Chapter 38

last chance?

        Benedict duduk di bangku sofa yang ada di ruang kerjanya. Kakinya berlipat memangku sebuah berkas.  Dentingan tuts piano yang mendayu-dayu di mainkan Sergio membuat Benedict tidak berfokus pada berkas itu. Matanya termenung menatap tetesan air hujan yang menyusuri dinding transparan itu. 

      Melihat tetesan hujan dari jendela yang terlihat seperti memaksa untuk masuk menemani si tuan kesepian, tetapi sayang terhalang kaca jendela. Menatap kumpulan tetesannya yang bersatu menjadi sebuah aliran air menuruni kaca jendela, seolah mereka tak lagi ada harapan untuk masuk, dan rela untuk luruh jatuh ke tanah. Hujan  bagaikan bulir-bulir kenangan yang turut bersama air dari langit. Hujan yang datang beramai-ramai itu hanya menghadirkan sepi

       “Bagaimana keadaan istriku?” Tanya Benedict datar. Pria itu berubah menjadi pria yang jauh sangat pendiam dan dingin. Robbie mengusap wajahnya bingung. Benedict membaca gerak gerik Robbie yang resah. Pria itu seperti berat menyampaikan informasinya kali ini.

   Tubuh Robbie meneggang karena sikap Benedict yang seperti bersiap mengeluarkan samurai dari matanya.  “Em…” ucap Robbie menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

        “Jangan membuat aku mengulang pertanyaanku, Robbie!” Benedict mendesis.

       “Emm.. su-sulit tuan” ucap Robbie terbata. Benedict mengeryitkan dahi bingung menatapnya.

       Melihat mata tuannya yang begitu dingin, Robbie membuka amplop coklat dan cepat-cepat menebarkan foto-foto yang telah di jepret oleh detektiv mereka. Benedict mengambil beberapa foto untuk ia lihat. Semua foto tidak ada yang menunjukkan foto istrinya Claudia Jasmine. Semua foto bergambar banyak asisten pribadinya berpose menggelikan menutupi artis terkenal tersebut.

          Seperti Aline, manager Jasmine menutupi tubuh Jasmine yang hendak di bidik camera diam-diam, ia sambil melayangkan jari tengahnya pada pembidik dari kejahuan. Foto lainnya asisten Jasmine yang terlihat cantik padahal ia seorang pria. Ladyboy itu juga menutupi Jasmine yang sedang duduk di sebuah kios kopi kecil italia. Gaya ladyboy itu menunjukkan  menjilat tengah-tengah antara jari telunjuk dan jari tengahnya, seakan-akan ia menjilat vagina dengan senyum menjijikkan ke bidikan kamera.

       Satu foto lagi di isi dengan foto gadis negro yang meletakkan jarinya di bokongnya yang seakan mengeluarkan asap jika ia menyentuh bokongnya yang panas. Foto lainnya di isi dengan dua pria yang menunjukkan  dada telanjang mereka, seakan-akan mereka model seksi yang sedang di bidik oleh fotographer profesional.   Dua belas foto selanjutnya di penuhi oleh berbagai macam orang dan berbagai pose yang menggelikan. Semua bertujuan menghalangi mata-mata Benedict yang hendak membidik gambar  Jasmine dari kejahuan.

       Benedict mengusap alisnya dengan mendesah. Sudah lima bulan ini gadis itu seperti tidak membiarkan lagi detektivnya mengikutinya lagi pergi. Lebih tepatnya setelah infotaiment mengatakan bahwa Claudia Jasmine telah resmi menjadi kekasih Peter Derulo, meski mereka menutupi hubungan mereka ke publik. 

         Gadis itu kerap di kelilingi 11 orang-orang management yang mengurus semua keperluannya. Ditambah 12 bodyguard mengawalnya ketat kemanapun ia pergi. Dan orang-orang yang dalam bidikan gambar itu adalah asisten Jasmine yang mencoba menutupinya dari kamera tidak dikenal. Lebih tepatnya para orang yang di bayar Benedict untuk mengikuti istrinya.

        “Apa itu?” tanya Benedict menunjuk lembar putih yang di peluk Robbie.

       “Bu-bukan apa-apa tuan” ucap Robbie gugup.

       “Berikan padaku,”

        “Tapi tuan” tolak Robbie ragu. Benedict menarik paksa lembar ukuran 10R itu dari tangan asistennya. Gambar itu foto Jasmine yang sedang mengarahkan jari Tengahnya dan memegang kertas dan beruliskan huruf kapital merah besar “Tell Your Boss to Go Fuck Himself! Stop Stalking Me!” Benedict menggigit bibir geram. Jasmine seperti masih membencinya sangat atas penghianatan yang ia lakukan.

        “Dan dia memberikan ini tuan” ucap Robbie memberikan berkas penting ke meja di hadapan Benedict. Benedict menatap takut. Prasaan buruk melandanya. Seperti tanda bahwa itu adalah surat yang ia takutkan selama ini.

         Surat resmi perceraian mereka beserta cek nominal  US$40 ,5miliar membuat Benedict terkulai lemas, tatapannya nanar menatap surat yang telah di tanda tangani istrinya. Benedict menutup matanya lemah. Desahan nafas terdengar keras darinya.

      Benedict menunduk, tangannya gemetar mengusap wajahnya. “Mana berkas daftar kekayaanya.” Benedict mengulurkan tangannya, menyabut map biru yang berisikan data-data sumber kekayaan yang telah di peroleh gadis itu selama hampir dua tahun lebih ini.

     “Dia juga baru saja membeli Mansion mewah seharga $88 juta (sekitar Rp853 miliar) di California untuk ibunya Karlie Doukas. Di kutip dari Daily Mail, Jasmine  memaksa ibunya bercerai dengan ayahnya dengan menghadiahkan rumah mewah itu”  ucap Robbie mulai memberi informasi

       “Istri anda telah menjalani dinasti karir Ibunya Karlie Doukas tuan. Semua merek ternama seperti menandatangani kesepakatan pada asistennya tanpa syarat. Mereka tidak peduli jika CJ telah menjadi brand ambassador untuk merek terkenal lainnya. Termaksud brand Louis Vuitton, milik teman anda tuan Williams Arnault, prusahaannya membayar istri anda dengan nilai kontrak yang sangat besar. Karena nona Jasmine pernah menjadi model brand mereka saat kecil. Mereka menginginkan disnasti itu juga untuk brand mereka.  Dan meski ia juga menjadi brand amabasador untuk Mclaren.  Prusahaan mobil sport buatan Denmark mengeluarkan mobil khusus dengan seri CJ atau singkatan dari Claudia Jasmine. ZenvoCJ nantinya juga akan hanya di buat sebanyak 15 unit saja seperti seri keluaran lama mereka Zenvo ST1.” Robbie terdiam sesaat, membaca raut wajah tuannya.

        “Begitu juga dua produsen pesawat yang paling menonjol Gulfstream yang berbasis di AS, dan Embraer asal Brasil, mereka berebut meng-endrose jet pribadi mereka pada istri anda yang telah menjadi artis yang terkenal di dunia pada saat ini. Dari penghasilan menjadi ikon hidup semuah merek ternama di dunia itu dia memperoleh $311miliar. Dan parfum yang ia luncurkan bersama sahabatnya Miley, dalam lima bulan memperoleh $85 juta. Dia baru saja selesai syuting empat film yang akan di liris tahun depan. Dan dari filmnya yang telah terputar saat ini, Mel Gibson yakin film garapannya akan meraup keuntungan lebih dari US$700 juta atau lebih dari Rp6,5 triliun di seluruh dunia. Mel Gibson mengatakan sudah sangat lama ia menawarkan banyak judul film kepada istri anda, tapi sayang  dulu CJ sangat menghindari dunia ibunya itu.”

     Hembusan Nafas benedict semangkin terdengar kesal. Ia menutup matanya dengan mengerutkan dahi karena pikiran yang penat. Robbie tetap membacakan informasi yang telah ia kumpulkan.

      “Ibunya sangat bahagia akan keputusan CJkarena mau menjadi selebriti seperti dirinya. Ia bercerita, dulu  pada umur 15 tahun CJ sempat trauma karena dia pernah menjadi brand ambasador  untuk minuman Pepsi, karena  di suatu hari paparazi memotret CJ sedang berpesta bersama teman-temannya, CJ duduk di meja yang tergeletak kaleng Cola merek lain. Pihak Pepsi menututnya secara kasar, mereka mengatakan itu adalah sebuah penghinaan besar untuk Pepsi karena CJ meminum Cola merek lain. Dan di sekolah dia sempat di bully heters-nya habis-habisan karena insiden itu. Semenjak itu CJ menghindari dunia keartisan ibunya. Ia tidak ingin menjadi sebuah ikon, ia ingin menjadi manusia. Namun sekarang  dia menjadi ikon hidup itu karena anda. Dia telah sanggup membeli anda, tuan!”

        “Robbie.. !!” Desis Ben terdengar geram. “Aku tau kau fansnya., tapi tidak bisakah kau menutupi rasamu itu dan berpura-pura menghormati aku yang menjadi boss mu.?!”

       “Aku tidak memiliki kekuasaan untuk menghinamu tuan. Maaf “ jawab Robbie tidak mampu untuk tidak menyindir bossnya.

      Benedict menutup matanya lagi dengan erangan geram. Sekertarisnya itu selalu menyindirnya secara halus. Ia hanya bisa menyalahkan diri sendiri karena memang karenanya istrinya memilih menjadi artis tenar demi membayar uang yang ia tagih saat itu. Karena membohongi dia habis-habisan  jugalah  yang membuat gadis itu sangat membencinya.

   “Kenapa dia jadi jauh lebih pintar mencari uang dari pada aku” Ucapan Benedict terdengar menjadi sebuah keluhan. “Jadi tinggal berapa kepemilikannya setelah ia mengirim cek ini.?”

    “Dunia Entertainment memang menjanjikan kekayaan secara instan tuan, belum lagi karena istri anda telah menjadi bintang dari ia masih menjadi janin di perut ibunya. Perkiraan kekayaan pribadinya bersih hanya sebesar $5,4 miliar” jawab Robbie merasa kasihan melihat bossnya tertekan.

    “Apa menurutmu aku harus menanda tangani surat ini agar dia berhenti menjadi sosok yang dia sendiri tidak inginkan?” tanya Benedict memandang berkas itu putus asah.

     “Sebenarnya ini masih ada satu hal yang anda harus lihat. Mungkin ini bisa membantu anda untuk yakin mengambil keputusan” ucap Robbie menyerahkan sebuah undangan hitam elegan.

      Benedict mengernyitkan dahinya bingung. Membuka undangan itu secara perlahan. Dalam undangan itu bertuliskan.

    “Ada orang bodoh yang mengatakan padaku bahwa. Takdir yang mempertemukan sahabatku Benedict dengan sahabatmu Claudia Jasmine. Takdir yang menghubungkan getaran-getaran yang pada awalnya tak dapat mereka deskripsikan. Apa yang dilakukan Benedict kepada Jasmine bukan karena dia menciptakan takdirnya sendiri. Pertemuan-pertemuan yang kami rencanakan tidak akan terjadi jika itu tidak tertulis dalam takdir. 

     Takdir adalah faktor kuat pengubah kejadian. Meski hanya dengan sentuhan persentase begitu rendah tapi takdir dapat memporak-porandakan rencana kami yang nyaris sempurna. Tapi takdir tidak pernah memporak-porandakan semua renca kalian.  

     Orang bodoh itu berhasil membuatku percaya, jika Takdir adalah rencana Tuhan, siapun tidak dapat menganggu gugatnya. Jika Tuhan mengatakan A, maka terjadilah A. Tidak akan pernah tertukar menjadi  B. Takdir itu kuat dan mutlak.”

    Benedict berhenti membaca, ia mengangkat kepalanya yang menunduk tuk menatap Sergio, sahabat bodohnya seakan mengerti, juga menoleh kepadanya. Mengedipkan sebelah matanya dengan seringai nakal. Sudah pasti orang bodoh yang di maksud tidak lain adalah Sergio Sande. Benedict membaca lembar trakir.

     “LAST CHANCE FOR YOU Mr. Heard. Tujuan aku mengundangmu bukanlah memaksamu membeli karyaku di acara fashion show galeriku, namun ini adalah kesempatan terakhir anda untuk memperbaiki sesuatu yang hancur namun tampak baik-baik saja. Aku rasa aku sudah gila memberi kesempatan pada bajingan sepertimu. Jangan membuat aku menyesal. Galleria Vittorio Emanuele II, Piazza Duomo, 20123 Milano, Italia. Tertanda Naya Dornan.

       Di undangan itu berserta juga tanggal pegelaran fashion yang akan berlangsung tiga minggu yang akan datang.

      “Keputusan ada di tangan anda tuan.” Ucap Robbie bergaya bijaksana, padahal tadi ia mencuri pandang ke undangan fashion show yang akan di adakan di italia tersebut. Benedict tampak berpikir.

“CJ khusus meminta libur satu minggu dengan managernya demi acara fashion galeri sahabat terbaiknya itu tuan. Padahal seharusnya ia harus ke Poertogalera dan Bali, Jakarta lalu bertolak ke Jepang”

******

next  chapter. > Cry Me A River Ben! [Menangis darahlah untukku]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *