Chapter 25

           Aku memakai pakain casual dan makeup tipis di wajahku, memakai sepatu boots coklat rancangan dari Chris Louboutin. Hari ini adalah jadwal untuk pemotretan dengan merek Ralph Lauren. Setelah beberapa lama aku memutuskan kontrak sepihak karena bagun kesiangan. Pihak mereka kembali mengontak Aline untuk menandatangagi kontrak kembali. Tiga kali aku menolak tawaran mereka tidak membuat mereka putus asah. Mereka mendesak Aline untuk mengejarku kerumah sakit dan membujuk agar aku mau menerima tawaran dari merek terkenal tersebut.

Hemmm.. berhubung aku memang telah berambisi menganggap ini sudah menjadi sebuah pekerjaan, akhirnya aku menerima tawaran Ralph Lauren kembali setelah mereka menawari  bayaran tujuh kali lipat dari kontrak sebelumnya.

       “Apa kau mau turun bersamaku?” tawar Benedict muncul di daun pintu kamar khusus tempat barang-barangku dan semua perhiasanku.

       “Tentu” jawabku singkat memberikan ia senyum manisku. Aku mengambil Jas yang ada di tanganya dan memeluk lengan kananya keluar dari kamar. Kami hendak menuruni tangga namun berhenti dan untuk pertama kalinya setelah insiden di hajar Sergio akhirnya aku kembali melihat tampang bengis Catrine. Tatapannya menatap tanganku yang memeluk lengan Benedict.

       “Pagi Cat” sapa Benedict tersenyum ramah.

Catrine tidak menjawab malah membuang tatapannya dan mendengus kesal. Melihat tingkahnya aku mencibir acuh.  Aku menarik lengan Benedict untuk mengabaikannya dan turun keruang makan tempat Nicole ayah dan ibunya duduk untuk sarapan pagi. Aku tau Catrine masih menatap punggung kami saat ini, namun aku tidak perduli. Kisahku denganya sudah tamat. Dia bukan lagi sahabatku. Aku muak dengan kekejamannya.

        “Pagi kakek”ucapku menyapa Kakek Harper  yang sudah seperti kakeku sendiri. Aku juga menyapa ayah dan ibunya dengan senyum teridahku.

        “Pagi sayang” balas Kakek yang bernama Harper dengan senyum khasnya. Aku memilih duduk disamping Benedict dan meminum jus yang tersedia. Benedict mencium pipi iblis imut di sampingnya. Ah Maksudku adiknya yang bernama Nicole

        “Apa kondisi kakek telah membaik? Kenapa lama sekali di Thailand?” tanya Benedict terdengar cemas. Hmm..Thailand? apa dia memiliki hoby yang sama dengan kakekku? Mencintai wanita miskin di Thailand.?

        “Jangan khawatir. Aku telah jauh lebih baik.”jawab Kakek Benedict. “Apa kau baik-baik saja Ben? Kau tampak kurus” Mata Kakeknya menyipit menyelidiki cucunya tersebut.   Seketika aku dapat merasakan ketegangan ayah dan ibunya. Yah, mereka pasti takut jika Kakeknya mengetahui fakta bahwa Benedict telah berjuang melawan maut agar dapat berkumpul bersama di meja makan ini lagi. Aku rasa kehadiran Harper membuat dua orang tua Benedict tidak berani beranjak ketika Ben hadir di meja ini. Huh, kemana sikap kejam mereka.

        “Aku baik-baik saja” jawab Benedict dengan senyuman khasnya. Namun tangannya mengusap kepala Nicole saat gadis kecil itu hendak mengadu ke kakeknya. Nicole mengerti dan kembali memakan sarapannya dengan cemberut.

         “Dimana Damien? Apa dia tidak pulang semalam?” Kakeknya sepertinya hendak mengabsen anggota keluarga. Ayah ibunya masih diam tanpa ekspresi memakan sarapannya.

         “Cat. Dimana Damien?” tanya kakeknya lagi. Benedict juga tampak menunggu jawaban Catrine. Namun gadis itu mengendikkan bahunya tidak peduli. Aku tersenyum sinis mengingat dimana Damien saat ini berada. Di-ancampun dengan sebuah pistol aku tidak akan mengatakan pada Benedict jika adiknya yang culun itu telah berada di pulau tak berpenghuni saat ini. Hanya takdir Tuhan yang akan menentukan hidup Damien saat ini.

       “BiBi Melinda” Panggil Ben sopan ke kepala pelayan mansion ini. Mrs.Melinda dengan cepat berada di samping Benedict. “bisa buatkan aku kopi pahit?” pinta Benedict sopan. Mrs.Melinda mengangguk dan dengan cepat kedapur.

        “Kenapa sedari tadi kau terdengar menyesap air liurmu. Apa ada masalah dengan mulutmu Ben?” pertanyaan Kakeknya soktak membuat aku hampir tersedak dengan Sandwichku sendiri. Apa itu karena gigitanku? Aku menatapnya dengan tatapan menyesal.

       ”Tidak apa-apa” ucap Benedict menggengam  tanganku dan tersenyum kecil.  Apa harus aku mengigitnya tadi? Aku sungguh menyesal jika itu akan menganggunya untuk makan. uhm.. tapi itu hukuman buatnya!

..

..

—————————–

         Setelah dua puluh menit untuk sarapan akhirnya Benedict berdiri, aku dan Nicole mengikutinya. Kakek ayah dan ibunya juga telah beranjak dari ruang makan lima menit yang lalu. Hanya ada Catrine duduk sendiri dengan ipadnya.

        “Jasmine tunggu” perintah Catrine tanpa menatapku, aku mengacuhkannya dan berdiri mengambil Jas benedict.

       “Jasmine!” Desis Catrine lagi. Kini ia melepas tatapnnya dari ipadnya dan menatapku tajam. Aku memutar mataku sebal dan kembali memilih duduk di tempat semula.

      “Apa kau ada masalah denganku?” tanyanya dengan tangan besedekap.

      “Menurutmu?” Jawabku muak.

      “Apa yang membuatmu sampai tidak mau membalas tatapanku huh?” Tanyanya dengan seluruh karismanya. Ug Harus aku akui, cuma gadis ini yang mampu mengimbangi karisma keangkuhanku.

Dari kelompok sahabat-sahabatku, Hanya aku dan Catrine yang kerap menampilkan ekspesi dan aura dingin ke siapapun. Catrine seperti kembaranku, sikap dan tatapan mematikan yang kami keluarkan nyaris selalu sama. Tapi aku tidak mengerikan sepertinya! aku tidak pernah tega membully  orang sampai orang itu lebih memilih untuk mati dari pada untuk hidup. Aku masih mempunyai hati, aku hanya anti di sentuh dan aku tidak suka bergaul dengan sembarangan orang.

             “……”

Aku memilih tidak menjawab pertanyaan Catrine, tanpa aku jawab dia pasti tau apa yang membuat aku benci melihatnya.

           “Kenapa kau seperti seorang gadis yang sedang marah dengan kekasihnya?” tanyanya dengan sura datar. Ew apa maksud dari pertanyaanya itu? Apa ada yang bisa menjelaskan padaku?

         Dia terkekeh, seperti tau apa yang aku pikirkan. “Aku mengenalmu semenjak kita berada di taman kanak-kanak Jasmine” ucapnya malas kemudian menyesap teh hijau yang ada di gelas keramik putih. “Tidak heran kenapa kau dengan cepat menyetujui menikah dengan pecundang itu dan melupakan segala emosimu”

Ucapannya seketika ingin membuatku menyiramnya dengan air yang ada di depanku. Tapi tidak, aku harus tenang melawan srigala betina ini.

“Aku rasa kau  jauh lebih tau bahwa tidak ada satu halpun yang membuat dia layak dipanggil pecundang, Cat” ucapku menatap lurus kematanya.  “Ah.. sepetinya aku salah” ucapku tersenyum centil.

“Kau benar Cat, tapi hanya satu hal yang dapat membuat dia terlihat pecundang” ucapku sepertinya menarik perhatiannya. Dia menurunkan keramik yang di tangannya dengan angun dan menunggu apa yang hendak aku katakan selanjutnya.

      “Dia tetap bertahan melindungi kau dan kakak culunmu Damien meski kalian telah berkali kali mencoba membunuhnya” Aku berdiri dan kembali mengambil Jas Benedict dan tasku dari kursi sebelahku dengan tenang. “Seperti yang kau bilang, aku juga mengenalmu dari taman kanak-kanak Cat. Aktifitasmu tidak lebih dari merencanakan rencana iblis dan tidur dengan sembarang pria. Eww, bukankah menjijikan menjadi wanita yang di masuki banyak pria?” ucapku mengendikkan bahu malas.

Catrine menatapku dengan mata melotot dan menyimpan emosinya yang seperti bom waktu.  Aku berdiri dengan melipat Jas suamiku di dadaku. Menatapnya seperti menatap seonggok kotoran yang menganggu mata “Kau cucu dari raja properti dunia Harper Heard, tapi kelakuanmu tidak lebih dari pelacur di club murahan”  Aku meninggalkannya yang tampak terkejut karena berani mengomentarinya yang suka sekali bergonta ganti pria. 

      “Jasmineee!!” triaknya histeris.

      “Bye babe, See you text time!” aku melambaikan tangan tanpa berbalik menatapnya. Sebenarnya aku tidak pernah keberatan dengan hiperseks-nya itu namun karena dia telah berani mencoba melukai priaku lagi, aku tidak akan diam kali ini.

…………………………

NIKY HEART

Aku berjalan menuju pintu rumah yang kemiliki dua daun pintu, tiba-tiba Nicole jalan di sampingku dan meraih jemariku dengan senyuman manisnya.

“Kau tau? Aku rasa mulai hari ini kita bisa berteman.” Katanya pura-pura tidak tertarik namun terlihat sekali dia sedang berakting. Sikapnya membuat aku geli.

           Aku menunduk menatap penuh selidik ke gadis kecil yang tingginya tidak melebihi tinggi pinggangku. Aku kira apa yang telah kami lakukan bersama menyerang Benedict telah cukup bukti bahwa kami telah menjadi teman. Namun mengapa baru pagi ini aku mendapat pengakuan? Dia menyadari tatapanku.

“Ug  Baiklah” ucapnya melepas tanganku. “Aku tidak menyukai Cat.” Ucapnya  dengan mengerutkan bagian matanya sebelah. Haha jadi jika aku bermusuhan dengan Cat maka kami resmi menjadi teman? Dasar anak kecil.

     “Baiklah, ayo” ajakku menariknya keluar dari rumah.

Langkahku terhenti saat melihat Benedict berdiri di anak tangga terbawah dari teras tempatku berdiri. Nicole berlari menuju mobil. Sedangkan aku mendekat ke Benedict yang ternyata sedang berdiri menatap Niky, adik perempuannya yang kini ada di hadapan Benedict.

Bereka berdua berdiri saling bertatapan satu sama lain. Niky tampaknya baru saja pulang dari lari pagi, terlihat dari sepatu dan pakaian olah raga yang melekat ditubuhnya.  Kenapa Niky kali ini berbeda? Dia tidak lagi menghindari kakaknya.  Wajahnya tidak menatap benci ke Benedict.

Dengan Perlahan Niky mengangkat tangan kirinya dan menyentuh dada kiri Benedict dengan sedikit ragu. Air matanya membendung saat megusap tubuh kakaknya yang masih luka akibat terkena  tembakan peluru.

Niky mengusap dengan pelan, aku melihat bibirnya mengerut menahan nangis. Matanya menerawang menatap tubuh yang terbalut kemeja biru muda itu.  

“Trimakasih telah bertahan” ucapnya dengan suara bergetar.

Sikapnya dan tiga kalimat itu membuat aku tersentuh, ingin ikut menangis rasanya.

Niky menarik tanganya kembali. Tersenyum Tipis ke arahku dan pergi menaiki tangga menuju Rumah dengan diam. Bukan cuma aku yang tersetuh dengan sikap manis Niky. Ternyata, Malaikatku juga tersentuh. Kristal bening keluar dari mata pria yang aku cintai. Aku meraih Jemarinya Menggenggam kuat.

Dia tersadar dan menatapku dengan ekspresi di wajah yang  tidak bisa tergambarkan. Aku mengusap air matanya yang menetes sedikit tapi dia menunduk dan menenggelamkan wajahnya di telapak tanganku. Aku tersenyum tipis dan memeluk tubuhnya. Ternyata priaku ini memiliki hati yang sangat lembut. Dia mudah tersentuh. Ah How can i not love you ben!

——

Kini aku baru mengerti kenapa Niky begitu marah ke Damien saat melarang seluruh pelayan untuk keluar rumah (yang belakangan aku ketahui ternyata dia melarang para pelayan menjengunk Benedict dirumah sakit). Masih sangat jelas kejadian itu dibenakku.

Saat itu Niky tidak suka dengan sikap Damien

        “Kau tidak harus melakukan itu!! Apa kau belum puas dengan sikapmu Damine?! Aku tidak percaya aku bagian dari darahmu Damien!!” Bentak Niky keras

Saat tatapannya bertemu dengan mataku ia mentapku dengan sinis, kedua matanya menyipit  tajam ke arahku. Tatapan yang sama aku terima dari beberapa pelayan. Dia menghempaskan satu kakinya ke lantai dengan kesal dan pergi berlalu dari hadapanku, ada apa dengan dia? Apa dia sama seperti para pelayan itu yang mengira aku tau suamiku melawan maut sendirian dirumah sakit dan aku tidak menemaninya?

Sepertinya diam-diam Niky tidak membenci kakaknya ini. hemm.. sepertinya aku perlu merekomendasikan dia ke Luke nanti. Dia menginginkan adikku yang tampan bukan?

———-

Benedict membukakan pintu Maybach Zepplinnya untukku, mempersilahkankan aku masuk dengan  meletakkan tanganya dikepalaku agar tidak membentur kab mobil.

 Nicole duduk di pangkuan Benedict, Ckck kakak beradik yang Seperti ayah dan anak.

           “Yey… Akhirnya aku ke sekolah dengan Russ lagi yeyyy” triaknya girang. Haha dia kembali ke sifat anak-anaknya.

       “Ya sayang, duduklah dengan benar, aku ingin menelpon Robbie”

       “Untuk apa menelponnya?” tanya Nicole memutar tubuhnya sedikit.

       “Aku butuh cairan untuk menghapus ulah kalian ini” ucap Benedict menunjuk jari-jarinya yang penuh warna oranges dan tutul tutul hitam, memperlihatkan warna dari macan, hasil dari karyaku dan Nicole tadi malam, haha astaga pria ini sangat lucu. Dia dengan pasra kami bajak jemarinya hanya karena tidak tahan digelitik.

       “Tidak. Jangan Russ.” Nicole berbalik menghadap Kakaknya. Mengingatkan posisiku saat menggoda kakaknya pagi hari tadi.  Aku  membuang tatapanku keluar jendela untuk menekan prasaan malu yang menjalar di hati. “Ini sangat cantik, jangan di hapus” pinta Nicole manja menyembuyikan kedua tangan Benedict di punggungnya.

     “Nicole aku mesti bekerja, tidak mungkin para pekerjaku melihat kuku atasannya seperti ini” Bujuk Benedict menarik tangannya. Nicole cemberut namun menurut.

     “Apa di lain waktu aku boleh melukis di kukumu?” tanya Nicole dengan mata berbinar menatap kuku-kuku itu.

     “Hemm..” jawab Benedict singkat mulai sibuk menekan ponselnya.

     “Ngomong-ngomong Russ.. Kenapa kau sangat lama keluar dari kamar? Biasanya kau slalu bangun sangat pagi, apa Jasmine menganggumu?” tanya Nicole tampa henti. Aku mengigit bibir dalamku untuk menekan rasa malu mengingat kejadian penas namun sedikit memalukan.  Aku menoleh, menangkap mata Benedict  yang sedang memandangku. Kami saling bertatapan dengan arti yang tidak terungkapkan menjadi baik kalimat untuk diucapkan.

      “Apa Jasmine menggodamu?” Pertanyaan itu sukses membuat sungguh-sungguh mengigit bibiku dengan geram…. anak ini cerewet sekali.!

     “Aku harap tidak” Ucap Nicole berbalik ke posisi semula. Hei? Apa masalah anak ini sesungguhnya? Dia suamiku apa salah aku menggodanya? Ugh apa harus aku mendengar komentar seperti itu dari anak kecil? Grrr Nicole!

      “Bukannya kau menginginkan anak?” tanya Benedict yang tampak tidak terusik dengan apa yang dibahasnya besama anak kecil jauh dari umur kami.

       “Hem.. Benar hahaha yayaya… Jasmine berikan aku anak Pleasee” pinta Nicole dengan wajah malaikatnya. Ah anak apa yang di maksudnya?

        “Dia ingin di panggil Auntie” ucap Benedict mememberi penjelasan. Aha… aku mengerti sekrang.

         “Ya, Taylor berjanji padaku dia akan memberikan aku seorang anak yang lucu sepertiku”

 Apa? Taylor?  

“Tapi kini Russ bersamamu sekarang berarti kitalah yang akan menjadi Mommy anak manis itu.” Tambah Nicole dengan ekspresi yang lugu, seperti bermain rumah-rumahan bersama temannya.

 Apa berarti  Nicole sudah dekat dengan Taylor? Aku menatap Benedict. Dia mengedikkan bahu ringan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *