Chapter 33

33. breathless

======== 

 “kenapa kau selalu membalasku dengan hal yang mengerikan Rush!” tanya Jasmine ingin menangis lagi.
     “Aku akan melakukan hal gila jika kau terus menyebut namaku dengan nama itu Jasmine” Ancam Benedict geram. Jasmine terdiam. Ia teringat kembali saat Taylor selalu saja mengucapkan Benedict-ku, mengingat itu membuat ia merasa jijik.

       “Jasmine”

       “Hmm?”

      “I think that you and I can make a lot of beautiful and smart children, what do you think?”

     “What?” tanya Jasmine terkejut. Ben tertawa, menunduk dan mecium pipi Jasmine sekilas. Mempererat pelukannya, menempelkan pipinya ke pipi Jasmine “Hm..  kau sangat dingin disini” 

   Jasmine menutup matanya, menerima kehangatan yang di tularkan dari pipi suaminya. ‘Bagaimana cara menghadapi pria seperti dia ini? dia sungguh berbeda seperti yang dikatakan TaYlor’ Ia merasakan tangan Benedict keluar dari lilitan dan menyentuh pipi kanannya, memberi kehangatan pada pipinya yang terasa hampir membeku. “Kau terlalu lama berenang”

    “Ya”

    “Kau masih marah padaku?”

    “Ya”

    “Kenapa?”

   “Kenapa??”

   “Kenapa kau mengulang pertanyaanku? Katakan, mengapa kau marah padaku”

   “Karna ternyata kau pria brengsek” 

   “Tidakkah cintamu tulus padaku?” Tanya Benedict seakan mengerti arti brengsek yang dimaksud istrinya

   “Aku tidak pernah mencintai pria brengsek”

   “Lalu pria seperti apa yang kau cintai?”

   “Peter”

    “Pria pemusik itu lagi huh?”

    “Namanya Peter Rush! Dia memiliki nama! “

Benedict terdiam, rahangnya mengatup keras. Perasaan sakit melandanya saat istrinya membela pria itu lagi, ada rasa cemburu saat Jasmine tidak suka nama kekasihnya di sebut secara tidak hormat. “Kenapa kau menyukai pemusik itu?” 

  Jasmine menatapnya sengit, ‘pemusik itu? kenapa dia tidak menurut padaku kali ini?

     “It would be the lovely  Peet! He is so graceful, so elegant, so funny, so gallant, uncomplicated, and charming.”  Dan sialannya wajah Benedict-lah yang terlintas di pikirannya saat mendeksripsikan itu semua. Wajah Peter entah berada dimana.

     “Itu terdengar bagus, tapi aku tidak perduli, kau milikku sekarang. Seperti aku milikmu” Benedict memendam wajahnya di leher samping Jasmine. Mencari kehangatan untuknya

     “Tapi hatiku masih padanya Rush” balas Jasmine berbohong. “Aah… stop jangan gunakan lidahmu!” Jasmine mendorong jauh kepala Benedict dari sampingnya.  Benedict tersenyum geli karena Jasmine mendesah

     “Aku suka berada disini” ia mengecup lembut leher Jasmine “Rasamu sangat manis” Jasmine menutup mata  tidak berdaya menolak suaminya yang menciumi kulitnya. 

    “Jangan menggodaku Rush”

    “Kenapa?”

    “Demi Tuhan ini outdoor!!” pekik Jasmine tertahan.

    “Aku kira kau akan mengatakan -demi Tuhan Ben aku kekasihnya Pet haha” Benedict tertawa nakal di cumbuannya. Jasmine mengigit bibirnya malu. Ia mengehembuskan nafas frustasi.

      Nafas hangat Benedict begitu hangat di belakang telinganya. Kehangatan dari kain yang melilit mereka berdua menganggu pikiran Jasmine. Hanya berdua bersama pria itu sangat membuat ia nyaman, tapi ia tau pria itu mungkin hanya terbawa akan suasana.

Dia tidak mencintaiku, dia hanya ingin seks dariku. ’

       “Sayang” panggil Benedict lembut di telinga Jasmine karena istrinya tampak tenggelam dalam lamunanya

       “Hemm” Jawab Jasmine termenung menatap api yang mulai berkobar besar. Benedict tersenyum tipis, istrinya tidak lagi menolaknya.

       “Sayang…” Bisiknya lagi pelan, mengendus daun telinga Jasmine yang terasa dingin

       “Hmmm.. katakanlah”

      “Apa kau tau? Aku sangat suka memlukmu seperti ini. Aku suka bersentuhan denganmu”

     “Eumm.. kau tau Rush? Sepertinya kau mulai masuk ke part drama dimana si pria mulai melancarkan rayuan mautnya untuk sang gadis”  ucap Jasmine datar. Benedict mengigit kecil daut telinga istrinya geram.

    “Seumur hidupku aku belum pernah membual. Aku mengatakan apa yang aku rasakan. Aku sungguh menyukaimu Jasmine, kau begitu indah ditakdirkan menjadi istriku”

    “Si pria juga mengatakan hal itu di drama yang aku tonton Rush” ucap Jasmine dingin, sekuat tenaga Jasmine membacakan mantra  berusaha untuk tidak terbuai lagi pada pria yang memeluknya itu. Benedict mencium bahu Jasmine lembut.

    “Aku menyukaimu Jasmine.” Benedict berbisik pelan di telinga Jasmine yang terasa dingin di bibirnya. Jasmine menutup mat, mengigit bibir bagian dalamnya,  mengucapkan ribuan mantra untuk batinnya yang semangkin berhianat. 

“A k u m e n y u k a i m u  J a s m i n e. Dengarlah.  Aku mencintaimu, aku sangaaat mencintaimu. Lebih dari apapun aku sangat mencintaimu Claudia Jasmine. Kau seperti bidadari. Kau membuat jantungku selalu berdebar-debar”

      Jasmine merasakan sedikit sakit dalam dadanya. Seperti ada aliran listrik di sekujur tubuhnya. Dalam diam air matanya jatuh menetes. Kalimat yang ia impikan selama 15 tahun lebih akhirnya keluar dari bibir pria itu langsung.  Namun ia tidak yakin apa yang harus dilakukan, Kupu-kupu mengisi perutnya. Jantungnya seakan berhenti berdetak.

     Berbeda dengan debaran jantung Benedict yang terasa jelas di punggungnya. “Tolong jangan tinggalkan aku, hanya tinggal di sini untukku. Aku mencintaimu. Demi Tuhan Jasmine percayalah aku mencintaimu” uangkap Benedict dengan suara bergetar, kalimat itu keluar dari dalam hatinya terdalam. Tidak pernah terbayangkan olehnya jika mengatakan hal yang keluar dari hatinya mampu membuat ia sampai ingin menangis.

      Benedict memutar kepala Jasmine untuk menatapnya. Mengusap air mata Jasmine dengan ibu jarinya  “kenapa kau menangis? Aku mencintaimu tidak kah kau tau itu? Meski Aku tak pernah bisa membuatmu diam, aku mencintai ke-angkuhanmu, ke-egoisanmu, keras kepalamu semua hal gila yang ada pada dirimu. Aku mencintaimu Jasmine.” ungkap Benedict  jujur, bola mata Jasmine liar mencari kebohongan di mata biru jernih milik suaminya namun tak ia temukan apapun, sorotan mata Benedict terasa kabur karena air mata yang menggenang disitu. Melihat air mata itu Refleks  memaksa air mata Jasmine keluar, antara legah luar biasa dan keraguan atas apa yang diucapkan Taylor tentang pria ini.

        Hening cukup lama ketika mereka saling berpandangan. Jarak yang terentang hanya kurang dari satu kilan yang memisahkan mereka secara fisik, dan penghalang antara mereka dengan mudah bisa diseberangi. Benedict menarik leher istrinya untuk mendekat.

Mencium lembut bibir Jasmine, bibirnya   tegas dan mendesak mengambil kesempatan untuk menjarah mulut Jasmine. Benedict memberikan gigitan keci di bibir bawahnya, ujung lidah Benedict menggoda dan membelai miliknya sampai Jasmine terasa lemas dan memberikan sensasi yang memabukkan. Seluruh pertahanan Jasmine runtuh.

Ciuman itu dari awal sudah sangat sensual karena bibir mereka terbuka, Benedict melumat bibir Jasmine seolah sudah tak ada lagi hari esok. Mulutnya sangat liar dan lapar mengecap, melumat dan menikmati bibir Jasmine yang selembut madu.

         lidah Benedict mulai mencecap dan mencoba-coba mulai membelai masuk ke dalam bibir Jasmine. dan begitu lidahnya masuk ciumannya menjadi makin bergairah, lidahnya menjelajah masuk, menikmati seluruh rasa dan manisnya mulut Jasmine, Benedict mengerang dalam ciumannya, “em.. Kau nikmat sekekali istriku” erangnya parau. Begitu manis dan menggairahkan, sekujur tubuhnya  menginginkan gadis itu, sangat menginginkannya! 

       Benedict  merengkuhkan lengannya di tubuh Jasmine, mengangkat gadis itu untuk duduk di pangkuannya, kaki istrinya di lingkarkan di sekitar pinggangnya dan menarik pinggul Jasmine rapat. Jasmine menurut tanpa melepas ciumannya, melingkarkan lengannya di leher Benedict dan menyerahkan keraguannya terakhirnya. Jasmine harus mengakui Benedict luar biasa berbakat, dia pintar berciuman. Bibir Benedict  tegas dan mendesak mengambil kesempatan untuk menjarah mulutnya

      Tangan Benedict meraih punggungnya, dan ia menyelipkan tangan untuk membuka satu demi satu kancing kecil pengkait bra hitam Jasmine. Matanya terfokus untuk menggodanya, ia menekan bibirnya pada denyut yang ada dileher mulus Jasmine, menghirup lembut, aroma bunga di tubuh istrinya.

         Sambil membuka kancing kemeja Jasmien ia mulai menjilat tulang-tulang di sekitar leher istrinya, menciumnya lalu menghisapnya membuat  Jasmine merintih pelan, Benedict tertawa dalam cumbuannya. Kemudian  mendorong kemeja itu hingga ke bahu istrinya. Menarik turun tali bra yang telah terlepas. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali seolah-olah ia tidak percaya kalau Jasmine benar-benar ada di depannya. Wajah jasmine tersipu  merah  melihatnya yang menelan ludahnya dengan susah.

       Jakunnya naik-turun dan memandang payudarahnya..  “Jauh lebih indah dari yang kubayangkan” ujarnya kemudian bibirnya mulai menyentuh sisi-sisi dada Jasmine tanpa menyentuh putingnya. Jasmine memejamkan matanya saat bibir itu dengan pelan menyentuh tengah dadanya lalu mengeluarkan sedikit ujung lidahnya. Membuat Jasmine bergetar di pelukannya dan mendongakan kepala ke belakang. Sentuhan itu membuatnya gila. Benedict bermain di area dada istrinya sebanyak yang ia inginkan. Menjilat, menghisap, meninggalkan tanda kepemilikannya secara nyata di sekujur tubuh Jasmine. “Ben..engh!”

         Benedict semangkin gila, tidak pernah dia merasa seperti itu sebelumnya pada seorang perempuan,  Jasmine  telah membangkitkan semacam hasrat liar yang selama ini tersembunyi rapat-rapat dalam jiwa Benedict, dan bukan hanya hasrat tapi dibarengi oleh rasa obsesif dan posesif yang mendalam selama memendam prasaanya.

            Benedict menganggkat tubuh Jasmine untuk terlentang, menciumi wajah istrinya dengan lembut. Ketika  mereka berpandangan, matanya berkabut, pupil matanya membesar terlihat kontras dengan iris matanya yang berubah menjadi biru pucat.

“Aku menginginkanmu Jasmine.. Aku tidak bisa menahan rasa ini lebih lama… kau” Benedict tersengal, lalu melumat bibir Jasmine lagi dengan membabi buta. Wajah Jasmine memerah malu, Tidak terbayangkan, dia, pria yang ia kira adalah orang asing, pria yang ia pandang dari kejahuan sekarang terbaring, menindihnya di tepi danau dan di terangi sinar bulan yang bersinar terang.

          Tangan Benedict menarik lepas kemeja putih yang di kenakan Jasmine. Menemukan payudaranya yang hangat dan lembut, lalu meremasnya. Sedikit terlalu bergairah sehingga Jasmine  mengerang. “Kau sangat indah Jasmine”, bisik Benedict serak.

         “B-bisa kau.. tutupi tubuh kita dengan.. kain itu Ben?” pintah Jasmine  terputus-putus.

         “Ya sayang.. aku suka kau memanggil namaku lagi” Benedict menarik kain panjang hijau itu dan menyelimuti tubuhnya hingga bahu. Lalu bibir Benedict yang panas menelungkupi puting payudaranya, lidahnya bermain di sana terasa panas, jari-jari panjangnya mulai meraba-raba milik Jasmine yang sudah benar-benar basah.

       Membakar seluruh tubuh Jasmine, membuatnya terpaksa merintih.  Bingung dengan gejolak yang menyebar di seluruh tubuhnya. Benedict  begitu ahli dan lelaki itu tampaknya tidak merasa perlu menahan dirinya.  Entah kapan, mereka sudah telanjang bersama di atas matras itu. Tubuh Benedict yang keras, melingkupi tubuh Jasmine yang mungil di bawahnya, menggodanya, menggeseknya dengan kekuatannya, menelusuri seluruh tubuh istrinya.

      Dari dada, keperut, turun ke punggung Jasmine dan berakhir di bawah milik Jasmine sangat sempurna.. perutnya benar-benar datar dan tidak menyimpan lemak ataupun implan  dimanapun. Lidah Benedict di miliknya membuat Jasmine menjambarak rambut pria itu. membawa gairah Jasmine makin naik, sedikit demi sedikit ke puncaknya. Mengejang dan berteriak kencang tanpa sadar.

—————-

         Kemudian Benedict merangkat naik, melumat bibir istrinya kembali. Jasmine merasakan ereksi Benedict, yang tidak terhalang apapun menyentuh pusat dirinya. Pelan, tapi membuatnya terkesiap. Jasmine membuka matanya yang terpejam, menatap Benedict di atasnya. Lelaki itu menatapnya dengan tajam, matanya berkabut, napasnya terengah, dan rambutnya yang acak-acakan membuatnya tampak begitu liar. “Aku tidak akan menyakitimu Jasmine.. “ erang Benedict pelan, lalu mulai mendorong, menekan dan menyentuh Jasmine, “Kau sudah siap”, erang benedict, “Kau sudah siap untuk diriku…” Jantung Jasmine  berdegup kencang, beriringan dengan detak jantung Benedict yang berdebar kencang. Dengan perlahan, Jasmine memejamkan matanya, melepaskan hatinya “Aku mencintaimu Ben” ucap Jasmine dalam hati.

          Jasmine mengigit bibirnya, merasakan Benedict yang mencoba memasukinya, menyatu dengannya. Rasanya panas dan membuat seluruh saraf ditubuhnya menggila, membuatnya begitu sensitif oleh kebutuhan yang sampai saat ini masih menjadi obsesi terbesarnya terhadap Russel Heard, kebutuhan untuk mencapai puncak.

       Hingga rasa sakit yang menyengat tiba-tiba menyentakkannya ke alam sadar, Jasmine mengerang kesakitan, tubuhnya mengejang, dengan panik dicengkeramnya pundak Benedict  dan menggigit kuat bahu Benedict, ketakutan dan rasa perih atas usaha suaminya untuk menyatu semakin dalam dengannya.

      Dan ketika merasakan sesuatu yang menghalanginya, Benedict mentap kebawah, ia tau itu.. Keterkejutan membayangi matanya, menatap mata Jasmine yang ketakutan.  ”Jasmine… Ya Tuhan… Apa kau maish perawan selama ini? Aku tidak percaya ini” tanya Benedict terkejut luar biasa.

       “Ya,” suara Jasmine begitu rendah bahkan Jasmine sendiri nyaris tak bisa mendengarnya  “K-Kau tidak menyukainya?.” Benedict membeku, hanya setengah ereksinya berada di dalam tubuh Jasmine, tapi milik Jasmine dengan ketat menahannya disana. “Tidak bukan begitu sayang.. aku sangat mencintaimu Jasmine tidak perduli apapun yang telah kau lalui”

          Benedict mendorong pinggulnya dan merasakan meluncur lebih dalam. Diciumnya kembali bibir Jasmine dengan lembut. Napas Jasmine terengah-engah menerima sesuatu pada dirinya. Benedict melihat di matanya, ada ketakutan dan kesakitan, ia  bermain di sekitar leher istrinya untuk mengalihkan rasa sakit yang di tahan Jasmine. Ia mencumbu dengan segenap keahliannya. Rasa senang tak tertahankan membanjiri pikirannya ketika menyadari dirinya adalah lelaki pertama gadis itu. Ia begitu tersanjung. Seorang perawan? Gadisku selama ini masih virgin.? ya Tuhan sepolos inikah istriku? Supermodel seperti dia? 

      Benedict tidak tahu seperti apa rasa sakitnya, yang pasti dia berusaha istrinya untuk segera melepas rasa perihnya dan mengantikan dengan kenikmatan luar biasa.  “Sayang, aku tidak bermaksud menyakitimu” Tangannya merayap mencari tangan Jasmine yang meremas rumput dan menyelinap di antara jari Jasmine  sehingga Jari-jari mereka saling bertautan, Benedict mencengkeram tangan yang dihiasi gelang pemberiannya beberapa jam yang lalu dengan erat seolah itu pegangannya untuk hidupnya.

          “Tahan sayang, mungkin sedikit sakit namun tubuhmu akan menerimaku seutuhnya… kita harus melalui ini bersama. aku menginginkan bayi yang nantinya mirip denganmu.. ”, Suara Benedict terhenti ketika dia mendorong dengan kuat, menembus batas keperawanan Jasmine dan menyatukan tubuhnya sepenuhnya dengan Jasmine.

         Jasmine berteriak kencang merasakan pedih yang amat sangat ketika Benedict  menembusnya, jemarinya mencengkeram pundak Benedict dengan keras. Benedict membalas cengkraman tangan kiri istrinya dengan kencang, ia  tidak bergerak dengan perlahan agar tidak menyakiti Jasmine. Dengan perlahan, Benedict menggerakkan tubuhnya. Jasmine terhipnotis menatap mata biru Benedict yang menatapnya. Rasa sakit berlalu, digantikan oleh sengatan tajam kenikmatan..  “Aaaah…. Ben…”

      “Ya sayang.. sebut namaku..”  erang Benedict tidak tahan. Sekujur tubuhnya terasa perih menahan diri. Jasmine begitu rapat, terlalu basah dan panas encengkeram tubuhnya di bawah sana. Dia hampir-hampir tidak tahan dan dorongan untuk memuaskan diri dengan brutal di tubuh Jasmine semakin menyiksa. Namun ia tidak akan melakukan itu, dia melakukan dengan lembut, ia akan melayani istrinya dengan kenyamanan luar biasa. Benedict mencoba bergerak selembut mungkin, menarik tubuhnya pelan dari balutan sutra basah dan panas itu, untuk kemudian menghujamkannya lembut. Lagi dan lagi. Jasmine mendesah, dia terhanyut dalam pusaran gairah yang tak tertahankan terus menerus menghantam tanpa henti,  erangan Jasmine kembali terdengar di dalam mulut Benedict “Ah Ben.. sayang.. Benedict!”

         Suara Jasmine terdengar sangat sensual di telinga Benedict. Bisa seintim itu pada gadis yang amat ia cintai rasanya begitu dasyat, sebuah pelepasan dari akumulasi gejolak yang ditahannya selama ini. Kenikmatan yang luar biasa ini membuat mereka merasa sedikit sesak napas

       Jasmine melingkarkan kakinya di seputar pinggang Ben, dan memeluk leher Ben dan membawanya dalam pengalaman terindah seumur hidupnya. Jasmine  menutup matanya untuk beberapa detik, merasakan semuanya, membawa Benedict semakin dalam.  “Tidak sayang.. aku mau kau menatapku.. aku mau kita merasakan kenikmatan ini bersama”  ucap Benedict parau, Jasmine membukanya lagi, Jasmine melihat Benedict menatap dirinya dalam pandangan sulit digambarkan. Bintang berenang di depan matanya ketika milik Jasmine yang rapat meremas ereksinya dengan keras. “Demi tuhan Jasmine jangan melakukan itu” seru Benedict dengan nafas tersengal-sengal.

     Lalu ketika desah napas Jasmine menjadi pendek-pendek serta pegangannya pada pundak Benedict makin kencang, Bendict sadar, dia telah membuat Jasmine mencapai orgasme entah untuk yang keberapa semenjak Benedict bermain dengan tangannya kemudian dengan lidahnya di milik Jasmine. Pemandangan ekspresi wajah Jasmine saat itu sungguh tak tergantikan, mendorongnya terlempar menuju puncak kepuasan yang sangat tinggi, sangat tak tertahankan seolah-olah dunia melededak dibawahnya. Mendorong dengan kuat ke tepi orgasme, bolanya terasa mengetat dan menembakkan cair panas dari ujung miliknya, mereka berdua terhentak dan menggeliat sampai kepuasan tak berujung memudar,   Orgasme luar biasa menyergapnya, tubuhnya mengejang keras, erangan parau keluar dari bibirnya ketika dia menenggelamkan wajahnya dalam-dalam di sisi leher Jasmine. 

      Pelukan Jasmine sangat kuat sambil berusaha menormalkan napasnya. Suasana tepi danau itu begitu hening, hanya desah napas memburu bersahutan, Jasmine bahkan tak tahu itu napas siapa. Air mata Jasmine mengalir menatap bulan yang menyinari mereka dengan amat terang. Dada bidang Benedict terasa naik turun di tubuhnya, pria itu mengatur nafasnya yang terasa habis. Keringat membanjiri tubuh mereka, Api unggun berkobar dengan besar di dekat mereka.

Dengan lembut dikecupnya leher Jasmine.. diangkatnya kepalanya, dan mereka bertatapan, mata biru yang tajam, yang agak berkabut setelah mencapai orgasme terhebat sepanjang eksistensi kehidupannya bertemu dengan mata hitam yang berkaca-kaca.    “Sayang.. apakah kau baik-baik saja?” tanya Benedict serak.

Jasmine menganggu gugup, Benedict menarik napas legah, ia masih ingin merasakan nikmatnya tubuh istrinya lagi dan lagi  namun ia merasa perlu untuk menghargai virginitas istrinya yang baru saja lepas. Memuaskan dirinya masih banyak waktu untuk mereka lakukan.  Kemudian dengan hati-hati, sangat berhati-hati, dia menarik miliknya dari Jasmine.

Menganggkat tubuhnya dari atas Jasmine dan bergeser ke samping. Direngkuhnya tubuh Jasmine, diletakkannya kepalanya di lengannya, gadis itu menarik tubuh Benedict untuk memeluknya dan menyembunyikan wajahnya di leher Benedict, Sudah terlalu lelah,  Kepuasan seksual yang luar biasa masih mempengaruhi pikirannya yang berkabut. Benedict tersenyum menerima sikap manja Jasmine, tangannya dengan santai mengelus punggung Jasmine  yang bergelung dipelukannya, ia menutup tubuh mereka dengan kain panjang berwarna hijau itu dengan sempurna.

      Benedict merasa ada sesuatu yang aneh dengan istrinya. Gadis itu menjadi sungguh pendiam, tidak ada komentar atas hal indah yang baru saja mereka lewati bersama. Ia berharap itu hanya karena dia kelelahan. Benedict mencium kening Jasmine lembut. Dan mengusap punggung Jasmine yang masih berkeringat. Sampai lama kemudian disadarinya pundak Jasmine  berubah santai dan napasnya mulai teratur pelan. Jasmine  tertidur. Benedict mencium kepala Jasmine lembut.  Ia masih tidak percaya bahwa ia bisa seintim ini dengan Claudia Jasmine, gadis yang telah menjadi obsesinya selama ini. Benedict tersenyum tipis memandangi wajah istrinya yang tertidur.

“Aku masih tidak percaya bahwa kau adalah milikku Jasmine,  kau mencul begitu saja dari salah satu mimpi gelapk. Kau pasti dikirimkan dari surga ke bumi tuk mengubahku. You’re like an angel. Kau Sungguh cantik, 
membuat jantungku Berdebar-debar setiap memandangmu. Kau bahkan tidak tau jika kau begitu istimewah untukku. kau adalah hal terindah dalam hidupku sayang. Andai kita punya bayi, mata mereka pasti sepertimu
I would fall deeper watching you give life. You don’t even know how very special you are. I love You Jasmine” 

Benedict kembali mengecup kening Jasmine dan mengekuh gadis itu ke pelukannya

********

     Perlahan Jasmine membuka matanya. Kemudian memejamkan mata sedikit erat karena merasakan sedikit perih, suara dering telpon mengusik tidurnya. Jasmine merasakan seluruh tubuhnya sakit dan pegal. Dengan mengerutkan dahi dia mencoba menggerakkan badannya. Sial memang pegal sekali rasanya, pelan pelan dibukanya matanya,  cahaya matahari tampak terang, suasana tepi danau terasa sejuk dan menyenangkan, Air sangat tenang. Jasmine memutar matanya ke sekeliling, lalu terdiam menatap wajah Benedict yang memeluknya. Mata Jasmine kembali bergerak liar, potongan-potongan kejadian semalam mengembalikan ingatannya.

      Jasmine menggigit bibirnya kuat, malu mengingat bahwa ia telah melakukan hubungan yang sangat intim dengan pria yang telah menjadi suaminya tiga bulan belakangan ini. Jantungnya berdetak tak seirama prasaan buruk begitu menganggu pikirannya. Dia tidak tau prasaan apa itu. Jasmine memendam wajahnya di lekuk leher Benedict, menikmati kenyamanan yang akan segera ia tinggal. Menghirup aroma rubuh itu sebanyak yang ia bisa.

       Ya.. sebelum dia menyerahkan semuanya untuk Benedict dia berjanji ini adalah malam  terakhir bersama pria itu. dia hanya bersikap menghianati dirinya sendiri dengan mengambil yang memang menjadi miliknya, sedikit dengan bercinta dengan pria itu.

      Kejadian itu akan menjadi salam perpisahannya untuk cinta terpendamnya selama bertahun-tahun. Ia harap setelah itu otak dan hatinya tidak lagi memikirkan Benedict. Tidak lagi menjadi gadis bodoh yang terobsesi dengan seorang pria. Kenangan itu akan ia simpan rapat untuk alam bawah sadarnya yang egois.

       Jasmine menggenggam  tangannya yang terasa gemetaran, ia merasakan teramat perih di hatinya karena mengingat kulit pria itu bergesekan dengan kulit pucat Taylor. Semua terputar secara lambat di pikirannya, saat pria itu mencumbu kekasihnya. Dan cara pria itu mengakui video itu adalah miliknya sungguh membuat serpihan hatinya semangkin hancur

     Kemudian dering telpon Benedict kembali mengusiknya lagi. ‘Bukankah ponselnya ke habisan baterai?” Alis Jasmine berkerut heran menahap wajah Benedict yang sedikit pucat. ‘Sialan jadi benar dia membohongiku?’ 

        Sekuat tenaga Jasmine mengontrol pikirannya. Ia tidak ingin hatinya berkianat  lagi pada pikirannya karena kehangatan pelukan pria itu.  Jasmine menggerakkan tubuhnya. Melepas tangan Benedict yang melingkar di punggungya dengan hati-hati.

        Menarik kain untuk menutupi tubuhnya dan mengambil hanpone yang berdering sangat berisik. Di layar ponsel tertera G Sande. 

Apa G ini SergioAh terkutuklah kau Ben! Jasmine melempar ponsel Benedict ke danau. ‘Jangan-jangan mobil itu juga tidak rusak?’ tebak Jasmine geram, dengan cepat ia memunguti pakaiannya yang berserakan dan memakainya, Jasmine memilih menggenakan kemeja Benedict untuk ia kenakan meski terlihat kebesaran untuknya, lalu berlari ke arah mobil tidak jauh dari mereka.

      Di stater dan  ternyata mobil itu menyala, Jasmine menghembuskan nafas kesal. “Holly Shit!” makinya geram.

       Jasmine mencengkram stang mobil erat, buku-buku jemarinya memutih, keraguan begitu mengusik hatinya. Pergi atau tetap bersama pria itu.. pergi atau tetap bersama pria yang telah menjadi obsesinya. “Arrrgh!!” Jasmine memukul stir dengan geram. Ia keluar dari mobil dan berjalan mengendap-endap mendekati Benedict yang masih tampak nyenyak.

     Dengan hati-hati ia mengecup pipi Benedict pelan, lalu bergerak pergi ke arah mobil namun berhenti lagi, menghentak kakinya kesal. “Aaaa sialan.. dia terlalu berarti untukku! ah tidak  tidak Jasmine. Dia pria brengsek.. dia membohongimmu. Dia mengaggapmu hanya Beauty case untuknya.. ya dia masih memiliki hubungan dengan Taylor.. Lupakan cinta gilamu.. kau telah mendapat apa yang kau inginkan semalam” Jasmine menutup matanya geram.

        Berbalik kembali mengendap-endap mendekati Benedict. Mencium kening Benedict lembut dan lama. Menyentuh itu terasa sangat menyakitkan untuknya. Air matanya menetes dan kembali mengecup kening Benedict di tempat yang sama, meninggalkan ciuman terakhirnya.

       Dengan tekat penuh Jasmine meninggalkan Benedict yang masih tertidur. pergi kemobil dan menginjak pedal gas kuat dan ngebut memutar mobil, melaju masuk ke area jalan lintas, mengemudi dengan kecepatan penuh. Meninggalkan pria yang telah mengusik pikirannya selama 15 tahun lebih. Jasmine mengigit bibirnya kuat agar tangisnya tidak meledak, prasaanya sangat buruk melandanya.

      “Bye Ben”

***************************************

wallup.net

     Tetesan gerimis kecil berjatuhan menyentuh wajah Benedict. Perlahan ia membuka matanya. Mengerjabkan matanya lagi,  bola matanya bergerak menelusuri tingginya pohon pinus di atasnya, cahaya senja masih sangat redup ditutupi oleh embun yang pekat. Kemudian ia  tersadar Jasmine tidak lagi tidur di bahunya. “Sayang..” panggilnya pelan.

      Ia mengerakkan tubuhnya namun dadanya terasa kaku dan perih. Bibirnya terasa kering. Ia duduk dan menyentuh dada kananya. “Agh..” sangat sulit bernafas.  “Jasmine” panggilnya lagi, tidak ada tanda-tanda kehadiran istrinya memuat Benedict disergap panik. Pakaian istrinya tidak ada lagi ada berserakan, hanya meninggalkan celananya dan gaun Jasmie, perapian  menyisahkan kayu yang masih memerah panas. Air danau memperlihatkan embun yang dingin.

       Benedict memunguti pakaiannya dan cepat mengenakannya. Berdiri panik mencari keberadaan istrinya, tidak ada tanda-tanda Jasmine berenang.

     Benedict terbatuk pelan, perih yang melanda dadanya tidak ia hiraukan, ia berlari ke arah mobil, tapi ia hanya temukan hanya jejak ban mobil. Pikiran buruk melandanya. Sungguh tidak bisa memaafkan dirinya sendiri jika ternyata istrinya di jahati oleh orang asing.

        “JASMINE!” Benedict berteriak panik. “Apa ini leluconnya lagi? demi Tuhan tidak mungkin!” Benedict berlari mengintari area tepi danau yang dapat ia jangkau setelah yakin tidak ada tanda-tanda keberadaan Jasmine ia berjalan naik ke jalan lintasan aspal.

       Licinnya tetumbuhan yang ia injak menyebapkan kakinya terpeleset, Benedict mencoba bangkit, ia menyentuh dadanya yang kebali begitu perih. Ia memejamkan matanya erat berhadap dapat menekan rasa sakit yang ia rasakan, dadanya begitu perih, jauh lebih perih dari semalam yang ia tahan.

      Air matanya menggenang tanpa ia keluarkan, sesak dan pedih itu yang memaksa keluar. Rambutnya yang brantakan terlihat meneteskan air gerimis yang membasahinya. Benedict terbatuk, gumpalan darah kental keluar dari mulutnya.  Ia menatap heran. Apa benar karena berenang itu? ia menghapus darah di tangannya di dedaunann pinus yang mengering. Benedict merasakan teramat pedih di setiap tarikan nafasnya. Ia mengerjapkan matanya lemah. “Tidak.. jangan sekarang Tuhan.. Aku harus menemuinya” mohon Benedict lemah.

      Ia bangkit berdiri, berjalan mengikuti lintasan jalan aspal yang teras dingin di kakinya, tidak ada satu kendaraanpun yang lewat. Embun pagi masih mendominasi pandangannya. Tidak mengenakan sehelai benangpun di badannya membuat dinginnya udara terasa menusuk ketulang, dinginnya udara membuat paru-parunya semangkin parah. Ia berjalan dengan lemah, nafasnya tersengal-sengal.

        Benedict berhenti, menompang kedua tangannya di kedua lututnya, mencoba menarik nafas dengan perlahan meski terasa amat sangat perih. Kemudian sesuatu terasa mendesak ingin keluar. Ia memuntahkan banyak gumpalan darah kental ke aspal.  Benedict tertawa kosong. “Sialan Jasmine! Ini sangat sakit.” Ucapnya lemah, menutup mata. Kemudian membuka matanya lagi  “Apa kau baik-baik saja hmm?” Matanya memerah, menatap embun dengan tatapan kosong.

    Ia ngusap darah di bibirnya dan mencoba melangkah lagi namun kepalanya semakin terasa sakit, seperti terpukul amat sangat keras, membuat ia limbung dan tersungkur di aspal yang terasa dingin menyambutnya.  Benedict kembali terbatukk-batuk mengeluarkan darah cair. Ia sadar oragan tubuhnya yang masih sangat rentan telah hancur akibat menahan nafas di air dan dinginnya udara sangat tidak baik untuk paru-parunya  

     “Tidak Tuhan.. Setidaknya izinkan aku berada di dunia yang sama dengannya.. Aku sangat mencintai gadis itu Tuhan.. ” Benedict memohon dengan nafas putus-putus. Perih di dada bagian dalamnya tidak lagi terasa baginya ketimban prasaan teramat sakit jika tidak bisa melihat gadis itu lagi.

        Benedict terbayang akan obsesinya yang selalu datang di setiap party yang dihadiri Jasmine. Terbayang saat ia dan teman-temannya sering membuat keributan hanya agar Jasmine terusik dan ia dapat melihat mata itu menatapnya. Benedict meneteskan air mata dan tersenyum tipis mengingat saat ia menabrak gadis itu dengan sengaja namun bersikap acuh, pura-pura mengabaikan gadis itu.

      “Jasmine” bisiknya semngakin lemah.

      Benedict menatap angkasa yang menurunkan butiran-butiran air kecil, wajahnya semangkin pucat. Kelopak mata Benedict mengerjab saat air menyentuhnya. Di setiap ia mengerjabkan mata bayangan Jasmine terus terlihat di matanya. Tersenyum saat mengingat  Mencium  bibir Jasmine kecil untuk pertama kali di dalam lemari saat bermain truth or dare.

       Benedict tertawa pelan, ia menganggat jarinya dengan lemah menunjuk angkasa. “Kau..” Katanya pelan..  “Kau harus menjaganya untukku..” ucap Benedict memerintah ke langit.

         Seluruh tubuhnya terasa membeku, nafasnya semngakin pendek. Benedict menelan liur yang terasa berat. Air mata kembali menetes di matanya yang tampak memerah. Ia tau ia harus bertahan untuk tetap sadar sampai ada kendaraan yang lewat dan menolongnya, namun Benedict tidak sanggup. Udara sangat dingin menusuk tulangnya. Bernafas sangatlah menyakitkan, kepalanya terasa amat berat. Tubuhnya terasa sangat lelah. Ia sangat ingin beristirahan dalam ketenangan.  Benedict menutup matanya dengan lemah, merasakan setiap butiran air yang menyentuh kulitnya hingga tidak sadarkan diri. 

                 –tbc… or End?

.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *