Chapter 8

8. Give Me Strength Mom

======== Kolom komentar di chapter 7

 aku salut deh sama ide ceritanya, fres dan kreatif. yg paling aku suka bgian penokohan benedictnya. kisah melownya ini poin paling bagusnya tanpa menghilangkan kesan hotnya dari “benedict” semangat buat authornya…. -khonitaConMaily

=======Author POV

     “Ugh”  Jasmine melenguh saat ia membuka matanya, cahaya mata hari langsung menyinari tepat di wajahnya, membuat ia terbangun. Jasmine menyipitkan matanya berusaha menyesuaikan dengan banyaknya cahaya matahari itu. kemudian melihat jam yang ada di meja lampu tidur. ‘pukul 9’ batinnya sambil tersenyum, pukul 9 baru dia terbagun.

      kali ini ia terbangun pukul 9 bukan karena insomnia belakangan ini. Namun pasti karena tidurnya yang sangat berkualitas baginya, sudah seminggu ia tidak pernah tidur senyenyak itu. biasanya dia bangun bahkan pukul 11:45, tapi dengan hati kesal, seperti ada yang menekan hatinya dan kepalanya terasa berat.

      kali ini tidak, perasaanya sangat ringat dan, dan.. em ..happy? Jasmine memukul kepalanya pelan, ‘memangnya hal apa yang membuatku Happy’ ucap Jasmine dalam hati. ia melihat suaminya dan adiknya tidak ada lagi berada di kamar itu, pukul 9 pastilah Cuma orang malas yang masih ada di ranjang tidur pikirnya.

       Jasmine mengambil gelas yang berisi air putih dan meminumnya sampai habis.  Saat melakukan kebiasaanya tiap bangun tidur itu dia di ganggu oleh pikirannya, ‘emm, Apa ada yang terlupa.?’ Tanyanya dalam hati, ‘seingatku tidak’ ucap Jasmine.

      Pikirannya terganggu oleh dering ponselnya, tangannya meraba-raba mencari ponselnya, setelah menemukannya Jasmine menekan answers “Hallo” Ucap Jasmine malas, suaranya terdengar serak khas bagun tidur

     “OMG! Jangan bilang kau baru bangun Jasmine?!” Jasmine terkejut dan refleks menjauhkan Hanponenya saat mendengar suara gadis berteriak histeris di telinganya

     “Ada apa Aline.? Kau mau membuat kupingku tuli huh?” ucap Jasmine kembali mengembalikan posisi hanponenya ke semula.

     “Apa kau bercanda?! Kau membuat semua crew menunggumu  selama 2 jam!” Ucap gadis yang ternyata bernama Aline.

        “2 jam.? Untuk apa.?” Tanya Jasmine sedikit heran

       “Kau ada pemotretan gadis gila!!” Triak Aline histeris, ia tidak percaya akan sikap bos tapi juga sahabatnya itu

       “Mmm? Apakah Ra-”

     “Ya Jasmine!! Semua crew Ralph Lauren menunggumu di lokasi!!” Triak gadis itu lagi. Jasmine memandang hanponenya dengan heran.  “Apa aku memperkejakan wanita barbar.?” Ucapnya sambil mengusap kupingnya yang terasa panas menerima teriakan managernya itu yang terus berteriak.

       “Kau yang membuat aku menjadi manusia barbar bitch! Kau tidak pernah merasakan jadi aku yang selalu menerima makian dari semua crew kau tau slut!!” triak Aline semangkin berang. Jasmine tertawa geli ternyata gadis itu mendengar apa yang dia katakan

       “Haha. Sory babe, aku tidak bermaksud!” ucap Jasmine tidak enak. “Baiklah, batalkan saja jadwal itu” tambah Jasmine sambil berdiri dan  berjalan ke kamar mandi

       “Apa kau gila.?? Ini Ralph Lauren slut!” hardik Aline tidak percaya

       “Kau tau prinsip yang aku pegang sayang, aku yang mengendalikan profesiku, bukan aku yang dikendalikan. aku tidak ingin lari terbirit-birit sekarang hanya karena itu” jawab Jasmine tidak perduli

   “Iya aku tau tapi ini Ralph Lauren Jasmine. k-kau tau consequence yang akan kau terima nantinya.?” Tanya Aline sedikit ragu

       “ehem” jawab Jasmine santai sambil menggosok giginya di depan cermin makar mandi.

       “Ugh! Apa yang akan kuterima nantinya jika aku sampaikan kabar ini ke  para crew itu” Aline lemas memikirkan kemungkinan yang akan terjadi kepadanya nanti saat menghadapi para crew. Jasmine hanya menertawakan managernya itu, selsai menggosok gigi,ia mencuci mulutnya dengan air

       “Apa jadwalku selanjutnya.?” Tanya Jasmine cuek

       “EM tunggu…nanti jam 14:20 ada Photoshoot  untuk  jcpenney, kau taukan mereka sangat excited  nama mereka tertera di bazaar magazine, Jadi aku harap dengan sangat kau jangan merusak ini Jasmine, atau kau akan mencium pantatku” Ancam Aline serius

       “Hahaha Oke baiklah,  sekarang silahkan kau hadapi crew Ralph Lauren itu slut haha” Jasmine tertawa membalas perkataan Aline

       “Oh shit..” desah Aline lemas saat tersadar apa yang harus ia hadapi saat itu. Jasmine mematikan hanponenya sambil masih menertawai kemalangan yang akan di hadapi managernya itu. Selesai Jasmine mandi ia masih heran kenapa bibirnnya sedari tadi tidak bisa ia hentikan untuk tersenyum. ‘Sebenarnya apa yang membuat prasaanku seperti ini sekarang? Emm.. tidak mungkin karena Aline. Tapi apa’ Ucap Jasmine heran, sedari berendam tadi ia terus berpikir seperti ada yang terlupakan olehnya tapi ia tidak tau itu apa

                   ****

      “Ooh yes Jasmine. Ya ya begitu, Ya tuhan kau sangat pintar. Ya. Tahan, Oke tahan sebentar..ehem… ya lagi, mainkan rambutmu” Terlihat seorang photographer muda yang perawakan mirip sosok Adam Levine Nu, tanpak semangat mengatur ketajaman lensa  dan menekan tombol kameranya, tak henti-hentinya dengan semangat pria itu berjalan dan mengambil angle yang slalu tanpak sempurna di matanya, memotret Jasmine  dari berbagai sudut.

       Jasmine yang seharusnya sedang memberikan tatapan eksotis sesuai dengan tema pemotretan mereka akhirnya  tidak bisa menahan senyum geli melihat photographer yang sangat bersemangat memotretnya itu. Orang-orang yang ada di lokasi photoshoot hanya terkekeh dan ada yang memandang heran ke Matt photographer terkenal itu.

        “Dia sedang memotret atau sedang bercinta.? Suara desahanya membuatku horny” Ucap salah satu crew pria yang ada di lokasi pemotretan itu

      “Aku bahkan akan Orgasme jika dia terus memotret dengan penuh desahan seperti itu. oh shit!” seru  crew  pria lainnya sambil menarik celananya agar mendapat ruang untuk daerah bawahnya.

      “Sial! Apa kau Gay.? Tadi aku mengatakan itu untuk lelucon kau tau! haha”Balas crew  tadi tidak percaya

——————–

      Kini semestinya kloningan Adam Levine Nu itu harus memakai kursi atau tangga kecil sebagai properti memotret Jasmine dari atas, karena kini  Jasmine telah berbaring di tumpukan kelopak bunga roses hitam, Jasmine terlihat cantik dan seksi berbaring di tumpukan kelopak bunga yang asli di datangkan dari turkey itu. Namun Matt tidak menggunakan properti yang seharusnya itu dan langsung mengangkangi perut Jasmine. Sambil berdiri dan sesekali berjongkok memotret Jasmine, photographer itu masih dengan semangat dan  penuh desahan memotret sang model.

      “Ah.Yes girl, Ya begitu. Oh, Yes benar sekali, kini berikan aku tatapan tajam. Oke, tunggu.. oke, sekarang gigit bibir bawahmu. Ehem. Ah oke, kau tanpak sempurna dengan seringai itu. Ah tidak-tidak lupakan seringai, tahan senyum manis itu. Ya oke!”  Matt  tanpak puas memotret Jasmine, Dia membantu Jasmine untuk duduk dari posisi tidurnya

        “Sangat sempurna Jasmine, kau sangat jenius, biasanya para model kesusahan melihat angle yang cantik saat aku fotoNamun justru kau malah menciptakan banyak angle yang tanpak sempurna untukmu sendiri Jasmine. Oh my goodness! dari mana kau belajar semua itu? kau tidak hanya meringankan pekerjaanku, namun aku belajar banyak darimu.” Ucap pria yang sedang memegang camera untuk profesional photografer.

     Pria yang penuh dengan tatto itu tanpak benar-benar terpesona dengan bakat yang di tampilkan oleh Jasmine. Meski dia  adalah seorang top photografer  tetapi dia jarang menemukan model yang dengan tranpil memiliki bakat seperti Jasmine, tidak hanya cantik dan memiliki tubuh profesional, namun Jasmine bergaya tanpa perlu di sentuh oleh fashion stylist yang ada di sana.

    “Aw.. Thanks Matt. Tapi aku rasa kau cukup berlebihan” ucap Jasmine tertawa.

     “Tidak. Aku bersumpah dear.” Tangan Matt si photografer menggapai angin,meminta untuk camera berada di tangannya lagi, dengan cepat asistennya memberikan camera si photografer. “Tunggu tahan tawa itu aku ingin mengabadikannya”

          Melihat apa yang akan di lakukan si photograper Aline langsung cepat menghalang      “Matt. Aku rasa itu tidak tertulis di kontrak, jadi ak-“ ucapan Aline manager Jasmine terpotong saat Jasmine mengangkat tangannya memberi tanda biarkan saja photografer itu memotretnya lagi. Setelah mendapat persetujuan Jasmine, Matt sang top photografer memulai memotret  foto close up wajah Jasmine, dia terpesona dengan sorot mata dan senyum Jasmine

Setelah merasa cukup Jasmine langsung di bantu oleh dua asistennya untuk berdiri dan dengan cepat memenuhi perlengkapan yang ia butuhkan.

———————–

       “Kau sedang membayangkan sedang menyetubuhinya huh? Kau terus mendesah seperti orang gila” ujar seorang laki-laki menghampiri Maatt sang top photografer 

       “Ah lupakan haha aku jujur,dia benar-benar mempesona” ucap Matt memeriksa foto-fotonya lagi “Em Jasper! Kali ini kau memakan gaji butamu huh.?. Kau adalah fashion stylist, kenapa sedari dari tadi aku tidak melihatmu bekerja.?” Tanya Matt ke Jasper pria yang berprofesi sebagai fashion stylist  untuk pemotretan kali itu.

       “aku.? Yang benar saja. Claudia Jasmine itu anak didiknya Jill Greenberg! Mana mungkin aku punya muka untuk mengatur stylenya. Kau lihat sendiri tadi kan bagaimana trampilnya dia. Dia jauh profesional dariku” Ucap Jasper

       “What.?? Jill Greenberg?! Wow” Ucap Matt berdecak tidak percaya.” aku tambah mengagumi gadis itu, ternyata Jill Greenberglah yang menemukannya” Ucap Matt jujur meminum air yang telah tersedia untuknya

       “No.no,  Annie Leibovitz-lah yang menemukan bakatnya. Setelah gadis itu memutuskan untuk serius di dunia model ini, baru dia di tarik oleh Jill Greenberg” Matt terkejut dan menyemburkan air mineral yang sedang dia teguk saat mendengar ternyata  Annie Leibovitz yang menemukan bakat Jasmine dan Jill Greenberg yang mendidiknya. Dia di perebutkan oleh photografer terbaik yang paling terkenal. Dibandingkan dirinya masih jauh lebih top dua perempuan photografer itu.

       “Are you fucking kidding? Gods!  pantas saja kau menciut untuk memberikan pengarahan style ke dia Haha. Kau memang jauh di bawahnya bro” ejek Matt ke fashion stylist  itu

————————

       Disisi lain Claudia Jasmine tampak resah, seperti ada yang membuat dia risau. Meski dia duduk di kursi santai  khusus untuk para model tapi Miranda  yang sedang menata rambut Jasmine dapat melihat mata Jasmine seperti mencari sesuatu ke pintu

       “Apa kau menunggu suamimu itu.?” tanya Aline ikut merasakan bahwa bosnya itu seperti resah menunggu sesuatu

       “Aku tidak!” bantahJasmine cepat. Jasmine yang menyadari para asistennya memperhatikan setiap gerakannya, dia pun sok sibuk melihat hasil pekerjaan Miranda ke cermin. Aline yang juga asisten pribadi Jasmine namun sahabatnya juga itu tersenyum geli melihat respon yang diberikan  Jasmine.

       “Dia bilang, jika dia tidak datang hari ini berarti pemotretan dengannya akan batal. Dia telah terlambat 4 jam, itu berarti pihak Forbes harus mengatur janji lagi  dengannya, dan tidak mungkin hari ini Jasmine” Ucap Aline penuh tekanan. Jasmine yang mendengar itu langsung memukul perut Aline pakai dompet panjangnya “Auw.. apa yang salah denganku.?!” Sergah Aline ke Jasmine. Jasmine berdiri meninggalkan ke dua asistennya itu dengan kesal,tanpa perduli kalau pukulannya itu telah menyakiti Aline.

       “Apa ada yang salah dengan ucapanku tadi.?” Tanya Aline heran ke Miranda

       “Sepertinya tebakanmu tadi benar haha” jawab Miranda geli

     “Sejak awal aku telah memberitahunya bukan.? Aku yakin” Ucap Aline bingung, mencoba untuk menggingat kembali

       “Aku juga yakin tentang itu haha. Ckck poor Aline”

         ******

next

       Claudia Jasmine memberhentikan mobilnya tepat di pintu samping rumah besar keluarga suaminya itu. dengan cepat seorang pelayan membuka pintu mobil Jasmine dan mempersilahkan tuannya untuk turun. Jasmine mendesah keras karena harus pulang kerumah itu lagi, mungkin dia tidak akan seberat itu untuk pulang jika tidak teringat dan  bayangan Benedict mencium pelipis matanya semalam  itu tidak terus menggaggu pikirannya seharian ini.

       Tadi dia begitu kesal karena selama pemotretan mata dan pikirannya selalu menunggu kedatangan pria itu, tapi ternyata itu sia-sia karena dia lupa bahwa pria itu membatalkan janji. Dan Aline sepertinya tidak salah,tadi saat Jasmine sampai di lokasi dengan cekatan Aline mengatakan apa yang tercatat di agendanya.

       Jasmine mengira setelah menerima perlakuan manis suaminya itu tadi malam maka pria itu pasti akan datang kelokasi dan mereka jadi pemotretan bersama. Atau pria itu lupa karena mungkin karena janji itu telah lumayan lama,karena mereka bahas sebelum pria itu melakukan perjalanan bisnisnya ke asia timur. Tapi dia kan punya asisten untuk mengingatkan agendanya atau setidaknya pria itu ingat perlakuannya sendiri. Ucap Jasmine dalam hati “Ah Apa dia sedang mempermainkanku?  dan kenapa aku harus sekecewa ini?!” ucap Jasmine tambah kesal.

       Entah mengapa Jasmine sedikit excited untuk pemotretan di majalah forbes bersama suaminya itu. padahal awalnya dia dengan terang terangan menolak saat suaminya itu menanyakan apakah dia bersedia di wawancarai pihak majalah itu dan mengadakan pemotretan untuk cover majalah tersebut.

       Dia menolak karena majalah forbes adalah majalah untuk kalangan pebisnis ulung, dia tidak ingin pernikahannya itu di ketahui public lebih luas.tapi akhirnya Jasmine menerima karena dia juga seperti ingin tau bagaimana reaksi temen-temannya saat tau dia telah menikah, itu yang  membuat Jasmine sedikit  excited dengan pemotretan majalah itu.

       Jasmine turun dan menaiki anak tangga teras itu dengan malas, Langkahnya terhenti  saat melihat  Maybach Zeppelin masuk ke parkiran semestinya, tidak seperti mobilnya langsung berhenti di depan pintu. Dari kejahuan Jasmine melihat Benedict turun dari mobil mewahnya tanpa menunggu supirnya yang membukakan pintu untuknya.

       Jasmine memandang heran melihat pria itu turun dengan sepatu penuh lumpur yang telah mengering, rambutnya berantakan, lengan kemeja birunya di gulung hingga siku. Terlihat jelas wajahnya yang tanpan sangat kelelahan tapi pria itu tersenyum lebar.

       ‘Darimana saja dia? Apa dia tidak sadar dia membuatku menunggu.?’ Rutuk Jasmine dalam hati

       Jasmine melihat bibir Benedict mengucapkan “Hai” dari kejahuan. Benedict menyapa dan melambaikan tangan ringan saat melihat istrinya berdiri di tangga teras yang sedang menatap ke arahnya. Benedict mempercepat langkahnya untuk cepat sampai di hadapan istrinya itu.

       Jasmine sedikit tertengun melihat pria itu tersenyum sangat lebar, meski wajahnya terlihat  Letih namun dia tersenyum gembira. Sedari turun dari Maybach Zeppelin-nya pria itu tidak berhenti untuk tersenyum lebar. Dari sorotan matanya terlihat jelas pria itu sangat bahagia, seperti bukan Benedict biasanya. Senyum pria itu sangat manis, membuat jantungnya berdegup cepat, meski tidak sekencang semalam, namun senyum itu mampu membangunkan jantungnya lagi tuk bekerja memompa darahnya lebih cepat dari sebelumnya.

       Apa yang membuat dia bisa tersenyum seperti itu? dia pria dewasa tapi kenapa dia tersenyum seperti anak kecil? sekarang dia tidak terlihat seperti pria menyedihkan lagi, namun seperi anak kecil yang sangat bahagia karena bisa bermain hujan. Dia tidak lagi terlihat seperti anak anjing yang meringkuk kedinginan saat hujan membasahi tubuhnya. Dia terlihat sangat manis dengan senyuman itu, Apa yang membuatnya dari seperti orang yang semestinya membenci hujan menjadi amat gembira ketika bermain di tengah hujan?

       “Hai” Sapa Benedict lagi saat telah sampai di hadapan istrinya. Jasmine masih terpaku melihat suaminya yang tersenyum dengan suara dan wajah sangat ceria dari  jarak sedekat itu.

       “Hai. Kau terlihat seperti telah mengalami hal baik hari ini Ben”sapa Jasmine setelah berhasil menguasai keterpesonaanya, kemudian membuang pandangannya dari senyum yang membuat jantungnya berdetak sedari tadi itu

       “Ya. Kau tau? Tadi ak-…“

      “Lupakan, aku bahkan tidak ingin mengetahui kehidupanmu” Jasmine memotong cepat ucapan Benedict  dengan ekspresi malas, dia kesal memikirkan apa yang membuat pria itu tersenyum seperti itu. Bisa-bisanya pria itu merusak moodnya seharian, namun di waktu bersamaan pria itu malah tanpak bahagia. 

       Mendengar ucapan Jasmine, Benedict merasa tercekat, senyum cerianya seakan memudar,  raut  gembira juga berangsut menghilang dari wajahnya. Matanya tidak lagi telihat berbinar, ada perasaan kecewa da sedih melihat sikap istrinya. Kembali ia merasakan lagi seperti ada satu jarum menusuk-nusuk tepat di ulu hatinya.

       “O-Oke, baiklah aku mengerti”  Benedict mengangguk tersenyum ke Jasmine. Jasmine tidak lagi melihat senyum yang sama. Dia melangkah meninggalkan pria itu.

Sepeninggalan Jasmine Benedict menarik nafasnya dalam, mencoba mengusir perasaan sedih yang masih menjalar di hatinya, namun di setiap tarikan nafasnya malah membuatnya semangkin terluka.

       Setiap tarikan nafasnya seperti menggerakkan satu jarum itu untuk menusuknya lebih dalam. Meski jarum itu Cuma satu, namun menyakitinya amat sangat. Justru karena jarum itu hanya satu hingga menjadi sangat  terasa di banding langsung ribuan yang menusuknya, serasa lebih baik seribu jarum yang menusuk, rasa sakit itu akan lebih cepat selesai.

       Tidak dengan satu jarum, sangat  terasa dengan jelas jarum itu terus mencari tempat mana yang belum tersentuh oleh ujung runcingnya, terus menusuknya hingga benar-benar tidak tersisah lagi. Tiba-tiba Benedict  tertawa  ringan, tapi meski bibirnya tersenyum lebar  kesedihan terindah terlukis jelas di matanya. Dia tersenyum karena merasa bodoh dengan dirinya sekarang, dia memarahi dirinya sendiri yang lupa kalau tidak akan ada yang bisa di lakukannya untuk mengusir rasa pedih itu.

       Dari pengalamannya saat menerima perlakuan menyedihkan saat dari keluarganya. semua merasa percuma untuk melawannya ataupun kabur, di hari selanjutnya tetap akan terlukis jelas di hati dan kepalanya. Solusinya tidak pernah  ada, yang ada menyerahlah . Dia harus menyerah dan bertahan menerima prasaan itu.

       Hingga jarum itu seperti kehabisan daya dan akhirnya benar berhenti untuk menusuk hatinya yang telah hancur akibat ulahnya. itulah cara terbaik dalam mekanisme pertahanan diri dikehidupannya yang selama ini ia lakukan. Kini bahkan istrinya juga ikut membencinya, kenapa perasaan itu jauh lebih sakit sekarang. Jauh lebih sakit saat ayahnya tidak pernah sudi memandang ke arahnya. Jauh lebih sakit saat menerima penolakan dari saudara-saudara yang dia sayangi tapi sangat membencinya.  

        Benedict merasa malu karena telah berani berharap akan sesuatu dari pernikahan perjodohan itu. Benedict menarik nafas dan menghembuskan perlahan, masih terasa perih. tapi bukan pedih karena ujung runcing  jarum itu lagi namun perih menyisahkan sakit dari hatinya yang telah hancur akibat jarum kecil itu. Benedict mengusap-usap dadanya pelan dan mendongkakan kepalanya ke langit “Give Me Strength Mom” ucapnya pelan kembali tersenyum menatap langit yang gelap.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *