Chapter 5

5. What’s Wrong.?

=Claudia Jasmine Pove=

Benedict mengulurkan tanganya saat aku keluar dari limosin putih, menuntunku keluar. Sejak di pesta pernikahan kami, dia memperlakukanku seperti aku adalah ratunya. Seharusnya kami sedang berada di jet pribadi menuju Maldives island saat ini, karena mereka memiliki sebuah Resorts mewah di pulau exsotis itu, dan katanya semua sudah di persiapkan untuk bulan madu kami.

Tetapi aku menolaknya, tentu saja aku tolak, meskipun aku sangat tau seberapa indahnya pulau itu. Tetapi karena itulah aku menolak, aku takut akan buta karena indanya pulau itu dan jika aku berbulan madu maka aku merasa pernikahanku ini benaran nyata. Aku tidak mau itu, meskipun pria ini sangat baik dan sopan, tetap saja aku tidak mencintainya. Aku tidak mau berbulan madu di pulau exsotis itu dengan pria ini, pulau itu akan membuat aku buta karena ke keindahan pulau dan ketampanan suamiku ini.

Terserah jika kau mengatakan aku ini munafik, aku tidak ingin kehidupanku sama persis seperti kedua orang tuaku. Tidak akan! Aku bertekat akan tetap perawan saat aku berpisah denganya, tetapi sejak di pesta tadi aku tidak memiliki waktu untuk mengatakanya sebagai perjanjian kami. Kami terlalu sibuk di sapa oleh tamu-tamu penting di pesta itu.

Tamu di pesta pernikhan kami memang Cuma sedikit, semua dari kalangan atas teman kakekku dan kakeknya, dan ada banyak billionaire, petinggi negara dan orang orang parlemen di kedutaan, itu sebabnya aku tidak bisa dan sebenarnya tidak mau mengundang teman temanku, hanya keluarga terdekatku yang tampak hadir.

Pesta itu seperti pesta rahasia para billionaire karena ketatnya penjagaan di setiap sudut. Ini pesta pernikahanku tetapi tidak banyak yang aku kenal, berbeda dengan Benedict tampak akrab dan nyambung berbincang dengan orang tua orang tua itu.

Ini pertama kalinya aku memasuki rumah ini. Rumah yang sangat besar dan megah. Sebuah Mansion yang Sangat indah, sangat jelas terlihat ini adalah rumah raja properti dunia. Namun jika dihitung kira kira hanya ada 14 orang pelayan sedang berjejer menyambut kami, semua memakai seragam yang sama.

“Jasmine, kenalkan ini adalah bibi Melinda, dia adalah—“

“Apa kau mau mengenalkan mereka satu persatu kepadaku.?” Tanyaku memotong ucapannya. Aku bertambah kesal karena reaksinya seakan akan benar benar ingin memperkenalkan mereka satu persatu. Yang benar saja! pelayan dirumahku juga tidak kurang dari banyaknya mereka.

“Ti-tidak apa tuan muda” Wanita yang disebut bibi Melinda itu seperti memberikan suamiku senyum pengertian “Nona Jasmine, selamat datang kerumah ini. Kami akan melayani anda dengan baik”

“Trimakasih Melinda, aku harap kau tau tugasmu dengan baik” jawabku datar

“Jasmine aku rasa sikapmu-….”

“Apa hanya sekumpulan pekerja yang menyambutku? Keluargamu tidak tinggal di Mansion ini juga?”

Aku memutar tubuhku melihatnya, wajahnya masih tersenyum dan tenang meski aku memotong ucapanya sedari tadi

“Ya, mereka tinggal disini juga. Hanya saja mereka sedang tidak dirumah, mereka sedang sibuk. Ada baiknya jika terebih dahulu kau memberi salam kepada bibi Melinda”

Dia masih saja membahas masalah itu. hah aku? Memberi salam ke seorang pelayan? Tidak akan! Aku menatap lekat mata biru yang ia miliki. Aku ingin dia tau jika aku tidak akan pernah menuruti perintahnya itu.

“Melinda, bisa kau antar aku kekamarku.? Aku sangat lelah” ucapku datar untuk pelayan itu, namun mataku menatap mata Benedict dengan pandangan remeh. Kemudian hendak berbalik meninggalkannya

“Jasmine!”

Langkahku yang hendak berbalik meninggalkannya terhenti. Aku menatapnya dengan aura dinginku. “Ya?”

“Aku menyuruhmu memberi salam kepada bibi Melinda. Kau tidak dengar?”

“Apa dia ibumu?”

“Tidak nona. Ayo, aku akan mengantar anda” Wanita yang bernama Melinda itu menunduk hormat, dia tampak merasa bersalah karena telah menjadi bahan keributan dalam rumah tangga kami yang masih dalam hitungan jam ini. Aku mengabaikannya dengan pandangan sangat merendahkan ke bibi tua itu.

Ketika aku hendak berbalik Benedict menarik lenganku keras hingga tubuhku tersetak ketubuhnya. Untuk pertama kalinya aku melihat tatapan dingin dari pria ini

“Please” Pintanya berdesis penuh amarah.

Apa dia mengaturku? Aku menarik lenganku dari genggamanya dengan kasar. Sebenarnya aku tidak ingin bersikap kasar ke pria ini, aku ingin menganggapnya menjadi temanku, tetapi pria ini sudah lancang mengaturku. Apa lagi hanya demi pekerja rumah tangga. hah dia pikir dia siapa!

“Jangan sentuh aku” ucapku menatap tajam ke mata biru miliknya, kemudian berbalik dan pergi meninggalkanya tanpa menoleh sedikitpun. Meninggalkan tatapan dinginya. Aku dapat merasakan dengan jelas dinginya tatapanya di balik punggungku. Dia pokir dia siapa berhak mengatur ku? Apa dia tidak tau siapa aku? Menyebalkan!

=Authore=

“Aku pikir tuan muda menikahi wanita yang mencintainya” terdengar percakapan 4 orang wanita muda yang tidak lain adalah sebagian dari pelayan di Mansion itu sedangberbisik ke teman seprofesinya

“Iya, aku pikir juga begitu, kasihan sekali tuan muda. Wanita itu hanya menginginkan hartanya” jawab temannya dengan lirih

“Tapi dia sangat cantik, wanita tercantik yang pernah aku lihat. Jauh lebih cantik dari pada yang ada di tv”

“Ya, dan dia tidak seperti wanita pelastik. Sangat cocok dengan tuan muda yang amat tampan”

“Bagiku Dia sama saja dengan wanita plastik, karena dia hanya memandang harta tuan muda”

“Bahkan dia Wanita plastik dan sangat palsu! Karena tuan Benedictlah kelinci putihnya!! “

“Aku juga berpikiran begitu, Kasihan tuan muda. Dia orang terbaik yang pernah aku kenal, tetapi tidak sebanding dengan hartanya, dia menyedihkan”

“Aku membenci wanita itu, aku bersumpah, aku akan membuang semua majalah yang aku simpan. Aku menyesal mengagumi wanita itu”

“Apa kalian sudah selesai bergosip nona nona?”  gadis muda yang sedang bergosip itu tampak terkejut karena Mrs. Melinda kepala pelayan Mansion itu ada di antara mereka

“Em.. maafkan kami Mrs.Melinda, kami tidak bermaksud” Ucap gadis yang paling muda menyesal

“Ya, aku mengerti, sekarang pergilah bekerja”

“Baik Mrs.Melinda” para gadis itu serempak memberi hormat

=Jasmine Pove=

Ini kamar atau sebuah penthouse huh? Kamar ini besar terbagi menjadi tiga bagian, kamar tidur dan ruang nonton yang luas dan ada ruang kerja yang di sekat oleh dinding. Kamar ini tidak terlihat seperti kamar, melainkan tampak sepeti apartemen mewah. Hanya saja tidak terdapat pantry di dalamnya, kenapa dia mendisain kamarnya seperti rumah? Apa sangkin besarnya Mansionini? lantai beralaskan granit dan sebagian beralaskan lantai kayu. Seluruh dekor ditata sesuai mengikuti warna walpaper dinding. Sangat elegan dan mewah.

Pria itu akhirnya masuk kekamarnya juga. Dia menjadi pendiam, sangat berbeda dengan di acara pernikahan kami.

“Itu kamar khusus untukmu” ucapnya singkat.

Aku melihat dia menunjuk sebuah pintu berwarna pink, apa warna pintu itu memang berwarna pink sejak lama? Ketika aku buka ternyata kamar yang dia maksud adalah sebuah kamar lemari tempat menyimpan barang barang dan perhiasanku. Aku mendesah pelan, aku kira dia kan memberikan aku ranjang yang berbeda. Hatiku merasa sedih melihat barang barang yang aku kenali terpajang dengan apik di lemari ini.

Apa kakek tidak akan mengizinkan aku untuk pulang ke Mansionnya lagi? Kenapa semua pakaian dan perhiasanku tertata rapi disni?! Hah! apa kakek lupa aku telah menjadi istri pewaris kekayaan keluarga Heard? Aku sudah mampu membeli satu juta kali lipat lebih banyak dari ini semua.

Jasmine..”

Aku menoleh ke pemilik asal suara yang memanggilku, kini dia telah melepas jas putihnya, dua kancing teratas kemeja putihnya sudah di buka. Dasi kupu-kupu hitam yang terbuka masih tergantung di leher, dia memakai dasi tanpa terkunci seperti itu terlihat sangat hot. Dia juga menggulung kemejanya hinga sebatas lengan. Sangat tampan seperti pria pria model sepertiku. Ah namun pria-pria model sepertiku 99% adalah seorang gay. Apa dia juga? Dari jenis kain yang ia pakai sangat terihat itu jenis bahan terbaik yang pernah ada, dan pakaian yang menempel ditubuhnya terlihat sengaja di ukur mengikuti ukuran tubuhnya. Penampilannya yang sangat menawan di tambah bahasa tubuh yang sangat elegan aku harus mengakui pria ini memiliki selerah yang amat sangat bagus. He is totally perfect.

Apa kita bisa berbicara?”

“Ya”

“Bibi Melinda adalah…”

“Oh shit!” desisku geram. “Apa kau akan terus membahas dia?!” pekikku tertahan, sungguh tidak percaya masih saja ingin membahas hal tidak penting itu.

“Dia sudah seperti ibu bagiku dan…”

“Oh ya? dan kau pikir aku peduli?” tanyaku dengan ekspresi dingin.

“Apa kau menikahiku hanya demi Hartaku? Hanya itu?” Dia bertanya dengan pandangan sulit aku mengerti.

“Apa kau berpikir aku mencintaimu?” Aku berbalik bertanya dengan ekspresi remeh. Dia diam tampak berpikir. Apa dia benaran mengira aku mencintainya? Bahkan aku baru benar benar melihatnya lagi saat di pesta pernikahan kami.

“Ah…” ucapku membuka mulut.. “Apa kau yang mencintaiku?” Tanyaku lagi dengan nada datar, kini posisi kami duduk berhadapan dipisahkan oleh meja di antara kami. Kedua tangan dan kakiku bersimpul, berusaha tampak tenang dan dingin menatapnya

“Baiklah, aku tau posisiku” Dia tersenyum kaku. Matanya tidak menatapku saat mengatakan itu. Dia menuduk den mengusap lehernya. Baguslah dia tau posisinya, tanpa perlu mengucapkan apapun untuk menjadi perjanjian. Dia tidak membuat aku bersusah payah.

.

***

.

Seperti katanya, dia tau posisinya. Semenjak dia mengucapkan itu sikapnya berubah 100%. Dia tidak lagi memperlakukanku manis seperti aku adalah ratunya.

Sudah tiga hari kami menikah, dia tidak menyentuhku sama skali. Ah jangankan menyentuhku, bahkan dia tidak pernah menatap langsung kemataku. Dia hanya mengucapkan satu dua kata, selebihnya kami bersama sama menggunakan kamar ini serasa seperti kami hanya sendirian di kamar yang besar ini.

Sering aku menonton di ruang tv ketika dia sedang menonton acara bisnis tetapi aku ganti chanle ke HBO, dia hanya diam tanpa memarahiku karena terusik. Terkadang kami sama sama menonton film yang sama tanpa menoleh atau menyapa sedikitpun. Kadang juga dia bekerja ke ruang kerjanya.

kami tidur di ranjang yang sama tetapi tidak pernah saling menyapa. Aku mensukuri itu, tapi tidak tau sampai kapan, karena aku sangat tau type lelaki seperti dia. Dia pasti tidak berbeda sama James, maniak seks.

Pasti banyak wanita wanita plastik bersedia menuruni celana dalamnya demi CEO tampan dan kaya raya seperti dia. Dan itu juga menjadi kemungkinan. Mungkin dia sudah melampiaskan nafsunya dulu ke pelacur pelacur di luar sana hingga dia bisa tidur tenang tanpa nakal di sampingku, aku yakin itu.

***

“Hei Mineee.. omg. I fucking miss you babe”Aku dan Niky adik perempuan nya yang masih belia terkejut karena teriakan Catrine. Kami sedang makan bersama di meja panjang yang ada di ruang makan yang mewah. Ada ayah mertuaku duduk di kepala meja, dan ibu mertuaku di samping kanan, dan adik kecilnya Nicole di samping ibunya. Aku duduk di samping Niky, sebelah kiri ayah mertuaku. Setelah tiga hari menjadi penghuni rumah ini, baru inilah aku bertemu dengan sahabatku Catrine, aku menyambut pelukannya

“Sial kau Cat! Kemana saja kau? Bukannya kau berjanji akan menemaniku di rumah ini.?”

Oh. No. No.. Don’t Get Mad at Me please. I’m so sorry babe. Aku yakin kau tidak ingin mendengar alasanku yang pasti terdengar palsu haha.

“Jadi sungguh tidak ada alasan khusus untuk ini semua? bitch!” aku memukul lenganya keras. Cat malah tertawa menerima pukulanku, dia duduk di sampingku

“Sudah-sudah. Catrine marilah makan bersama kami sayang” ibunya mengajak Catrine untuk makan bersama, Catrine setuju dan ikut berkumpul bersama kami. Aku dan Catrine selalu saja mengobrol dengan asik, sesekali ibunya dan adiknya Niky ikut masuk dalam obrolan kami.

“Catrine! Bisa kau tenang dan makan makananmu?” Kata ayahnya dingin saat Catrine tertawa keras. Aku jadi tidak enak, aku juga ikut berisik tetapi hanya Catrine yang di tegur

“Haha baik dad, maafkan aku” Catrine mengucakan penyesalannya

“Biarkanlah, mereka dua sahabat yang sudah lama tidak bertemu” Ibu mertuaku memberikan aku senyum, sepertinya dia tidak ingin aku tersinggung. Aku membalas dengan senyum tulusku, ayahku juga tidak suka melihat gadis sedang makan tapi sambil berbicara, katanya itu tidak sopan. Dan dari pelajaran etika aku mendapatkan itu juga.

“Hei.. sedang makan bersama ternyata he? Tidak ada yang mengajakku?” Damien muncul entah datang dari mana, dia duduk bersebrangan dengan ayahnya

“Aku kira kaka Masih di Dubai” Jawab Niky cuek.

“Tidak, aku dari London. Hm, melihat ramai seperti ini membuat perutku terasa lapar. Mrs.Melinda, bisa panggilkan Lisa untukku?”

“Apa harus Lisa yang melayanimu Damien?” tanya ibunya berang. “Kau, Layani dia” Ibu mertuaku menunjuk gadis pelayan yang menganggur untuk melayani anaknya.

“Lisa adalah pengasuhnya bu haha” Catrine menertawai sikap pasrah Damien di layani oleh pelayan yang bukan pelayan pribadinya

“Sama saja. Apa bedanya tangan Lisa dengan Anna untuk menyendokan makanan kepiringnya he? Apa rasanya berbeda?”

Kami tertawa mendengar itu, tentu saja sama saja rasanya, hanya saja Damien sepertinya menyukai pelayannya itu sangat banyak. Padahal Lisa masih seumuran dengan Niky. Mereka masih belia.

Aku melihat semua orang berhanti tertawa saat suamiku Benedict muncul dan ikut duduk bergabung di antara kami. Dia menempati bangku tepat di samping Nicole adiknya.

Aku merasakan hawa dingin tercipta ketika Benedict duduk dan menuangkan nasinya ke piringnya. Ibu mertuaku orang pertama yang pergi meninggalkan meja makan ini dengan tanpa alasan, kemudian Niky pergi setelah memminum jusnya.

Catrine sedikit terbatuk saat tau Benedict ada di antara kami, dia juga pergi meninggalkan meja makan ini dengan alasan sudah kenyang, dia tidak memperdulikan tatapanku yang meminta penjelasan apa yang sedang terjadi di sini.

Aku menoleh ke arah Damien yang meng-hempaskan sendoknya ke piring. “Aku permisi Dad. Tiba tiba selera makanku hilang” kata Damien dingin.

Dia hanya menoleh ke arahku sebentar dan pergi meninggalkan meja makan ini juga. Aku melihat Benedict hanya diam memegang sendok dan garpu memandang makanan nya. Sama seperti ayah mertuaku.

Tetapi di wajah ayah mertuaku itu terlihat jauh lebih dingin. Semenjak anaknya satu persatu meninggalkan meja makan ini rahangnya mengeras. Kemudian ayah mertuaku itu mendorong bangku yang ia duduki ke belakang dengan keras, membuang serbet yang sebelumnya ada di pangkuannya ke atas meja makan. dia juga meninggalkan meja ini dengan diam. kenapa dia terlihat sangat marah?

Kini tinggal aku, bennedict dan adiknya nicole di meja ini. Benedict memberikan aku senyuman, aku tidak tau harus bagaimana membalas senyuman yang dapat merasakan kepedihan di sorotan matanya.

“Nona Nicole. Mari, nyonya besar sudah memanggil anda” Pelayan pribadi gadis kecil itu membantu majikanya turun dari kursi yang masih kebesaran untuknya. Nicole menarik baju Benedict dan memberikan ciuman di pipi suamiku saat berhasil menarik bahu itu turun. Benedict tersenyum melihat tingkah manja adiknya dan mengusap kepalanya dengan sayang.

Aku tidak tau harus apa. Sejak tadi makananku sudah habis tetapi aku bertahan di meja ini karena semua tampak bahagia tertawa. Tetapi kini mereka sudah pergi, tidak ada orang hanya aku dan dia.

Apa aku harus pergi juga? Ada apa denganya? Kenapa keluarganya terlihat tidak menyukainya? Apa kesaahan yang telah ia perbuat? Dia memakan makananya dalam diam. Aku memutuskan untuk menunggunya selesai makan. Aku memang tidak dekat denganya, tetapi setidaknya aku tau persis prasanya saat ini. Meskipun dia memberikan senyumnya, aku melihat sorotan matanya sangat menggambarkan kepedihan yang dalam.

Sekarang aku melihatnya bukanlah seorang laki-laki yang arogan, dingin, tampan dan kaya, namun Aku melihatnya sekarang seperti anak anjing yang meringkuk kedinginan di pinggir jalan. Mengiba untuk di kasihani, Ia seperti anak anjing yang gemetaran dan kedinginan karena tubuhnya basah akibat hujan yang membasahinya.

====To be continued===

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *