Chapter 28

Claudia Jasmine Pove. [17+]

           Setelah makan siang yang sangat memalukan itu Benedict kembali mengantarku ke lokasi semula. Namun tidak salah satu dari kami yang beranjak untuk keluar dari mobil. Aku masih ingin bersamanya meski dia  masih saja tertawa kecil saat melirikku, hatiku sangat mendidih ingin memukul kepalanya itu karena memberikan lelucon mematikan seperti tadi. Sangat membuatku malu!

           “Ben, berhenti tertawa!” desisku geram karena tubuhnya bergetar meski aku tidak melihatnya kau tau dia tertawa, dia mengangguk tapi menutup mulutnya agar tidak tertawa lepas. Aku menatapnya sengit, bibirku berkerut. “Berhenti atau kau akan ku gelitik hingga memohon ampun!” ancamku serius.  

Dia kembali tertawa lepas namun dia mengarahkan tangannya agar aku tidak menyerangnya. Bibir dan kedua alisku semangkin berkerut karena sebal. Pria ini seperti memiliki kepribadian ganda, sangat sulit untuk di mengerti. Aku kira dia akan selalu bersikap sopan dan sangat lembut kepadaku,  Aku tidak menyangka dia memiliki sisi mesum yang Membuatku sekakmat dalam seketika. Aku membuang tatapan sebalku ke luar jendela

      “Kau marah padaku?” tanynya seperti membaca sikapku, aku memutar bola mataku kesal kearahnya.

     “Baiklah maafkan aku” tangannya mengusap kepalaku lembut, menatapku dengan tatapan khasnya “Kau marah karena kita tidak jadi melakukannya di toilet atau karena ki-. . .”

     “Benedcit!! Kau menyebalkan sekali!” aku memukul bahunya kesal, aku kira dia sungguh-sungguh akan meminta maaf tapi ternyata menanyakan hal itu lagi. Aku keluar dari mobil namun ia menarik tanganku agar tetap berada di posisi semula.

        “Maafkan aku” Mohonya.  Nada ucapannya dan tatapan matanya membuat emosiku yang tadi entah terbang kemana.   “Apa kau mengenal Clara Sande?”

      “Clara sande?” Entahlah. Ada apa?” tanyaku tidak mengerti

        “Dia adiknya Sergio. “ jawabnya memainkan helai-an rambutku.  Aku memberikan tatapan masih tidak mengerti. Adiknya Sergio? Lalu.?

        “Jika tidak ada masalah  Dia akan menikah malam ini” Ugh aku tidak perduli ada masalah atau tidak. Lalu intinya apa?

      “Ben, Maksud….”

       “Apa kau mau datang bersamaku?” tanyanya cepat memotong ucapanku. “Kepernikahan itu” lanjutnya karena aku mengerjapkan mata.

     “Apa kau bercanda?” tanyaku ragu.

      “Kau tidak mau?” dia berbalik bertanya dengan sedikit nada kecewa, otakku sibuk berpikir tentang apa yang akan aku kenakan ke acara itu. “Apa kau memiliki janji dengan seseorang?”

        “Bu-bukan itu! Bagaimana mungkin kau memintanya begitu cepat? Uh! kau tau? Aku harus memikirkan banyak hal, gaun yang akanku pakai, sepatu, perhiasan.  Disainerku bukan ibu peri seperti  di cerita dongeng yang bisa menyulap gaun cantik dengan menjentikkan jari saja tuan Russel!” Jawabku gusar

Dia menggenggam  tanganku yang bergerak resah “Jadi kau mau?” tanyanya. Aku menarik kembali tanganku dari genggamannya

     “Dan kau sehasurnya membuat janji terlebih dahulu dari jauh hari, memangnya hanya dirimu yang memiliki jadwal untuk bertemu rekan bisnismu” dia terkekeh mendengar keluhanku

     “Mine”   panggilnya. Dia membelai helayan rambutku. Sentuhannya kembali membuat darahku mendesir. Dengan jarak sedekat ini aku dapat mendengar deru nafasnya.

     “Aku tidak pernah memakai koleksi  gaunku lebih dari satu kali Ben!  Dan aku tidak punya gaun yang terbaru minggu ini”  aku memberi alasan atas jantungku yang tidak berdetak normal karena sentuhannya.

      “Kau tidak membutuhkan itu semua Jasmine” Suaranya terdengar sensual di telingaku kananku, hembusan nafasnya terasa hangat menggodaku, aku terdiam menerima perlakuannya selanjutnya, fokusku bukan lagi ke gaun beserta antek-antek lainnya. Dengan lihai ia mengumpulkan helaian rambutku dan menyingkirkan ke balik kiriku, Aku menelan liurku dengan berat. .  Aku tidak mampu untuk tidak memejamkan mata terbuai  saat ujung hidungnya mengusap leherku.  Aku mengeliat geli menerima kecupannya.

      “Ben jangan menggodaku”  ia mengatur posisi duduknya, dengan lembut ia bermain di sekitar leherku.

    Mengecup, menjilat dan menghisap “Aah” rintihku  memeluk kepalanya, lidahnya menggodaku lebih intents, terkadang ia menghisap dengan kuat namun kembali dengan pelan ia menggesek kulitku dengan lidahnya.  Sangat membuatku frustasi.

        “Ben.. ” aku kembali mendesah

        “Hmm” Dia berdehem masih asik bermain di leherku. “Ben lepas” Nalarku masih berperang dengan tubuhku yang menginginkan sentuhannya lebih jauh di seluruh tubuhku. “Ben jangan disana.  Aakh Ben.. “ Aku meracau berusaha agar tidak jauh lebih terbuai olehnya.

        “Aww! Ben lepas!!”Aku melengguh karena dia menggigit leherku kuat. Sekuat tenaga aku melawan hasratku sendiri mendorong tubuhnya menjauh, memeriksa ke kaca spion mobil. Apa dia sudah gila?  Di kulitku yang putih terlihat jelas ada bekas merah karena hisapannya          

      “Baiklah kau menang.” Benedict menyerah.   “Baiklah, acara itu mungkin di mulai jam lima sore nanti, tapi kita datang pukul delapan malam saja. Apa waktu segitu itu cukup untukmu?” tanya Benedict melihat jam tangannya, aku mengangguk pasti. Aku sangat siap! “Kau mau kujemput jam berapa.?”

      “Hem? Tidak, kita bertemu di pesta itu saja. Aku janji aku pasti akan datang” ucapku meyakinkannya. Aku bisa minta temanin sahabatku Naya untuk ke acara itu.

      “Kau yakin?” aku mengangguk lagi. Dia tersenyum tipis “Baikalah, alamat pastinya akan aku kirimkan kepadamu nanti” ucapnya berdiri dari sandarannya.

      “Baiklah” jawabku “Apakah kau akan kembali bekerja lagi?” tanyaku kaget mengingat sang waktu, astaga jam berapa sekarang? Barapa lama waktu kami habiskan berdua?

       “sekarang cium aku” perintahnya tanpa menunggu jawabanku. Dengan cepat ia menyambar tubuhku ke dalam pelukannya dan langsung mencium bibirku, aku melengguh akan keterkejutan dan sensasi aneh yang terasa. Dia mendorong bibirku dan mencium dengan rakus, tubuhku tersudut ke keca mobil.. Ciumannya berpindah keleherku, sialan sentuhan lidahnya dengan cepat membangkitkan urat-urat  saraf di seluruh tubuhku. Aku mendesah dan kembali meremas rambut coklatnya di pelukanku.

     Setelah beberapa detik Frekuensi ciumannya melah, ia tidak lagi mendorong tubuhku . Namun ia masih tampak asik menghisap leherku dengan lembut. Air liurnya membasahi seluruh leher kiriku. Dia benar-benar membuat Libidoku naik, aku tidak perduli lagi jika ia meninggalkan jejak yang sulit hilang nantinya.

       Ciumannya pindah keleher kananku, merangkak naik ke daun telingaku. Nafasnya memburu, mengulum  daun telingaku seakan ia hendak menghisap dan menelan ating berlianku. Aku kembali menutup mataku. Memeluk bahunya erat. Sialan!! Intiku sudah sangat basah!!

      “Aku menginginkanmu” erangku parau. Dia menghentikan aktifitasnya, meletakkan keningnya di keningku. Nafas kami sama-sama memburu akibat sensasi tadi, “Bawa aku pergi Ben” pintaku dengan nafas tersengal sengal. Aku ingin bersatu bersamanya saat ini juga. Namun ia menggelengkan kepalanya

“Tidak” ia memaksa menatap matanya  “Tunggulah sampai nanti malam.  Aku telah mempersiapkan semuanya, aku menyediakan hadia manis untukmu Mine. Aku menginginkanmu, aku sangat menginginkanmu Jasmine”

     ***** -tbc-vote-komen

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *