Chapter 31

*Hi everybody!. SELAMAT IDUL FITRI MOHON MAAF LAHIR BATHIN. I’m sorry I haven’t been around this wattpad lately. Something has made my brain a little topsy-turvy these past few days. But I’m back now, and I’m excited to be writing again. I feel so bad that I haven’t completed Claudia-Jasmine  and I promise to do so, no matter how long it’ll take. Please forgive me. If you’re reading this, I hope you’re doing well. 🙂  

—————–ENJOY Guys..  

      Alunan lagu yang berjudul What A Wonderful World terdengar begitu indah di nyanyikan oleh Celine Dion yang mengenakan gaun ungu lembut dan elegan. Di pandu dengan instrumen Saksofon yang dimainkan oleh seorang pria membuat suasana pernikahan itu sangat romantis. Suara penyanyi kelas dunia itu sungguh lembut mendayu-dayu memukau para tamu yang berkisar berumur lebih setengah abad. Jasmine duduk di dekat meja bar. Setelah Ben memperkenalkan dirinya kepada ayah Sergio Sande. Jasmine meninggalkan Benedict yang mengabaikannya, sekan tidak membaca sikap bosan Jasmine Benedict tampak asik mengobrol bersama pria-pria tua asal Jepang tersebut. 

         Jasmine teringat akan pesta pernikahannya. Sangat persis dengan pernikahan itu. Acara yang sangat membosankan karena pada dasarnya hanyalah pernikahan bisnis di penuhi oleh orang-orang tua. Tanpa ada  lighting console atau tata cahaya yang dikendalikan secara otomatis melalui komputer yang akan berganti menjadi cahaya yang meyinar seperti laser seperti di Club malam.  Tidak ada musik dan hingar bingar. Semua di atur agar tampak kelas atas dan elegan. Alias sangat membosankan bagi Jasmine.

      Dari tempatnya Claudia Jasmine memperhatikan suaminya. Dan jika pandangan mereka bertemu Jasmine hanya memberi pria itu sebuah senyum tipis.  “Bitch” Taylor mendengus kesal setelah memperhatikan Jasmine dari bawah hingga atas.  Jasmine yang mendengar ucapan sinis Taylor memilih memutar mata malas dari artis papan atas itu. Jasmine sedang tidak bernafsu untuk ribut dengan mantan kekasih suaminya. 

      Tidak mendapat reaksi dari Jasmine Taylor merasa panas.  Ia mencari kata-kata yang tepat untuk menyerang Jasmine namun tidak ter-rangkai menjadi kalimat yang mematikan, ia sangat tau saingannya kali ini.

Keangkuhan Claudia Jasmine tidak terkalahkan oleh gadis menyebalkan manapun. Sesuatu tentang tahta tidak akan mampu menjadi senjatanya, karena ia telah menjadi seorang putri sejak lahir. Apalagi style  yang ia kenakan. Akibat paparazi yang mengikuti nya kemanapun pergi Gadis itu telah menjadi  Trendsetter fashion dari kecil.

Sialan. Aku tidak dapat menemukan satu halpun untuk memakinya. Bahkan lihat.. body language’nya sangat sialan anggun! Kenapa sikap angkuhnya malah terlihat anggun di mataku? Sialan!! Bagaimana caranya dia melakukan itu? Dia sangat membuatku iri!’  

        Darah Taylor semangkin mendidih melihat Jasmine tersenyum sangat manis saat bertatapan dengan Benedict. Hatinya terasa perih melihat Benedict dan Jasmine seperti melakukan telepati dan dapat mengerti arti sorotan mata dan senyuman mereka sendiri. Taylor menggertakkan gerahamnya keras menahan kekesalannya.

      “Hari ini tepat tiga bulan bukan” ucap Taylor tersenyum sinis menemukan bahan untuk menikam gadis itu tepat di ulu hatinya. 

      Jasmine menoleh menatapnya ,Jasmine memiringkan kepala memeriksa ekspresi Taylor. ‘apa maksud wanita jalang ini?

   “Tapi tidak masalah. Teruslah pandangi kekasihku.. karena waktumu akan segera habis Jasmine”

         “Omong kosong apa yang sedang kau ucapkan, Taylor? menjauhlah dariku” Balas Jasmine angkuh. Jasmine meneguk martini yang ada di tangannya. Lagi-lagi Taylor mengutuk kesal karena cara gadis itu menyesap martininya dan mengibaskan rambutnya. Jasmine hanya  tersenyum tipis. Tatapan sinis seperti Taylor pancarkan telah menjadi konsumsinya setiap hari sedari ia kecil. Hampir semua orang menatapnya iri.

       “Waktumu bersama Benedict-ku akan segera habis” Ulang Taylor kembali. Ia melirik reasksi Jasmine.

      Satu detik

    Dua detik

   15 detik Jasmine tidak memberikan reaksi apapun. Taylor semangkin kesal karena Jasmine menganggap ucapannya hanya angin kotor yang keluar dari tubuhnya.

    “Aku dan Benedict-ku masih memiliki hubungan hingga saat ini Jasmine” tambah Taylor masih ingin mengusik ketenangan gadis itu. Jasmine menghela nafas lelah, ia meletakkan gelas martininya di meja bar berdiri dari tempat duduknya hendak pergi dari gadis yang terus saja membual.

     “Aku tidak membual Jasmine. Bahkan aku tau kau dan Benedict-ku  belum pernah melakukan seks” Taylor menyeringai karena berhasil membuat Jasmine menatapnya sengit. ‘Yes. I got  babe!’

     “Ah.. kau kira itu adalah masalah pribadi kehidupan kalian berdua? Tidak dear.. Benedict-ku selalu menceritakan apapun kepadaku.” Ucap Taylor pura-pura tertawa anggun.  Jasmine menatapnya geram, ingin rasanya ia mengambil botol alkohol dari meja bar dan memecahkannya di kepala Tylor karena gadis itu membuatnya jijik dengan selalu saja menyebut Benedict-ku.

“Tapi tidak masalah, karenamu Benedict-ku bercinta denganku dengan sangat panas.” Mendengar pernyataan Taylor sesaat Jasmine menutup matanya geram. ‘Sabar Mine.. sabar. Dia hanya membual’

        Taylor berdiri, dengan anggun ia melangkah mendekati Claudia Jasmine. Taylor benar-benar berhenti  saat  wajahnya hanya memiliki jarak berkisar 10 cm dari wajah Jasmine. Kedua tangan Jasmine besedekap, dia membalas tatapan tajam Taylor dengan berani ‘dia salah jika memilih menjadi ruba betina untuk melawankuApa dia tau aku sangat bersukur karena sikapnya ini?  aku tidak merasa buruk jika berhasil nge-bitchy wanita jalang.”

       Taylor memiringkan wajahnya, dengan sensual ia mendekat seperti hendak mencium rival yang ada dihadapannya.  “Benedict-ku mengatakan kau hanya seonggok daging yang tidur di sampingnya setiap malam” bisik Taylor tersenyum sinis.  

       “Harus kita sebut apa untuk wanita yang dengan suka rela di jodohkan  dengan pria tidak ia kenal huh? Murahan? Tidak dear.. Kata murahan masih terdengar mulia untuk gadis seperti itu. Tidak memiliki otak? Entahlah.. yang pasti menjijikkan bukan? Seperti dirimu Jasmine” Ucap Taylor berbisik sensual, mengusap rahang pipi Jasmine dengan punggung jemarinya.

Jasmine mengibasnya dengan kasar. Darahnya bagaikan di panggang di atas bara api hingga mendidih mendengar semua perkataan gadis di hadapannya. Otaknya mendadak lumpuh, tidak menemukan kalimat yang pas untuk membalas perkataan Taylor yang memiliki senyum kemenangan. Ia tidak memiliki bukti untuk mematahkan ucapan gadis jalang itu.

‘Bagaimana dia bisa tau tantang aku dan Ben?! ‘

           Taylor mundur, memandang remeh Jasmine. “Sesuai sepakatan proposal kakakmu yang bodoh itu maka Benedict-ku akan segera menceraikanmu setelah tiga bulan ini Jasmine. Aku harap kau tidak mempersulit kekasihku lagi” 

         “Kau seperti terdengar seseorang yang sedang mebuang angin Taylor. Aku tau hubungan kalian telah selesai sejak lama” Ucap Jasmine berusaha tenang, meski  benci mengakui fakta bahwa Taylor mengetahui mereka tidak melakukan seks ia tetap tidak percaya dengan semua ucapan Taylor.

         Taylor semangkin tertawa palsu. Ia membuka tas tangan berwarna emas rancangan LK Bennett Natalie yang ada di tangannya. Mengeluarkan ponsel keluaran terbaru. Jasmine menunggu dengan tenang apa yang akan di tunjukkan oleh Taylor dari dalam Iphone yang dihiasi dengan 700 berlian individu buatan dari Alchemist London itu, belakang Iphone itu di lapisi oleh 24 karat emas bezel, Jasmine tau betul berapa berlian yang terletak di case ponsel tersebut. Karena Jasmine memberikan ponsel seharga £ 600.000 ($ 1.000.000)  itu untuk kado ulang tahun ibunya berapa bulan lalu.

          “Pasang matamu dan Lihat secara seksama dear..” ucap Taylor tersenyum sinis.

Meski malas Jasmine akhirnya menoleh menatap layar ponsel tersebut. Perlahan melihat apa yang ditunjukkan Taylor Jasmine merasakan lututnya melemas, dadanya sesak tidak mampu menghirup udara sedikitpun. Tangannya yang gemetar, dingin serasa membeku. Jantungnya seperti dupukul oleh kepalan tangan yang kuat. Serasa jijik melihat itu Jasmine membuang tatapannya dari layar ponsel tersebut. Air mata yang menetes dengan cepat ia hapus. Jasmine menggertakkan rahangnya kuat agar tangisnya tidak meledak. ‘Jangan menangis bodoh!’  ucap Jasmine meringis dalam hati.

      “Apakah kau masih mengatakan aku  membual huh? Kami melakukan itu ribuan kali tidak perduli dengan statusnya saat ini” Taylor menyeringai karena berhasil menikam  ulu hati rivalnya. “Ck, Kau terlalu naif jika mengira Benedict-ku adalah type pria seperti apa yang dikatakan orang-orang. Haha aku tidak percaya ini..  benarkah kau mengira dia seperti itu? ternyata kau hanya segelintir fans tidak pentingnya. Gunakan otakmu Jasmine, Benedict tumbuh  menjadi pria yang batinnya tersakiti oleh ayahnya. Tidak-kah pernah terpikir olehmu jika anak yang tumbuh dengan penolakan keluarganya akan memiliki alter ego?” Taylor mencibir.

      “Apa kau tidak pernah berpikir kenapa orang-orang sangat takut kepadanya? Jika dia seperti apa yang dikatakan gadis-gadis sepertimu  lalu apa penyebab banyak  billionaire takut kepadanya? Apa kau tau alasan dibalik itu semua? Apa kau tidak pernah melihat sisi lain dari sikap lembutnya?  Yeah aku berani bertaruh kau tidak tau. Karena kau hanya Beauty Case untuknya” ucap Taylor masih dengan seringai rubahnya. “Kau dengar? Hanya Beauty Case Jasmine. Tidak lebih dari barang pajangan” 

        Ucapan Taylor semangkin membuat Jasmine terpojok, semua ucapan Taylor tidak dapat ia bantah karena dia juga pernah berpikir  apa yang membuat banyak billionaire muda  takut untuk mendekati Benedict. Dan Video itu telah memperjalas segalanya. Segalanya, apapun yang dikatakan Taylor terbukti benar. Dia tidak membual.

     Setelah menyelesaikan serangannya Taylor  mundur satu langkah lagi karena ia melihat Benedict menghapiri mereka.

       “Apa terjadi sesuatu?” tanya Benedict cemas melihat wajah Jasmine yang memucat.  Benedict hendak menyentuh wajah gadis itu namun  Jasmine menepis dengan kasar “Ada apa?” Tanya Benedict heran karena Jasmine berprilaku aneh. Jasmine menolak membalas tatapan suaminya.

     “Babe..” Taylor menarik lengan Benedict ke arahnya. “Tidak usah cemaskan dia. Dia baik-baik saja” ucap Taylor mencium pipi Benedict.

    “Complete asshole!” Desis Jasmine jijik melihat Taylor dan Benedict.

   “Jaga ucapanmu Jasmine!” Seru Benedict tidak suka istrinya mengucapkan kata kasar. Mata Jasmine menyipit muak mebalas tatapan Benedict.

   “Tidak ada yang berhak mengaturku dan tidak juga denganmu!” Jasmine menghentakkan kakinya kesal dan pergi dari hadapan Taylor. Benedict hendak mengejar Jasmine namun gadis itu menepis dengan kasar.

    “Ben sudalah. Biarkan dia sendirian” ucap Taylor menarik lengan pria itu.

    “Aku tau pasti ada yang tidak beres saat kau mendekatinya tadi Ry!”

    “Aku tidak melakukan apapun padanya sayang”

    “Setelah wajahnya sepucat itu kau masih berani menyangkal?!”

   “Babe dengarkan aku. Aku bisa menjelaskan”

   “Menyingkirlah” Benedict menarik tangannya dari pelukan Taylor. Ia melangkah lebar menghampiri Jasmine yang setengah berlari dari area pesta. Saat berhasil meraih tangan Jasmine, gadis itu lagi-lagi menepis dengan kasar. Ia terus berjalan meski telah keluar dari gedung rumah megah itu.

        Jasmine tidak menghiraukan panggilan Benedict. Ia tidak memperdulikan kakinya kemana melangkah. Yang peting ingin segera lenyap dari muka bumi tempat ia berpijak.

         “Sayang ada apa?” Tanya Benedict heran melihat sikap istrinya. Jasmine terus berjalan tidak memperdulikan Benedict yang berjalan mundur dihadapannya. Benedict mencengkram bahu Jasmine dengan kuat agar gadis itu berhenti berjalan. “Sayang lihat aku!” ucapnya setengah membentak

    “Jangan panggil aku sayang!” Triak Jasmine menjerit memukul-mukul tubuh Benedict dengan kesal. Benedict menarik Jasmine ke dalam pelukannya, tidak memperdulikan gadis itu memberontak.

   “Tenanglah. Jangan menangis seperti ini” ucapnya megusap kepala Jasmine. “Ada apa? Apa yag terjadi?”

   “Lepas!!” Jasmine berusaha agar terlepas dari pegutan suaminya

   “Tidak sebelum kau berhenti menangis!”

    “Lepaskan aku brengsek lepas!!!” pekik Jasmine histeris. Benedict tetap tidak memperdulikan pemberontakan istrinya hingga akhirnya Jasmine menyerah, kehangatan dan wangi tubuh pria itu membuat ia melemah.

        Tidak memiliki daya, Jasmine menangis dipelukan suaminya. Menumpahkan segala rasa sedih kesal dan muak akibat seluruh ucapan Taylor. Setelah beberapa lama, Benedict yakin istrinya telah berhasil menguasai emosinya. Ia mendorong tubuh Jasmine sedikit, mengusap sisah air mata di pipi istrinya dengan lembut. “Apa kau sudah mau menceritakannya padaku?” Jasmine menggelengkan kepala dengan diam.

       Serasa ingat apa yang di tunjukkan Taylor. Jasmine kembali mendorong tubuh Benedict kuat. Ia kembali berjalan menjahui Benedict dengan diam. Menutup rapat kekesalannya. “Hei kau salah jalan. kita harus kembali” Benedict menarik tangan Jasmine.

    “Aku tidak ingin menbali ke sana” Jasmine menarik kembali tangannya

   “Baiklah. Jika begitu kita sekarang naik privat Jet yang tadi kau bawa.” Ben kembali meraih tangan istrinya

   “Aku tidak mau! pergilah menjauh dariku!” Bentak Jasmine geram.

   “Apa maksudmu? Aku telah mempersiapkan semuanya untukmu Jasmine!” Seru Benedict geram. Jasmine berhenti melangkah, berbalik menatap suaminya dengan kening berkerut dan bibir cemberut.

   “Mempersiapkan apa untukku?”

   “Semuanya.. apa yang aku janjikan padamu tadi siang. Kau lupa?” Jasmine memutar memorinya, mengingat apa saja yang terjadi tadi siang. “Di rumput” Seru Benedict lagi. “Pacuan kuda! Kau tidak mengingatnya.?” Benedict berusaha mengingatkan istrinya tentang cumbuan mereka. Dia telah mempersiapkan segalanya. Bulan madu ke maldives island tempat yang pernah di tolak istrinya. Di pulau kecil itu telah ia telah mempersiapkan semuanya. Dan segala yang telah ia persiapkan akan semangkin romantis karena alam yang sangat indah.

     “Kau saja yang pergi sendiri! Dan bawa pantat kekasihmu itu!” seru Jasmine geram. Jarak mereka telah mencapai 10 meter karena Jasmine terus melangkah meninggalkannya.

    “Jasmine jangan gila!” Seru Benedict panik karena rencannya akan hancur. Ia berlari menghampiri istrinya.  “Jasmine aku telah mempersiapkan segalanya untuk kita Mine! Aku berani bertaruh kau pasti menyukainya”

    “Aku tidak mau!”

    “Bukannya kau tadi yang memintanya padaku?”

    “Aku sudah tidak tertarik”

     “Apa?! Ya Tuhan Mine.. aku tidak memiliki Paln B.! Ayolah sebelum kau menyesal!”

     “Aku tidak mau!! Pergilah tinggalkan aku sendiri!” Seru Jasmine kesal. Benedict menghentikan langkahnya. Menghembusakan nafas lelah melihat reaksi istrinya yang aneh.  Ia merogoh kantong jasnya, mengambil hanponennya yang berdering.

      “Tidak. Tetap posisikan dalam rencana. Aku akan membujuk istriku” Setelah itu Benedict mengusap kepalanya dengan kesal. “Aaagh..  Ada apa lgi dengannya?” Benedict kembali melangkah mengikuti langkah istrinya.

        Dengan diam Menatap setiap langkah gadis itu. Jasmine tau Benedict mengikutinya dari belakang namun ia tidak ingin berbicara dengan pria itu saat ini dan mungkin akan untuk selama-lamanya.

       Mereka berjalan di kesunyian malam. Sangat tenang tidak terdengar suara berisik kendaraan atau apapun. Meski ia telah merasa berjalan cukup jauh namun sedari tadi pintu gerbang Mansion keluarga Sande tidak juga kunjung terlihat. ‘ha.. Mansion ini berdiri di atas lahan 120 hektar tentu saja gerbangnya tidak terlihat sedari tadi, sialan!’ rutuk Jasmine kesal.

        Jasmine berhenti di sebuah jembatan kecil  yang mengeluarkan suara gemercik air. Ia bersandar di besi pembatas jalan dan jembatan.

    “Kau  lelah.?” Tanya Benedict duduk dihadapannya. Ia melepas kaki Jasmine dari high heels  yang ia kenakan. Meletakkan di kakinya yang berlutut. Mengurut kaki istrinya yang ia tau pasti sangat pegal berjalan jauh memakai high heels.

       Jasmine memperhatikan pria yang berlutut di hadapnnya. Tatapannya kosong tidak lagi memuja. Hatinya masih terasa amat perih karna melihat video pria itu bersama kekasihnya yang sedang melakukan seks. ‘Palsu. Segalanya yang ia perlihatkan kepadamu adalah palsu Mine,  Kau jangan sampai terbuai olehnya lagi!’

      Jasmine menarik kakinya dari pijatan Benedict. Ia berdiri, memasukkan kakinya ke high heels.  Gadis itu melangkah namun seperti tenggelam dalam lamunanya.

      “Jasmine” Benedict  membuka mulutnya untuk menanyakan sesuatu namun Jasmine langsung mengangkat tangannya, melarang pria itu mengeluarkan suara. “Tapi-“ Jasmine berhenti melangkah, tanpa menoleh ke Benedict di sampingnya ia mengangkat tangannya lagi dengan geram agar pria itu menutup rapat mulutnya.

        Benedict  mengusap kepalanya yang terasa pusing memikirkan kenapa gadis itu kembali menjadi dingin. Ia menghembusakan nafas frustasi dan membuka simpul dasi kupu-kupu yang ada di lehernya dan membiarkan tergantung begitu saja. Membuka dua kancing teratas yang terasa menganggunya untuk bernafas dengan normal.

     Jasmine memutar bola matanya, melirik suaminya ‘sialan! Apa dia tau aku suka melihat pria yang meletakkan dasi kupu-kupunya tanpa tersimpul seperti itu huh?’

     Benedict tersenyum kecil karena matanya menangkap mata Jasmine yang meliriknya. Benedict membuka Jas hitamnya dan memasangkan ke bahu istrinya dengan diam.

    “Suruh seseorang mengantarkan mobil, aku lelah “ pinta Jasmine angkuh. Tanpa banyak protes Benedict merogoh saku celananya dan mencoba menghubungi seseorang. Tiga kali menunggu sambungan telpon akhirnya terhubung.

      “Bawakan mobilku menuju ke arah gerbang selatan”

      “Tapi tuan keadaan sangat steril, sangat sulit bagiku untuk-“

      “Mobilmu saja bawa kemari  atau apapun yang dapat kau bawa kemari! Segeralah  istriku kelelahan!.” Perintah Benedict tajam, ia melihat Jasmine telah melangkah di depannya.

      “Baik tuan, dalam dua menit” ucap pria di ujung telpon menjawab sopan.

Pria yang ditepon Benedict menepati ucapannya. Dalam dua menit pria itu membawa mobil  klasik Jaguar E type FHC Series II 1968 yang berbalut warna Greensand Gold. Jasmine mengernyitkan dahi menatap mobi classic sixties tersebut. Kamudian menatap Benedict ingin memperoleh jawaban namun pria itu mengedikkan bahu ringan. Pria itu turun dan memutari mobil agar menghadap Benedict.

       “Maaf tuan hanya mobil ini yang diizinkan keluar karena belum sempar terparkir. Seluruh area sangat steril apa lagi membawa mobil anda tanpa supir pribadi anda sangat sulit bagiku tuan”

       “Baiklah, trimakasih Trey” ucap Benedict tulus. Jasmine langsung masuk kemobil tanpa sempat suaminya membukakan pintu untuknya. Duduk dan menyalakan radio dengan volume keras.

     “Kau bisa menyuruh seseorang untuk menjemputmu bukan?” tanya Benedict ke pria yang bernama Trey

    “Ya tuan. Trimakasih telah memikirkanku”

     “Baiklah. Aku pergi” ucap benedict memutari mobil dan masuk dan duduk di bangku pengemudi.

Pria yang bernama Trey menunduk agar dapat melihat kedalam mobil.  “Maaf tuan jadi bagaimana dengan rencana berbulan madu tuan?” tanya pria itu sopan.

      “Bataaaalkan!!” Bentak Jasmine kesal. Trey terlonjak kaget karena suara triakan tiba-tiba tersebut. Benedict melirik Jasmine kemudian memutar matanya menatap Trey.

     “Untukmu saja dengan kekasihmu Charlotte Trey.” Ucap Benedict singkat

      “Tapi tuan-”

      “Sudalah Trey, kau tau aku tidak suka ditolak” ucap Benedict dingin. Kemudian ia menekan pedal gas tanpa mau menerima bentuk penolakan lebih dari pria itu.  

        Jasmine meyadari perubahan sikap Benedict. Pria itu terlihat menjadi pendiam tidak lagi mengusiknya. Dia benar-benar mematuhi perintah Jasmine untuk menutup mulutnya.

        Benedict mencengkram stir dengan kuat, terlihat jelas rahangnya mengeras. Ia sangat takut memikirkan apa yang telah dilakukan mantan kekasihnya hingga istrinya menangis seperti itu. Gadis itu tampak sangat terpukul. Namun gadis itu hanya menyimpan rasa perihnya sendiri. Tidak membagi kepadanya sedikitpun.

      Jasmine menatap suaminya lebih lekat. Alis matanya yang hitam terlukis indah oleh karya tangan penciptanya, hidungnya yang mancung, bibirnya yang sedikit berwarna merah meski tidak memakai lipstik, leher dan bahunya yang kokoh.  Jasmine membuang tatapannya lagi ke depan, menatap jalanan yang sepi.

      “Rush..”

      “Hmm.?” Benedict merasakan sesuatu yang aneh istrinya memanggil nama depannya.

     “Apa kau masih memiliki hubungan dengan Taylor?”

    “Ya bisa dikatakan seperti itu, ada apa?”

     “Tay memperlihatkan sebuah video kau dengannya melakukan seks” Ucap Jasmine datar, membuang pandangan ke luar.

     “Lalu.. Apa kau membutuhkan penjelasan untuk itu?”

      Jasmine menelan liurnya dengan berat agar meminimilisasikan suara isakan tangisnya. Ia memutar kepala ke arah jendela, menyembunyikan air matanya yang tidak sanggup terbendung. Segala gerakan pria itu saat menyetubuhi kekasihnya di video itu terus terputar di pikiran Jasmine. Jasmine menggertakkan rahangnya sekuat tenaga.  Rasa terbakar api cemburu begitu menyiksanya. Jasmine menunduk, menenggelamkan wajahnya kedua telapak tangannya. Ia menangis dalam diam.

      “Jangan terlalu naif Jasmine.. Orang dewasa bisa melakukan itu tanpa cinta bukan?” Jawab Benedict dengan ketenangan luar biasa.

Jasmine mengigit bibirnya kuat, meremas kepalan tangannya yang gemetar dengan geram. Sungguh Tidak percaya mulut pria itu bisa mengeluarkan komentar seperti itu. Buku-buku jarinya semangkin dingin. Jantungnya berdetak tidak nyaman.

     “Kau juga biasa melakukan itu bukan? Ini New York Jasmine, dan kau seorang supermodel kau—“

    “Tidak.. aku tidak!” pekik Jasmine memotong ucapan Benedict geram.

       ‘Kenapa aku bisa jatuh cinta dengan pria seperti dia? Aku benci pria Alfa seperti dia. Aku benci pria seperti dia demi Tuhan kenapa aku harus jatuh cinta dengan pria ini?!!’

Jasmine  menghela nafas berat.  Kemudian tertawa perih. ‘Kenapa aku harus mengalami rasa ini untuk kedua kalinya?  Rasa itu terus memancing agar air mataku keluar.  Dia, pria yang sedang bersamaku saat ini telah resmi menjadi suamiku. Setelah lama hanya berani menatapnya dari kejahuan. Setelah lama memendam rasa ini. tapi ternyata dia tetaplah bukan milikku, dia milik gadis itu. Rasanya kosong, dia ada disampingku tapi rasanya sepi, sangat menyesakkan hati. Rasanya jauh lebih sakit dari saat itu.dia masih tetap menjadi pria brengsek!’

         Ia kembali menghela nafas. ‘ Haha kenapa aku bisa sebodoh ini untuk  salah mengartikan itu semuanyaDia tidak melakukan hal itu hanya untukku namun juga kegadis itu. Hatiku begitu sakit melihat perlakuannya yang tidak suka Taylor di ganggu oleh Naya dan Sergio. Dan melihat vidio bercinta mereka membuat aku jijik!!! Tayor benar tentang pria ini!! Dia bajingan!! Dia sama seperti Daddy, sama seperti Jems, sama seperti laki-laki lainnya, mereka gila seks! Demi Tuhan aku jijik akan komentarnya itu!! ’

           ————-

       Lebih dari dua jam Jasmine tenggelam dalam lamunannya sendiri, menikmati rasa perih hatinya sampai puas, bersiap menghadapi sebuah kenyataan. Di dalam kesunyian, Ia bersumpah akan mengakhiri segalanya. Cukup dua kali terluka karena pria itu, tidak akan ada yang ketiga .ia lelah salah memahami rasa cintanya. Jawaban Benedict atas kebenaran video itu sungguh mengahancurkan hatinya. Dan tidak mungin pria itu memang membagi apapun yang mereka alami bersama ke gadis itu. Jawaban tenang Benedict sungguh membuatnya teriris perih.

Esok ia akan melupakan segalanya tentang perikahan tolol mereka. Jasmine bersumpah ini adalah malam terakir ia bersama pria brengsek itu. Ia memilih akan melupakan saat terindah saat bersama Benedict yang telah membuat ia terbuainya  hingga ia begitu berani berharap memiliki pria itu selamanya. Ia tidak lagi menginginkan pria itu, ia ingin pisah. Ia akan mengajukan cerai.

     Setelah mengucapkan sebuah sumpah pada dirinya sendiri, Jasmine mengusap air mata yang mengiringi dukanya  yang bersiap akan kehilangan pria itu. 

 Ia tampak telah berhasil menguasai dirinya sendiri. meski kepedihan akan merelakan kepergian pria itu tidak kunjung meredah. Ia membuka Jendela mobil dan menghirup dalam-dalam udara dingin yang masuk melalui celah jendela. Udara yang begitu segar perlahan dapat meringankan rasa perih di hatinya sedikit. Kemudian ia menoleh menangkap mata biru itu yang menatapnya dengan sendu. Jasmine memberi pria itu senyuman tipis.

“Apa prasaanmu telah membaik?” tanya Benedict khawatir.

        Jasmine mengangguk. “Yah.. sedikit..” ucap Jasmine terdengar lirih.

      “Sedikit? Apa ada sesuatu yang bisa aku perbuat untuk meringankan kesedihanmu Mine?”

      “Tidak.. kau tidak akan bisa Rush. Trimakasih atas perhatianmu” ucap Jasmine tersenyum tipis. Benedict mengernyitkan alisnya bingung mendengar nada formal dari istrinya. Istrinya memberi ia senyum namun hanya senyum sopan santun terhadap orang asing.

     “Kenapa kau begitu yakin  aku tidak bisa melakukannya?”

     “Tidak Rush.., kau tidak. Hanya Pet yang bisa memulihkan prasaanku” Jawab Jasmine berbohong.

    “Peter? Apa dia begitu berartinya untukmu Jasmine?” Tanya Benedict tidak suka.

   “Tentu saja. Aku hanya bersedia menikah dengannya jika aku tidak menikah denganmu” jawab Jasmine jujur.  Kecemburuan yang melanda  begitu cepat membuat Benedict tidak mampu mencerna arti dari pernyataan jujur Jasmine.

   “Apakah kau masih mencintainya?”

   “Sangat”

   “Kau bohong”

   “Untuk alasan apa aku berbohong Rush? Jujur ku-akui aku mencintainya, dia pria yang baik meski terlihat dari luar dia begitu brantakan namun dia memiliki hati yang begitu tulus dan tidak penuh dengan kepalsuan.” Ucap Jasmine menekan kata palsu melirik Benedict

      “Aku menyukai caranya yang menjagaku dengan baik saat kami traveling keliling lima benua” ucap Jasmine jujur.

“Aku merindukanmu Pet”Jasmine berguman lirih.

Benedict melihat istrinya tersenyum manis dalam lamunanya, mengingat Peter, menceritakan tetang Peter dapat membuat gadis itu merasa jauh lebih baik ternyata.

   “Ehem!” Benedict berdehem keras untuk membuyarkan lamunan gadis itu. “Sepertinya banyak kegilaan yang telah kalian lakukan bersama” Komentar  Benedict dingin, menatap lurus jalan.

  “Tentu saja. ”

  “Apa saja yang telah kalian lakukan?” Tanya Benedict mulai geram.

  “Hmm… Aku akan menunjukkan padamu” Ucap Jasmine membuka seat belt’nya dan bangkit dari duduknya.

 “Hei apa yang kau lakukan Jasmine?” tanya Benedict panik karena gadis itu merangkak kearahnya.

  “Jangan diturunkan kecepatannya. Kau beranjaklah, berikan setir untukku”

  “Kau gila! ini banyak tikungan bagaimana tidak menurunkan kecepatan!! Jasmine!” Jasmine membuat Benedict kewalahan untuk menstabilkan kemudi  mobil . Beberapa kali mereka  hampir saja menabrak tebing, terus bekelok-kelok tampa aturan. Seperti dikemudi oleh orang mabuk.

    “Kau tertlalu cerewet seperti kakeku Rush!” triak Jasmine setelah berhasil duduk di bangku pengemudi, Benedict langsung cepat mengatur duduknya di bangku Jasmine sebelumnya dan memasang seat belt. Benedict mengerjapkan mata tak percaya dengan sikap brutal istrinya. Hampir saja mereka akan terpental kejurang karena menabrak tebing.

     Lagu dari Icona Pop berjudul  I Love It menyambut kelakuan gila yang akan dilakukan Jasmine selanjutnya. “Yang aku lakukan dengan Pet adalah siap mati kapanpuun!” Triak Jasmine mengalahkan kerasnya musik. Ia kembali mendorong Benedict yang berusaha hendak memasangkan seat belt’ untuknya. Ia semangkin menginjak pedal gasnya secara penuh.

     “JASMINEEE!!! TURUNKAN KECEPATANNYA!! INI TIKUNGAN TAJAM!!” Triak Benedict panik karena kecepantan  yang sangat amat membahayakan mereka.

I DONT’ CARE, I LOVE IT!! Hahaha” Jawab Jasmine berteriak girang, tidak juga menurunkan kecepatannya meski jalan yang mereka tempuh adalah jalanan yang sempit yang di batasi oleh tebing dan jurang.

     “KAU GILA JASMINE!! KAU GILA!! KITA BISA MATI JIKA KAU MENGENDARAI SEPERTI ITU!!” Adrenalin Benedict begitu meledak, Jantungnya bagaikan akan meloncat keluar karena benar-benar yakin mereka akan mati saat itu juga karena setiap tikungan selalu saja ban belakang mobil berada di ambang jurang karena Jasmine mengemudi di tikungan dan jalan yang begitu sempit dengan kecepatan tinggi. 

          Jasmine terus tertawa melihat suaminya panik. Tidak memperdulikan wajah Benedict yang memucat. Jasmine terus tertawa. Benedict memegang pengaman dengan erat, kecepatan tinggi mobil itu membuat ia sangat sulit bernafas. Ia melirik istrinya dengan was-was, ia sungguh tidak percaya melihat perubahan sikap gadis itu hanya dalam hitungan detik yang lalu. Tadi ia menangis begitu pilu kemudian berubah seakan-akan tidak pernah ada dirinya yang sedang menangis sedih seperti tadi.

     “I DONT’ CARE, I LOVE IT. Hahaha!!”                            

     “AKU AKAN MEMBUNUH PRIA ITU KARENA TELAH BERANI MERUSAK OTAKMU JASMINE!!”

     “KEHIDUPANMU YANG TERLALU MEMBOSANKAN RUSH HAHAHA”

     Benedict mengusap wajahnya yang terasa dingin. Antara panik dan kesal bercampur satu karena mendengar istrinya terus saja memanggilnya dengan sebutan Rush. Entah mengapa gadis itu terus saja memanggil nama depannya Russel Heard.

      “Hei perhatikan jalanmu!!” Triak Benedict  gusar karena Jasmine menoleh kesisi jurang. Ide gila Jasmine semangkin menjadi-jadi melihat hutan pinus dibawahnya. Setelah selesai memakan jalan penurunan yang berjurang Jasmine langsung memutar stang stir ke kanan meneromos masuk ke area hutan pinus.

         Benedict kembali melotot akan keterkejutannya. “HEI KAU MAU APA LAGI HUH?!! “ Jasmine tidak memperdulikan teriakan suaminya, ia tetap menginjak pedal gas kuat tanpa menuruni kecepatan meski ban belakang mobil terasa licin akibat melewanti setumpuk tanah yang ditumbui lumut. Namun gadis itu selalu berhasil berkelok-kelok melewati pepohonan pinus yang menghalangi jalannya.

          “JASMINE TURUNI KECEPATANMU! JASMINE!! INI HUTAN PINUS!! JASMINE KITA BISA MENB-”

                  BRAKKKKKKKKKK-

……………..

              ……………..

wallup.net

                             ………………

Teriakan Benedict ter-redam oleh Airbag yang langsung mengembang otomatis karena mobil yang mereka kendarai baru saja menambak pohon pinus dengan keras.    

    Benedict segera tersadar apa yang terjadi dan dengan panik ia menoleh hendak mengetahui keadaan istrinya.  

    “A K U B E N C I A I R B A G !!!” Triak Jasmine menjerit dari balik airbag yang menutupi wajahnya. Benedict bernafas legah mengetahui istrinya masih gila, tidak kekurangan apapun.    

“Dia hanya memukul hidungmu tapi menyelamatkan nyawamu agar tidak terpental keluar Jasmine!” Seru Benedict kesal. Benedict keluar dari mobil dan menghempaskan pintu dengan keras. Bersandar di bemper mobil dan menengadah kepala ke langit, bernafas dengan legah dan mengucap sukur mereka baik-baik saja.     

Jasmine juga keluar dari mobil dengan menyentuh kepalanya yang sedikit pusing akibat terbanting ke airbag. Kemudian bola matanya berputar memperhatikan sekitarnya. Jasmine melihat sekitarnya dipenuhi pepohonan pinus yang amat sangat tinggi. Ia menengadah  kepala keatas, terpenosona  menatap keindahan pohon pinus. Jasmine menutup matanya dan tersenyum. Menghirup aroma pinus yang amat ia sukai sedalam-dalamnya.

          Saat ia membuka matanya kembali, Jasmine bertemu pandang dengan mata biru milik suaminya. Ternyata pria itu sedang menatapnya sedari tadi, Jasmine mengindar dengan kaku. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *