Chapter 23

=================

This… Benedict Pov

             “Bagun bangun banguuuun haha bangun sayang” Jasmine menciumi pipiku berulang kali.

              “Jasmine” geramku karena dia mulai lagi mengagguku

              “Ya..“  ia berbisik dan tersenyum. Aku mencoba untuk sadar dari rasa ngantuk yang begitu terasa berat. Mengusap satu mataku

Dia kembali tertawa geli. “Bagun Ben Banguun” kembali mencium  wajahku.

              “Ugh” Aku melengguh mencoba menatapnya namun sangat silau, di belakang kepalanya  cahaya matahari  bersinar terang dari jendela yang terbuka lebar. Dia menjadi seperti malaikat yang bersinar terang. Ini seperti mimpi yang menjadi nyata. Aku kerap kali berharap  saat aku bangun aku memandang wajahnya yang belakangi mentari pagi

Aku mengerjap-ngerjapkan mataku agar dapat melihatnya lebih jelas, dia mengigit bibir bawahnya menatapku dengan sorotan mata sulit aku mengerti.

Uh apa dia sedang mencoba mengodaku lagi? apa yang ada dipikirannya saat menggigit bibir ranum itu? Demi tuhan ini pagi hari!  Aku tidak yakin bisa menahan hasrat  pria normal yang selalu berada di puncak diasaat pagi hari. Kali ini aku tidak yakin bisa menahan diriku untuk tidak menerkamnya.!

Dia kembali mencium rahangku kemudian naik ke daun telinga

Errrmmm “Jasmine!” erangku menahan nafas.

              “Pagi handsome” sapanya di sela-sela ciuman manisnya.

              “Pagi Mine” ucapku kemudian mengecup keningnya. Dia tersenyum manis Namun  tidak juga kunjung beranjak dari tubuhku, dia masih menumpukan tubuhnya. Lalu apa lagi? apa dia tidak bosan menatap wajahku setelah semalaman menggangguku?

Entah mengapa ia terlihat begitu cerah pagi ini. “Kupikir kau melanjutkan tidurmu mengingat kita tidur hanya tiga jam, bagaimana perasaanmu?”

               “Senang, bahagia, aku tidak tahu” balasnya sambil membuat lingkaran di bahuku.

              “Kau masih merindukanku?” tanyaku mencoba menebak. Suaraku terdengar parau, dia mengangguk cepat seperti Nicole yang mengangguk antusias jika aku menawari es krim.

Aku tidak bisa menahan senyumku. Aku juga masih merindukannya. Ini gila.   Dia kembali menunduk mengusap usap ujung hidungnya di ujung hidungku, haha dia manis sekali. Beberapa helai rambutnya menyapu wajahku dengan lembut, dia sangat cantik. Wanitaku, Claudia Jasmine

              “Aku mesti bagun dan bekerja Mine” ucapku teringat pekerjaan yang sangat menumpuk karena hampir satu bulan tidak secara langsung aku tangani.

              “Kau masih sakit” Suaranya terdengar meringis

         “Hmm.. Tapi kita butuh uang agar keluar dari rumah ini bukan?” mendengar ucapanku seketika ekspresinya berubah sendu, bola matanya menatap kosong . Haha apa dia percaya dengan ucapanku?

Dia duduk memunggungiku, menunduk tampak berpikir. Ha Sukurlah akhirnya dia menjauh dariku. Aku sudah sangat tidak tahan untuk menerkamnya kalau dia masih saja menindihku seperti tadi.

             Kamudian beberapa detik ia berbalik dengan wajah cerianya. “Aku yang akan bekerja” ucapnya tersenyum lebar. Dia menarik selimut tebal kembali menutupi tubuhku. “Kau tidur saja, Aku akan bekerja, aku yang akan memenuhi kebutuhan kita mulai hari ini” ucapnya tersenyum sangat manis.

             Aku hampir saja tersedak tertawa terbahak-bahak karena  ucapannya yang begitu lugu. Dia mengatakan itu sambil mengusap rambutku, seperti seorang ibu yang menyuruh anaknya untuk istirahat saja dirumah  jangan berangkat sekolah hari ini. Hahahaha aku tidak tahan ingin tertawa tapi takut dia akan terluka. Kemana Claudia Jasmine yang angkuh selama ini? Dia berubah menjadi begitu manis

              “Kenapa kau mengulum senyum seperti itu?” tanyanya berkerut heran.

          “Tidak.” Jawabku tertawa kecil, mencoba mengatur emosiku. Aku mendorong selimut lembut yang tadi menutupi setengah tubuhku dan duduk seperti posisinya.

 Dia sangat cantik jika naural seperti ini. “Aku tidak ingin istriku bekerja sendirian Jasmine” ucapku lembut menatap matanya yang indah. Jemariku menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajahnya. Istriku ini cantik sekali.

              “Boleh aku menciumu Ben?” tanyanya menatap lurus bibirku, Erm..bahkan aku ingin menerkammu Jasmine!.

              “Kemarilah” aku menarik tubuhnya agar duduk di pangkuanku. Dia tampak terkejut seperti kebingungan, apa dia tanpa sengaja meminta itu tadi? tapi kemudian ia menurut duduk di pangkuanku, kedua kakinya melingkar di sekitar pinggangku. Dia menarik tubuhku agar tubuhnya bisa tegap bersamaku, jarak menipis hingga aku harus  mendongakan kepalaku sedikit untuk  membalas tatapannya

             Sialan, Aku mengertakkan rahang untuk menyembunyikan kegugupan yang melandaku. Aku menelan liur dengan berat. Sentuhannya benar-benar membuatku gila. Wanginya begitu lembut di penciumanku. Saat tadi aku menyentuh punggungnya, aku berusaha sebisa mungkin untuk tidak menciumi lehernya yang menggiurkan itu. Ia membuatku selalu bergairah.

Bola matanya bergerak memperhatikan mata, rambut kemudian ke bibirku. Aku sangat ingin mengigit bibir itu. “Bukannya kau ingin menciumku?” tanyaku menggodanya. dia kembali termenung. Apa yang ada di pikiranya saat ini?

       “Jasmine” panggilku lembut, aku menyisihkan helaian rambutnya pada belakang telinganya. Dia mengulum senyumnya kemudian menutup dua mataku dengan satu tangannya. Jantungku berdebar kencang menunggu apa lagi yang ingin dia perbuat.

            Dari hembusan nafasnya yang begitu terasa aku tau wajah kami hanya berjauhan satu inchi. Bibirnya dengan pelan menyentuh ujung bibirku begitu lembut, bergeser hingga hanya mengecup bibirku dengan kecepatan persekian detik.

            Arggg  “Jasm–mmh! “ Belum sempat aku memprotes atas ulahnya ia kembali meraih bibirku kembali pada bibirnya. Melumat dengan pelan, menggodaku agar mengizinkannya masuk mencari lidahku. Tangannya meremas rambutku.  Itu semuanya memberikan rangsangan terhadapku.  Katika aku membuka mulutku ia kembali menggodaku dengan memainkan lidahku dengan lidah terampilnya.

           Aku memejamkan mataku mengerang di dalam mulutnya saat ia menggerak pinggulnya dengan sensual seperti sengaja menggesekan dan menggoda milikku bawah sana.  

        “Ben” desahnya saat melepaskan bibirnya dari bibirku, namun hanya berjauhan satu inchi. Mataku bertemu dengan matanya, lengannya melingkar di sekitar leherku. Tubuhku sudah menempel  erat dengan tubuhnya yang berkeringat.  Ia menutup matanya seperti meredam sesuatu yang sama menggelora di tubuhnya.

         Saat terbuka kembali aku mengercap  menatap mata  Jasmine yang berkobar penuh nafsu. Tapi demi apa pun, kali ini tatapan matanya tidak seperti dulu. Nafsu penuh cinta di dalam sini. Aku bisa merasakan kelembutannya. Aku merasa lebih dicintai. 

       “Apa kau menginginkannya  juga, Mine?” tanyanku  berbisik. Bibirnya tidak tersenyum, melainkan menjadi garis lurus yang tegas. Dianggukan kepalanya dengan pelan. Untuk apa aku menolaknya jika sebenarnya dia juga menginginkannya?

       “Benarkah? Apa kau benar-benar menginginkannya?” tanyaku menggodanya saat jari-jariku membelai punggungnya yang terasa halus. Dia kembali Kuanggukan kepalanya dalam diam.

            “Jawab aku,” paksaku.

            “Ya,”

            “Ya apa?”

   “Ya Ben” bisiknya dengan pelan, bahkan mungkin ia pikir hanya dia yang bisa mendengarkannya. Nafasnya bersahut-sahutan dengan nafasku, membuat suara yang sangat merangsangku. Dia menganggukan kepalanya dan menyeringai padaku.

Benteng pertahananku hancur sudah. Aku tak bisa menolaknya, kali ini, tidak bisa. Dia memberiku izin untuk menyentuhnya.

                Dengan hati-hati, aku mengangkat tubuhnya dan mulai menaruh tubhunya di selimut putih yang lembut. Kulepaskan  satu tangannya  dari leherku  dan mencium sambil  menatapnya. Tubuhnya benar-benar seksi. Kutelan ludahku, menahan agar air liurku tak tertumpah keluar dari mulutku.

          Ia mulai menindihnya. Kedua siku-sikunya berada di kedua sisi kepalanya  dan wajahku benar-benar dekat dengan wajahnya. Perasaan ini ….perasaan apa ini. Ia menatapku dengan tatapan intens. Jari-jarinya yang panjang mulai mengelus rambutku dengan lembut.

Berusaha. Aku berusaha untuk menahan kepalaku untuk tidak maju agar aku tidak menerkamnya saat ini juga . Itu akan merusak segala momen intensitas yang ada. Aku mencintai wanita ini, dia  bukan sekedar tempat pelampiasan nafsuku.

         “Apa kau tahu sekarang kau terlihat begitu menggairahkan?” tanyanku  berbisik. Dia tidak menjawabnya, tapi dia mengedip. Ia menyeringai. Sialan, aku benar-benar ingin menyerangnya saat ini juga.  

        Salah satu tanganku mulai bergerak membelai wajahnya dan mengarah pada  lehernya. Lalu aku mulai menghirup aroma di kulitnya, mencium lembut leher yang amat lama ingin ku cicipi rasanya.

            “Katakan padaku, Mine,”

            “Aku tidak,” Dia  mendesah

      “Ya, kau tahu. Kau selalu menggairahkan setiap saat. Oh, sialan,” Aku mengerang saat ia menggerakkan pinggulnya tanpa sengaja, menggesek ereksiku.  Di sela-sela Bibir kami yang kembali saling melumat, ia menarik pajamas merah marunku hingga keluar dari leherku.

          Dia  merintih saat jari-jari tanganku meremas buah dadanya dengan lembut, Mulutku dengan buas mulai mencium lehernya, pundaknya dan berakhir pada bibirnya lagi sambil membuka kancing pajamas merah marunnya .

Aku menarik wajahku untuk menggodanya. Ia Menggeram mengejar bibirku, membuat aku tertawa dalam lumatan kami. Jari-jarinya mulai meremas rambutku mendesah karena ulah lidahku di tubuhnya

          “Russ!!” sebuah suara terdengar dari luar. Sontak Jasmine mendorong tubuhku yang hampir menuruni bra hitamnya. Ia menutupi  kembali pajamas yang telah terbuka. Bibirku dilumuri oleh air liurku sendiri.  Ia terlihat begitu menggairahkan dan sangat membuatku terangsang. Aku sangat ingin mencicipi segalah rasanya.

            “Russ, apa kau telah bangun?” tanya Nicole  mengetuk-ketuk pintu kamarku.

            “Y-ya Sayang  pergilah” teriakku mengusir adikku itu

             “Russ aku sedang berdiri di pintu kamarmu bersama kakek sekarang. Apa kau lupa sudah berjanji mengantarku sekolah?”

            “Nicole jangan  mengangguku saat ini.”

            “Kau yang berjanji!”

           “Sayang pergilah dengan Rina” teriakku geram

           “Maafkan kakek Ben,  kau tau anak ini sungguh nakal. Harus kau yang mengantarnya” Sialan itu sungguh suara kakekku!! Nicoe tidak bohong. kapan kakeku pulang?

             Aku mendesah pelan –marah- dan menatap Jasmine  juga terlihat marah karena acaranya untuk aku menidurinya  gagal.

            “Baiklah” aku berteriak sambil menatap kecewa ke istriku. Sial, sial, sial!

===============

         Hari ini aku kembali bekerja, setelah satu bulan lebih aku tidak bekerja secara langsung di gedung kantorku. Sedari aku turun dari mobilku ada banyak karyawanku yang sudah tidak sungkan menunjukkan tatapan bahagia mereka karena akhirnya bisa melihat bos mereka lagi.

Aku tidak tau apa mereka selama ini tau keadaanku atau tidak, yang jelas aku suka dengan senyum tulus di wajah mereka semua.

Aku hanya bisa mengangguk membalas sapaan senyum mereka sambil melangkah lebar karena sahabatku Sergio Nathaniel dan Wiliams tengah berada diruanganku saat ini.

           “Aaaaaa Bos!” pekik seorang wanita mungil terkejut tidak percaya melihatku yang sedang berdiri di Lift khusus untuk para direksi, temannya yang lain sontak menatap kearahku.

          “Selamat pagi , em Titania” sapaku sopan ke Titania namun mencoba membalas tatapan ke yang lainnya.
“Anda mengngingat nama saya tuan?” Titania tampak tidak percaya.

          “Oh trimakasih Tuhan dia baik-baik saja” ucap wanita langsing bermata sipit mengadah ke atas mengucapkan doa.

          “Trimakasih nona Kim Geun Kyung” ucapku berterimakasih atas harapannya yang baik untuk diriku.

          “Tuan” aku berbalik melihat ke yang Robbie sekertarisku. Ternyata pintu Liftku telah terbuka.

          “Apa kalian ingin naik bersamaku?” tanyaku menunjuk Lift yang di tahan oleh Robbie ke para pekerjaku itu.

          “Ti-tidak, silahkan tuan” ucap mereka bersamaan dengan senyum terlukis indah di setiap wajah mereka. Aku mengangguk kecil dan beranjak memasuki Lift bersama Robbie dan dua pengawalku, meninggalkan mereka dengan histeria khas mereka.

Mereka adalah para pekerja yang berada di lantai yang sama denganku, aku dapat mengenal nama mereka semua dengan baik karena tiga tahun belakangan ini mereka kerap sekali ada di sudut manapun

——-

         Aku mendorong satu daun pintu ruanganku, satu daun pintu lagi masih terkunci rapat. Ruanganku sama seperti kamarku namun bedanya terlihat kosong dan hanya di dominasi dengan warna putih.

         Ruang ketiga yang memiliki dua daun pintu di gedung pencakar langit ini. Pintu  yang menunjukkan besarnya ruangan ini. Ruangan yang berbentuk lengkungan, dua puluh meter kali sepuluh, dua puluh meter hanya berdinding kaca transparan untuk melihat angkasa dan kota secara utuh.

         Aku berjalan ke meja kerjaku yang satu-satunya berwarna hitam metalik, Robbie dengan cekatan menurunkan kadar suhu agar lebih dingin karena cahaya dari luar sangat terik masuk kedalam.

         Nathaniel sepertinya sedang sibuk dengan berkasnya prusahaanya sendiri, Sergio menghadap ke kaca trasparan sedang sibuk menelpon seseorang. Sedangkan Wiliams tengah menjilati tubuh pelacurnya di sofa putihku.

          “Kenapa kau lama sekali” tanya Nathaniel tidak lepas menatap berkasnya.

      “Maafkan aku, aku harus mengantarkan Nicole bersekolah kemudian mengantar istriku ke lokasi pemotretannya” ucapku tanpa melihatnya, sibuk dengan berkas yang menumpuk di berikan Adrian, asisten Robbie.

          “Family Man Huh?” ucap Nathaniel terkekeh. Aku mengabaikannya dan berusaha agar bisa cepat duduk di sofa bersama mereka. Berkas yang sedang aku sentuh saat ini sedang di tunggu para pekerjaku untuk di realisasikan segera.

          “Robbie stop tersenyum seperti itu. aku dapat melihatmu meski sibuk seperti ini, mana yang aku minta tadi?” ucapku dingin karena kesal dengan sikapnya.

          “Ini tuan.” Ucapnya mengulum senyum, memberi botol plastik kecil berwarna hijau tosca.

         Selesai semua, aku telah baca dengan baik dan aku tandatangani, aku menyerahkan semua berkas itu ke Robbie. Adrian tidak bisa menahan prasaan gelinya melihat sepuluh jari tanganku. Aku megusir mereka dengan lambayan tangan ringan. Sergio tampak selesai berbicara di telponenya dan menhampiri meja kerjaku.     

     “Kau!” triaknya tertahan membuat aku terkejut. Dengan sigap aku mengepalkan kedua tanganku.

          “Ada apa?” tanya Nathaniel antusias beranjak dari duduknya ke meja kerjaku.

          “Tidak ada, kembalilah ketempatmu” usirku bersikap dingin.

          “Sepertinya aku tau apa itu” ucapnya tersenyum jahil berusaha menyentuh tanganku, dia tidak pernah bergeming dengan sikap dinginku

          “Sama sepertimu, Nathaniel. Kalian berdua menjijikan” Ucap Sergio sakartis melangkah ke sofa.

          “Hahahaha coba aku ingin melihatnya, warna apa yang ada di jari-jarimu?” dia berusaha menarik kedua tangnku.

          “Errmm Nathaniel cukup!”

          “Hahaha apa ini zebra? Aw kau manis sekali sayang” ucapnya menertawai jari-jariku yang penuh dengan kutek warna oranges dan titik-titik hitam akibat ulah Jasmine dan Nicole semalam. Dan tunggu, seingatku Jasmine dan Nicole mengatakan ini macan bukanlah Zebra. ckck Nathaniel bodoh.

          “Kau menjijikan, sana menyingkirlah” usirku karena jijik dengan caranya mengodaku.

          “Hahaha tunggu aku ingin memfotonya. Ini sangat lucu, Mauraku sayang pasti suka dengan motif ini” aku tidak percaya dia sungguh-sungguh merogoh kantongnya mengambil hanpone dengan antusias.

          “Nathaniel berhenti!”

          “Ini sangat lucu Ben!”

          “Nath….”

          “Aku tidak akan mengatakan kepada Maura bahwa foto itu  tangan pamannya, aku janji” dia mengangkat jari kelingkingnya persis seperti Nicole menuntut janji kepadaku.

         Ya Tuhaan pria mantan playboy ini benar berbeda 360 derajat. Dia bersikap seperti ayah yang manis, tidak ada lagi  sikap agorannya yang berlebihan.

         Meski mukanya sangat memelas namun aku tidak akan mau foto itu nantiya menjadi bahan dia mengolokku di masa akan datang. Tapi ekspresinya sepeti kucing Nicole membuat aku ingin menurutinya demi Maura yang manis.

          “Ah tidak-tidak jika kau mau, aku bisa meminta Jasmine memfoto jemarinya. Akan ku kirim kepadamu nanti” Ha sukurlah pikiranku langsung bekerja normal.

————

         Aku berjalan ke sofa lainnya dari yang mereka duduki. Kami menjadi seperti berhadap hadapan. Nathaniel berhadapan denganku dan Sergio berhadapan dengan Wiliam yang memangku seorang wanita.

         Aku mengatur dudukku dengan nyaman, menyilangkan kedua kakiku. Dan membersihkan kukuku sendiri dengan cairan alkohol peluntur kuteks  yang telah aku pesan dari Robbie saat masih di jalan menuju kantor.

         Sergio melakukan hal yang sama, kedua kakinya menyilang dan tanganya berlipat di dadanya, menatap tajam ke punggung wanita yang duduk di pangkuan Wiliams. Nathaniel juga tau arti tatapan Sergio, tapi dia sangat cuek tidak memperdulikan aktifitas Wiliams.

         Sebelumnya biar aku yang menjelaskan, yang sedang terjadi disini adalah Williams yang terlalu pengecut untuk mempertahankan gadis yang amat ia cintai. Gadis itu bernama Clara Sande

        Setelah menaruh hati tiga tahun dan Selama memacari gadis itu selama dua bulan, belum pernah sekalipun ia berani menyentuh gadis mungil itu. Seperti takut menghancurkan benda paling berharga di dunia.

         Clara Sande alias anak dari ibu tiri Sergio Sande. Sergio dan gadis itu tidak memiliki hubungan darah, Ayahnya menikahi ibu gadis itu. Meski Sergio tidak suka karena gadis itu selalu terlihat lugu namun Sepertinya Sergio cukup peduli dengan gadis yang aku tau dia menyayangi Sergio tanpa kepalsuan.

         Masalahnya nanti malam adalah pernikahan Clara dengan pria tampan, anak mafia  kelas paus dari Jepang. Dan Williams yang terkenal dengan ‘pangeran playboy’ sangat tidak berkutik untuk membawa lari putri dan calon menantu mafia dunia.

         Bahkan Sergio tidak berkutik untuk melawan kekuasaan Ayahnya. Aku kira Williams akan menerima tawaran kami yang sudah di atur demikian apik untuk pelarian mereka. Entah untuk keberapa kali kami mencoba membujuk Williams untuk secara jantan membawa pergi gadisnya.

          “Jadi.. Seperti apa rencananya” ucapku memecahkan suasana.

Nathaniel menutup semua berkasnya, mencoba untuk fokus ke masalah yang sedang kami hadapi kali ini. “Sepertinya tidak ada rencana”

Aku melihat Wiliams kini sedang menjilati tubuh depan wanita itu. wanita itu mulai risih dengan keberadaan kami namun Wiliams masih tetap mengabaikan semuanya.

          “Apa kau akan terus jadi pengecut!!” Bentak Sergio keras dan memecahkan meja kaca di hadapanya dengan hempasan kaki.

          “Aaak…” Triak wanita itu tertahan karena Wiliams menggigit putingnya dengan geram karena Sergio.

        Suasana kini menjadi terasa mencekam, sepihan kaca berserakan di lantai bersamaan dengan berkas Nathaniel. Sergio mulai lagi dengan sikap posesifnya. Mulai memerankan peran ayah untuk masalah sahabat-sahabatnya.

          “Brengsek. Aku tau kau dengar aku!!” Bentak Segio lagi.

    “Sudalah jangan berlebihan” Nathaniel mencoba menenagkan Sergio dengan kata-kata memojokkannya. “Kita sudah melakukan jauh dari rasa peduli kita sebagai sahabat. Semua kembali kepadanya. Dia yang menjalani”

         Sergio mendengus kesal, Wiliams kembali membuat si wanita tidak tahan untuk tidak mendesa menahan nikmat. “Williams?” panggilku  tenang. Wiliams tidak bergeming

          “Apa kau tidak lelah?” Ucapanku terdengar lembut. Dan sukses membuat diam berhenti seketika, aku dapat melihat dia mengusap air matanya cepat namun kembali mengulum puting wanita itu.

         Nathaniel juga melihatnya, namun ia hanya mengerang geram. Wiliams benar keras kepala, Sudah ribuan kali kami mencoba membujuknya

          “Williams, seorang laki-laki sejak lahir telah ditakdirkan harus meninggalkan ayah dan ibunya dan hidup bersama istrinya. Mereka akan menjadi satu daging tidak lagi dua. Tinggalkan semua milikmu, perduli setan dengan ancaman ayahmu dan pergi bawa gadis mu pergi” ucapku masih mencoba menyadarkannya.

Williams tampak merengut dalam cumbuannya. Aku tau dia mendengarkan setiap kata yang kami ucapkan. Namun ia berusaha tidak perduli.

          “Oke baiklah. Dengar, ini adalah hidupmu. Tapi kami sahabatmu,  nantinya kami tidak ingin menjadi penghibur anak manja yang nagis meraung-raung karena gadisnya menikah dengan pria lain” Ucapan Nathaniel yang selalu mengarah ke sakartis tidak juga membuat Wiliams menghentikan aktifitasnya.

          “Kau.., “ aku mencoba mencari kata-kata yang pas. “Dia hidupmu. Kau tidak perlu menutupi kehancuranmu Williams. Menangislah, jangan lampiaskan dengan wanita itu” aku mencoba penuh dengan prasaan di setiap kata yang aku ucapkan. Williams sepertinya terpengaruh, dia tidak menghapus air matanya yang jatuh meski ia masih mencumbu wanita panggilan itu.

          “Argggggh” erang sergio geram, ia beranjak melangkah menginjak serpihan kaca dan menggendong tubuh wanita yang sedari tadi di jilati Williams.

Wiliams tidak menolak, ia menunduk menelengelamkan wajahnya di kedua telapak tangannya. Bahunya bergetar. Ya.. akhirnya pria playboy nomor satu di majalah gosip  itu  kini sedang menangis. Menangisi sikap pengecutnya karena tidak berani mempertahankan cintanya.

Wanita itu meronta di gendongan Sergio, dengan kejamnya Sergio  menjatuhkan wanita itu tepat di depan pintu. 

“Bersikaplah sopan, Sergio!” Aku memarahi tingkah kasarnya.

          “Nanti kau akan menerima bayaranmu Bitch” bentak Segio kasar kemudian menutup pintu dengan membantingan keras. Kemudian dia kembali menarik Williams berdiri, ia memukul wajah Williams dengan keras. Dan siap dengan segala makian di mulut berbisanya.

          “Kau.. Apapun yang kau lakukan itu sekarang akan menjadi urusanmu sendiri. Aku tidak perduli lagi dengan keadaanmu yang hangover setiap hari dan menangis meraung-raung meneriaki gadis itu. Dasar pengecut!!” Maki Sergio keras dan memukul wajah Williams lagi.

          “Dan ini untuk adikku.”

      BUUUGH..

Sergio menjatuhkan kepalan tanganya dengan keras ke wajah Williams untuk ketiga kali.

 Hah.. Ternyata Williams tidak lebih dari seorang pengecut.

—–tbc–

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *