Chapter 7

Nicole

**********

Claudia Jasmine Poin of view

       Setelah berendam di air hangat sangat otot-otot di sekujur tubuhku menjadi nyaman. Tidak lagi tegang karena stres. Hari ini sangat melelahkan, Aline managerku sangat memforsir tenagaku. Selesai sesi pemotretan di lokasi ketiga aku langsung memilih untuk pulang, sangat ingin beristirahat. Aku berjalan ke ruang kamar khusus semua barang-barang pribadiku.

     Aku dengan suamiku sama-sama memiliki ruang sendiri untuk barang-barang pribadi kami. Jika ruangannya terdapat arloji-arloji Rolex yang harganya seharga sebuah mobil. Dan penuhi dengan baju-baju kemeja, dasi dan Jas berwarna nyaris sama semua, Ruanganku pastinya berbeda. Ruanganku sangat persis seperti ruanganku saat aku masih tinggal di Mansion kakeku. Seluruh pakaianku tergantung rapih di lemari dan dilemari lainnya tersusun rapih berjejer sepatu dari perancang favoriteku.

     Di sisi kanan ada lemari khusus untuk tas dan di sisi kiri lemari khusus untuk memajang perhiasanku, dari arloji, gelang, kalung dan anting yang selalu di beli kakekku dari pelelangan para billionaire. Padahal aku sangat jarang menggunakan seluruh perhiasan itu, aku lebih suka membeli perhiasanku sendiri dari pada yang di beli kakek dari rumah lelang itu. Kakekku memang kolektor perhiasan, dia hanya membeli namun tidak pernah menyentuh. 

     Selesai mengenakan pakaianku aku berjalan ke ruang menonton yang membatasi kamar dan ruang kerja suami jadi-jadianku itu. Ternyata orang yang baru saja aku sebut telah pulang bekerja.  Benedict terlihat sedang duduk di depan tv layar datar yang memilki tinggi berkisar satu meter. Aku mendekat dan memilih duduk di sampingnya berjarakkan berkisar satu meter darinya.

         Aku meliriknya, memperhatikan pria yang telah berstatus menjadi suamiku  selama dua bulan ini dengan seksama, dia sedang memanggku berkas-berkas yang sepertinya dia bawa dari kantornya. Dia masih mengguakan kemeja kantronya berwarna abu-abu, satu lengannya digulung hingga kesiku. Sesekali dia mengusap kepalanya  degan mendesa pusing. Usapan itu membuat rambutnya yang tadinya tersisir rapih menjadi sedikit berantakan. Tapi brantakan itu membuat dia terlihat seksi

        Pria ini sangat tenang, dan sungguh pendiam. Apa dia tidak memilki satu katapun untuk ia ucapkan padaku.? Apa dia tidak menyadari kehadiaranku? Sikapnya sangat amat tenang membuat aku frustasi. Ah dia sungguh-sungguh mengabaikanku.

       “Apa  kau sedang sibuk.?”  Aku mencoba menyuarakan isi pikiranku.

      “Tidak. ada apa.?” Tanya Benedict tanpa menoleh ke arahku. Masih setia membaca berkas-berkasnya. Aku membuka mulutku hendak mengatakan sesuatu namun kembali menutup mulutku, tidak menemukan topik obrolan yang pas.

        Aku menyimpulkan kedua kakiku dengan malas, tanganku mengambil remote tv dan menganti chanel berulang-ulang kali. Mataku kembali meliriknya. Pria itu masih tampak tenang, kakinya yang juga bersimpul memangku berkas sesekali berayun seirama dengan lagu yang sedang terpasang di chanel Tv. Apa berkas-berkas itu lebih menarik daripada aku.? 

         “Apa ada sesuatu yang ingin kau tanyakan.?” Tanya Benedict lagi juga tanpa menoleh ke arahku. Apa Dari ujung matanya ia tau aku terus meliriknya.?

      “Entahlah” Jawabku membuang tatapan kembali ke Tv dengan malas.  Aku sangat  bosan, tanganku yang sedari tadi menggonta ganti chanel membuat layar Tv memancarkan cahaya yang membuat mata perih karena terus berganti

      “Apa ada sesuatu yang menganggumu.?”

      “Hem” Jawabku asal

     “Apa itu.?”

     “Apa pedulimu..” Tanyaku  tanpa lepas menatap layar tv. Benedict terdiam sesaat.

    “Apa kau bosan.?” Tanyanya  menunjukkan tanda perdulinya. Aku memutar mataku menatap lantai untuk berpikir, kemudian kembali menatap mata biru miliknya yang masih menatapku.

    “Aku rasa begitu” Jawabku akhirnya

    “Apa yang membuatmu bosan.?”

    “Entahlah” aku mengangkat bahu ringan. “Tapi aku rasa semua telah membaik, lanjutkan” Aku menunjuk berkas pentingnya dengan daguku. 

      Aku tidak mengerti ada apa dengan diriku sendiri, sebenarnya aku  ingin mengajak pria itu bercerita tentang banyak hal namun mulutku terasa keluh untuk mencari kalimat yang pas. Aku kembali berpikir dengan keras, sialannya kalimat itu tdak kunjung terkumpul menjadi satu. Ya, Aku sebenarnya tidak ingin menanyakan apapun itu, karena pada dasarnya jika dia ada di ruangan ini telah membuat sesuatu yang kurang menjadi sempurna. 

      Jujur ku-akui entah mengapa saat pria itu pergi untuk perjalanan bisnis, kepergiannya selama dua minggu kemarin membuat semua terasa janggal, kamar ini terlihat sepi dan kosong. Demi tuhan selama dua bulan ini kami tidak melakukan apapun. Tidak ada obrolan ringan dan tidak ada canda tawa yang kami lakukan namun saat pria itu pergi kenapa semua terasa kosong? Tunggu..Apa kataku tadi? kosong? Tidak.. tidak Tidak mungkin aku merindukannya. Tidak mungkin.

      “Jasmine!” panggil Benedict dengan suara cukup keras.

     “Ada apa.?” Tanyaku heran. apa perlu berteriak seperti itu?

      “Apa yang sedang kau pikirkan? Kau mengabaikanku”

      “Ha? Aku?”  tanyaku bingung, dia mengangguk. “Ah tidak” ucapku tersadar,  Apa aku tadi termenung?

     “Oh baiklah.Aku ingin mandi” ucap Benedict berdiri. Bejalan ke ruang kamar tidur kami.

      Aku harus mengutuk pikiranku sendiri yang tadi  mengatakan bahwa ada perasaan sedikit gembira  melihat pria itu lagi malam ini, Ah mungkin itu karena selama seminggu ini aku  merasa kamar ini sedikit sepi karena tuanya tak menempati kamarnya ini..

       Sudah dua bulan aku  merasakan pria  itu tidur di sampingku.  Pada saat satu hari setelah pria  itu melakukan perjalanan bisnis ke asia timur. Aku mengalami insomnia yang parah, sudah melakukan berbagai hal aku tetap tidak bisa tidur. Hingga aku  merasa lelah dan baru mengantuk ketika pukul  5 pagi. Alhasil aku  selalu bagun jam 10 atau jam 12 siang. Itu telah menjadi  rutinitas-ku selama seminggu sepeninggalan suami jadi-jadianku itu.

                Jadi sebenarnya, saat suamiku  itu pergi dalam perjalanan bisnisnya  aku merasa kamar ini sedikit sepi atau hatiku yang sepi huh.? aku kembali menggelengkan kepalaku dengan frustasi. Ha, mana mungkin. Kami bahkan hanya mengucapkan sepata dua kata saat bersama sama di kamar ini.!

           Tapi itu justru hal yang aneh, seorang Jasmine yang terkenal sebagai seorang Super Model mana pernah betah berdiam diri dirumah. Ah sialan!

          Aku memang selalu memiliki segudang kesibukan, baik itu jadwal pemotretan atau kesibukan yang aku ciptakan sendiri untuk hangout bersama teman-temanku. Tapi semenjak aku menikah, aku selalu berusaha menyelesaikan jadwal pemotretanku dengan cepat. Dan ketika selesai, aku tidak memiliki selera untuk melakukan aktifitas hangout bersama teman-teman di kalangan sosialitaku. Aku pulang kerumah suamiku dan betah menghabiskan waktu malam hari bersama Benedict. Kami  tidak saling menyapa meski duduk di ruangan yang sama untuk menton tv.

           Benedict tidak pernah protes atau mengusikku  saat aku selalu mengganti chanel yang sedang ia tonton tanpa izin. Dia benar-benar membosankan. Tayangan yang ia tonton selalu saja chanel bisnis ataupun acara reality show  secret billionaire     

      selama dua bulan aku betah menghabiskan waktuku hanya seperti ini  bersama pria itu, berdiam diri menghabiskan waktu berjam-jam hanya menonton film dan aktifitas sederhana, sesuatu yang tidak pernah ku-lakukan selama hidupku.

                    knock… knock.. suara ketukan pintu itu membauyarkan lamunanku.

         “Maaf Tuan, Nona kecil ingin masuk melihat tuan” terdengar suara pelayan dari balik pintu. Aku  berdiri untuk membuka pintu kamar yang memiliki dua daun pintu. Saat aku  membuka satu daun pintu, aku  melihat ada pelayan yang tertulis di bajunya bernama Rina dan nona kecil yang disebutnya tadi adalah Nicole, adik terkecil suamiku. Nicole masuk tanpa menoleh ke arahku.  Pelayan yang bernama Rina menunduk hormat memohon maaf atas tingkah tidak sopan majikannya.

          Aku tidak mengubris kesopanan pelayan itu, aku memilih mengikuti Nicole untuk duduk di sofa malas untuk menonton yang tadi aku tempati. Aku berani bertaruh, anak yang benama Nicole ini pasti berumur 5 atau 6 tahun, tapi sikapnya dingin dan menatapku  angkuh seperti aku  adalah musuh terbesarnya.

                “Mana Russ.? Rina yakin tadi melihatnya sudah pulang maka dari itu aku kemari ” Ucap anak itu angkuh, Nicole melirik penampilanku  dari ujung matanya dan cepat merubah posisi duduknya, melipat kedua tanganya di dadanya, membusungkan badannya dan kepalanya di tegakakn lurus, duduk dengan sangat elegan meski kakinya yang mungil  menggantung tidak mampu menyentuh karpet. Aku  tersenyum geli melihat Nicole yang terlihat sangat imut dan lucu karena berusaha tampak elegan.

               “Dia sedang mandi, tunggulah sebentar” Jawabku akhirnya. “eum..kita belum berkenalan bukan.? kemari, berikan aku ciuman perkenalan. Aku senang jika menjadi temanmu” ucapku  merayunya

          “Aku tidak ingin menjadi temanmu” Jawabnya dengan suara sinis. Aku mengerutkan kening melihat sikap dingin Nicole, saat aku menoleh ke Pelayan pribadinya, Rinapun menundukan kepalanya, tidak berani memberi komentar perlakuan tuanya itu.

             “kenapa.? apa aku telah berbuat kesalahan huh? Aku rasa kita belum saling mengenal dekat sebelumnya” tanyaku heran. Nicole masih menatapku dengan  angkuh, dia kembali melirikku dari bawah hingga atas. Dan langsung membuang pandangan dariku. Melihat tingkah anak itu aku kembali bertambah heran. Hei, tidak seharusnya anak kecil berumur 6 tahun berprilaku seperti gadis berumur 28 tahun! Ada apa dengan anak ini.?

          [Back Author POV ]

          Nicole adalah adik tiri Benedict juga, Nicole tumbuh menjadi gadis yang berbeda, karena kecerdasannya. Nicole slalu saja berprilaku jauh dari prilaku anak umur 6 tahun semestinya. Dia juga berusaha hidup mandiri, pelayan pribadinya Rina tidaklah di anggap menjadi pelayannya, melainkan menjadi sahabatnya.  Nicole satu-satunya saudara Benedict yang menerima Benedict sebagai saudaranya. Dia tidak menolak dan menjahui Benedict, karena semenjak kecil Nicole dapat merasakan Benedict memandangnya dengan perasaan tulus dan bahagia menatapnya.

         .

         Nicole sebenarnya salah satu Fans Jasmine, Nicole mengetahui  Jasmine saat  Bryan sahabatnya itu  sering menyebut-nyebut kecantikan Jasmine dan sangat mengagumi sosok model cantik Claudia Jasmine itu.  Bryan mengenal seorang top model sekelas Claudia Jasmine dari majalah-majalah dan poster yang ada di kamar kakaknya yang bernama Mathews.

           Alasan Nicole mulai tidak suka dengan Jasmine karena ia telah menikah dengan Benedict, Nicole tidak suka perhatian Benedict akan teralih ke Jasmine, karena tentu saja ia akan kalah karena kecantikan yang dimiliki Jasmine. Nicole cemburu jika Benedict akan meninggalkannya demi Jasmine, dan Jasmine ternyata teman akrab kakaknya Catrine. Nicole tidak suka Catrine, karena kakaknya itu salalu bersikap buruk ke Benedict.

        “Hai Baby. Give me hug please.?” Pinta  Benedict saat melihat kehadiran adiknya Nicole di kamarnya. Benedict telah selesai mandi dan mengenakan piyama tidurnya.

      “Russsss….!!” Nicole berteriak dan berlari memanjat  tubuh kakaknya. “You know what.? I’m really missing you Russ” Benedict tersenyum “Miss you more baby” Jawab Benedict tertawa,ia menggendong Nicole untuk kembali ke sofa nonton.  Sesampainya di sofa, Nicole tidak ingin lepas dari pelukan kakaknya itu. Benedict membalas pelukan adiknya dengan sayang. Jasmine hanya tersenyum melihat dua kaka beradik yang saling menyayangi itu.

      Nicole melepas pelukan kakaknya, namun masih duduk di pangkuan itu “kenapa kau sangat lama perginya.? Boleh aku tidur bersamamu Russ.?” Pinta Nicole manja. Jasmine menyadari perubahan sikap Nicole, dia tidak lagi bersikap seperti gadis dewasa sekarang, namun telah menjadi layaknya anak kecil berumur 6 tahun saat berlari dan memeluk kakaknya

      “Apa kau sudah menanyakan kepada Jasmine.?” Tanya  Benedict sambil melirik istrinya itu sekilas.

       “Kenapa aku harus menanyakannya.?” Tanya Nicole tidak mengerti.

     “Karena dia istriku, ranjangku bukanlah milikku sendiri sekarang” jawab Benedict memberi pengertian ke adiknya, ia tidak ingin nantinya Jasmine akan merasa terganggu dengan kehadiran adiknya.

       Sementara Jasmine kembali menggelengkan kepalanya, pikiran dan hatinyanya mulai terasa aneh saat mendengar Benedict mengatakan bahwa mereka telah memiliki ranjang tidur bersama selama ini. “ranjangku bukanlah milikku sendiri sekarang”  ah, kenapa pikiranku ini. itu hanyalah kalimat biasa Jasmine!. Jasmine tampak sedikit frustasi mengusir prasaan anehnya itu

      “Nicole, kenapa kau cemberut sayang?” tanya Benedict heran melihat adiknya cemberut.

     “Aku tidak menyukainya Rus” jawab Nicole pelan, namun Jasmine dapat mendengarnya.

     “Hei, haha bukannya kau menyukainya.?” Tanya benedict heran.   “Dia adalah Claudia Jasmine, idolamu” Bisik Benedict ke Nicole pelan, berharap istrinya itu tidak dapat mendengar percakapan mereka. ‘

     “Tidak lagi Russ. Dia ternyata sahabatnya Cat. Aku benci Cat!” jawab Nicole dengan cemberut

      “Hei guys!. Ini pertama kalinya aku mendengar orang menggosipkan aku di hadapanku” ucap Jasmine tidak tahan. Benedict terlihat menahan tawanya mendengar protes dari  istrinya itu.

       “Bukan urusanmu” ucap Nicole sinis.

     “Nicole.! Aku tidak pernah mengajarimu untuk bersikap tidak sopan kesiapa-pun”  Benedict tidak suka dengan sikap adiknya.

    “Maaf Russ, aku benar-benar tidak menyukainya saat tau dia sahabatnya Cat. Dia menikahimu pasti bukan karena dia menyukaimu Rus”  mendengar itu Jasmine merasa tecekat. Benar saja, dia menikah dengan Benedict memang karena uang. Ada prasaan tidak suka kepada dirinya sendiri saat dia tau dia salah satu orang yang menyakiti Benedict juga.

    “Sayang Dengar. Dia istriku sekarang. Jadi, kau harus menghargainya sebagaimana kau menghargai aku. Kau mengerti?” perintah Benedict lembut.

      “Apa kau lebih menyanyaginya dari pada aku.?” Tanya Nicole lirih. Benedict tersenyum dan mengusap kepala adiknya dengan sayang

       “Aku menyayangimu sebagai adikku, aku menyayanginya sebagai istriku. kau juga sangat berarti dalam hidupku Nicole, jadi aku harap kau mau berteman denganya ya.?”  Bujuk Benedict lagi.  Nicole masih tampak tidak suka dengan jawaban kakaknya. Dengan ceberut dia berdiri dari pengkuan Benedict dan lari ke ranjang tidur kakaknya

Benedict menghambuskan nafas menyerah saat melihat tingkah keras kepala adik kecilnya itu. “aku harap kau tidak keberatan Jasmine” ucap Benedict tidak enak

      “Tidak masalah. kau memiliki tempat tidur yang besar bukan?” jawab Jasmine santai. Mendengar Jasmine tidak menolak, Benedict  tersenyum ramah ke palayan yang bernama Rina dan menyuruh pelayan itu untuk pergi beristirahat.

             ********************

        Setelah acara yang ia tonton selesai, Jasmine juga mengganti piyama tidurnya, mencuci muka tangan dan kakinya. Setelah ritual kebiasaanya sebelum tidur selesai ia naik keranjang tidur mereka. Nicole ada di sisi kiri Benedict. Tampaknya anak itu tidak mau berada di dekat Jasmine. Dia membuat kakaknya sebagai pembatas antara dirinya dan Jasmine. Jasmine tersenyum melihat dua kakak beradik yang terpaut umur jauh itu sedang tidur berpelukan. Benedict seperti sedang memeluk anaknya sendiri.

Saat Jasmine merebahkan diri, benedict terbagun, melepaskan pelukan Nicole agar dapat tidur dengan berbaring. Menoleh melihat istrinya di sampingnya.

       “Aku akan menjamin dia tidak akan mengganggumu tidur Jasmine” ucap Benedict pelan. Jasmine hanya mengguk dan masuk kedalam selimut putih yang tebal.

         “Apa dia sudah tidur.?” tanya Jasmine, Benedict menjawab dengan anggukan kepala.  Tempat tidur itu besar, biasanya mereka tidur dalam jarak kurang dari satu meter tatapi kini jarak itu telah terkikis membuat jarak mereka menjadi sangat dekat. Satu menit dua menit mereka masih saling diam, sibuk dengan pikirannya masing-masing.

        “Ben.” Panggil Jasmine. Benedict hanya diam tidak menjawab. “Apa kau sudah tidur.?” tanya Jasmine lagi. Benedict memutar kepalanya menoleh ke Jasmine.

       “Tidak. Apakah ada yang mengganggu pikiranmu.?” Jasmine menggeleng dan terdiam sesaat melihat mata suaminya yang berwarna biru dengan jarak sedekat itu.

         ………………………

Sangat cantik. Itulah yang terlintas di pikiran Benedict saat melihat bola mata istrinya yang berwarna hitam, bulu matanya yang panjang dan lentik  tanpa pakai bulu mata palsu. Dalam jarak sedekat itu Claudia Jasmine istrinya terlihat sangat cantik.

       “Kenapa Nicole memanggilmu dengan sebutan Russ.?”  Tanya Jasmine, mencoba  mengusir prasaannya yang aneh timbul lagi saat menerima tatapan suaminya seperti memuja ke arahnya. Benedict memutar kepalanya kesemula, menatap langit-langit kamar.

  “Russel namaku, kau tau itu” jawab Benedict datar. Jasmine sedikit kecewa mendengar nada ucapan suaminya  itu terdengar berubah. Datar dan dingin.

       “Itu nama ayahmu. Russel Heard Benedict, kenapa nama ayahmu justru yang berada di depan.?” Tanya  Jasmine hati-hati. Ia sangat ingin tau itu sejak lama, hanya saja tidak mau menanyakan itu ke Catrine, karena Catrine sangat membenci Benedict.   “Kau Benedict. Aku rasa itu bukanlah sebuah Patrilinea. Jka itu Patrilinea  maka Seharusnya nama ayahmu berada menjadi nama belakangmu, bukan nama depanmu”

      “aku tidak bohong Jasmine, itu namaku.”Jawab Benedict dingin.  Raut wajah Benedict tampak berubah. perasaan sedih kembali menjalar di hatinya. ia tidak ingin mengungkit kehidupannya yang dulu. namun mengetahui istrinya  akhirnya berani menanyakan hal yang sudah pasti membuat  orang bingung itu, mau tak mau Benedict harus berperang  melawan rasa enggan untuk  teringat lagi dengan luka yang amat membuat hatinya terasa pedih.

       “Ibuku, dia bilang dia memberikan aku nama yang sama persis dengan ayahku agar aku mudah di temukan ayahku. Ternyata benar, ketika dia meninggal, kakekku menemukanku dengan mudah karena aku bernama Russel. Russel Heard. Ditambah dengan adanya Heard kakek dengan cepat menyakini kalau aku adalah cucunya.”

        Jasmine meletakkan telapak tanganya di dada Benedict saat  mendengar suara pria itu sedikit bergetar, berharap  sentuhannya dapat menyalurkan kekuatan ke suaminya itu. Terlihat jelas,Benedict dengan berat menyelesaikan ceritanya.

       “Im sorry to hear that. I’m so sorry Ben” ucap Jasmine mengusap dada suaminya itu. Benedict  berbalik menghadap Jasmine dan menggenggam tangan istrinya.. “Thanks Jas” ucap  Benedict tersenyum tipis.

    “Em Ben. Kau bisa panggil aku -Mine saja. Tidak dengan Jas-  hanya orang asing yang memanggilku begitu” terang Jasmine. Benedict mengguk kecil dan tersenyum, Hawa panas terasa menjalar di punggung Jasmine saat menerima tatapan intents dan senyum suaminya lagi. Sepasang suami istri itu kembali saling menatap dan tenggelam dalam pikirannya masing-masing.

     Jasmine bersumpah tidak akan pernah menanyakan kisahnya suaminya  lagi jika ternyata itu akan membuat pria dihadapannya itu merasa sedih. Hanya menanyakan namanya saja pria ini sudah terlihat enggan membuka luka lamanya. Jika ia mau bisa saja ia menyewa detektif swasta untuk mencari latar belakang suaminya itu, dengan begitu suaminya tidak akan merasakan luka lamanya terbuka lagi.

       Tiba-tiba Jasmine merasa dunia berhenti tanpa sepengetahuannya. Jarum jam tidak lagi mendengarkan suaranya ketika saat berdetik. Jasmine menelan ludah dengan berat, Saat merasakan bibir Benedict dengan lembut mencium pelipis mata kirinya.

Semuanya sunyi, hanya terdengar jelas suara jantungnya yang berdegup kencang memompa aliran darahnya ke seleuruh tubuh. Ada desiran aneh namun nikmat  saat pria itu menyentuhnya, Jasmine menutup matanya, ingin merasakan dengan sepenuh hati setiap hirupan aroma tubuh suaminya itu.

          Ya, Aroma Maskulin yang sangat khas Benedict, aroma itulah yang tanpa disadari telah dicari Jasmine selama seminggu ini untuk dapat membuat dia terlelap dan tenang. Aroma itu yang membuat Jasmine seperti pencuri yang dengan diam-diam sering menghirup dalam udara yang berada di sekitar pria itu.    

        Benedict menarik diri, jarinya mengusap pipi Jasmine yang mulus.  “Selamat malam Mine” ucap Benedict lembut dan tersenyum. Jasmine hanya menatap suaminya itu dengan berbagai ekspresi, ia ingin lebih, bukan hanya ciuman untuk ucapan selamat malam. Tapi itu tidak mungkin, Jasmine masih merasa asing dan tidak mengerti dengan prasaanya sendiri. Tapi ia juga merasa heran, kalau masih merasa asing kenapa dia merasa udara telah di rampas darinya begitu saja. Dia sangat ingin menghirup aroma itu lagi lagi dan lagi.

       Tanpa menunggu jawaban dari istrinya Benedict berbalik memunggungi istrinya. Ia tersenyum tipis.

Benedict selama dua bulan ini menjadi pria yang selalu bersemangat untuk pulang kerumah, Berusaha selalu menyelesaikan semua kerjanya cepat selesai  agar cepat juga pulang dan bersantai dikamar bersama istrinya meski tetap saja  mereka melakukan aktifitas dikamar itu tanpa banyak saling menyapa. Meski tidak saling menyapa selama dua bulan ini namun Benedict merasakan kenyamanan berdua dengan istrinya.

Menghabiskan waktu malam hari berdua di kamar mereka, ternyata sangat mungkin dapat menumbuhkan prasaan dihatinya.

—————-To be continued ————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *