Chapter 29

================================

    “Cepatlah Naya kita akan terlambat!”

    “Ya Tuhan Jasmine! Sejak kapan kau perduli dengan pesa orang seperti ini?” keluh Naya keluar dari mobil.

      “Ah aku sudah tidak sabar bertemu dengan Ben-ku Naya!”

      “Ah Slut! berhentilah bersikap seperti remaja labil!” ucap Naya kesal. Aku menertawai kekesalannya, setelah aku bujuk mati-matian akhirnya dia bersedia menerima undangan dari Sergio.

Kami berjalan menuju private jet yang telah aku pesan dari paman Felix. Tadi Benedict mengirimku pesan lewat wahtsapp mengatakan pernikahan itu diadakan di  tempat tinggal orang tua Sergio, mereka  tinggal di Greenwich Connecticut  estate, alias butuh empat jam lebih agar sampai dengan cepat ke lokasi super mewah itu. Namun jika dengan private jet  hanya membutuhkan waktu sekitar duapuluh lima menit.

Setelah menerima izin untuk mendarat, private jet favorite kakekku harus berkeliling tujuh menit untuk masuk dalam antrian Jet dari tamu lainnya yang hendak landing.

         Aku tidak tau seberapa kayanya keluarga Sergio ini. Jika mansion kakekku  seluas 53 hektar dan  lebih dikenal Mansion biru Ecclestone, maka berbeda dengan keluarga Sergio. Mereka tinggal di lahan seluas 120 hektar Greenwich estate, lengkap dengan 50 kuda dan lapangan polo dan enam kolam renang yang di di disain menjadi satu.Sangat pantas pria itu selalu berprilaku sesuka hatinya.

    Kami turun dari Jet, melangkah di sambut pelayan yang berpakaia serba hitam. Setelah di periksa seakan-akan kami ini teroris akhirnya kami di persilahkan masuk ke mobil tanpa atap untuk menuju ke pintu mansion. Penjagaan sangat ketat di segala sudut. Tadi bahkan jika Naya tidak membacakan kode huruf yang sulit di mengerti itu  maka pasti akan banyak proses agar di perbolehkan landing.

     “Wow.. Sekaya apa keluarga Sande itu?” Naya berdecak kagum.

“Naya, jika kau berhasil bersama anak tunggalnya maka kau pasti menjadi orang beruntung di muka bumi” bisikku menggoda Naya.

    “Jesus! Kenapa selalu  saja mengatakan tentang pria itu sedari tadi Jasmine!”

   “Aku tidak menyebutkan namanya Naya haha”

Kami turun dari mobil golf kecil itu dan memasuki sebuah mansion yang  juga di jaga dengan ketat. Ha, pemerintah tau keluarga ini adalah mafia namun tidak ada yang berani menyentuhnya karena keluarga mafia alias keluarga Sergio Sande adalah donatur utama penyokong kampanye presiden Amerik Serikat.

      Aku tau banyak orang yang memperhatikan aku dan Naya. Naya sangat cantik meski dia bukan model sepertiku tapi dia adalah perancang busana cukup bergengsi. Dia sama sepertiku, muak dan bosan berada di dekat pria-pria tampan dan kaya raya, selera kami jatuh ke pria urakan yang hidup dengan jalannya sendiri.

Aku juga tidak tau apa alasan Naya suka dengan pria yang tidak terobsesi menjadi kaya raya namun terobsesi dengan kebebasan tanpa memikirkan materi. Semoga dia tidak jadi sengan Sergio, karna aku sendiri malah terjebak dengan pria kaya raya.

        “Aku rasa mereka keheranan baru pertama kali melihatmu senyum sedari tadi Mine” Ucap Naya di selah langkah kami.

     Aku hanya mengibas rambut genit ke Naya, membuat dia tertawa. Naya memang disainer berbakat. Sudah sejak lama dia pernah mengatakan padaku, setiap dia melihatku selalu saja ide-ide cantik terus menari-nari di imajinasinya.

       Aku kira dia berbohong atau setidaknya omongan basa-basi di setiap perancang merayuku agar aku mau memakai baju rancangan mereka. Ternyata tidak, Naya memang sangat berbakat! Dengan seketika melihat gaun yang selama ini dia simpan rapi di lemari bajunya aku langsung jauh cinta. Dia sangat tau seleraku.

     Kini aku memakai gaun rancangannya. Gaun berbahan Satin ducheese membuat gaun ini terlihat sangat elegan, sangat lembut dan kilauan indahnya aku suka. Gaun yang tidak lebih dari batas lutut ini sangat simple namun membuat aku percaya diri. Sedikit belahan dada terlihat namun tanpak seksi, di leherku yang kosong aku memakai kalung manis bermata berlian kecil. Tas tangan panjang dan tipis untuk ku genggam. High heels  rancangan Antonio Berardi berwarna hitam  akan membuat tinggiku sejajar dengan Benedict.

      Naya sama tanpak mengagumkan, ya setelah seharian bermanja diri di salon favorite kami memang membuat kepercayaan diriku meroket tajam untuk bersanding dengan Benedict malam ini.

   Aku menyapukan pandanganku keseluruh area. Segala dekor terlihat dari rancangan yang di bayar mahal untuk ini semua. Apa sergio berasal dari skotlandia? Beberapa kesenian asli skotlandia terlihat dipertontonkan acara ini, diantaranya scoltish country dancing atau tarian tradisional Skotlandia seperti, tari highland lady yang merupakan tarian dari satu daerah bernama Milf ada di dataran tinggi Skotlandia. Dan Para pria bangsa Skotlandia yang hadir pun terlihat sangat bangga mengenakan Tartan (pakaian adat khas Skotlandia menyerupai rok, Red).

“Itu Ben!” triakku tertahan menunjuk Benedict yang sedang melambaikan tanganya ke arahku.

     “Ugh kau hari ini menyebalkan sekali Jasmine!”

      “Haha aku tidak bermaksud membuatmu kesal Naya sayang, ayo” aku melangkah dengan anggun menghampiri Benedict yang menatapku dengan lekat. Mengabaikan banyak pasang mata yang menatapku. Aku tidak perduli dengan mereka, terserah jika hari ini aku akan menjadi objek fantasi banyak pria lagi, aku tidak perduli.

      Aku melangkah dengan pasti sambil menatap mata biru pria yang sedang menantiku itu. Diringi Lagu romantis terdengar dari suara gadis yang lembut dan merdu menyanyikan lagunya Ed Sheeran  yang berjudul  One, membuat jantungku berdebar semangkin kencang. Aku suka lagu itu, sangat suka. Darahku kembali mengalir dengan cepat mengungkapkan kebahagiaanku atas perhatiannya yang hanya tertuju kepadaku.

      Dia seperti biasa, tanpak indah. Haha aku tidak tau apa reaksinya jika dia tau bahwa aku mengatakan dia dengan sebutan indah. Dia terlihat mempesona bukan karena setelan pakaian yang di ukur dan di rancang mengikuti lekuk tubuhnya. Aku suka membaca  novel sastra francis, semua gambaran pria di novel-novel fiksi itu melukiskan pria yang sangat indah, semua ciri-ciri itu dimiliki Benedict nyaris sempurna. Sulit untuk aku gambarkan, mungkin ada baiknya kalian membaca sastra itali, mungkin?  jika berminat.

       “Hai” sapaku memberikan seyuman termanisku, dia  masih diam menatap mataku dengan intens. Satu tangannya dimasukkan di saku satu lagi memegang gelas berisikan anggur merah.

     “WOW! Your Stunning! Seriously… How the Hell Are You Still Single!!?” aku mendengar suara seseorang menyapaku itu, namun suara itu tidak mampu mengalihkan mataku yang masih menatap mata biru jernih milik suamiku.

   Aku membunuh jarak diantara aku dan dirinya. Mencium sekilas bibirnya yang masih diam  seribu bahasa.                

  “Aku merindukanmu” bisikku sensual di telinganya, kemudian mencium pipinya.

    “Permisi nona..”  ugh! suara itu lagi. Aku tersenyum tipis saat tau ternyata Benedict mengusir orang itu dengan kibasan tangannya.

Tangannya menarik tubuhku sampai tak berjarak diantara kami.

        “Sangat cantik” ucapnya singkat namun matanya liar menatap mata dan bibirku bergantian. Membuat buluku meremang

       “Trimakasih” jawabku mengulum senyum. Aku mengambil sapu tangan putih di  kantong kecil sisi kirinya dan menggantikan berwarna merah yang telah disiapkan Naya.

     “Sempurna” ucapku mengusap sisi kirinya lagi. Terlihat dari lehernya ia sedang menelan liurnya dengan  berat. Hem.. apa dia masih tidak akan menyentuhku lagi malam ini? kita liat saja nanti

       “Apa kau merindukanku?” tanyaku kembali fokus menatap matanya.

        “Hemm.” Menganggukan kepala tipis sebagai jawaban.

       “Tampan sekali suamiku ini” ucapku geli mengusap jambang tipisnya.

        “Ah seharusnya saat ini kalian memberikan banyak pasang mata itu ciuman yang panas dan mendominasi satu sama lain! Bukan seperti dua pasangan lugu yang tengah kasmaran”

Benedict menjatuhkan dahinya di dahiku dan tertawa geli mendengar ledekan si monyet kecil Sergio Sande! Dengan terpaksa aku melepaskan tanganku yang kukalungkan di leher Benedict demi sahabat-sahabatnya.

      “Maaf” bisik Benedict di telingaku kemudian mencium pipiku lembut, dia tetap merangkul tubuhku dengan mesra. Ho kalau mendapat ciuman manis seperti ini tentu saja aku berikan maaf.

Sergio yang memakai stelan jas merah dan bawahan memakai Tartan. Haha dia terlihat Cute memakai rok kotak-kotak merah seperti itu. Ah mana Naya? Astaga aku melupakannya karena terpesona dengan suamiku. Apa dia langsung kabur saat melihat Sergio tadi? Ada Nathaniel, Dan Williams dengan setelan jas tanpa dasi

       “Williams?” seru Benedict heran melihat sahabatnya. Apa beberapa memar di wajah Williams yang membuat Benedict heran? “Sedang apa kau disni?”

      “Hanya untuk merayakan perpisahanku dengan kalian” ucap Williams tersenyum kecut.

     “Apa kau yakin?” Tanya Benedict lagi. Williams mengangguk pelan.

       “kemana kau akan pergi? Para gadis akan menangis darah karena playboy nomor satu sepertimu pergi Williams” ucapku mencoba masuk di percakapan tiga pria ini.

      “Aku harap bukan kau salah satunya” ucapnya tersenyum genit. Dasar Playboy sialan. Williams mengangkat tangan tanda ampun menerima tatapan Benedict. Haha bagus sayang, aku milikmu

    “Jasmine sepertinya Kakakmu ingin berbicara denganmu sedari tadi” aku mengikuti arah mata Sergio yang menunjuk James.  Ah James, mengganggu saja. Dia tidak akan mau bergabung dengan kelompok ini. Dia pasti terlalu malu untuk bergabung dalam perkumpulan pria nomor satu.

     “Mm Ben aku menemui Jems” ucapku memohon diri.
      “Oke, bawala dia kesini” ucap Benedict melepas pelukan posesifnya. Aku hanya menjawab dengan senyuman, tidak terlalu yakin James akan memiliki muka untuk bergabung.

     ****

   “Jems..!” seruku dan langsung memeluk hangat kakak tersayangku.

    “Jasmine aku merindukanmu” dia melepas pelukanku “Tidak pernah pulang kerumah bahkan menelponku pun tidak!” dia berpura-pura marah

     “Apa kau mau bergabung?” aku menawarkan permintaan Benedict.

     “Ah tidak, aku tidak suka dengan mereka” dia menunjukkan tanda tidak perduli

      “James, kau tampan hanya saja tidak memiliki kecerdasan haha aku tau kau tidak percaya diri untuk menjadi bagian dari mereka” aku meleletkan lidahku ke arahnya.

      “Sialan kau slut!”dia memutar mata kesal “Dengar, aku sudah melakukan tugasku. Semua telah kembali kesemula. Kau sudah bisa bercerai denganya”

      Aku mengerjap tidak percaya dengan apa yang di ucapkan James saat ini.

     “Kau masih perawan kan? Apa aku bilang, pria itu tidak akan menyentuhmu” ucap James seperti salah mengartikan keterkejutanku.

    “Jems, dengarkan aku. Anggap semua perintahku dahulu itu adalah omong kosong.”

     “Tapi….”

      “Lupakan semua, apapun itu lupakan semua. Kau mengerti?”

       “Tapi bukannya kau…”

      “Jems pleaseeee… aku menyukai pria itu” suaraku terdengar mencicit.

    “Are you serious?” tanyanya terkejut, ia tanpak tidak percaya

     “Ehemm” jawabku mengangguk pasti. Dia menghela nafas menyerah

    “Baiklah, itu terserahmu, yang pasti tidak ada lagi yang mengikatmu denganya oke?”

     “Oke” jawabku dengan mengacungkan ibu jari dengan senyum lebar.

      “Lalu bagaimana dengannya?” James menunjuk ke belakangku dengan dagunya.

     “Sweet kau disni?”  Belum sempat aku memutar tubuhku namun kembali mematung mendengar suara yang amat aku kenal menyapaku.

     “P-Peet” seruku ngeri melihat Peter yang berdiri di bhadapanku dengan stelan blazer simple hijaunya. Aku tidak bisa menutupi rasa keterkejutanku melihatnya. Jantungku langsung berdetak tidak nyaman. Aku sangat merindukan pria ini, ya tuhan sudah berapa lama aku tidak melihatnya?

     “A- ayo aku ingin udara segar” aku menarik lengan Peter untuk keluar dari gedung sebelum Benedict mendapatiku tengah berbicara dengan Peter. Apa lagi di lihat monyet kecil berdarah skotlandia itu.

    “Sweet, apa kau baik-baik saja? Aku hampir gila trus mencari keberadaanmu” Peter terus meracauku namun tidak menolak tarikanku.

      Kami berdiri di balkon yang aku pastikan sulit terlihat dari dalam. Aku mengepal kedua tenganku dengan gelisah. Sesekali melirik keberadaan Benedict dan monyet kecilnya, gawat jika mereka melihatku.

    “Sweetheart, apa yang membuatmu gelisa?” ucap Peter panik mencoba meraih tanganku. Di wajahnya yang tanpan terlihat jelas ia panik melihatku yang gelisah. Peter memakai Blazer hijau tua dan dialamnya berwarna  cream, rambutnya disisir rapi dengan jel.  

Aku merasa berdosa menyakiti pria ini, aku masih menyayanginya sampai hari ini. Namun aku memiliki Ben, dia mimpiku sedari kecil. Aku mencintai Ben, Peter hanya teman pria yang sangat baik. Perasaanku tidak sebesar itu untuk Peter.

     “Apa kau takut pria kaya itu melihatku?” tanya Peter dengan ekspresi sedih, air mataku menggenang menerima genggaman tangannya yang hangat. Peter..Peter. . Peter.

Dia teman yang sangat baik. Tiga tahun aku bersamanya, tiga tahun kami berjuang bersama-sama agar dia bisa terlepas dari jerat narkotika, tiga tahun pria ini membuat aku selalu tertawa. Tiga tahun aku mengikutinya berkeliling dunia. Banyak kejadian yang kami alami bersama sampai tiga tahun, bukanlah hal  yang mudah untuk aku lupakan. Peter pria typeku, sangat santai dan tampan, sangat ceria dan lucu. Namun untuk cinta, aku tidak memiliki cinta untuknya, hanya rasa sayang.

     “Sweetheart Jangan menangis” dia mengusap air mataku yang terjatuh, pria ini selalu tau apa yang harus dia lakukan untukku. Ah Pet. sudah aku hianati dia masih saja bersikap lembut.  

“Jangan menangis Mine  aku mohon” Peter menarikku kedalam pelukannya. Pelukannya mengingatkanku saat-saat dia selalu memelukku jika aku ada masalah, ingat saat kami berpelukan di tengah-tengah konser Paramore. Dia membuat aku terbuai, aku membalas pelukannya dan mencium aroma khasnya.

      Refleks aku mendorong tubuhnya kuat. Peter mundur dua langkah. Tatapannya  memancarkan sorotan terluka. Aku tidak pernah melihat luka seperti itu di matanya. Aku meremas kepalan tanganku hingga memutih.

       “Maaf” aku berusaha menutup keterkejutanku. Saat dia menarikku tadi tanpa sadar aku menghiruf nafas dalam, dan otakku semperti memberi alamarm karena yang aku hirup tidak sama seperti yang otakku pikirkan. Wangi tubuhnya yang tercatat rapih ti pikiranku selama tiga tahun ini tergantikan dengan wangi tubuh suamiku tiga bulan ini. Pikiran, hati dan setiap bulir darahku hanya ada Benedict. Maafkan aku, Peter.

     “Kau mencintai pria kaya itu?” tanya Peter dengan pandangan nanar.    

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *