk tau hrs ngomong apa.. nyesek maksimal aplgi kena kalimat terakir ben… make me cry.. *lebay saya… sumpah nih certa keren dan kepo bgt… semangka –nadamulia

==============Author POV

     Jasmine memasuki rumah meninggalkan Damien di luar, Jasmine menghela nafas malas saat ia melihat Damien duduk di ruang tamu itu sendirian. Ia sedang memiliki mood yang buruk ia tidak ingin berbicara kesiapapun. “Malam Damien” sapa Jasmine singkat dan melangkah menaiki tangga.

     “Jasmine tunggu, tunggu sebentar” pangil Damien berlari kecil menghampiri Jasmine. Dengan malas ia membalikkan tubuhnya menghadap Damien “Ya.?” Tanyanya singkat.

     “Ah sepertinya kau dalam mood yang buruk. Apa aku mengganggumu?” Tanya Damien pura-pura tidak enak.

     “Tidak Damien, katakanlah” ucap Jasmine sedikit malas.

     “Begini, besok aku ingin mengajakmu ke acara peresmian apartemen yang keluarga kami dirikan” Damien memberi jeda di kalimatnya “Sebagai Patnerku tentunya” tambah Damien lagi melihat raut bingung di wajah Jasmine. Mendengar kata Patner membuat kekesalan di hati Jasmine semangkin bertambah.

     “Aku tidak bisa Damien, waktunya terlalu cepat seharusnya kau katakan dari jauh hari jadi managerku bisa mengatur jadwalku” ucap Jasmine dengan nada sombong, padahal ia sendiri yang mengontrol mau kemana kakinya pergi bukan managernya

     “Oh tenang saja, semua clientmu akan aku urus. Sangat mudah membuat mereka tunduk” ucap Damien tidak kalah sombong. Mata Jasmine menyipit tidak suka menatap Damien yang tidak berubah dari kecil, slalu sombong dan mengatur orang sesukanya. Hanya dia memiliki segalanya.

     Jasmine menghela nafas untuk memikirkan cara untuk menolak Damien. Jasmine tau betul pria seperti Damien ini. Jasmine sudah banyak pengalaman tentang pria seperti Damien. Apa lagi pria itu sudah mengejar-ngejarnya sejak lama, sangat berbahaya pergi bersama laki-laki yang terobsesi dengannya. Jika pergi dengan Damien pastilah akan berakhir dengan ‘jebakan’. Bukan hanya akan menjadi patnernya di acara itu namun pasti akan berakhir menjadi patner seks.

     “em.. baiklah Damien, tapi jika kau bisa membuat dia tunduk juga di bawah kuasamu.” ucap Jasmine tersenyum palsu. “Dengan mudah” tambah Jasmine menunjuk Benedict yang baru masuk ke pintu rumah dengan dagunya. Jasmine menang telak, membuat Damien terpancing emosi.

     Rahang pria itu mengeras menahan emosi, meski ia tidak berbalik badan melihat sosok yang memesuki rumah itu, ia tau kalau yang dimaksud Jasmine adalah Benedict. Jasmine tersenyum dingin menyadari Damien yang kehabisan kata-kata. Ia pun berbalik menaiki tangga lagi, meninggalkan Damien yang emosi.

     “Tunggu” Jasmine menghentikan langkahnya dan berbalik saat mendengar Damien memanggilnya, saat berbalik ternyata bukan dirinya yang di suruh tunggu oleh Damien tapi ternyata Benedict yang hendak melangkah menaiki tangga juga. Berbeda dengan Benedict menatap adiknya dengan senyum hangat, Damien malah tidak menatap Benedict, sikapnya sangat dingin dan angkuh

     “Jasmine menyuruhku meminta izin darimu untuk menjadi patnerku di acara besok” ucap Damien acuh. Benedict sedikit terkejut dengan permintaan adiknya itu, ia menoleh ke Jasmine yang ada di tangga tidak jauh darinya.

     Jasmine menggeleng sebagai tanda Benedict harus menolak adik yang ia sayangi itu.      Benedict terdiam tidak tau harus menjawab apa. Ia menyayangi adiknya, ia tidak pernah menolak keinginan adik-adiknya apapun itu. Tapi Jasmine kini telah menjadi istrinya sekarang, meski gadis itu tidak pernah mengganggapnya ada. Benedict tetap menghargai istrinya.

     “Damien. Aku rasa keputusan tetap ada di Jasmine” ucap Benedict akhirnya.

     “Apa kau bodoh?! Sudah aku katakan Jasmine menyuruhku untuk mendapat persetujuanmu!! Jika bukan karena gadisku aku tidak sudi berbicara denganmu. Cih”  dia pikir dirinya siapa hingga aku harus mengucapkan banyak kalimat untuknya?! dasar pecundang maki Damien dalam hati

     “Kau hanya cukup menjawab Ya” tambah Damien lagi, ia sebenarnya tau degan jelas kalau Jasmie telah menolaknya dengan halus, maka dari itu ia sekarang ingin menyuruh Benedict agar Jasmine mau tidak mau harus menerimanya . Benedict hanya tersenyum menerima perlakuan kurang ajar Damien. Ia sudah terbiasa dengan sikap adiknya seperti itu.

     Jasmine memandang kesal ke arah Damien. Ia tidak pernah suka dengan pria sombong seperti Damien.

     “Tidak akan, aku tidak mau” ucap Jasmine tanpa suara ke Benedict yang seperti meminta persetujuan darinya. Kemudian dia meninggalkan dua orang yang membuat hatinya kesal hari ini.

     “Tidak Damien” ucap Benedict singkat, Damien memandangnya tidak percaya dengan yang diucapkan Benedict. Ini pertama kalinya kakaknya yang menyedihkan itu berani menolak perintahnya. Damien semangkin emosi. “Beraninya kau?!” bentak Damien

     “katanya ia tidak mau, aku tidak ingin memerintah istriku” ucap Benedict memberi pengertian

     “Hah, istri? Istri kau bilang? Kita tau dia menikah denganmu karena harta. cih kau terlalu percaya diri untuk menyebutnya istri” seru Damien sarkatis

     “Ya, setidaknya dia tetap berstatus istriku” Jawab Benedict masih tenang, tidak sedikitpun ia merasa tersakiti oleh ucapan kasar adiknya. Melihat ketenangan Benedict yang tersenyum ke arahnya, Damien menjadi gusar. Ia pun meninggalkan Benedict dengan kesal.

==============================

.

     Jasmine terbangun, ia heran melihat tubuhnya masih mengenakan pakaian yang ia pakai seharian ini. ia baru teringat kegiatannya seharian tadi, Pulang dari pemotretan Jasmine langsung hangout bersama teman-teman modelnya. Setelah malam baru ia pulang kerumah suaminya, namun karena kelelahan Jasmine langsung merebahkan tubuhnya tanpa melakukan ritualnya sebelum tidur. ia menoleh, suaminya tidak ada di ranjangnya “kemana dia?” guman Jasmine heran.

     “Ha, paling sedang tidur dengan gadis-gadis plastik di club malam” batinnya dalam hati.

     Saat ia merasa tenggorokannya merasa kering Jasmine menoleh ke meja lampu di samping ranjang tidurnya.ternyata galasnya kosong.

     “Apa tidak ada pelayan pribadi untukku dirumah ini? arght! Aku butuh orang yang mamenuhi kebutuhanku” protes Jasmine, ia bergerak ingin menekan tombol untuk memanggil pelayan tapi di urungkannya karena melihat jam yang ada di meja lampu itu.

     Pukul 01:53, Jasmine berpikir para pelayan itu pasti telah istirahat jam segini. Tapi tenggorokannya sangat haus, akhirnya Ia bangkit dari tidurnya untuk mengambil sendiri air yang ia butuhkan.

     Sebelumnya dia ingin membersihkan dirinya terlebih dahulu. Sikat gigi, cuci muka, pakai pelembap di wajah dan tubuhnya yang lain, kemudian memakai piyama tidur. rambutnya di biarkan sedikit berantakan tanpah menyentuh sedikitpun.

     Jasmine menuruni tangga sambil mengikat tali piyama tidurnya,seluruh area rumah itu sedikit gelap karena hanya lampu-lampu kecil untuk penerangan. Sesampainya di ruang makan yang memiliki meja panjang itu Jasmine melihat kalau ruangan di sebelah kiri atau dapur itu cukup terang, Jasmine kurang yakin juga kalau itu adalah dapur, karena selama dirumah itu dia sama sekali belum pernah menginjakkan kaki ke ruangan yang bernama dapur di Mansion itu.

     Jasmine berjalan pelan, dia mencium bau masakan yang membuat air liurnya keluar. Melihat ke dapur itu dengan hati-hati, siapa yang berada di dapur, Sialan siapa yang jam segini masak? Hantu kah.?

     “Apa yang kau lakukan disini?” Jasmine terlonjak kaget dan berteriak kencang saat mendengar suara yang tiba-tiba ada berada di belakangnya

     “Hei Mine, ini aku.” Ucap Benedict menenangkan istrinya yang terkejut setengah mati

     “Be-Ben? Hah, kau membuat jantungku meloncat!” bentak Jasmine menepis tangan Benedict yang memegang kedua bahunya.

     “Aku sudah memikirkan banyak cara agar kau tidak terkejut saat aku menyapamu, tapi ternyata kau tetap terkejut. maaf” Ucap Benedict merasa bersalah.

     “Maksudmu?”

     “Tadi aku melihatmu berjalan mengendap endap, tadinya aku ingin langsung menyentuh dan memanggilmu tapi aku pikir kau pasti akan kaget, tapi ternyata memanggilmu saja juga- membuatmu meloncat. Aku tidak bermaksud” ucap Benedict hati-hati

     “Oh. baiklah” Ucap Jasmine sedikit tidak enak karena membentak pria itu,dalam situasi itu pasti dengan cara apapun hasilnya respon Jasmine tetaplah sama. Dia sangat terkejut saat sedang was-was melihat siapa yang ada di dapur malah di kejutkan dengan suara dibelakangnya. “Kau.., aku tidak tau kau ada di rumah” lanjut Jasmine

     “Oh. aku sedang memasak sesuatu. Kau?” Tanya Benedict

     “Haus. Aku ingin mengambil air” jawab Jasmine singkat, ia berjalan mengambil gelas dan menuangkan air, ia melirik Benedict tampak sibuk memegang wajannya.

     “Kau memasak?”

     “Ya, kau mau? Duduklah” Jawab Benedict tanpa menoleh ke istrinya

     “Tidak trimakasih” Ucap Jasmine singkat, ia terpaksa menelan liurnya yang telah keluar sejak mencium wangi masakan itu.

     “Kau sedang diet? Kau belum makan dari pulang tadi sore. Ayo duduklah, aku hanya tinggal plating saja. Tidak lama”

     “Aku tidak pernah makan saat malam hari” ucap Jasmine jujur,makan malam akan merusak tubuhnya. Benedict berbalik menoleh ke Jasmine.

     “Baiklah, bagaimana dengan salad atau minum coklat panas sebelum tidur?”

     “Coklat panas” pilih Jasmine, dia tidak ingin salad. Mungkin coklat panas itu dapat menenangkan kepalanya yang terasa berat

     “Baiklah, aku kan membuatkannya” Benedict berbalik kembali lagi memunggungi Jasmine. Jasmine memilih duduk di meja marmer hitam petak yang ada di dapur itu, meja petak itu biasanya digunakan tempat menaruh semua bahan makanan dan tempat para koki memotong-motong daging ataupun sayur. Dan di bawah meja petak itu menjadi tempat penyimpanan wajan untuk memasak.

     Jasmine melihat suaminya itu hanya memakai celana pendek sebatas lutut dan kaus baju putih tipis, dapat terlihat jelas otot pria itu di kedua lengannya, namun tidak ada otot yang berlebihan, sepertinya pria itu juga tidak suka otot yang berlebihan. rambutnya acak-acakan, tidak serapi biasanya.

     Ujung bajunya yang panjang sedikit bertumpu di bokongnya, yang mengartikan bahwa itu sangat seksi. Jasmine tersenyum, itu adalah ciri-ciri pria seksi di kalangan wanita. Tidak hanya pria yang menyukai bokong wanita, para wanita pun seperti itu, suka menggosipkan bokong pria yang ber-isi dan menggoda. Para pemain bola akan terlihat seksi saat bajunya bertumpu di bokongnya, itu akan membuat para wanita akan memberi mereka level nilai keseksian mereka.

     Saat Benedict Berbalik Jasmine dengan cepat langsung membuang pandangannya dari Benedict. Ia takut ketahuan kalau ia sedang memandangi bokong pria itu.

     “ini untukmu” Benedict memberikann Jasmine minuman coklat dan campuran jeruk martini di kelas bening yang tipis.

     “apa ini.?” tanya Jasmine. Ia kira Benedict akan memberikannya hanya susu coklat panas di gelas yang biasa bukan gelas seperti sedang di wahai

     “Itu chocolate & orange martini. Campuran Cointreau & Creme De Cacao, akan membuatmu rilex saat tidur nanti. Aku juga menambahkan sedikit Vodka”Jasmine meminumnya sedikit,rasanya manis dan segar.

     “Thanks Ben. Ini enak” ucap Jasmine tulus. Benedict mengangguk. Jasmine menghindari pandang Benedict ke makanan yang di hadapan pria itu. Ben mengikuti arah pergerakan mata istrinya.

     “kau mau ini.?” Benedict menawarkan makanan yang ia buat. 

     “Tidak trimakasih” tolak Jasmine halus meski ia juga ingin mencicipinya

     “kau tidak akan gendut jika memakan satu potong Mine” tawar Benedict lagi.

     ” Ini Totani o seppie in gratella. Cumi-cumi yang aku panggang dengan minyak zaitun extra virgin, di tambah tepung roti dan merica. Tidak akan ada banyak lemak yang kau makan, ayo ciciplah” Benedict memberikan potongan cumi-cumi panggang yang sebelum di panggang di cucinya bersih dan dikeluarkan isi perut cumi tersebut dan di gantikan dengan campuran daging cumi itu sendiri dan di campur tepung plus merica.

     Mendengar minyak zaitun extra virgin Jasmine akhirnya membuka mulutnya untuk menerima suapan Benedict. Masakan khas spanyol itu terasa sangat lembut dan enak di lidahnya. Tidak tercium bau amis atau keras khas cumi,seperti di masak oleh profesional chef.

     “Em.. ini juga enak” Ucap Jasmine tulus, Benedict tersenyum saat menyendokkan makanan untuknya juga, ia senang menerima pujian istrinya yang terdengar tulus. “aku tidak tau CEO sepertimu bisa memasak seenak dan seprofesional ini Ben” Sangat aneh jika ada pria sekaku Benedict pintar memasak. Jasmine mengira di pikiran pria itu hanya bisnis

     “Dulu aku sering memasak untuk adik-adikku” ucap Benedict pelan. ‘Adik-adik.?’ batin Jasmine      “Cat vegetarian, apa kau bisa membuat makanan vegetarian juga.?” Tanya Jasmine. Jasmine dapat melihat raut wajah suaminya itu sedikit berubah.

     “Apa kau mau lagi?” tawar Benedict memberi garpu berisi makanan. Jasmine merasa pria itu mengalihkan pembicaraan, ia ingin menuntut lebih, tapi potongan cumi itu jauh lebih menarik selerannya. Jasmine mengambil garpu itu dari tangan Benedict dan menyuapkan sendiri kemulutnya. Benedict hanya tersenyum melihat sikap istrinya.

     “Mm.. kalau Damien suka makanan apa?” ungkit Jasmine lagi. Benedict meminum air minumnya,pertanyaan itu seperti mengganggunya.

     Tapi dia tersenyum dan semangat menjawab “Dia suka Masakan Jepang. Kau suka masakan apa.?” Tanya Benedict ke Jasmine yang sudah menghabiskan minuman coklatnya.

     “Apa saja.asal jangan berlemak dan amis” Jawab Jasmine cuek, dan menyendokkan lagi potongan cumi itu ke mulutnya lagi. Benedict tersenyum melihat istrinya itu sepertinya lupa kalau dia tidak makan makanan berat saat malam

     “Kalau Niky. Suka apa?” tanya Jasmine lagi. Benedict menelan liurnya dengan berat.

     “Maksudku tadi bukan adik-adikku Damien atau-pun Cat dan Niky Jasmine, tapi adik-adikku yang bernama Joycelyn dan Harrison” Jasmine menoleh ke Benedict dengan heran mendengar penjelasan pria itu.

     “Mereka adik-adik dari ayah tiriku, kami hidup dan tumbuh bersama” tambah Benedict, Jasmine hanya mengangguk mengerti

     “Mereka sekarang dimana.?”

     “Sudah disurga bersama ayah dan ibuku” jawab Benedict tersenyum. Jasmine merasa tercekat medengar itu. “i’m sorry to hear that Ben” ucap Jasmine merasa bersalah melihat pria itu sedih kembali.

     “Thanks” ucap Benedict memberi senyum.

     “Ibumu-“

     “Dia meninggal saat adikku Joycelyn lahir” Benedict memotong ucapan Jasmine cepat saat mengetahui arah pertanyaan istrinya itu.

     “Jadi yang menjaga adik kecilmu.?”

     “aku” jawab Bendict dengan senyuman bangga “Aku yang mengasuhnya sampai ayahku akhirnya meninggalkan kami”

     “Dia menikah lagi?” Tanya Jasmine tidak mengerti. Benedict tersenyum kecut dan menunduk

     “Dia pergi menyusul ibuku,dia terkena kangker paru-paru karena sangat suka mabuk dan merokok” Jasmine merasakn tercekat lagi mendengar penjelasan itu. Bagaimana rasanya hidup dengan ayah seorang pemabuk dan sakit-sakitan, itu pasti sangat sulit,apa lagi untuk anak kecil di bawah umur 13 tahun.

     “apa kau baik-baik saja?” tanya Jasmine hati-hati saat melihat ketegaran pria itu.

     “Ya” Benedict hanya menjawab dengan senyuman,ia tidak ingin menceritakan kisah pahitnya yang dulu,ia tidak ingin istrinya memandang kasihan terus ke arahnya. Jasmine mengerti dengan jawaban singkat itu,pria itu sepertinya masih enggan untuk menceritakan masa lalunya ke Jasmine.

     “Sepertinya kita telah mendapat pemenangnya” ucap Benedict menahan senyum.

     “Apa.?” Tanya Jasmine tidak mengerti. Benedict menunjuk piring yang berisi cumi tadi kini telah kosong dengan dagunya, hanya Jasmine telah menghambiskan masakan itu, hanya menyisahkan saus kuning. Benedict tertawa melihat Jasmine yang tersenyum malu.

     “A-aku menghabiskan makananmu ben. Maaf” ucap Jasmine memelas. Benedict tertawa lagi melihat ekspresi istrinya. Jasmine suka melihat senyum pria itu, dia suka mendengar suara tawa pria itu, terdengar indah di telinganya. Meski mereka mengobrol hal-hal tidak penting tapi entah mengapa membuat Jasmine merasa itu adalah hal yang benar.

     Ia merasa Benedict ternyata seorang pendengar yang baik. Pria itu mendengarkan semua ceritanya, Jasmine baru pertama kali melihat ada orang yang mendengarkan semua ceritanya seakan akan cerita dan masalahnya sangat sangat penting bagi pria itu.Mereka mengobrol banyak hal  sampai akhirnya Mrs. Melinda hadir di antara mereka.

     “Melinda em.. bibi melinda” ralat Jasmine terkejut menyadari kehadiran kepala pelayan itu. Benedict menoleh mengikuti pandangan Jasmine, sosok kepala pelayan yang ada di belakangnya

     “Bibi, apa kami sangat berisik.?” Tanya Benedict tidak enak, ia merasa yakin suara mereka tidak mungkin bisa membangunkan orang yang sedang tidur,tapi melihat kepala pelayan itu memakai seragamnya dengan rapi dan terlihat rambutnya basah seperti habis mandi

     “Tidak tuan, maaf kehadiranku membuat tuan dan nona terkejut, tapi kini telah pukul 05:20 tuan, sudah saatnya saya bekerja” Jasmine terkejut saat sadar ternyata hari telah pagi. Ia dan Benedict tertawa malu saat melihat Mrs.melinda membuka tirai, ternyata tanpa mereka sadari hari sudah mulai terang. Untuk pertama kalinya Jasmine betah mengobrol dengan pria sampai lupa waktu, ia merasa pria itu dengan sederhana membuat dia nyaman. Benedict menghabiskan lebih banyak waktu mendengarkan daripada berbicara. Mendengarkan secara aktif dan penuh perhatian, mendengarkan tanpa menghakimi, semakin membuat Jasmine jadi terbuka padanya, dan bahkan Jasmine menceritakan  kepada pria itu hal-hal yang dia tidak pernah memberitahu siapa pun. Jasmine harus mengakui pria itu  memiliki sifat atau kunci dari alpha male

=============

—————-To be continued ————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *