Chapter 34

34. Lithium 1

  “Pedro! Aku katakan berhenti brengsek!! Dia akan mati jika tidak ada yang menolongnya” Triak seorang bertubuh besar ke pria yang menyetir mobil.

    “Tidak! kau diamlah Hagler, kita telah menghubungi sahabatnya, itu sudah lebih dari cukup.” Maki pedro keras. Hagler semangkin marah, ia melayangkan pukulannya ke wajah Pedro yang sedang menyetir dengan hentakan keras. Pria itu limbung. Suara decit ban mobil terdengar. Mobil itu berkelok-kelok tak tentu arah hingga menabrak pohon pinus yang ada di tepi jalan. Kesempatan itu di ambil Hagler untuk keluar mobil dan hendak berlari ke kursi pengemudi namun Pedro menginjak gas dengan kuat meninggalkan Hagler sendirian.

       “Brengsek!!” Maki Hagler berteriak murka, pria negro berkulit hitam pekat dan bertubuh sangat besar itu berbalik dan berlari secepat yang ia bisa menuju Benedict yang membutuhkan bantuannya. Ia berlari menempuh jalan satu kilo meter yang telah mereka tinggalkan tadi dengan harapan ia tidak telambat menolong pria yang ia kenal dengan baik itu.

       Langkahnya semangkin cepat saat melihat tubuh Benedict yang tergeletak di aspal dingin. “Mr.Heard bertahanlah” Hagler membuka jasnya dan membelitkan tubuh Benedict agar menghangat, ia juga membuka kemejanya kembali membelitkan ke tubuh yang sudah memutih seperti tidak memiliki sedikit darahpun di tubuhnya. Ia memeluk tubuh Benedict dengan erat, berharap dapat menyalurkan kehangatan selagi menunggu bantuan yang akan segera datang.

     Suara benedict meringis terdengar karena kuatnya pelukan pria itu. Matanya perlahan terbuka lemah, dahinya berkerut kecil menatap bingung ke pria yang sedang memeluknya erat. Ingin menanyakan siapa kiranya pria negro berbadan besar itu namun tidak sanggup untuk mengucapkan sepata katapun.

“Aku Hagler tuan, salah satu bodyguard princess swan ah maksudku Claudia Jasmine. Aku bodyguard yang telah menjaga gadis itu dari ia kecil” ucap pria itu sekan mengerti arti tatapan Benedict yang penuh tanya.

      Benedict mengerutkan keningnya semangkin dalam namun kemudian tertawa dalam hati. “M-maaf tuan bukan bermaksud mengintip kalian melakukan itu, namun ini sudah menjadi tugas kami mengawasinya dari kejahuan meski gadis itu tidak ingin di kawal lagi semenjak ia menginjak masa remajanya” tambah Hagler lagi, masih mencoba menebak arti raut wajah Benedict yang tersenyum sengat lemah.

       “Jasmine sudah seperti putriku tuan, aku tidak akan sanggup melihatnya bersedih jika anda meninggal dunia” tambah pria tua itu dengan suara bariton  khasnya yang terdengar seperti suara bass.

      Benedict tertawa lagi dalam hati, sungguh tidak menyangka semalaman mereka di tonton oleh orang lain. Apa itu alasan mengapa dia meminta di tutupi oleh kain semalam? Karena ia tau bodyguard yang mengawasinya dari radius beberapa meter?’ Tanya Benedict menganalisa permintaan istrinya.

”Nona Jasmine telah pergi tadi 30 menit sebelum anda terbangun tuan. Aku dapat pastikan dia baik-baik saja meski kami lalai karena tidak menyadari dia pergi” ucap Hagler memberi tahu agar Benedict tidak perlu mencemaskan gadis itu lagi.

 Mata Benedict mengerjap lemah melihat pria berbadan buldog itu. Selamat Ben! Istrimu baik-baik saja. Sekarang matilah! Ucap Benedict terkekeh lemah. Kamudian Ia merasakan tenggorokannya amat sangat kering. “air” pintanya tanpa suara.

      “Apa? Bisa ulangin tuan?” Tanya Hagler mendekatkan telinganya ke wajah Benedict.

      “Air” ucap Benedict berusaha mengeluarkan suaranya.

       Hagler merasakan sedikit ragu untuk mengambil air kedanau namun akhirnya memutuskan untuk mengambil air dan meletakkan Benedict yang sangat rapuh kembali di tempat semula. Dengan berlari ia turun ke danau dan membawakan air dengan daun yang ia gunakan sebagai wadahnya.

Saat ia kembali ia merasa ragu untuk mendekat, karena melihat wajah Benedict yang benar-benar sangat pucat,matanya tertutup, dadanya tidak lagi tersedak-sedak kecil seperti tadi yang sangat telihat kesusahan menghirup udara. Perlahan ia mendekat dan menyentuh leher pria itu dengan dua jarinya. Matanya membesar seakan tidak percaya, ia kembali meletakkan kepalanya di bagian dada pria yang terkapar itu. Hagler menelan liurnya berat. Benedict sudah tidak bernafas, jantungnya tidak berdetak.

     “A-apa yang harus aku lakukan?” tanyanya denga rasa keterkejutan luar biasa. Ia merogoh saku celananya, menarik keluar ponselnya yang berdering.

     “Ka-Kau bersamanya bukan?!” tanya seseorang bersuara serak di ujung telpon.

     “Ya tuan”

     “Oh thanks God!! Aku akan memberikanmu jutaan dolar untuk rasa terimakasihku tuan”

    “T-tapi tuan, dia sudah tidak bernafas” ucap Hagler pelan. Namun pelannya suara Hagler mampu membuat Segio Sande di sambungan telpon berasa seakan nyawanya ditarik dengan paksa dari tubuhnya. Ia menginjak rem mobilnya tanpa sadar. Meremas stang mobil dengan  sangat kuat.Terdiam beku menatap kegelapan embun yang menggepul di jalan. Jantungnya seakan tidak berdetak lagi menerima kabar itu.

      Ia menggelengkan kepalanya “Tidak mungkin, tidak… tidak TIDAK!!!” Triakannya mengelegar.

     “Ka-kau bisa melakukan pertolongan pertama bukan?!!” Sergio berteriak marah.

     “Bagian dadanya sangat rapuh tuan, bagaimana caranya aku memompa jantungnya? Bagian organ dalamnya akan sangat hancur karena tindakan itu”

Sergio menelan liurnya berat, matanya bergerak liar memikirkan cara lainnya.

     “Tidak dengan memompa jantungnya. Yaya.. layangkan kepalan tanganmu tepat di jantungnya berada. Jangan sampai salah posisi dan berusahalah sesuaikan frekuensi pukulanmu dengan keadaannya  saat ini. aku mohon tuan lakukan sesuatu aku mohon”

    “Bagaimana jika…”

    “BRENGSEK LAKUKAN PERINTAHKU!!” Sergio menyalak. Ia kembali menginjak pedal gas dengan kecepatan tinggi menuju ke tempat sahabatnya tergeletak.

                 ********

          Diruang ICU Mount Sinai Medical Center, New York.  Benedict terbaring lemah di sebuah ranjang. Bedside Monitor memonitor vital sign’nya, detak jantung, nadi, tekanan darah, temperatur bentuk pulsa jantung secara terus menerus. Mode Ventilator Mekanik juga terpasang di wajah atau lebih tepatnya di hidungnya untuk membantu pria itu bernafas. Taylor, Nathaniel, Raymond-Daniel,  Williams dan Sergio terdiam beku bersatu dengan suasana yang sepi mencekam meunggu Benedict kembali sadarkan diri.

       Sergio terduduk lemas di lantai dengan tangan masih menggenggam senjata api  berjenis Walter p99. Keterkejutan masih tergambar jelas di raut wajahnya mengingat kejadian yang baru pertama kali ia lihat di hidupnya. Dia baru saja keluar dari ruang operasi, melihat langsung dengan mata dan kepalanya sendiri sahabatnya benedict di suntikkan anestesi lokal berupa lidokain.

      Dan pisau tajam itu membeda kulit yang menutupi tulang rusuk Benedict, Pisau tajam menggantikan jarum runcing dimasukkan kedalam sela-sela costa tersebut, selang kecil dimasukkan kedalam rongga dadanya dan kemudian selang kecil itu terlihat menyalurkan cairan darah kental ke dalam botol yang di sediakan. Bekuan darah pada paru itu hampir dapat menjadi fatal. Paru-paru dan jantungnya dapat berhenti bekerja jika ada beban bekuan yang cukup besar dari embolus dan jumlah jaringan paru yang berisiko. Selanjutnya pembedahan jauh lebih besar dilakukan dengan pengawasan Sergio yang masih memegang senjata api berjenis walter p99 di tangannya. Matanya dengan tajam mengintimidasi para dokter yang bekerja namun sesekali menatapnya takut.

       “Apa yang terjadi sebenarnya?! Kanapa Benedict menjadi seperti ini?!” tanya Raymondl dingin. “Kenapa dia menjadi pria menyedihkan seperti ini ha?!” tanyanya menyalak. Nathaniel dan Wiliams dan Taylor terdiam bisu. Dia berjalan menghampiri Williams dan memukul pipi Wiliams pelan. “Pergilah, temukan Damien dimanapun kalian membuangnya, bunuh dan bawa mayatnya kehadapan ayahnya. Jika perlu lakukan juga ke Catrine adiknya.” Perintah Raymond dingin. Wiliiams menatap takut ke Raymond yang terlihat marah namun tenang. “Kau takut melakukan itu?” tanyanya datar.

        Williams mengelengkan kepalanya kaku.    “Benedict akan sangat marah jika kita menyentuh adik-…”

     “TIDAKKAH BAGIMU LEBIH BAIK DIA MEMUSUHIMU DARI PADA DIA MATI?  Pergilah dan lakukan apa yang harus kau lakukan.” Triak Raymond  geram. Williams mengangguk dan pergi menjauh dari mereka dengan langkah pasti.  Kemudian tatapannya jatuh ke Sergio yang terdiam bersama pikirannya sendiri. Sekuat tenaga ia melayangkan kakinya ke kepala Sergio yang terduduk di lantai.

      BRUKKKK!

      Sergio tersungkur menerima tendangan keras di kepalanya, tendangan itu sangat tiba-tiba, sungguh mengejutkannya, beberapa detik ia masih belum sadar akan apa yang baru saja terjadi padanya. Telinganya berdenging panas. Nathaniel dan Taylorpun ikut terkejut akan penyerangan tiba-tiba tersebut. Raymond menarik kera kemeja Sergio agar menatap kearahnya. “Kau bilang Benedict adalah nyawamu bukan? Kenapa menjaganya saja kau tidak bisa ha?! Kenapa kau membiarkan wanita itu masih tetap hidup?!!” Triak Raymond-Daniel keras di wajah Sergio.

      “Ak-Aku tidak bisa” jawab Sergio terbata.

      “Sepengecut itukah kau membunuh seorang wanita?!” tanya Raymond-Daniel mencengkram leher Sergio kuat. Dia memki Segio yang tidak berhasil membunuh Jasmine.

     “Matanya,” ucap Sergio terbata menahan sakit, tangannya berusaha melepaskan cengkraman tangan sahabatnya dari lehernya. “Sorotan mata gadis itu sama persis seperti sorotan mata Benedict saat dia bisa kembali bernafas.” Ucap Sergio dengan suara seraknya. “Hanya melihat sorotan mata itu aku dapat merasakan keperihan yang sama di mata mereka.” Mendengar itu cengkraman Raymond-Daniel terlepas.

      “Bagaimanapun Benedict harus melupakan obsesinya terhadap gadis itu. Sudah saatnya dia mendengarkan kita untuk menjahui gadis menyebalkan itu. Jangan biarkan gadis itu datang untuk melihat Benedict. Ancam Robbie dan seluruh asisten di bawah Robbie untuk tidak memberikan informasi apapun tentang gadis itu lagi. Aku sudah sangat muak dengannya.”

      “Hei, itu keterlaluan, kalian tidak berhak mengatur hidupnya seperti itu”

      “TUTUP MULUTMU NATHANIEL!!!” Serentak Sergio, Raymond dan Taylor berseru berang ke Nathaniel yang selalu memiliki jalan pikiran berbeda dengan mereka.

                *************

          Di club malam Studio 21, yang terletak di kawasan Manhattan.  Jasmine tanpak duduk di meja bar. Wajahnya memerah karena mabuk, ia menunduk, rambutnya yang bergelombang menutupi setengah wajahnya. Ia menghentak-hentak gelasnya agar kembali terisi dengan tequila entah untuk keberapa kalinya.

         Lyden sang bartender yang sebelumnya tidak pernah bertemu dengan Claudia Jasmine jadi merasa sangat kenal dengan wanita itu serasa ber-abad lamanya. Sambil melakukan atraksi  meracikan minuman-minuman ‘penghangat’  bartender  itu setia mendengarkan curhatan Jasmine. Dan melemparkan joke kotor untuk membuat gadis itu tertawa keras. Namun secara bersamaan menangis.

      Penampilan gadis itu sungguh memprihatinkan, dia menangis tanpa suara memandangi gelang berlian yang ada di tangannya. Kemudian dia tertawa kosong. “Kau tau Zach..?” Jasmine meneguk tequila-nya sampai habis.

    “Lyden nona.. namaku Lyden” protes Lyden mengisi tequila lagi di gelas Jasmine

    “Ah ya.. Kau tau Greg.. bagaimana rasanya di permainkan huh?” tanya Jasmine menatap gelang yang ada kini tergeletak di dekat gelasnya. Lyden di panggil Greg, pria itu menggelengkan kepala geli.

    “Kau seharusnya besama sahabatmu saat ini, percaya padaku itu akan jauh lebih dari pada mabuk sendirian”

     “BULLSHIT! Mereka fans dari si brengsek itu.. “ ucap Jasmine cekukan. Ia menutup matanya yang terasa panas “Mereka akan mengatakan akulah yang bersalah,  aku yang jahat. Tidak ada yang mengerti perasaanku Matt..” sambung Jasmine menangis, menjatuhkan kepalanya di meja bar.

   “Baiklah namaku Matt sekarang.” Ujar Lyden pasrah. “Apa kau butuh seorang pria? Cara terbaik melupakan seorang pria adalah dengan pria lainnya bukan?”

Jasmine menggeleng sambil terkekeh “aku mau seorang wanita… aku ingin menjadi lesbian. Apa kau memiliki seorang wanita bermata biru?”

     Lyden bersiul takjub. “Wanita? Kau yakin?” Jasmine mengangguk. Tapi tiba-tiba tubuh Jasmine tertarik keras dan ia limbung hendak jauh ke lantai namun tangan yang menariknya dengan cepat kembali menarik ke tubuhnya agar tidak terjatuh. Menatapnya geram

         Jasmine mengerjapkan matanya perlahan, mengerjabkan lagi dengan pelan untuk memastikan orang yang ada dihadapannya. “Taylor?” ucapnya meringis. “OH MY……. SON OF BITCH!!” seru Jasmine berteriak girang. “akhirnya aku bertemu denganmu lagi slut. Emm.. Aku merindukanmu gadis jalang-ku” Ucap Jasmine terkekeh hendak menciumi bibir Taylor.

     “Menyingkirlah dariku brengsek!” Taylor mendorong tubuh Jasmine keras hingga tersungkur ke lantai. Ia mengambil beer yang di gelas besar dan menyiramkan ke wajah Jasmine. You are full of shit!” Maki Taylor sangat kasar “Sadarlah!!” ia melempat gelas yang berisi beer itu ke samping Jasmine, Hempasan gelas membuat seluruh mata terarah ke mereka.

      Pedro dan budyguard Jasmine lainnya dengan sigap berlari mendekat hendak menarik Taylor menjauh dari Jasmine namun Jasmine menggeleng “I got this shit!” ucapnya berusaha untuk sadar dari pengaruh alkohol

     “Apa kau sudah gila Jasmine?! Apa kau lupa dia baru saja terkena tembakan di paru-parunya ha?!” Triak Taylor keras, ia mencengkram lengan Jasmine dengan erat agar Jasmine melihat matanya. “Apa kau tidak tau suhu Amerika  sekarang sedang merangkak ke winter hah?!” lanjut Taylor bertanya dingin. “Di saat paru-parunya sedang rusak kau justru mengajaknya berenang di danau yang dingin, kau bercinta dengannya di alam terbuka!! Dimana letak otakmu berada?!! Tidakkah kau pernah terpikir olehmu dia masih sangat sensitif di udara yang dingin?! Dia berada di ambang kematian karenamu!!!”

      Jasmine tertawa kosong, menarik lengannya dari cengkraman Taylor. “To hell with him!” ucapnya datar. Tidak ada keterkejutan tergambar di wajah Jasmine.

      Taylor merasakan merasa merinding akan komentar sakartis Jasmine. Darahnya seakan mendidih tau ketidak perudulian gadis itu sedikitpun tentang Benedict. Dadanya sesak, air matanya menetes, hatinya terasa perih mengingat Benedict  yang terus mengigaukan nama istrinya di saat di ambang kematiannya.  Sungguh tidak percaya akan sikap dingin Jasmine. Ia mengira gadis itu akan menangis meraung-raung saat tau pria itu sekarat karena ulahnya.

      “Get off my ass Tay. Kau menginginkan aku pergi dari pria itu bukan? Pergilah, He is such a fuckhead.!” Maki Jasmine dingin.

   Taylor berdiri, mengusap air matanya. “She is  really ass hole” guman Taylor terkekeh miris.  Ia berbalik, meninggalkan club itu dengan mengatupkan rahang keras.

       Jasmine berusaha berdiri dengan goyang akibat mabuk,  kembali duduk di meja bar. Meneguk habis isi botol Diva Vodka  yang tegeletak di meja bar, ia menutup mata saat minuman beralkohol  itu terasa membakar tenggorokannya. Air matanya yang mengalir ia hapus dengan kasar. Ini adalah penyerangan kedua yang ia terima dalam kurun waktu satu hari.

Setelah Sergio hampir membunuhnya kini gadis jalang itu yang memakinya.  Makian Sergio jauh lebih menyakitkan dan begitu hebat mengguncangnya ketimban makian Taylor. Gadis itu sungguh tidak memperdulikan ada orang yang memfotonya,  sungguh tidak peduli jika harus menjadi headland news lagi di majalah infotaimen dan jejaring sosial.

      ***********

         Satu minggu telah  berlalu Benedict telah sadarkan diri dari dua hari yang lalu. Kini dia terlihat sedikit sehat, ruangannya telah berpindah ke ruangan super VIP yang di tata seperti kamarnya, bukan seperti kamar rumah sakit. Namun Ventilator masih terpasang untuk membantu pernafasannya. Taylor meletakkan makanan di meja kecil besi yang terbelumnya terlipat di sisi ranjang. Bubur, buah dan air putih tersaji di depannya. Selama ini Taylor melayani dengan sempurna. Sangat perhatian dan lembut seperti biasanya.

        Benedict memejamkan mata geram melihat Nathaniel dan Sergio yang keluar kamar mengikuti dokter karina. Namun Wiliams dan Raymond-Daniel sahabat-sahabatnya masih berada di ruangan itu sibuk dengan aktifitasnya sendiri. Selama ini empat pria itu seperti sengaja mengasingkan dunia luar untuknya.  Setiap kali ia menanyakan keadaan Jasmine, Sergio terus saja mengomel dan memaki-maki Jasmine dengan sebutan gadis jalang.  Rumah sakit bagaikan neraka untuknya. Benedict menatap kosong air hujan yang mengalir di kaca jendela. Gemuruh petir bersaut-sautan di angkasa.

        Dia tidak dapat berbuat lebih, beradu mulut dengan mereka saja membuat ia lelah.  Sungguh tidak memiliki daya untuk bergerak sendiri untuk melakukan keinginannya yang sangat ingin menemui istrinya. Benedict hanya berdiam diri mengikuti serangkaian tes dan pengobatan untuk dirinya sendiri, mengumpulkan tenaga untuk mencari keberadaan istrinya.

           “Apa setelah ini dia akan baik-baik saja?” tanya Nathaniel cemas ke dokter Karina setelah menutup pintu ruangan itu.

           “Dia mengalami kerusakan paru yang cukup parah. Meski kelihatnya kondisinya saat ini sudah membaik namun kami dari Team dokter tidak dapat memastikan sampai kapan ia akan ketergantungan dengan Ventilator itu. Pada awalnya dia tidak mampu bernafas sendiri karena parunya hampir kehilangan fungsi. Saat ini frekuensi napasnya lebih dari 62 kali per menit Namun  Ventilator itu telah kami set untuk menyesuaikan volume dan frekuensi pernafasannya. Diantara pernafasan pemberian ventilator tersebut Benedict dapat bebas bernafas.”

            “Bisakah kau menggunakan bahasa manusia saja? Aku tidak mengerti dengan semua yang kau katakan” Tanya Sergio tidak mengerti dari belakang Nathaniel.

          “Kau pikir aku menggunakan bahasa binatang huh?” Seru Karina geram pada  Sergio. “Dengar Mr.Sande, Meski kau memiliki jutaan dolar untuk membayar dokter terbaik yang ada di Amerika ini tapi tetap saja kau tidak boleh mengintimidasi mereka dengan pistol sialanmu itu!!  jika kau ingin mereka bekerja dengan optimal itu berarti kau tidak boleh memberika mereka tekanan batin sialan!! Kau membuat mereka ketakutan!” bentak Karina berang mengingat Sergio yang mengawasi mereka bekerja dengan senjata api di tangannya waktu itu.

         “Dia melakukan itu untuk ketenangan batinnya sendiri, maafkan dia Karina aku harap kau dapat mengerti.” Ucap Nathaniel membela Sergio, karena ia tau sahabatnya itu adalah anak kecil yang terjebak dalam tubuh orang dewasa. “Aku akan memaksanya nanti agar meminta maaf ke seluruh team, aku sangat berterimakasih atas kerja keras kalian” Lanjut Nathaniel terdengar tulus.

       “Baiklah Nathaniel. Dan kau!” Dokter Karina kembali menatap kesal ke Sergio “Dia.. D i a   s a h a b a t m u i t u..” ucap Karena mengeja pelan namun bersuara cukup keras

      “Hei aku tidak tuli berbicaralah dengan normal!” Serga Sergio tidak suka di perlakukan seperti anak kecil.

      “Kau tidak tuli tapi kapasitas otakmu sempit bukan? Dengarkan dengan baik! Meski kelihatnya kondisi Russel saat ini sudah membaik namun kami dari Team dokter tidak dapat memastikan sampai kapan ia akan ketergantungan dengan Ventilator itu. Maka dari itu kau harus pastikan agar Sahabatmu itu tidak melepas selang oksigen itu! Apa kau mengerti?”

        “Selang oksigen apa yang kau maksud? Apa selang kecil yang di masukkan melalui tulang rusuknya waktu itu?” Tanya Sergio tidak mengerti. Dokter Karina menghembuskan nafas lelah. Matanya meminta pertolongan agar Nathaniel membantu memberi penjelasan ke sahabatnya. Nathaniel menundukkan kepala, memejamkan matannya,mengusap pelipis-nya dengan menghembuskan nafas berat. Ia terdiam sesaat baru mulai membuka suara.

        “Gie, selang yang dimaksud itu adalah selang oksigen kecil yang ada di hidung Benedict, team dokter tidak bisa memastikan sampai kapan Benedict akan ketergantungan dengan Ventilator itu meski keadaan tubuhnya telah sehat nantinya” Ucap Nathaniel membantu menerangkan pada Sergio dengan sabar. Sergio mengangguk kecil. Nathaneil membaca bahwa Sergio masih tidak memahami apa yang terjadi sebenarnya.

       “Parunya telah kehilangan fungsi Gie. Dengan kata lain Benedict tidak mampu lagi bernafas tanpa bantuan oksigen melalui selang kecil itu. kau mengerti?” Tanya Nathaniel dengan sorotan pandangan terluka.

       Sergio mundur selangkah.  Akhirnya ia mengalami tanda-tanda vital yang di alami Nathaniel saat mendengar kabar itu tadi. Frekuensi syok yang sama di alaminya. Bahunya terkulai lemas “Dia tidak mungkin menjadi pria menyedihkan seperti itu.” Sergio menggeleng kaku. “Dia tidak mungkin hidup dengan membawa tabung oksigen kemanapun dia pergi bukan? Tidak, itu gila. Kau pasti bercanda bukan?” Tanya Sergio seperti siap menerkam dokter Karina namun Nathaniel dengan cepat menahannya.  Ia menyentuh  pipi Sergio dengan satu tangannya.

      “Gie Lihat aku” Ucapnya berat. “Ini telah kita prediksikan saat paru paru kanannya tertembak bukan.? Aku mohon jangan buat keributan lagi. Jaga emosimu” ucapnya berusaha tenang meski tubuhnya juga lemas memikirkan nasib sahabatnya. Sergio menunduk patuh, namun pikirannya bergerak liar mencari cara agar Benedict dapat kembali normal seperti dulu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *