Chapter 32

Seakan teringat apa yang ia lihat tadi dari atas Jasmine berbalik, memunggungi pria itu dan berjalan lebih memasuki hutan.

Benedict menatap panik. “Kau mau kemana Jasmine?!” Triakan Benedict kembali terdengar “Jasmine!”

“Aku tadi melihat danau Rush.. tutup mulutmu dan kemarilah!” Triak Jasmine membuka high heels’nya yang sedari tadi menancap ketanah. Kemudian tanpa menunggu suaminya, Jasmin berari kecil menuju danau yang samar-samar memancarkan kemilauan air.

    Lagi-lagi Benedict menghembuskan nafas lelah. Setelah menangis seperti kematian suami gadis itu berubah gila seperti anak kecil mencari harta karun. Benedict melangkah mengikuti Jasmine ke arah danau, memungut high heels yang di tinggalkan istrinya. Kepanikannya kembali lagi melihat istrinya yang hendak membuka resleting  gaun merahnya. “Hal gila apa lagi yang ingin kau lakukan Jasmine?!” seru Benedict tidak percaya. Jasmine berbalik menatap suaminya. Ia tersenyum geli mendengar triakan pria itu lagi.

       “Aku ingin berenang” jawab Jasmine tersenyum lebar, tangannya berusaha menggapai resleting gaunnya di belakang punggungnya lagi.

       “Kau gila Jasmine! Kau lihat air danau itu mengeluarkan uap dingin kau bisa beku didalamnya! Itu berbahaya. Aku tidak akan mengizinkannya”

     “Jika kita telah didalamnya akan terasa hangat percayalah” ucap Jasmine geli melihat pria itu menjadi sungguh cerewet. “Bantu aku membuka resleting sialan ini” ucap jasmine kesal karena kesusahan menggapai resleting itu.

     “Kenapa kau harus membuka bajumu? Air akan semangkin dingin jika langsung bersentuhan dengan kulitmu!”

    “Aku akan terlihat seperti binatang sirkus jika berenang mengenakan gaun Rush! Cepatlah jangan membuatku kesal!”

       Benedict menyerah dengan keinginan gila gadis itu lagi, ia membantu Jasmine untuk menurunkan resleting gaun istrinya. Setelah terlepas Jasmine tampak menggunakan bra hitam dan underwear hitam yang dihiasi tali hitam tipis. Kecantikan tubuh istrinya membuat Benedict meneguk liurnya.

         Seperti ikan yang membutuhkan air, gadis itu menyeburkan dirinya ke dalam danau. Danau itu memiliki luas 8 khektar dam memiliki kedalaman 3900mdpl, di kelilingi oleh hutan pinus yang sangat hijau. Di air yang jernih terlihat jelas gadis itu menggunakan kakinya untuk mendayung semangkin jauh dan berputar di bawah permukaan air.

       Kemudian ia berenang dengan gaya punggung. Punggungnya menghadap ke permukaan air, hanya kakinya yang mendayung, wajahnya tersenyum menatap bulan yang bersinar begitu terang.

     “Rush kemarilah” triak Jasmine masih di posisi punggung. Benedict menggertakkan rahangnya geram mendengar gadis itu tidak lagi memanggilnya dengan nama Benedict. Sungguh seperti orang asing yang sedang memanggilnya. Tidak mendapat jawaban dari Benedict Jasmine kembali berdiri didalam air. Ia menatap Benedict yang masih berdiri di tepi danau dengan memegang gaun merahnya. Satu tangannya disimpan dalam sakunya.

       “Hei Russel Heard! Lepaskan itu dan kemarilah” perintah Jasmine. “Aku berani bersumpah Rush ini tidak dingin!”

       Benedict tampak meragukan sesuatu namun karena takut istrinya melakukan hal gila seperti berenang ketengah danau seorang diri dan memikirkan hal buruk seperti kaki gadis itu kram akhirnya Benedict menyerah.

     “Buka pakaianmu, jangan seperti badut yang sedang berenang Rush” Triak Jasmine saat melihat Benedict meletakkan gaun merahnya ke atas batu menandakan pria itu menyerah lagi dengan keinginan Jasmine.

    Jasmine tersenyum melihat Benedict menghampirinya dengan berenang gaya bebas ke arahnya. Benedict membenarkan ucapan Jasmine, ternyata jika berada di dalam air maka tubuh mereka terasa sedikit hangat, tidak sedingin yang ia perkirakan.

    Saat Benedict naik ke permikaan air, ia tidak melihat keberadaan Jasmine. Benedict menyelam kedalam air dan mencari letak keberadaan istrinya di dalam air  namun tidak terlihat apapun. Lagi-lagi panik menyergapnya.”JASMINE!” Triaknya gusar, ia berputar mencari istrinya di tepi danau, tidak juga ada.

      Benedict kembali menyelam, berenang mencari keberadaan Jasmine. Tidak juga ada air yang meninggalkan tanda gerakan Jasmine berenang, ia kembali lagi kepermukaan air. “JASMINE JANGAN BERCANDA!! JASMINE!!!” teriak Benedict sekuat tenaga. Kepanikan luar biasa menderanya.

        “CLAUDIA JASMINE!!!” Triak Benedict semangkin panik

       Tiba-tiba Benedict  dikejutkan akan sesuatu yang aneh di telapak kakinya, seperti ada tangan yang menariknya dan merangkak naik, memanjat tubuhnya dari dalam air dengan cepat.

       “Kau mencariku huh? Hahaha” Jasmine tertawa setelah mencapai permukaan, ia memeluk bahu Benedict untuk tempat ia berpegangan, Ia  menghirup udara yang begitu lama ia tahan sedari tadi mengerjai suaminya.

     Benedict memeluk tubuh istrinya membantu agar gadis itu bisa bernafas dengan tenang.  Gadis itu tampak kehabisan nafas namun tertawa nakal. Benedict menghembuskan nafas legah luar biasa. Tidak ada komentar atas kelakuan gila istrinya lagi, ia merasa percuma jika memarahi istrinya, gadis itu tidak akan pernah mendengar segala ucapannya. Ia hanya diam, meredam emosinya yang begitu besar akibat ulah Jasmine yang sangat membuatnya marah sedari tadi.

       “Dari siapa kau belajar menahan nafas selama itu?” Tanya Benedict parau

       “Peet”Jawab Jasmine masih dengan nafas memburu. Benedict tidak suka mendengar Jasmine mengucapkan nama itu dengan nafas yang memburu, terdengar seakan-akan gadis itu sedang memanggil nama kekasihnya sambil mendesah.   

Jasmine mendadak tegang, was-was merasakan tangan Benedict menarik kedua kakinya dan melingkarkan ke sekitar pinggang pria itu. Perlahan Jasmine menarik wajahnya dari samping Benedict, memberi jarak agar bisa melihat wajah suaminya, menatap takut mata Benedict.

       “Maaf akMmm-“ ucapan Jasmine terhenti karena tiba-tiaba bibir Benedict melumat bibirnya. Benedict menarik tubuh Jasmine semangkin mendekat dikulitnya. Mendominasi bibir Jasmine sepenuhnya.

       “RuMmm-“ Benedict tidak memberikan kesempatan gadis itu untuk protes. Ia melumat dan menekan kepala Jasmine untuk semangkin memperdalam ciumannya, Jasmine menggeram,sangat terbuai. Ia membalas sentuhan lidah itu lebih intens, ia semangkin memper-erat lingkaran kakinya di pinggang Benedict.

      Benedict menarik tubuh Jasmine kedalam air tampa melepas ciumannya, memeluk tubuh gadis itu agar tidak meninggalkan jarak sedikitpun antara mereka, Jasmine menarik kepala Benedict agar tidak terlepas dari cumbuannya. Sensasi yang aneh menjalar di tubuhnya, ia tidak mampu menolak suaminya yang beigtu menggoda.

       Namun akhirnya Jasmine kehabisan nafas, ia mendorong kepala Benedict dan berenang kepermukaan air, tapi Benedict kembali menariknya, mencium bibirnya lagi di dalam air. Tidak memperdulikan Jasmine yang memberontak dari pelukannya. Sunggu tidak memperdulikan gadis itu yang sangat membutuhkan udara saat itu juga. ia sungguh tidak tahan lagi berada di dalam air.

         Jasmine sekuat tenaga mendorong tubuh Benedict,Namun pria itutetap mengunci tubuhnya di pelukkannya. Jasmine semangkin panik, ia sungguh tidak tahan  untuk menahan nafas lebih lama, ia sungguh membutuhkan udara saat itu juga.

      Namun penolakannya melemah, sekujur tubuhnya terasa melemah melihat mata Benedict menatapnya dengan pandangan yang sulit ia mengerti. ‘Ada apa dengannya?’ Tanya Jasmine dalam hati perih.

     Merasakan cengkraman istrinya semangkin melemah, tidak lagi memberontak akhirnya Benedict membawa Jasmine ke permukaan air. Keduanya langsung menghirup udara sebanyak yang mereka bisa. Jasmine terbatuk-batuk karena banyak menelan air. Tidak mampu untuk mengeluarkan kemarahanya. Ia memeluk leher  Benedict begitu erat.Meletakkan dahinya di dahi pria itu. Menutup mata berusaha menetralkan nafasnya yang memburu. Benedict juga menutup matanya, bagian dadanya teras begitu perih jika ia bernafas.

      Air mata Jasmine keluar,prasaan buruk begitu mendera di hatinya. Di ambang kematian ternyata rasanya sangat mengerikan. Ia sangat takut jika ia akan kehilangan pria itu,ia sungguh tidak sanggup memikirkan segala kemungkinan. Prasaanya mengatakan sesuatu yang buruk akan terjadi, Ia bersedia jika mereka mati bersama, tapi jika hanya dirinya yang mati ia sungguh tidak terima,Jasmine sangat ingin hidup berada di dunia yang sama dengan pria itu meski tidak memiliki ikatan lagi nantinya di antara mereka. Jika hanya melihatnya dari jauh lagi, tidak masalah

       “Kau gila!” ucap Jasmine masih sulit bernafas..

       “Kau yang membuat aku gila” jawab Benedict dingin. “Ayo Jasmine kau telah terlalu lama didalam air”

       “Pergilah, aku tidak mau bersamamu” tolak Jasmine tidak kalah dingin. Benedict mengernyitkan dahi, tidak sempat menarik Jasmine yang melepas pelukannya dan berenang meninggalkannya. Benedict terbatuk, ia sedikit terkejut akan darah kental yang keluar dari mulutnya. Ia memejamkan matanya erat, dadanya kembali terasa perih.

     Benedict memilih tidak ingin lagi meladeni sikap keras kepala istrinya. Ia berenang meninggalkan Jasmine ke permukaan danau.   Ia merasa tubuhnya menggigil karena hembusan angin di kulitnya yang basah. Dengan cepat ia mengenakan pakaiannya dan kembali ke mobil. Mencari sesuatu yang nantinya bisa ia gunakan untuk mendinginkan tubuhnya dan istrinya.

——–

     “Jasmine keluarlah dari air! Jangan memancing kemarahanku!” perintah Benedict serius. Jasmine menoleh ke tepi danau, Benedict tampak menyeret kayu besar dan berat dan menyusun di tumpukan tiga buah kayu besar lainnya, seperti untuk perapian.

      Tidak juga kunjung naik kepermukaan  Benedict berdiri di bibir danau, tegak mengintimidasi istrinya dengan tatapannya. Ia melihat Jasmine memutar matanya malas. “oke” ucap gadis itu menyerah.

    Efek Slow motion mendominasi saat Benedict memandang istrinya. Gadis itu menenggelamkan kepalanya kebelakang untuk membuat rambutnya tampak rapih dengan air. Kemudian gadis itu berenang ketepi danau dan berjalan dengan angun keluar dari air.

Mata Benedict menatapnya dengan lekat, air yang menetes turun di perut gadis itu begitu membakar gairahnya. Tubuh seksinya begitu panas di balut dengan bra dan underwear berwarna hitam. Tubuh yang  benar-benar sempurna. Jasmine menaikkan alisnya sebelah, menyeringai melihat Benedict yang terlihat menelan liurnya.

   “Kenapa kau membuat perapian?”Tanya Jasmine mengulurkan tangannya meminta gaunnya dari tangan Benedict.

   “Agar kau tidak kedinginan”

   “Tidak perlu, kita langsung pulang saja”

   “Mobil itu rusak” ucap Benedict berbohong.

   “Apa? Tidak mungkin!” Seru Jasmine panik “Kau- Aaak” Jasmine terpeleset saat menginjak batu yang licin dan kembali tercebur ke air.

  “Hei.. kenapa kau di air lagi?” tanya Benedict tersenyum geli melihat Jasmine yang terduduk di air, gaun merahnya basah terkena air.

   “Aku terjatuh bodoh!”seru Jasmine kesal, menerima uluran tangan suaminya untuk berdiri. Ia menatap kesal ke gaunnya yang masih meneteskan air, udara yang meniup kulitnya terasa sangat dingin. Jasmine mendekati api yang masih kecil untuk mendapat kehangatan.

Benedict membuka kemejanya “Lepaskan gaunmu dan kenakan ini”ucap Benedict melempar kemejanya ke Jasmine.

   “Aku tidak mau, itu sama saja dengan gaun ini” Jasmine membuang kemeja itu ke Benedict.

   “Kenakanlah, aku akan mencari sesuatu untukmu” ucap Benedict pergi ke arah mobil. Benedict membuka bagasi belakang mobil antik namun mewah yang tidak mereka ketahui pemiliknya itu. Hanya terdapat box dan pakaian bayi, ada juga kain berbahan katun yang sangat panjang. Benedict menaruhnya di bahunya, dan menarik matras kecil yang menjadi alas untuk bagasi belakang.

   Benedict melihat Jasmine masih mengenakan gaunnya. Ia memilih diam untuk keras kepala istrinya, ia meletakkan matras di samping perapian dan melilitkan sendiri kain panjang ke tubuhnya. Jasmine menatap iri dengan cemberut. Namun enggan minta berbagi kain itu kepada suaminya.

    Benedict tetap diam menatap api yang masih sangat kecil, pura-pura tidak memperhatikan istrinya yang semangkin mengigil karena memakai gaun basah. Beberapa kali Jasmine membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu namun kembali mengatupkan mulutnya geram.

    “Udaranya semakin dingin, dan pakaianmu lembab, cepatlah buka bajumu dan kemari bersamaku, lihat nafasmu telah mengeluarkan uap dingin dari tubuhmu”

Nada suara yang tenang dari suaminya kembali menghunjam Jasmine. Jasmine menggeleng. “Telpon anak buahmu sekrang juga Rush aku sudah tidak tahan!  Atau kemarikan ponselmu aku akan menelpon paman felix atau Juan, dengan cepat mereka akan menemukan keberadaanku dan mengirim  heli untukku!”

   “Hanponeku tidak menyala, habis batre” ucap Benedict kembali berbohong dengan tenang.

   “Aku tidak percaya semua yang kau katakan!” Jasmine semangkin mengigil. Benedict merogoh sakunya dan sengaja melemparkan hanpone tersebut jauh dari Jasmine. Jasmine menatap Hanpone itu lemah, sangat enggan beranjak meraihnya.

   “Ambillah dan cek jika kau tidak percaya. Kita terjebak. Karena ulahmu mobil itu tidak dapat berjalan lagi, Anggap saja kita seperti pemain drama percintaan yang sering kalian—para gadis tonton.”

    “Apa kau juga tau di drama yang di tonton para gadis maka si pria brengsek itu akan memperkosa si wanita huh?” Balas Jasmine sinis. Jasmine langsung beranjak, mendengar kata mobil tadi membuat akal Jasmine berjalan, ia hendak mengurung diri di mobil.  Namun tiba-tiba Jasmine merasakan sepasang tangan kokoh menarik tubuhnya dan ia-pun limbung terjatuh ke pangkuan pria itu.

        “Memperkosa si wanita heh? Baiklah mari kita lakukan seperti ucapanmu itu.” Benedict mengangkat tubuh Jasmine dan menghempaskannya ke matras, tangannya dengan kasar memaksa membuka gaun Jasmine.

Memperkosaku? Akhirnya pria ini menunjukkan bahwa dia benar bukan pria alfa! Dia bukan pria alfa jika menahan nafsunya saja tidak bisa. Pria ini luar biasa lebih berengsek dari yang aku kira!”

        “Kau jangan gila Rush!! Lepaskan aku!!” bentak Jasmine keras, tangan Jasmine berusaha keras mendorong tubuh Benedict menjauh, tapi nenaga Benedict jauh lebih besar darinya. “Aku akan membencimu seumur hidupku jika kau benar melakukan itu!!.”

Maki Jasmine terus mendorong tubuh Benedict.  Benedict tidak menggubris ancaman istrinya. “Dia benar-benar gadis yang unik! Dari mana ia mendapatkan tenaga sekuat ini”  Benedict merapatkan tubuh kokohnya yang menjulang didepan Jasmine dengan mantap. Tangannya merayap dipunggung istrinya dan menarik turun resleting gaun istrinya namun Jasmine menggigit bahunya kuat.

         “Sesss.. Sialan Jasmine! Lepaskan gaunmu sekarang!!” Bentak Bendict dingin.

       “Tidak, tidak akan! Kau sungguh brengsek Rush! Aku tidak menyangka kau menjijikan seperti ini. Peter tidak pernah melecehkanku seperti ini!!” Maki Jasmine jijik. Wajah Benedict mengeras. Ia terlihat mengetatkan rahangnya. Matanya tajam menatap tajam mata istrinya. Emosinya begitu menguak saat gadis yang ia cintai membandingkannya dengan pria lain. 

Bibirnya mengunci rapat bibir istrinya. Melumat secara rakus dan mencengkram kuat leher belakang Jasmine agar tidak bisa lepas dari cumbuannya. Jasmine memaki dalam hati, ia sungguh tidak siap akan serangan tiba-tiba itu. semakin dia berontak, suaminya malah terlihat semakin ganas. Dan reaksi pengkhianat tubuhnya yang panas menggelinjang akibat lidah pria itu membuat Jasmine semakin muak.

 Jasmine teringat akan bisikan pria itu di telinganya.  “’Kau terlalu berharga untuk seks kilatku Jasmine.’ Hah dasar menjijikan kemana ucapannya waktu itu!!” maki Jasmine jengkel. Ciuman Benedict turun ke rahangnya. Menjilat kulit leher istrinya yang begitu manis.

“Kau sungguh membuatku bergairah dengan pemberontakanmu Jasmine” Desis Benedict geram. ‘Ya ampun orang ini!’ Ingin rasanya Jasmine  mengambil kayu basah yang belum terbakar dan mengayunkan tepat kepala Benedict yang berubah menjadi pria kurang ajar.

     Benedict sungguh kewalahan dengan istrinya yang semangkin berontak. Ia mengunci semua serangan istrinya. Dengan satu tangannya Benedict menahan kedua tangan Jasmine  diatas kepala gadis itu. Membelitkan kaki istrinya di kakinya. Satu tangannya lagi menahan kepala Jasmine yang terus bergerak tidak menolak ciumannya, melumat rakus bibir Jasmine yang ia tahan tanpa ampun.

      Jasmine membenci reaksi tubuhnya, ia sungguh tidak bisa menolak keinginan batinnya yang juga sangat menginginkan suaminya. Nafasnya pun seakan berhenti ketika merasakan kulit telanjang Benedict di tubuhnya. Benedict  tetap mencumbunya dan membelainya dimana saja tangannya mampu meraba. Ini salah, rintih Jasmine meneteskan air mata, namun lidah Benedict tetap membelit lidahnya dengan intens.

      Ciuman brutal Benedict berubah  semakin melembut dan memabukkan. Jasmine sangat melemah, menyerah atas cumbuan suaminya, tanpa ia sadari Benedict telah berhasil melepas gaun merahnya yang basah. Dengan lembut Benedict  menarik tubuh istrinya untuk duduk di pangkuannya dan tanpa melepas cumbuannya ia memasang kemeja putihnya di tubuh istrinya.  

      Setelah Benedict selesai mengancing kemeja yang dipakaikan di tubuh Jasmine, Benedict menarik bibirnya, mengusap air mata kekhawatiran yang sedari tadi ditahan gadis itu.  “Jangan menangis sayang., aku hanya ingin kau melepas gaun itu dari tubuhmu.” ucap Benedict lembut mencium kening Jasmine yang menatapnya bingung.

Gaunnya telah terlepas entah kapan dan Kemeja suaminya yang besar  telah terpasang dengan sumpurna di tubuhnya. Benedict menciumi kedua mata Jasmine dengan mesra dan menghapus jejak air matanya dengan lembut. “Ternyata Hanya ciumanku yang mampu melumpuhkanmu” ucap Benedict tersenyum nakal.  

        “Kau mengerjaiku?” Tanya Jasmine lemas

        “Itu hukuman kecil karena kau telah berulah hari ini”

Benedict memutar tubuh Jasmine untuk menghadap ke perapian yang sedari tadi tidak kunjung membakar kayu besar namun lembab itu. Ia memposisikan agar Jasmine duduk di kakinya yang berlipat dan tubuh istrinya bersandar padanya. Ia melilitkan kain yang panjang tubuh mereka hingga dua kali lilitan. “Sudah hangat?” tanya Benedict membelai pipi istrinya yang terasa dingin. Jasmine mengangguk dalam diam.

      Benedict mencari kedua tangan Jasmine didalam lilitan kain, dan menautkan jemarinya di jemari istrinya, mengenggam dengan kuat. “Sudahlah jangan takut, maafkan aku Mine” ucap Benedict merasa bersalah karena telah membuat Jasmine gemetaran.

Meski masih jantungnya masih berdebar kencang. Kehangatan dari tubuh suaminya membuat Jasmine kembali nyaman. Namun bersandar di tubuh pria itu tidak membuat darahnya berhenti  mengalir dengan cepat . Debaran jantung pria itu mendominasi pikirannya.

        “Kau jahat” seru Jasmine lemah.

 Jasmine melepas tangan kanan Benedict  dari genggamannya. Ia menarik tangan pria itu untuk tempat kepalanya bersandar di lengannya.  “Tidurlah jika kau mengantuk, aku akan menjagamu sampai pagi” ucap Benedict berbisik lembut

**** Lanjut.? 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *