Chapter 27

      “Kau yang salah Jasmine” ucap Benedict datar melepas tubuh istrinya.

Jasmine yang tadinya melamun menjadi terkejut dan prasaan terluka saat Benedict melepaskan pelukannya dan meninggalkannya begitu saja.

     “Apa maksudmu?” Tanya Jasmine mengikuti langkah Benedict yang berjalan ke sebuah pohon. “Ben tunggu aku!” triak Jasmine karena Benedict berjalan dengan cepat. “Benedict!”

     “Beeen Berhenti!!”

       BUUG

     “Aduh.. kenapa kau berhenti tiba-tiba?” protes Jasmine karnea menabrak punggung Benedict.

     “Kau menyuruhku berhenti”

     “Uh Maksudku… Ah Lupakan! Ada apa denganmu? Kau berjalan terus meninggalkan mobilmu  disana?  Kau kesini untuk menemuiku bukan?”

     “Tadinya seperti itu”

     “Lalu sekarang seperti apa.?”

     “Entahlah”Jawabnya malas.

Jasmine tidak mengerti ada apa dengan suaminya itu. namun ia berusaha untuk tidak membahas lebih jauh. “Tadinya aku ingin menelponmu”

Benedict menoleh menatap istrinya “Lalu?” tanya Ben datar.

     “Lalu pria brengsek itu menabrakku” Jawab  Jasmine kesal.

     “Kau yang menabraknya” ralat Benedict kesal.

    “Tidak! Dia yang terlalu sibuk dengan pikirannya hingga dia menabrakku saat mel. . . Tunggu. Sudah berapa lama kau ada disana?” tanya Jasmine menyelidik saat menyadari sesuatu

Benedict berbalik, membuang tatapannya dari istrinya. Dia melihat semuanya, hatinya terbakar melihat Jasmine jatuh di tubuh pria itu, melihat Jasmine di peluk pria brengsek itu .Emosi meluap melihat Jasmine cemberut karena pria lain.

Jasmine berlari mencari cara agar dapat melihat wajah Benedict saat ini, namun pria itu terus menghindar hingga mereka seperti berputar-putar. Membuat Jasmine tertawa geli melihat sikap pria itu.

       “Ben cukup! Kenapa kau membuat aku pusing!” Jasmine menyerah, mengurut pelipis matanya pelan. Benedict merasa bersalah terhadap istrinya, dengan sayang ia menyeka helaian rambut yang menutupi wajah istrinya.

       “Apa kau sudah makan siang?” Tanya benedict dengan suara yang terdengar lembut, membuat Jasmine merinding.

      “Apa kau datang kemari bertujuan mengajakku makan siang?” Tanya Jasmine tersenyum lebar. Benedict mengangguk “Lalu kenapa kau berjalan ke pohon ini? apa kita makan disini.?” Ejek Jasmine geli.

Benedict tersenyum tipis “Ethalah. Ayo”  ucap Benedict kembali meninggalkan Jasmine.

      “Ben!”

      “Ya” jawab Benedict tetap berjalan meniggalkan istrinya 

      “Berbaliklah jemput aku”  pinta  Jasmine geram karena di tinggal lagi.

Benedict berhenti, berbalik mengulurkan tangannya.   “Kemarilah” ajak Benedict singkat.  Jasmine mendengus sebal namun tetap berlari menerima tangan suaminya dan memeluknya sambil berjalan ke mobil.

***************

Benedict dan Jasmine memilih restoran italia yang kecil dan duduk di smoking area. Dua-duanya memilih karena langit sedang mendung.  Mereka duduk berhadapan di pisahkan meja bundar yang kecil di bawah payung tenda berwarna hijau.

Beberapa orang mencuri foto Claudia Jasmine dengan ponsel mereka. Jasmine tampak cuek, sedari kecil dia sudah terbiasa dengan paparazi dadakan.

      “Jangan pandang aku seperti itu Ben” perintah Jasmine tanpa lepas menatap menu restoran. Ia tau Banedit tidak lepas menatapnya sedari tadi dengan pandangan khasnya. Benedict tersenyum tipis.  

      “Kau sangat cantik” pujinya jujur.

     “Aku tau itu” jawab Jasmine percaya diri, Benedict tertawa kecil melihat sikap istrinya. Pelayan datang dan mencatat semua makanan yang di pesan Jasmine. Setelah pelayan pergi Jasmine masih tanpak sibuk melihat-lihat menu.  

Membuat Benedict tidak sabar menunggu gadis itu mengangkat wajahnya agar ia dapat melihat mata indah gadis itu lagi.  Benedict menarik menu itu dan mendekat ke arah istrinya.  Jasmine menarik wajahnya cepat  “Kau mau apa?” tanyanya berusaha mengusir rasa gugup yang menjalar sedari tadi.

     “Mencium istriku. Kau pikir apa?”

     “Disini rame Ben!” tolak Jasmine malu, padahal ia juga sangat menginginkan itu.

     “Kita bukan bercinta di depan umum Mine” pinta Benedict geram, Jasmine tergelak.

      “Claudia.?” Sapa seseorang Saat Jasmine hendak mencium bibir suaminya, Jasmine  refleks mendorong tubuh Benedict kaget.

       “Ah, Ya.?” Jawabnya sedikit malu. Benedict merengut kesal ia mendongak melihat si pengganggu.  “Bibi Elisabet” triak Jasmine setelah yakin mengenal wanita tua itu.  Wanita berumur 50 tahunan, Benedict tidak mengenal wanita  itu. Ia bingung melihat istrinya  memeluk wanita  itu erat.

      “Kau bersamanya?” Tanya wanita  tua itu melihat  Benedict. Jasmine mengangguk

      “Dia kekasihku, Russel Heard” ucap Jasmine memperkenalkan dengan mengulum senyumnya. Benedict merengutkan alis protes. Ia berdiri dan menyambut tangan wanita tua itu sopan.

       “Aku suaminya, senang bertemu anda nyonya” ucap Benedict tersenyum ramah.

      “Ah aku mengerti. haha dasar anak ini, dia terlalu malu dengan prasaanya. Aku ibu baptis anak nakal ini tuan” balas wanita itu lembut memukul kepala Jasmine.

      “Oh, Betul, Aku rasa kau jauh lebih mengenal sikapnya pasti”  jawab Benedict ikut menyalahkan gadisnya.

      “Ya, aku harap kau tidak masalah dengan krpibadiannya yang kurang ajar itu nantinya” Benedict dan wanita tua itu tertawa bersamaan, tidak memperdulikan Jasmine yang cemberut.

     “Maaf aku menganggu acara kalian, aku hanya ingin menyapa Claudia saja tadinya” tambah wanita itu lagi, ia mengerti arti tatapan Jasmine yang mengusirnya. Benedict mengangguk sopan.  

      “Bye bibi ELi.. I love you” ucap Jasmine tulus.Wanita itu pergi setelah memukul kepala Jasmine kembali dengan sedikit keras. Membalas karena telah berani mengusirnya. Jasmine hanya tertawa geli melihat wanita tua itu.

        “Jadi, kenapa kau mengatakan aku kekasihmu?” Tanya Benedict tidak bisa menahan rasa penasarannya saat melihat Jasmine telah kembali duduk di hadapannya.

       “Apa jam istirahatmu masih lama?” Tanya Jasmine karena pesanan mereka tak kunjung datang.

       “Aku tau kau mendengarku Mine” ucap Benedict membari peringatan. Jasmine mengela nafas, ia mengaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.

       “Aku Malu” jawabnya tersenyum lebar.  Benedict tertawa kecil melihat sisi Istrinya yang baru. Namun ia belum yakin dengan jawaban itu. Ia masih menatap penuh selidik

      “Apa aku salah? Aku kira setelah apa yang terjadi tadi pagi dapat membuat kita seperti sepasang kekasih” Tanya Jasmine terdengar lirih. Pertanyaan Jasmine malah terdengar pernyataan di telinga Benedict.

     “Oh” Komentar Benedict singkat. Jasmine melepas tatapannya dari pria itu ke orang-orang yang berlalu lalang, Ia menggigit bibir bawahnya kuat, menekan prasaan malunya. Ia merasa seperti di tolak. Ingin rasanya ia lenyap seketika saat itu juga. Jawaban pria itu sangat singkat. Menunjukkan apa yang mereka perbuat tidaklah berarti apa-apa terhadap hubungan mereka. Kata cinta, kata sayang memang tidak  saling terucap dari bibir mereka.

Jasmine kira kemistri yang terjadi, debaran dan hasrat yang ada sudah salah satu bukti dapat membuat mereka menjadi sepasang kekasih. Jasmine kembali menatap Benedict, pria itu tampak tenang dan cuek.

       Dia mulai sibuk dengan makanan yang baru saja diantarkan oleh pelayan ke meja mereka, sangat tidak memperdulikan Jasmine yang menatapnya dengan sebal. Gadis itu mendongak agar air matanya yang mengenang tidak jatuh saat itu juga. Mencoba mengatur nafasnya yang juga terasa sesak.

      “Cobalah ini”  Benedict menyendokkan potongan kecil lasagna  ke arah mulut istrinya, namun gadis itu menolak, membuang tatapannya lagi. Di Air matanya yang  mengenang dapat terlihat gadis itu terluka.

Benedict menurunkan sendoknya kembali, ia menghela nafas sesaat.   “Maaf” pinta Benedict menyesal. “Aku kira apa yang kita lakukan tadi pagi nyaris membuat pernikahan kita sempurna.”

Dengan cepat gadis itu menoleh ke dirinya dengan tatapan sulit ia mengerti.  “Buka mulutmu”  kata Benedict menyruruh Jasmine untuk menerima makanan yang ia hendak sendokkan. Jasmine menarik wajahnya dan melihat bingung sendok berisi lasagna  dengan potongan besar..

       “Aaa..”  Perintah Ben lagi dengan membuka mulutnya juga. Refleks Jasmine membuka mulutnya dan Benedict menyendokkan potongan lasagna  itu semua ke mulut istrinya tanpa perlawanan yang berarti.

      “Ben.. inimmm-“ ucapan Jasmine tidak terdengar jelas karena mulutnya penuh dengan makanan. Benedict terkekeh geli melihat Jasmine seperti itu

      “Aku ingin menjadi suamimu, bukan kekasihmu” ucap Benedict tanpa menatap Jasmine, ia sibuk menyendokkan makanannya sendiri ke mulutnya. Tidak melihat Jasmine yang mengunyah sambil menangis tanpa suara.

Jasmine harus menutup mulutnya dengan tisu agar tidak terlihat jelek dengan mulut penuh makanan, dari balik tisu ia tidak sanggup untuk tidak  tertawa lebar sambil mengunyah makanan itu. Ia sangat senang dengan pengakuan itu

      “Emm.. Apa kau ingin kita melanjutkan yang tadi pagi di toilet restoran ini?” Tanya Benedict serius, membuat Jasmine tersedak seketika setelah mengerti arti itu.

     “Haha aku hanya bercanda” ucap Benedict tertawa melihat muka Jasmine yang memerah. Ia membantu istrinya minum  agar melegahkan tenggorokannya. Sambil tertawa ia mengahampiri istrinya dan  mengusap-usap punggung Jasmine agar merasa nyaman.

       “Tapi Jasmine,  restoran ini terlihat sepi” bisik Benedict  menyapu pandangannya keseluruh ruangan. “Apa kau mau jika kita melakukannya ditoilet restoran  ini?” tanya Benedict hati-hati.

Jasmine tertengun, tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Apa sisi liarnya mulai  keluar lagi? tanya Jasmine dalam hati.  Ia meneguk liurnya dengan berat, kemudian ia  menganggukkan kepalanya pelan.

        satu detik

       dua detik

      tiga detik. 

     “Hahaha Aku hanya bercanda sayang hahaha kau ini, mana mungkin kita melakukan itu di toilet” Benedict  tertawa keras tanpa terkendali. Jasmine menggigit bibirnya dengan kuat karena tidak sanggup menahan rasa malunya.

      “Ugh! Beeeeeeen!! Awas kau nanti akanku balas!!” jerit Jasmine  tidak terima. Benedict semangkin  tertawa melihat Jasmine yang   menunduk menyembunyikan mukanya yang memerah karena menahan malu. “Asatagaa tega sekali dia bercanda seperti itu!” pekik Jasmine tidak terima.

      “Haha sepertinya kau memang menginginkan itu. Ayo kita lakukan”

    “Beeeeen cukup!!”

   “Hahaha aku tidak percaya kau sungguh menganggukkan kepala Jasmine hahaha”

   “Uuuuuugh kau sangat menyebalkan!!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *