Chapter 4

Russel Heard Benedict

                     =Claudia Jhasmine Pov=

         Seharusnya acara pernikahan kami saat ini ada di sebuah taman hijau yang telah di dekor dengan apik oleh perancang ternama, semua berwarna putih. Aku, Pria ini dan sang Pastur seharusnya berdiri di sebuah gazebo kecil yang di kelilingi dengan bunga putih yang wangi lembut, dan para tamu yang menonton kami duduk berjejer di bangku yang telah di susun pula dengan rapih.

        Tetapi apa yang kulihat saat ini? Kemana para tamu? Kakek, Daddy, Mommy, James dan Luke. Kemana mereka semua? Aku tertengun menatap pria yang tengah mengucapkan janjinya ini. Aku yakin tadi hanya beberapa detik terdiam menatap mata birunya. Dan saat itu semua menghilang. Para tamu, semua dekor yang mempercantik taman hijau ini. Semua menghilang atau….. kami yang menghilang?  

      Saat ini  aku merasa berada di sebuah gereja kecil yang sederhana, sepi. Hanya aku dan dia beserta sang pastur di gereja kecil ini. Wewangian yang tercium bukan wangi bunga yang menghiasi gazobo kecil kami namun tercium bauh cengkeh dan wangi pinus, ada juga wewangian yang lembut tidak aku tau jenisnya. Ini adalah salah satu impianku, menikah dengan orang yang aku cintai di gereja kecil yang di kelilingi pohon pinus, udara dingin menyentuh kulit dengan lembut.

Mata pria ini memandangku dengan lekat. Dia mengucapkan janji sucinya dengan tegas dan berani. Sedari tadi aku tidak melihat keraguan sedikitpun di matanya saat mengucapkan janji suci pernikahan kami ini. Tidak ada musik mengiringi saat ia mengucapkan janji sucinya, tetapi entah mengapa seperti ada musik yang mengalun lembut terdengar di telingaku. Musik itu sangat tenang dan indah, sangat membuat hatiku damai. Aku seperti mendapatkan apa yang aku impikan selama ini, ini gila.

     Oh sialan dia terlihat tulus dan bersungguh-sungguh mengucapkan janji itu. Karenanya aku seperti melayang di saat seperti ini. Ada sesuatu yang aneh menjalar di hatiku, ini tidak boleh, aku tidak boleh di kuasai oleh kesaklaran acara ini. Aku tidak menginginkan pernikahan ini. Jangan terpanguruh suasana, Mine!

       “Apakah Saudari Claudia Jasmine  bersedia menerima Saudara Russel Heard Benedict   sebagai suami dan teman hidup serta Pewaris Kerajaan Surga baik dalam keadaan suka maupun duka ?”

    Suara Pastur Philip seperti menarik  jiwaku kembali ke tubuhku, Kembali ke taman hijau yang di penuhi oleh tamu.. Kembali di gazobo kecil yang di dekor penuh bebungaan yang putih.

     Jantungku berdebar kencang karena tidak mengerti sebenarnya apa yang terjadi.Aku merasakan tangan pria itu menggenggam tanganku dengan erat,ia seperti membangunkanku yang sedang tertidur. Perlahan kesadaranku kembali pulih, jiwaku terisi penuh ke tubuhku. Aku menggelengkan kepala kecil, agar tersadar dari apapun itu yang membawaku ke gereja kecil impianku.

***

        “Apakah Saudari Claudia Jasmine  bersedia menerima Saudara Russel Heard Benedict   sebagai suami dan teman hidup serta Pewaris Kerajaan Surga baik dalam keadaan suka maupun duka ?” Ucap Pastur mengulang kembali, mungkin ia membaca keraguan karena sikapku. Aku menelan liurku dengan berat, jantungku masih berdebar tidak menentu.

        “Ya. Saya bersedia”  Jawabku akhirnya. tidak ada pilihan lain, bahkan sudah di depan altar dan di saksikan bannyak pasang mata. Aku bersedia menerima pria ini menjadi suamiku. Setidaknya hanya menerimanya kan? Aku tidak berbohong ke tuhan. Aku benar menerimanya menjadi suamiku

        “Dalam keadaan sehat ataupun sakit?”

        “ Ya, saya bersedia”  

Apa susahnya? dia banyak uang untuk mendapatkan pengobatan yang terbaik di belahan dunia manapun. Dia tidak akan membuatku susah jika ia sakit.

        “Dalam keadaan kaya atau kekurangan?”

        “Ya, saya bersedia”

Dia Sangat kaya dan sampai 21 abad kekayaan kakeknya tidak akan habis. Tidak mungkin ada masa-sama dia kekurangan kan? Tentu saja aku bersedia, haha oh sialan kau Mine jangan tertawa!

        “Apakah Saudari bersedia menerima Saudara Russel Heard Benedict sebagai suami untuk menjadi penolong dan mentaatinya sampai akhir hayatnya serta tidak dipisahkan dan diceraikan oleh apapun juga kecuali kematian?

        “Ya, saya bersedia” ini adalah penegasan. Karena  sudah tidak bisa mundur tentu saja aku menerima pria ini menjadi suamiku. Emm.. dan tentang tidak dipisahkan dan diceraikan oleh apapun juga kecuali kematian. Aku juga tidak tau. Ya meskipun nanti kami akan bercerai secara hukum. aku bersedia tidak akan meninggalkannya sampai kematianku. Aku akan selalu ada untuknya jika ia mau.

        “Apakah Saudari   bersedia melayani Saudara Russel Heard Benedict   sebagai kepala keluarga serta mau memelihara, setia, merawat, dan mengasihi suami beserta anak-anak yang {sudah} dipercayakan oleh Tuhan, {maupun} dikemudian hari.”

        “ Ya, saya bersedia” itu sama saja menjadi temankan? Apa susahnya

        “Dengan ini, sebagai pengantara Kristus, dan pengantara gereja, saya mengesahkan mereka sebagai suami istri. Apa yang telah dipersatukan Tuhan, tidak dapat diceraikan manusia. Saudara Russel Heard Benedict. Anda dapat mencium mempelai wanita anda”

        Benedict menatapku dengan senyum manisnya. Mungkin memohon persetujuan agar dia dapat menciumku. Hah, dijaman seperti ini masih ada yang memerlukan izin untuk mencium seorang wanita? Ckck dia munafik.

Akupun menutup mataku sebagai tanda aku memberikan dia restu untuk menciumku.  Terdengar tepuk tangan riuh saat pria ini selesai menciumku.

        Aku melihat kebagaiaan di wajahnya saat  dia memandang ayahnya. Dia terlihat sepeti anak kecil yang malu malu melirik ayahnya.

        Hah, aku tidak abis pikir melihat senyumnya. Ada apa denganya?  seharusnya senyuman seperti itu diberikan ke aku istrinya.   Tangan-nya memang merangkul tubuhku mesra, tetapi matanya  melihat ke arah ayahnya yang bahkan tidak memandang kearahnya.

      Semua orang tertawa menikmati pesta taman ini dengan bahagia. Tetapi tidak denganku. Prasanku biasa saja.  aku memakai gaun mini putih simple, pendek tidak lebih dari lutut,  dia memakai tuxsedo putih yang membuat dia semangkin tampan.

        Aku tidak melihat Catrine di pesta ini. Aku pikir dia akan di gandeng mesra oleh James. James hanya mengandeng ibuku. Ternyata bukan hanya Catrine, tetapi Damien  dan adiknya Niky juga tidak terlihat. Ibunya pun juga tidak terlihat. Kemana mereka? Apa mereka sesibuk itu sampai tidak sempat mengadiri pernikahan angota keluarganya?

        “Hei slut. Give me a hug” James saudaraku memeluk tubuhku dengan erat

        “What the h ell are you doing Jems!” pekikku tertahan.

        “Diamlah untuk sebentar” dia mencium kepalaku.   “Terimakasih, dan maaf kau harus menjalanin ini semua Mine” James berbisik lembut.

      Aku membalas pelukan tubuhnya erat. Kini prasaanku keluar.   Air mataku mengalir, tadi yang prasaanku biasa saja kini karena pelukan hangat James aku merasakan kepedihanku sejak di rias tadi. Aku sedih karena kakek yang sangat aku sayangi ternyata tega menjualku. Dia tidak mencintai aku, dia mencintai aset-aset berharganya.

        Aku juga sedih karena alam bawah sadarku mengontrol pikiranku dengan penuh. Aku tidak bisa menolak teman sekolahku itu. Otak sialan

        “Cup.. cup sudah jangan menangis, orang orang akan memandang heran ke arah kita” James mengusap punggungku pelan. Aku merasa bersukur memilikinya sebagai saudaraku. Dia slalu ada untukku. Dia slalu mengerti aku meskipun dia sering memanggil aku slut alias pelacur, aku tau itu tidak keluar dari hatinya  “Hei lihat kau tampak jelek. Sini sini aku bersihkan makeup mu” dia mengusap air mataku

        “Tidak perlu James. Miranda adalah tatarias terbaik” itu memang benar. aku slalu memakai eyeliner tahan air. Dan karena hari ini aku hanya memakai makeup tipis. Tanpa memakai makeup tebal aku sudah merasa sempurna.

        “Oke baiklah. Kau harus tau aku mencintaimu Mine” James memeluk tubuhku lagi

         “Aku juga mencintaimu Jems. Jangan tinggalkan aku” Dia melepas pelukannya, memegang kepalaku agar menghadap wajahnya. menganguk dan tersenyum lembut.

        “Tenang james. Aku akan menjaganya” ucap suara seorang pria. Aku menoleh kebelakang melihat pria yang sudah menjadi suamiku ini tersenyum ke arah James. James memandang suamiku itu dengan tatapan yang sulit aku mengerti. Dia mengangguk  pelan dan pergi meninggalkan aku bersama suamiku ini.  “Jasmine. Bisa ikut aku sebentar?” tanyanya sopan,  aku mengangguk. Dia membuat tanganku di sikunya. Kami berjalan mendekati ayahnya di selingi membalas senyuman para tamu ke arah kami.   “Dad. Trimakasih Dad telah bersedia datang ke pernikhanku”

        “Hem..” Ayahnya hanya berdehem, tidak melihat ke arah Benedict yang menyapanya. Tangan kananya di saku, tangan kirinya memegang gelas kristal berisi angur putih. Aku dapat merasakan dinginnya sikap ayahnya itu

         “Mmm dad. kalau boleh aku….“

        “Aku harus pergi. Istriku pasti telah menungguku” Pria yang usianya tidak jauh beda dengan ayahku itu pergi meninggalkan kami, bahkan dia tidak mengizinkan anaknya menyelesaikan apa yang hendak ia katakan. Ada apa di antara mereka?

        “Maaf Jasmine.. Ayahku sedang sibuk. Semoga kau tidak tersinggung dengan sikapnya” Benedict memberikan aku senyum kaku.  Aku mengangguk kecil, menarik tanganku dari gandengannya. Itu tidak masalah, aku bahkan tidak ingin mengetahui kehidupannya.

  =Authore Pov=

       

        “Trimakasih teman” tampak seseorang kakek tua berumuran 70 tahun memeluk pria yang sama tua denganya. Pria tua itu juga membalas pelukan sahabatnya

        “Sudahlah Harper. Sudah ratusan kali kau mengucapkan itu”

        “Haha maaf sobat.. aku sangkin bahagianya membuatmu risih” Pria yang bernama Harper melepas pelukannya

        “Aku juga sangat bahagia cucuku akhirnya memiliki pendamping yang tepat”

        “Kau tidak menyesal menjualnya kepadaku?”

        “Omong kosong. Aku tidak menjualnya. Aku menyukai Benedict sangat banyak” Anthony  memukul dada Harper.  Pria tua  yang dipukul malah tertawa bahagia

        “Aku juga menyukai gadis itu. Aku harap Mine mampu mendampingi Benedict dengan baik. Kasihan anak itu. Aku harap dia dapat merasakan cinta yang tulus” Pria tua yang bernama Harper memandang Bennedict dari tempat ia berdiri. Sorotan matanya memandang pilu ke Benedict, cucu pertamanya.

        “Tenang saja. Mine memiliki hati yang sangat lembut. Yah meskipun dia manja dan sedikit brutal tetapi lihat saja. Demi keluarganya dia rela menjadi tumbal”

        “Oh sobat. Aku akan memastikan kepadamu. Mine tidak akan merasakan dia menjadi tumbal di istanaku. Dia akan bahagia” Harper tanpak gegelapan mendengar kata tumbal

        “Ya, Harper. Aku tidak meragukan Benedict sedikitpun. Dia pria yang sangat baik dan tampan.”

===TBC===

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *