Chapter 30

sesuai permintaan kalian, ini panjang.

     Author Point Of View

     “Aku.. eum…. Pet..” Jasmine mencoba mengucapkan sebait kalimat untuk pernyataan Peter namun entah kenapa bibirnya terasa kelu untuk menjawab apapun itu. Ia sungguh tidak tau harus berbuat apa untuk Peter, jelas Jasmine masih sayang pria itu. Namun untuk Cinta, sedari dahulu hanya da Benedict di hatinya.

Peter memang pria yang baik. Tidak mudah baginya membuang sosok pria itu dari relung hatinya begitu saja. Ada banyak kisah yang mereka lalui bersama. Peter adalah pria yang baik, meskipun ia anak musik yang berpenampilan berantakan, terkenal dengan badboy-nya tapi pria itu selalu menjaga dan mencintai dirinya dengan tulus. Namun ia juga tidak ingin menyakiti Peter jauh lebih dalam dengan mengakui bahwa ia lebih mencintai Benedict.

      “Apa benar kau mencintai pria kaya itu?” tanya Peter karena reaksi Jasmine.

        “Dia punya nama Peet!” jawab Jasmine tidak suka Benedict dikatakan dengan tidak sopan. Perih rasanya melihat Jasmine yang sangat ia kenal menjadi berbeda, tidak pernah gadis itu membela seseorang jika orang itu tidak memiliki arti untuknya.

        Peter mengepalkan kedua tangannya yang mulai gemetar menahan rasa sakit di hatinya, tidak menyangka hati gadisnya dengan cepat berpaling.  Gadis yang amat ia cintai setulus hatinya kini tidak lagi miliknya, gadis itu telah berpaling dan meremukkan hatinya.

         “Andai bersabar sedikit saja, andai aku menyetujui idemu agar kita  melarikan diri ke Itali, aku mungkin tidak akan merasa prasaan yang menyakitkan ini Mine. Aku merindukanmu Jasmine” Peter memeluk tubuh Jasmine erat. 

 “Maafkan aku Pet” ucap Jasmine begitu menyesal karena ia telah menyakiti pria itu sangat. Hanya karena mendengar nama Benedict yang akan menikahinya, Jasmine langsung buta dan menghianati Peter begitu saja. Bahkan Peter yang tidak bersalah hampir mati di pukuli Sergio.

         “Swetheart  dengar…” Peter melepas pelukannya di tubuh Jasmine, memegang wajah gadis itu agar menatapnya lekat. “Dengar, Untuk saat ini aku tidak bisa memberikanmu materi tapi aku janji mulai saat ini aku akan memikirkan materi, aku akan bekerja dan menghasilkan uang yang banyak, aku tidak akan bermain-main lagi. aku  akan berusaha agar kita bisa kasih makan Baby kita…”

        “Peet… Aku milik Benedict”

        “Negara Jepang, china, korea.. negara itu belum kita kunjungi bukan? Kita akan segera melanjutkan traveling  kita. Ah atau kau mau kita kembali ke mesir lagi?”

         “Peet! Aku tidak bisa, aku..” Ungkap Jasmine nyaris menghilang.

       “Sungguh kau mencintainya??” Tanya Peter dengan pandangan nanar. 

 “Jangan paksa aku menyakitimu Pet! Aku mohon” Jawab Jasmine merasa tertekan.  Peter menghela nafas berat, gadis yang ia cintai selama tiga tahun ini sungguh-sungguh bukan miliknya lagi.

     “Sekarang beri tahu aku kenapa kau bisa ada di pesta ini?” tanya Jasmine mengalihkan pembicaraan.   

    “Apa pria miskin sepertiku tidak layak berada di pesta seperti ini?” Tanya Peter sakartis.

      Jasmine menatapnya pria itu dengan kening berkerut. “Ugh. Kau tau aku Pet! Aku bukan orang yang menilai seperti itu” Jasmine memuluk bahu Peter dengan sebal.

     “Maafkan aku sweet” ucap Peter tersenyum, betapa gembiranya bisa mendengar suara cemberut Jasmine kembali. “Aku di undang oleh si mempelai pria, dia mau memproduseri album black pearl-ku” ucap Peter semangat kembali.

    “Aaaak Seriously? Omg Pet!!” Jasmine berteriak girang dan memeluk tubuh Peter kembali dengan erat. “Aku bahagia, aku sangaaaat bahagia akhirnya apa yang kau impikan terkabul” ucap Jasmine memeluk tubuh Peter girang. Peter tersenyum lebar, reaksi gadis itu sesuai dengan harapannya. Ia membalas pelukan gadis itu dengan perasaan penuh, bahagia sekali bisa memeluk tubuh gadis yang ia cintai itu lagi.

         Merasakan pelukan Peter semangkin erat, Jasmine menarik pelukannya dari tubuh Peter perlahan, ia mengalihkan  matanya dari tatapan Peter yang menusuk batinnya.  “Aku sangat merindukanmu sweet” ucap Peter jujur, air matanya yang mengenang di pelupuk matanya jatuh menetes. Jasmine hanya mengangguk dengan diam, ‘Sial, hubungan kami sangat dalam.’ batin Jasmine berteriak perih

      “Aku turut bahagia karena impianmu tercapai Pet” ucap Jasmine tulus, kembali Peter mengangguk sambil mengulum senyum.

    Ia melepas pelukannya dari tubuh gadis itu. Menatap lekat pada bola mata yang membuat dia jatuh hati pada gadis itu.  “Aku senang kau tidak menjahuiku sweet”

      “Hei.. mana mungkin aku menjauimu, aku bisa mati tanpamu” ucap Jasmine merayu, Peter tertawa mendengar kalimat gadis itu. itu kalimat yang sering Peter ucapkan saat mereka masih bersama.

      “Baiklah sebelum si skotlandia brengsek itu memulai membuat keributan aku harus pergi” ucap Peter  dengan berat hati karena harus mengakhiri pertemuan singkat mereka. Meski berat Jasmine akhirnya mengangguk, masih banyak yang ingin ia tanyakan tentang kehidupan pria itu selama mereka berpisah. Berapa puluh jam-pun mengobrol bersama Peter tidak pernah ia merasa bosan. Namun ia masih mengingat Benedict yang mungkin tidak menanti kehadirannya namun Jasmine yang tidak sabar untuk bersama pria itu.

      “Kau pulang bersama siapa.?”

     “Jacob dan Marrison, Bye sweet, i loe you” ucap Peter pamit pergi mencium kepala Jasmine.

“Bye, hati-hati” jawab Jasmine tersenyum manis. 

      Setelah Peter sampai di mobil yang telah di bawa temannya Peter berbalik  melihat Claudia Jasmine yang masih setia berdiri menunggunya. Ia melambaikan tangan dengan gerakan menyuruh Jasmine untuk masuk kembali kedalam. Setelah Jasmine mengangguk dan masuk barulah Peter pergi bersama temannya.

     “Kau gila memeluk istri Russel Heard seperti itu Pet! Apa kau mau mati?” cerca Jacob saat Peter masuk kemobil.

    “Aku memeluk tubuh kekasihku bukan pria kaya itu” ucap Peter tidak perduli.

     “Orang kaya seperti mereka menjijikan Pet, mereka akan melepaskan anjingnya untuk megejarmu. Bahkan presiden tunduk dengan lingkaran yang mereka buat” Ucap Marrison angkat bicara. Jacob mengangguk setuju.

    “Terserah, aku tidak perduli, aku masih sangat menyayanginya. Kalian tau? Sepertiya aku masih memiliki kesempatan. Aku memang tidak setara dengan kekayaan pria itu, namun Jasmine gadis yang berbeda. Aku hanya perlu usaha sekali lagi.” Ucap Peter menyalakan batang rokoknya.

    “Kau akan menyesal Pet” seru Jacob.

    “Setidaknya aku berusaha” Jacob dan Marrison memilih menyerah saja dengan badboy malang itu.

     -==============-

       Jasmine menyapukan pandangannya ke seluruh ruangan, mencoba menangkap sosok pria yang ia cari. Sahabatnya Naya-pun juga tidak tampak keberadaanya. Jasmine sedikit banyak mengenal para tamu namun ia enggan untuk beramah tamah menyapa orang-orang yang ia anggap tidak penting. Bahkan sedari tadi dia tidak juga bergerak menyapa sang mempelai yang memiliki acara sakral tersebut.

     Akhirnya sosok Beneditct dapat terlihat sedang duduk di meja lingkaran bersama Ayah ibu Sergio dan Orang-orang Jepang. Pria itu hanya sesekali tersenyum tipis saat menanggapi obrolan bersama pria tua berparas Asia. Jasmine tersenyum tipis melihat sosok yang ia cari. Jantungnya mulai bedebar ritme pelan namun detakan keras, Ia merasa seperti Déjà vu. Jika dulu dia hanya Menatap pria itu dari kejahuan, tanpa berani mendekat ataupun menyapa. Namun yang berbeda pria itu kini sudah menjadi suaminya. Mereka bukan lagi dua orang yang asing.

      Merasa ada yang memperhatikannya Benedict menoleh, menangkap langsung mata Jasmine yang menatapnya dari kejahuan. Pria itu tersenyum tipis karena gadis itu tersenyum kepadanya.  Jasmine tersenyum lebar dan memutuskan ingin melangkah mendekati pria itu namun pria itu memberi isyarat untuk berhenti, dan gerakan tangannya seakan-akan memberi isyarat ‘tetaplah disana, aku yang akan kesana’.

     Benedict berpamitan dengan sopan pada beberapa orang tua teman ngobrolnya dan meletakkan gelas anggurnya di nampan saat pelayan melewatinya.  Melangkah lebar  dengan tatapan hanya tertuju ke istrinya, tidak memperdulikan tatapan orang yang mengikuti setiap langkahnya. Mengabaikan para wanita yang tidak sungkan dan tidak gengsi untuk menatap pria dengan wajah berbinar.

Mereka berdua mengabaikan lirikan dari banyak pasang mata ke arah mereka. Seolah-olah hanya mereka berdua yang ada di ruangan itu. Mata Benedict menyiratkan ketenangan saat dia menatap Jasmine dengan seksama.  Tidak ada bahasa yang bisa mereka ucapkan dengan kata-kata dalam jarak yang menjadi pemisah antara mereka. Bahasa tubuh, pandangan mata, bibir yang saling tersenyum manis, atau bahasa yang terpendam dalam hati, membuatnya bersesakan dan menjadi melodramatis. Dalam Jarak yang sedang dibunuh sang pria mereka bertatapan membiarkan bara itu menyala dengan percikan keras.

      “Hai” Sapa Benedict saat telah berhasil membunuh jarak di antara dirinya dan Claudia Jasmine istrinya.

   ”Hai.,”  Sapa Jasmine membungkuskan lengannya diseputaran bahu Benedict. Membelai rambut coklat suaminya yang lembut dengan jemarinya. Ben tersenyum menampakkan betapa hangat dan nyamannya dia terasa dibawah belaian tangan istrinya. Ben melingkarkan lengannya disekeliling pinggang Jasmine dan menarik gadis itu padanya, dan menyapukan jarinya menuruni pipi istrinya. 

   “Kenapa lama sekali nostalgia bersama mantan kekasihmu itu huh.?”  Tanya Ben  mengecup lembut bibir Jasmine  dan menyapukan hidungnya dengan hidung istrinya. 

     “Ha.? A- Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan Ben” jawab Jasmine gugup.

      “Kemana dia?”

      “Siapa.?”

      “Peter Derulo sayang, kemana dia?” tanya Benedict lembut.

       “Ha.?”

       “Ada apa denganmu? Kenapa sedari tadi hanya mengucapkan Ha? Ha.? Saja huh.?”

      “Ah aku.. kau .. sayang?.. eum kau.?” Ucapan Jasmine yang terbata-bata dan tidak jelas membuat Benedict tersenyum geli. Keterkejutan Jasmine bercampur tidak percaya pria itu melihatnya bersama Peter, terkejut karena reaksi pria itu tidak seperti yang ia kira, terkejut tidak percaya juga karena pria itu memakai kata sayang. Mendengar kata itu dari bibir yang ia puja membuat hatinya bergetar.

    “Aku harap kau masih ingat bahwa kau telah menjadi kekasihku, jadi pertemuan dengan ex-mu itu hanya pertemuan biasa”

   “Kau melihat aku bersama Peet,?

   “Ehem..”

   “Kau tidak marah.?”

   “Kenapa aku harus marah.?” Benedict bertanya sambil terus memperhatikan bibir istrinya.

   “Sergio mana? Dia tidak melihatku kan?” tanya Jasmine menarik pelukan Ben, menyapukan pandangan mencari sosok seorang Sergio. Benedict mengerutkan kening menatap heran dengan reaksi istrinya.

      “Kenapa kau sangat takut Sergio yang  marah?”

      “Ah tidak, bukan dia yang penting. Aku tidak ingin masalah yang lalu terjadi kembali” ucap Jasmine berkata jujur. Benedict mengangguk mengerti.

      Ia melihat semuanya tadi, Benedict tidak ingin istrinya di ganggu oleh siapapun jadi ia memutuskan mencari Jasmine saat melihat gadis itu bukan lagi bersama kakaknya. Namun saat melihat istrinya bersama kekasihnya Peter, meski amat sakit  Benedict memutuskan untuk mundur, ia memilih mengandalkan takdir yang bejalan seiringan dengan waktu.

Meski hatinya panas di bakar api cemburu karena gadis itu tertawa dan memeluk tubuh pria lain. Ia tetap memberikan gadis  itu waktu untuk menentukan pilihanya. Jujur saja ia merasa masih berada di bawah laki-laki itu satu tahap. Bukan soal materi tentunya, namun soal siapa yang ada di hati gadis itu dan lebih mengenal Jasmine. Andai ini soal bisnis Peter akan di kikis habis olehnya, namun ini soal hati. Hati gadis itu yang utama, bukan hatinya.

      “Kenapa kau tidak marah?” Tanya Jasmine bersikeras ingin mengetahu alasannya.  Benedict tersenyum tipis, ia menarik tubuh istrinya untuk membunuh jarak hingga tidak tersisah diantara mereka kembali.

          “Kau ingin aku marah?” Tanya Ben menatap lekat wajah istrinya. 

        “Kira-kira  Menurutmu apa penyebab Monyet kecil skotlandia itu marah dan menghajar Peter waktu itu?” tanya Jasmine memutar pertanyaan. Ben tertawa saat mengerti siapa yang di maksud monyet kecil skotlandia. “Jawab aku!” Desak Jasmine tidak suka di abaikan.

     “Jika kau tau itu akan sangat menyakitiku kenapa kau tetap memilih menyakitiku?  hm?” Tanya Benedict dengan suara lembut namun terdengar tajam di pendengaran istrinya, membuat Jasmine merasa terjebak, kehilangan kata-kata.  

Alih-alih menunggu jawban istrinya, Benedict malah mencium bibir Jasmine dengan lebih intens. Menjalari tangannya di rambut Jasmine, dia menahan mulut gadis itu dengan mulutnya dan sepenuhnya mengkonsumsi istrinya, mencium Jasmine seakan dia tidak melihatnya selama bertahun-tahun. Ben menggigit pelan sisi bibir Jasmine, mencium pipi gadis itu, dan tenggelam dalam bibirnya lagi, mengaitkan lidahnya pada lidah istrinya. Jasmine menggeram

        “Oh tunggu, aku punya sesuatu untukmu” Tambah Ben melepas pelukan istrinya secara tiba-tiba. Tidak memperdulikan tatapan kesal Jasmine karna berhenti sesukanya. Ia merogoh saku jas dalamnya  “Itu hukuman kecil karena telah nakal Jasmine. Sekarang berikan tanganmu” pinta Ben menarik tangan kiri Jasmine dengan dengan seringai  melihat ekspresi istrinya.  Ia memasang sebuah gelang berlian yang berdisain simpel ke pergelangan tangan Jasmine

     “Ini…” Jasmine menutup mulutnya dengan tangan karena terpesona.

     “Kau suka?” Tanya Benedict memeriksa reaksi istrinya. Jasmine mengangguk cepat “Ya tentu, Cantik sekali Ben..”Jasmine memluk tubuh suaminya dengan satu tangan“Aaa Trimakasih”ucap Jasmine mempererat pelukannya.

      “Aku suka jika itu membuatmu senang” Jawab Ben mengusap kepala Jasmine.

     “Eum.. tunggu ini seperti koleksi dari debeers jewellery, apa aku benar?” Tanya Jasmine memeriksa gelang putih silver yang di hiasi dengan 20  butir berlian yang melingkar di sekitar mas putih itu.

     “Oh sialan.. Tentu saja  kau sangat tau barang asli” ucap Ben pura-pura mendesah.

     “Tapi sepertinya bukan, tapi ini benar ada ukiran debeers, astaga ini.., ini purple diamond! Jika yang di buat oleh prusahaan  debeers adalah White Diamonds saja  di hargai $12000 dolar. Lalu jika di hiasi dengan batu mulia ungu ini berapa nominal yang kau keluarkan untuk gelang ini? Jangan bilang ini berlian yang di lelang oleh rumah lelang Sotheby’s?” Tanya Jasmine menyelidik waswas. Benedict mengerjapkan matanya takjub akan analisa istrinya.

       “Kau penikmat perhiasan atau kolektor perhiasan huh?”

      “Kau tau.? Sedari kecil jika ibuku membeli pehiasan maka akulah yang rajin membaca kartu atau sertipikat perhiasan itu. Hingga dewasa ini telah menjadi  kebiasaan bagiku untuk  tertarik dan peduli tahun berapa berlian ini di temukan, bagaimana cara berlian itu di potong dan bagaimana sejarah dari berlian itu hingga layak di hargai dengan materi. Ya kau tau, seperti sebuah sejarah. aku percaya sebelum berada di tanganku saat ini, batu mulia ini adalah saksi bisu dari kisah banyak orang rela berkorban nyawa demi mendapatkan berlian ini.  Apa lagi jika berlian ini berasal dari tambang berlian di daerah konflik di Afrika. Miris sekali rasanya membayangkan ada berapa banyak nyawa yang mati demi perhiasan itu berada di tubuh si pemilik.”

Benedict kembali mengerjapkan mata tidak percaya karena supermodel itu ternyata lebih peduli dengan sejarah di balik perhiasan itu dari pada nominal dolar di balik berlian itu. Ia memang tidak heran jika gadis itu  tidak tertawa girang jika di berikan hadiah semahal itu karena ia tau di ruang khusus tempat barang-barang  istrinya itu  penuh dengan perhiasan seharga mobil atau rumah. Namun yang membuat ia heran karena istrinya terlihat mewah namun secara bersamaan begitu sederhana.

      “Hei. Apa yang kau pikirkan? Bisa kau sebutkan alasan mengapa kau memberikan gelang cantik ini?”   Tanya Jasmine masih mengagumi hadiah pemberian suaminya, Gelang putih yang memiliki Total carat 2.53ct. sangat pas dengan selerahnya, simpel dan terlihat sangat cantik di pergelangan tangannya.

     “Berawal saat Aku menyumbangkan sejumlah dana untuk daerah memperhatinkan di India, dan entah mengapa rumah lelang Sotheby’s mengirimkan aku berlian itu tanpa nama si pemilik, hanya ada kartu yang mengucapkan bahwa ia merasa terharu karena jumlah uang yang sangat besar aku berikan secara cuma-cuma untuk amal. Setelah aku tolak nenek yang tidak pernah aku temui itu marah karena tidak suka di tolak jadi berhubung aku tau kau sangat menyukai warna ungu jadi aku minta debeers jewellery mengganti berliannya di gelang yang telah aku pesan untukmu.”

     Tadinya Jasmine mendengarkan penjelasan suaminya dengan mengulum senyum dan dengan para sorot terpesona, namun tiba-tiba senyum gadis itu memudar saat mendengar pria itu tau warna kesukaanya. Jantungnya berdebar tidak nyaman. “D-Dari mana kau tau aku suka ungu? Aku yakin aku tidak pernah memakai pakaian ungu saat bersamamu” Tanya Jasmine curiga. Benedict terdiam seketika. Ia tidak menyangka raut wajah istrinya dapat berubah begitu cepat.

    “Apa itu penting itu kita bahas?” Benedict  mencoba mengalihkan pembicaran “Ayo kita harus menemui mereka” Benedict menarik Jasmine agar mengikutinya menghampiri kedua sang mempelai yang memiliki acara pesta.

    “Tunggu!” Jasmine manarik tangan Ben yang merangkulnya. “Aku butuh penjelasan” perintah Jasmine mulai tidak bisa menutupi prasaanya yang berkecamuk.

“Penjelasan apa?” tanya Benedict pura-pura tidak mengerti. “Kau masih mengingat siapa aku” ucap Jasmine sinis

     Benedict menghela nafas berat .’tidak seharusnya aku mengatakan itu. dasar bodoh’ rutuk Benedict mengusap pelipis matanya. Ia tidak tau harus beralasan apa, perhiasan dan barang-barang Jasmine di kamar khususnya yang berwarna ungu hanya sedikit, tidak layak di jadikan alibi yang memperkuat bahawa gadis itu menyukai warna ungu.

      Mata Jasmine menyipit memriksa ekspresi Benedict yang tanpak kehilangan kata-katanya.  ‘pria ini ingat siapa aku.Ya, pasti dia ingat kalau aku ini Claudia Jasmine si Quen Bee di sekolah dahulu  namun selama ini ia berpura-pura tidak pernah ada yang terjadi di antara kami.damn!! pintar sekali sandiwaranya!’ Jasmine membuang tatapan kesal  dari Benedict. Mengatupkan rahangnya untuk menkan agar air matanya yang telah membendung  tidak jatuh menetes. ‘sialan! dia mengenaliku tapi tidak pernah membahasnya sedikitpun!’

    —————————-

        “Apa semua baik-baik saja Ben?” Tanya Nathaniel mencoba membantu sahabatnya.

        “Nathaniel.? Ah Tidak, semua baik” ucap Ben tersenyum saat menyadari kehadiran Nathaniel dan istrinya, kemudian ia  menyalam  istri sahabatnya. “Haii Em. Senang bertemu denganmu lagi” sapa Benedict ramah. Emili hanya tersenyum miris melirik Jasmine  yang mundur selangkah, bersembunyi di balik punggung Benedict. Meski Jasmine lagi kesal dengan suaminya namun ia tidak ingin berdekatan dengan Emili.

       Jasmine phobia dengan orang seperti Emili. Emili juga teman lama Jasmine, namun dia pernah menjadi perempuan pemuas nafsu ayah Jasmine. Jasmine lebih bisa memilih Catrine yang terang-terangan pecandu seks ketimban Emili yang terlihat lugu namun sanggup menjadi simpanan pria tua di saat belia hanya karena demi uang.

“Hei kemarilah sapa mereka” ucap Benedict menoleh kebelangnya, namun Jasmine menolak  tetap bersembunyi di punggung suaminya.

     “Aku tidak mau Ben! Aku mau kita pergi dari sini, ayoo” jawab jasmine menarik Jas Benedict, Benedict menghela nafas mendengar rengekan istrinya.

      “Tidak apa-apa Rush, aku bisa mengerti” ucap Emili tersenyum perih.

        “Tidak Em, dia tidak boleh bersikap seperti itu” ucap Benedict tidak suka dengan sikap istrinya.  “Kemarilah sayang sapa Emili, kalian dulu berteman dekat bukan?” Benedict membujuk istrinya dengan lembut.

     “Dia bukan temanku” jawab Jasmine tidak suka.  “Jasmine kau..”.

       Merasa tidak tahan di paksa ia memilih pergi sendiri meninggalkan orang-orang yang menyebalkan menurutnya. Benedict berdecak melihat Jasmine yang kabur meninggalkannya. “Aku harap kau tidak tersinggung dengan sikapnya Em, kau taukan dia memang ya kau tau dia”

    “Ya, aku sangat tau sifatnya. Angkuh, sombong, Menyebalkan  dan bersikap seenaknya” tambah Emili lagi, membuat mereka tertawa bersama.

   “Ya, kau benar. seperti itulah dia” Ucap Benedict tersenyum tipis.

    -==============-

          “Ja ja Jasmine”  Naya mencolek lengan Jasmine yang sedang mengobrol bersama teman mereka Alonso. Namun  Jasmine mengabaikannya.  “Jasmine Taylor sedang memeluk suamimu lihat!!” pekik Naya tertahan, dengan cepat Jasmine mengikuti pandangan mata  Naya. Taylor tanpak memeluk tubuh suaminya dengan erat. Gadis itu juga menangis.

          “Ya tuhan… sialan…bagaimana ini”  Kedua tangan Naya saling meremas panik melihat  ekspresi Jasmine yang tidak terbaca, ia bingung ingin membawa Jasmine pergi menjauh atau mengajak sahabatnya untuk  melabrak gadis yang memeluk suaminya itu. Tapi apa yang perlu di peributkan jika pria itu juga membalas pelukan  gadis itu dengan erat?

              “Ja-Jasmine” Dengan takut Naya mengikuti Jasmine yang melangkah mendekati suaminya. “Jasmine cobalah untuk berpikir tenang” Naya mencoba menghentikan sahabatnya.

    “Naya menyingkirlah jangan halangi aku!” perintah Jasmine dingin.

  “Tapi Jasmine kendalikan dahulu dirimu, yang kau hadapi itu Taylor! “ Seru Naya geram. Langkah Jasmine berhanti seketika, menatap bingung ke sahabatnya. “She is Taylor” ucap Naya dengan mata melotot. “Taylor Rybolovlev!” tambah Naya dengan penekanan.

“Taylor bukan gadis plastik, dia bukan  Rival yang bisa kau singkirkan begitu saja. Kloningan Megan Fox mantan kekasih suamimu ingat itu”

         Jasmine mendesah pelan, “Kau benar. Tapi aku tidak peduli, aku jauh lebih baik dari pada dia! Ayo aku akan menyingkirkan gadis itu dari tubuh suamiku!” ucap Jasmine mulai geram. 

     “Tunggu.. tunggu Mine. Jangan  terburu-buru, dengarkan aku” Naya menarik kembali tubuh Jasmine. Menyuruh gadis itu agar memperhatikan apa yang akan ia ucapkan. “Akan sangat mudah bagimu  jika dia hanyalah gadis penggoda biasa, tapi ternyata dia bukan perempuan biasa. Taylor punya citra yang nyaris sempurna di publik, di publik kau menjadi wanita jahat karena merebut kekasihnya Jasmine, mereka telah bersama selama lima tahun kau tau itu! Kau tidak bisa menyingkirkannya begitu saja!”

       “Aku tidak perduli Naya! ” Ucap Jasmine kesal.

     “Kau yakin?” tanya Naya masih ragu.

        “Kau..!”

       “Oke, oke baiklah..” Naya menyerah, ia mengikuti Jasmine yang berjalan dengan percaya diri menghampiri suaminya.  Jasmine mengepalkan jemarinya dengan gugup, Jantungnya berdetak tidak nyaman. Tubuhnya panas seperti ada percikan api yang siap membakar tubuhnya. ‘Apa ini namanya cemburu.?’ Tanya Jasmine bingung dengan prasaanya sendiri. Prasaanya bertambah kacau karena Benedict tidak menyadari kehadirannya sama sekali.

       “Hei.. Jangan menangis lagi Ry” ucap Benedict lembut mengusap air mata di pipi Taylor.

       “Ry.? Siapa Ry.?” Tanya Jasmine berbisik ke Naya. Naya memutar matanya sebal. ‘Ya tentu saja gadis yang ada di hadapannya, otakmu dimana?!’ jawab Naya  dengan bahasa isyarat. Jasmine hanya cemberut karena kekesalan Naya, Jantungnya semangkin berdebar tidak nyaman karena melihat kelembutan pria itu ke gadis lain.  ‘Kenapa dia juga selembut itu ke Taylor? Apa aku yang salah mengartikan kelembutan dia kepadaku?’

        Tayor mengangkat kepalanya yang tampak berhasil menahan tangisannya. Ia terseyum untuk menenangkan Benedict karena ia menangis sedari tadi. Kemudian gadis itu  memasukkan telapak tangannya yang gemetar ke Jas dalam Benedict. Menyentuh tepat pernah bersarangnya peluru semi Walther” Apa ini sangat sakit.?” Tanya Taylor dengan pandangan Nanar. “Maafkan aku Ben aku tidak ada disaat itu maafkan aku aku mohon” suara Taylor terdengar bergetar dan air matanya kembali mengalir.

       Benedict tersenyum tipis, mengusap kembali air mata gadis itu. “Aku baik-baik saja sekarang, tidak ada yang harus kau takuti lagi Ry” ucap Ben menenagkan Taylor. Jasmine cemberut mendengar suara suaminya yang amat lembut menenangkan mantan kekasihnya. Perlakuannya sangat memperlihatkan betapa Taylor sangat berarti untuknya. Jasmine merasa jantungnya seperti ada benda berat yang menekannya. Pikirannya berkecamuk mencoba mengartikan sikap pria itu.

      “Kau tidak merokok lagi kan setelah itu? Apa makananmu terjaga selama ini? Kau juga tidak minum alkohol  lagi kan Ben?” Ben mengangguk.  “Bagus. Apa dokter sudah pastikan tidak akan ada timbulnya komplikasi setelah operasi? Apa dokter itu pastikan paru-parumu akan kembali normal nantinya? kau minum obatmu dengan teratur kan? Ah ya kau sudah memberi tahu bibi Melinda daftar menu makanan yang boleh dan tidak untuk kau konsumsi.? Kau juga tidak melakukan olah raga yang keras kan??” tanya Taylor panik mengecek kebutuhan pria itu. Ben menggeleng sambil tertawa pelan. Ia menarik Taylor kepelukannya,  tersenyum tipis karena gadis itu sangat ketakutan jika terjadi sesuatu dengannya.

    “aku sudah sehat Taylor sudalah jangan menangis seperti ini”

     “Sakitmu tidak akan menjadi parah kan Ben?” Tanya Taylor tanpa bisa mengendalikan air matanya kembali menetes. “Sergio menelponku semalam, dan saat mendengarmu  tertembak serasa ada yang mencabut nyawaku pergi dari tubuhku. Aku tidak ingin sesuatu terjadi lagi padamu”

        Jasmine hanya bisa mengatupan rangnya dengan keras menekan agar air matanya tidak mengalir, prasaanya sakit melilhat Taylor yang terlihat tulus mecintai suaminya. Hatinya seperti di pukul oleh kayu besar saat menyadari selama ini dia bahkan tidak pernah memperdulikan kesehatan suaminya seperti itu. Tidak pernah menanyakan ke dokter Karina apa operasi akan menimbulkan dampak sesuatu nantinya. Tidak pernah memperhatikan makannya. Tidak pernah berpikiran apakah paru-paru itu telah kembali berfungsi normal.

        “Hei Jasmine.. Jangan bilang dalam banyak pertanyaan itu tidak pernah satupun kau tanyakan ke Rush?” bisik Naya kesal karena pandangan Jasmine seperti anak kucing yang terjepit pintu, air matanya mengenang menahan tangis dengan diam memandang suaminya memeluk gadis lain. Jasmine menggeleng sedih  

“Ya Tuhaan. . . “ Naya menghela nafas lelah. “Bahkan kau tidak menanyakan ke dokternya apa paru-parunya akan mengalami reaksi atau tidak.?! Dia hampir mati Jasmine, paru-paru adalah organ yang sangat vital! Dia tidak bisa hidup tanpa itu dan kau tidak memperdulikan itu sama sekali?!!” Desis Naya geram.

        “A-aku pikir dia telah  bersamaku maka tidak ada yang perlu aku takuti lagi Nay. Dia juga tidak pernah bercerita padaku” Jawab Jasmine sungguh menyesal.

   “Kau pikir dia akan membuat iklan di surat kabar dan mengatakan dia akan segera mati  karena paru-parunya bersarang peluru begitu?! Kaulah yang harus memperhatikan suamimu Jasmine.!!” Bentak Naya keras tanpa sadar.

        Bentakan Naya menyadarkan Benedict, Taylor, Nathaniel dan istrinya akan kehadiran dua gadis itu dibelakng mereka. “Jasmine” seru Benedict melepas pelukan Taylor. Keningnya berkerut melihat Jasmine yang menunduk mengigit-gigit punggung telapak tangannya dengan gelisah. Ben langsung melangkah menghampiri istrinya.

“Sayang jangan digigit nanti kau terluka” ucap Ben panik menarik tangan Jasmine mengenggamnya dengan erat karena Jasmine berusaha menarik tangannya. Benedict seperti merasa dejavu melihat Jasmine kecil yang ketakutan menggigit punggung telapak tangannya.

Ia menarik dagu istrinya agar menatapnya. Benedict menatap tidak megerti kenapa Jasmine menangis seperti itu. “Apa yang terjadi?” Tanya Benedict cemas, seperti anak kecil yang refleks menangis jika melihat ibunya menangis seperti itulah yang di alami Benedict, refleks merasakan hatinya seperti ter-remas oleh tangan yang semu melihat istrinya menangis tanpa suara.

“Sayang kau kenapa?” Benedict mengeram lemah, sekujur tubuhnya terasa melemas tidak tahan melihat gadis yang ia cintai menangis begitu pilu.

       “Sakitmu tidak akan menjadi parah kan Ben.?? tidak akan ada timbul komplikasi apapun kan setelah operasi kan? paru-parumu akan kembali normal nantinya kan.? Kau tidak akan matikan.?” Tanya Jasmine menangis terisak menyesali ketidak peduliannya selama ini. Benedict melirik Naya bingung. Naya mengangkat bahunya tanda ia juga tidak mengerti “Kau sudah sembuh normal kan Ben.?”

       Benedict tersenyum geli, menarik tubuh Jasmine kepelukannya. Membungkus tubuh istrinya yang terasa kecil di dalam pelukannya. “Aku sudah sembuh Jasmine” Ucapnya mencium kepala istrinya. “Caramu menangis sangat membuatku takut” tambah Ben bernafas legah.

    Jasmine membalas pelukan suaminya meneteskan air mata bahagia, ‘trimakasih Tuhan dia kembali kepelukanku’  ucap Jasmine dalam hati legah, Jasmine memeluk se-erat yang ia bisa dari dalam Jas Benedict. “Sudah  jangan menangis seperti itu lagi. Lihat, aku baik-baik saja di pelukanmu” Ucap Benedict mengusap kapa Jasmine dengan sayang.

Jasmine mengangguk kecil. “Maafkan aku, seharusnya aku yang menanyakan hal itu kepadamu, maafkan aku Ben”

      Emili dan Naya tersenyum geli melihat tingkah Jasmine yang seperti anak kecil, hanya Taylor yang menatapnya kesal. Saat Taylor hendak menarik Benedict dari pelukan sahabatnya dengan sengaja Naya menghalang langkah gadis itu dengan berpura-pura berkenalan dengan Emili

“Hallo perkenalkan aku Naya, Naya Dornan, sahabatnya Jasmine” ucap Naya tersenyum palsu.

“Oh. Hai.. aku Emili Grey” jawab Emili mengimbangi Naya yang memblokir langkah Taylor. Naya tersenyum geli karena ternyata dia ada di pihak yang sama. 

                            -tbc-

One thought on “Chapter 30

  1. I havе to tһank you for the efforts you haνe put in penning this website.

    I realⅼy hope to view the same high-grade content from you in the future as well.
    In truth, your creative writing abilities has inspired me to get my own website now 😉

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *