Chapter 22

This.. Claudia Jasmine Pov..

 Dulu pikiranku slalu bilang kutahu kau ada dimana dan dimana aku bisa menemukanmu.  tapi aku hanya diam, memendam prasaan gila ini.

Dulu selalu kukira aku kan siap dan cukup kuat untuk hanya memendamnya saja. Dan terkadang aku merasa hampir putus asa, memendam prasaan itu begitu sakit. 

Tapi kau muncul entah dari sudut yang mana, hanya melihatmu di kejahuan kau ubah seluruh duniaku lagi.Kau menghancurkan pertahananku lagi dan lagi. Kau selalu saja membuatku terjatuh dan menangis dalam diamku.

Kini kuberada di suatu tempat yang tak kutahu sebelumnya . Kini kutahu apa artinya ini, ini cinta. Ini bukan obsesiku.

Mungkin rambutku tak pirang sepertimu, Atau mungkin mataku tak sebiru langit seperti matamu.  Dan aku tak yakin apakah aku gadis impianmu tapi aku tidak perduli.   Kau tau kenapa.? karena ternyata kita ditakdirkan bersama.

Sungguh sulit dipercaya. Dan aku tak ingin kumelepaskanmu.  Kau sesuatu yang begitu indah yang terjadi di hidupku. Darahku Terus mengalir deras bak air terjun saat menyadari kini ternyata kau telah menjadi takdirku. I feel like you’ve always been. Forever a part of me Ben! 

 Kau bukan lagi aganku, kau bukan lagi mimpiku, Sulit dipercaya bahwa Kau telah jadi milikku sekarang. Kau suamiku, dan aku tidak peduli jika aku bukanlah gadis yang ada di mimpimu yang pasti kau akan selamanya jadi bagian diriku.

Masih sulit kupercaya, Akhirnya kujatuh cinta, Akhirnya kau bukan lagi mimpi yang mustahil untuk ku sentuh.

 Ya Tuhaaaan ini Sangat tulit di percaya, Di suatu tempat yang tak pernah kusangka, Kini aku dapat memelukmu, aku dapat mendengar degup jantungmu aku dapat mendengar hembusan nafasmu aku dapat menghiruf aroma tubuhmu  dan… kau memelukku.. secara nyata.. bukan lagi mimpi yang semu

Di hatiku, di benakku kini begitu jelas. Genggam tanganku, tak perlu takut lagi. Dulu kau sendirian kini aku akan menjadi malaikat penjagamu.  Kini besamamu aku hidup, aku jatuh cinta, kau melengkapiku

Saat kurenungkan apa yang telah kulakukan terhadapmu, Saat kurenungkan apa yang telah kumiliki saat ini.
Dan kesempatan yang hampir kulewatkan ini. Selalu saja tangisku pecah, aku tak ingin melepaskanmu.

        “Apa yang sedang kau pikirkan.?”  Suaranya begitu merdu terdengar di telingaku

         “Jasmine” Sedikit berat dan serak cendrung parau mungkin karena baru bangun.

         “Apa kau sedang memikirkanku?”aku mengerjap saat dia menjentikkan jari di keningku.

         “Ugh.. apa kau pikir aku anak kecil?” kataku cemberut mengusap keningku yang tidak sakit.

         “Kau melamun”  dia  tersenyum tipis. Haa manis sekali. Aku suka segala bentuk senyuman di wajahnya.

         “Aku tidak” jawabku mengelak.

         “Lalu apa yang kau lakukan dalam diammu yang memandangiku dengan pandangan seperti itu hem.?” Aku menggeleng pelan dan mengulum senyum,Jambang tipisnya ini begitu seksi.“Kau melakukannya lagi”

     Ughhhh aku benar benar merutuki kenapa membangunkannya! Lebih dia kembali memerankan  perannya “Sleeping Handsome” dan aku akan bebas melakukan aktifitasku memandanginya seperti tadi.

         “Lagi, Kau melakukannya Mine”

        Hahaha dasar cerewet, apa dia tidak tau aku sedang menikmati wajah tanpannya huh?

         “Apa kau masih merindukanku?” Sangat. Apa aku boleh mencium bibirmu?

         “Aku merindukanmu.” Ucapnya menatap kedalam mataku.

        Aaa dia membuatku melayang. Apa aku boleh menciumnya? Ah tidak. Seharusnya di pihak prialah yang tidak tahan untuk tidak menyentuh pasangannya jika saat seperti ini.

         “Jasmine katakan sesuatu” ucapnya geram, haha baiklah sepertinya waktuku memandanginya telah habis. sial

        Aku meringkuk lebih dekat dan memeluknya. “Mmm apa jika aku memelukmu seperti ini akan menyakitmu?” aku menarik diri sedikit karena takut menyakiti lukanya.

        Dia menggeleng tipis dan menarik memelukku lagi, Aku suka posisi berhadapan seperti ini. Dia memelukku, dan aku memeluknya.

         “Jasm…”
         “Aku merindukanmu” ucapku memotong ucapannya yang aku tau dia sudah geram menunggu suaraku agar         segera terdengar di telinganya. Tanpa aku melihatnya aku dapat merasakan dia tersenyum lebar, ditambah dia mencium kepalaku.

         “Tidurlah” ucapnya mengusap kepaku yang berada di dadanya. Aku tersenyum girang dan mencium         bahunya.

         “Ben”

         “Hemm” dehemnya pelan

        Kesunyiam kembali terdengar.. Detik jarumjam terdengar dengan jelas. Satu detik, dua detik, tiga.. empat. . . . . fix! Aku sangat bahagia didalam pelukannya! Aku bahagia!

         “Ben”

         “Ya, Jasmine” Tuhaaan.. aku kecanduan mendengar suaranya haha

          “Ben” tubuhnya bergetar karena tertawa kecil

         “Kau kenapa hm? Kenapa sedari tadi hanya memanggilku?”

     “Aku hanya ingin mendengar suaramu” ucapku menenggelamkan wajah maluku ke pelukannya.

         “Ck, kau ini. Kau telah melakukannya sedari tadi. Tidurlah ini sudah pukul tiga pagi Jasmine”

         “Baiklah, Maafkan aku” ucapku pura-pura cemberut.

         “Aku suka kau melakukannya. Tapi ada baiknya kita tidur, kau juga butuh istirahat Mine”

        Haha Aku yang sedari ingin mengigitmu karena geram! Dari mana dia mendapatkan kesabaran seperti itu? Setelah siang  tadi kami pulang dari rumah sakit.

        Dia menghambiskan waktu berjam-jam mendengarkan Nicole bercerita dengan ribuan ekspresi.

         Saat malam, ia meminum obat yang pasti membuat dirinya mengantuk, tapi selama lima jam aku mengganggunya tidak sedikitpun aku mendengar dia menghela nafas kesal ataupun malas. Aku menganggunya tidur karena dia sudah tega mengabaikanku dan asik berudaan dengan adiknya.

         “Jangan mencium tubuhku terus menerus atau aku menggigitmu” Haha dia belum tidur juga?

        Hatiku rasanya ingin meloncat keluar sangkin senangnya bisa tidur berdua seperti ini dengannya. Impian yang selama ini terlukis dengan indah di setiap mimpiku yang sangat semu.

        Hemm baiklah aku mencoba untuk jujur. Ini adalah emosi terdalam di hatiku yang paling dasar.

        Segala emosi, segala penolakan, segala ketidaksukaan,  segala benci, sedih  dan kesal langsung lenyap seketika saat aku mendengar namanya yang akan menjadi Suamiku. Serasa tidak percaya dan ingin terjun dari lantai sembilan hotel tempat James bekerja saat aku tau bahwa yang ingin  menikahiku adalah tuan Russel Heard Benedict-lah orangnya.

        Pria yang selama ini selalu ada tempat di hatiku dari masa kecil, pria yang membuat aku jatuh cinta dan juga pria yang menghilang dari kehidupanku tanpa jejak sedikitpun. Pria yang membuat aku terpuruk dan mengurung diri selama satu minggu di kamar karena tidak dapat melihatnya di sudut manapun.

        Pria yang membuat aku frustasi dan benci. Karena meski telah dewasa, aku masih memiliki prasaan terhadap seorang yang hanya dapat memandangnya  dari kejahuan tanpa bisa mendekat bahkan menyentuhnya.

        Hanya demi prasaan benci yang telah melebur menjadi obsesi  aku menerima pinangannya dengan seketika. Membuat kakek terkejut luar biasa karena tidak menemukan egoku yang biasannya bertengker begitu besar di hidupku.

        Dengan bodohnya aku mempertaruhkan hidupku hanya demi obsesi tolol ingin merasakan bagian darinya, yah meski hanya status. Hanya orang bodoh yang mampu mencintai tanpa batas waktu kadar luarsa.Hanya orang naif yang masih saja menaruh harapan.

Mendengar Namanya, alam bawah sadarku  dengan lancang mempengaruhi seluruh tubuh dan pikiranku untuk bersedia terikat dengannya. Aku ingin membuat pria ini frustasi dan bertekuk lutut dengan tubuhku yang digilai banyak pria.

        Tidak, awalnya memang hanya sebuah obsesi hasil dari leburan rasa benci karena tidak dapat menyentuhnya. Namun kini berbeda. Ternyata aku sama seperti apa yang dikatakan teman-temanku.

         Dia terlihat memang seperti pria misterius dan amat sangat dingin dikarenakan mulutnya sangat jarang berbicara namun terdengar tegas dan tajam, tapi apabila ada orang yang berani untuk menyapanya, maka dalam hitungan detik orang itu akan tunduk dan terpesona karena karismanya dan kesopananya. Di jaman seperti ini mana ada pria sosialita yang sangat sopan bahkan ke para perkerja rendahan sekalipun.

        Setelah mengenalnya lebih dekat, didiriku yang hanya dipenuh dengan kekuasaan dan keangkuhan, dengan kesederhanaanya ia mampu mengetuk pintu hati kecilku yang masih menyimpan dengan sangat rapih prasaan yang dimiliki Claudia Jasmine kecil, prasaan  suci nan putih yang tersimpan dengan apik di relung hatiku paling dasar.

        Lagi, dia membuatku jatuh bertekuk lutut, menghancurkan benteng yang telah aku susun demikian tinggi untuk pembatas prasaan cintaku dan benci. Dia melulu lantakkan hatiku yang telah bertekat untuk melupakannya.

        Dia membuat aku kembali menjadi Claudia Jasmine  yang naiif.  Kini aku tidak peduli,Selama aku hidup Aku kan kembali menunggunya, Selama aku bernapas aku akan berusaha untuk layak untuk dicintai olehnya, aku tidak ingin hanya sementara di hidupnya.

        Pria ini benar luar biasa, dia sangat berbeda. Dia begitu sopan dan tau cara memperlakukan wanita. Meski tubuhnya tanpa cologne ataupun parfum, dia memiliki wangi khas tubuhnya. Dia terlalu  bersih dan wangi untuk seorang pria.

        Tapi dari pengalamanku, aku tau dia bukan gay. Seratus persen teman-teman models’ku yang pria adalah pecinta sejenis, baik dari fisik ataupun psikis seorang homo aku dapat mengenalnya dengan baik.  Aku sangat yakin suamiku ini bukan seorang gay tapi kenapa sedari tadi dia sangat tenang dan tidak nakal untuk menyentuhku secara berlebihan? Bahkan disaat seluruh pria selalu menjadikanku sebagai objek fantasi seks mereka.

        Jika aku berdua dengan Peter seperti ini, kurang dari tiga menit tangannya sudah menggerayangiku. Itu wajar, karena pria memang selalu mimikirkan tentang seks. Tapi kenapa pria ini berbeda? Apa aku sangat tidak menarik gairahnya untuk di sentuh huh? Ugh!

Tapi sukurlah setidaknya hanya kali ini, dan karena ini adalah impianku, emm atau juga impian seluruh wanita yang sulit untuk tercapai.

         Kerap sekali wanita hanya ingin berduaan saja dengan kekasihnya, saling berpelukan di ranjang dengan intens  tanpa ada nafsu  si pria yang akan merusak keadaan. Dan tentunya juga  tanpa terbawa nafsu karena ulah si pria yang terus nakal.

         Pria ini sangat berbeda dengan pria kebanyakan. Dia bukan type pria yang memiliki pikiran hanya seputaran selengkangan wanita. Aaaa I Love You Ben!!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *