Chapter 21

In Love
Benedict POV

————-

-Russel Heard Benedic Pov-  

        Setelah selesai membaca semua berkas dengan teliti dan menanda tanganinya aku  kembali memfokuskan diriku ke Jasmine.  Dia seperti bosan menungguku,  ia  menompang dagunya dengan satu tangan. Tangan lainnya memainkan iPhonenya.

      Baru aku sadari dia mengenakan Denim Jeans berwarna biru pucat lembut dan White blouse yang tipis menampakkan bra hitam di tubuhnya  dan memakai high heels shoes. Penampilan yang simpel namun sangat cantik dan seksi, tidak heran dia memiliki banyak penghargaan sebagai pengakuan bahwa ia adalah seorang Supermodel.

      Dan yang membuat aku terpenosa adalah karena baru pertama kali aku melihatnya mengikat  rambutnya kembali. Aku Merasa dejavu saat mengingat dengan jelas gadis itu waktu kecil pernah mendatangiku  yang tengah duduk di bangku bawah pohon membaca buku seorang diri.

       **Jasmine kecil duduk di sampingku dengan tubuh penuh keringat memakai seragam cheerleaders. Dia selalu muncul begitu saja dari salah satu hariku  yang sepi. Tanpa banyak bicara dia membuat aku  menikmati kesunyian yang ada

      Dia tidak memperdulikanku yang sesekali meliriknya.  Dia suka bersenandung kecil. Mataku terus meliriknya, dia menunduk dan mengambil sebuah ranting di tanah kemudian dengan terlihat angun dia menggulung rambutnya dengan ranting kering tersebut. Hanya dengan aksesoris ranting pohon yang mengering gadis itu mampu membuat  aku terpesona.

       Dia sangat cantik. Bukan karena aku mencintainya yang mambuat aku mengatakannya sangat cantik. Tapi dia memang sangat cantik seperti bidadari di cerita dongeng. Dia memiliki senyum yang sangat manis. Matanya yang cantik dan suaranya yang merdu di telinga.

        Saat pertama kali secara resmi menjadi model, dia selalu menjadi sorotan media, tapi tidak ada satupun yang berhasil melliputnya secara esklusif. Aneh memang, obsesinya ingin menjadi model namun dia seperti membatasi karirnya.

        Aku sangat ingat jelas saat pertama kali aku membawanya kerumahku. Seluruh pelayan menatapnya dengan tatapan yang sama saat semua tamu rekan bisnisku melihatnya di pernikahan kami. Aku merasa Tuhan tidak adil memberikan kesempurnaan itu kepada seorang manusia.

      Aku menyukainya bukan karena dia gadis populer, bukan karena fisiknya yang sempurna namun karena dia adalah hal terindah yang di kembalikan Tuhan kedalam hidupku. Dia mengembalikan senyumku saat aku mengira  hidupku sangat hampa tanpa diinginkan oleh seorang-pun. Aku tidak tau entah datang dari mana dia selalu tau saat aku benar-benar kesepian.

        Kini prasaan yang sama menderaku. Aku seperti jatuh cinta lagi melihatnya. Dia mengikat rambutnya, kera bajunya yang terbuka sedikit lebar menjadi memperlihatkan lehernya yang jenjang dan mulus. Mataku tidak bisa  lepas menatap lehernya yang putih, dia Seperti menggodaku untuk menyicipi rasanya.

        Poninya yang  panjang di selipkannya di balik telinganya dan sedikit anak rambut terurai menambah daya tariknya. Aku masih sangat merindukannya saat ini.  Rindu menatap  Bola mata hitamnya yang selalu menatapku dengan intens.

       Warna bola mata yang sangat jarang dimiliki banyak orang. Bola mata hitamnya menunjukkan kepribadiannya yang kuat. Dibalik kehitaman bola matanya, tersimpan kehangatan jiwa yang luar biasa. Bahkan dia bisa mencintai atau membenci secara hangat.

        Pada umumnya orang-orang bermata hitam ini juga merupakan pribadi yang kompetitif, mereka berusaha menunjukkan “aku bisa lebih baik dari dia”. Orang-orang dengan bola mata hitam tidak mudah mempercayai orang lain dan tidak mudah untuk jatuh cinta.

           Akan tetapi, ketika dia memercayai atau mencintai seseorang dia akan sangat loyal pada orang tersebut. Yah itulah deskripsi orang yang memiliki bola mata berwarna hitam yang aku ketahui. Sangat mewakili kepribadiannya.

       Jika bersamanya aku merasa otakku tidak dapat berjalan dengan normal. Mendengar semua apa yang ia ucapkan aku merasa tubuhku bukan lagi milikku, tapi miliknya. Dia selalu berhasil mengontrol tubuhku untuk mengikuti perintahnya.

       Dia slalu sukses membuat jantungku berdebar-debar. Kebutuhanku akan dirinya, bukan sesuatu yang baru lagi bagiku. Bibirnya yang penuh dan ranum selalu membuatku kecanduan untuk menciumnya dan bahkan aku tidak ingin berhenti menciumnya. Apa dia  mengetahui betapa  istimewanya dirinya?  Aku masih tak percaya bahwa dia adalah istriku saat ini.

         Namun kenapa wajahnya tanpak murung? “Mine ..” Belum sempat aku  bertanya  dia mengangkat tangannya dan mengucapkan kata tunggu tanpa suara, kemudian dia menjauh mengangkat hanponenya yang berdering.

      Apa dia mengangkat tlpone pria itu.  Aku mencoba mengatur nafasku yang tiba-tiba terasa sesak. Dia berjalan menjahuiku dengan ponsel di telinganya. Apa dia masih memiliki hubungan dengan pria itu?  Dia kini terlihat cemberut berbicara di telpon itu.

       aku menyentuh dadaku yang terasa kembali nyeri saat melihat gadisku menendang-nendang pohon dengan cemberut seperti itu. Bayangan bahwa benar pria itu yang sedang membuat dia tampak lucu karena cemberut membuat hatiku terasa sangat sakit. Aku  tidak suka melihatnya cemberut karena pria lain.

         Aku kembali teringat akan perkataanya  yang mengatakan ia tidak membutuhkan harta. Segala ucapanya yang membuat aku tidak percaya. Dia mengajakku untuk tinggal di apartemennya. Haha aku masih tidak bisa menahan senyum dengan usulnya itu. apa maksudnya jika aku meninggalkan rumah ayahku saat ini maka aku kan menjadi pria miskin?  Hem aku jadi penasaran.. bagaimana rasanya hidup di biayain oleh gadis yang aku cintai? Haha bodoh dimana letak harga diriku jika itu terjadi

         Aku masih tidak percaya kenapa dia masih mengira aku hanya bertahan dirumah itu karena harta. Apa dia tidak mengenalku? Dia yang menyuruhku untuk menjadi pria cerdas dan kaya raya. Meski hanya ada di hayalanku saja  namun aku tetap terobsesi menjadi pria sukses dan akan menikahinya. Aku menjadi pria yang penuh obsesi untuk suskes. Terbukti pada tugas pertama di semester awal kuliah bisnis, aku membangun bisnis eskrim yang melipat gandakan modal yang di berikan oleh kampusku.

        Hingga sampai tugas di semester akhir, tugas bisnis yang aku dirikan menjadi bisnis yang kuat, tidak layaknya tugas anak mahasiswa. Bisnis-bisnis itu masih berjalan dan sangat berkembang di kelolah oleh universitasku. Setelah lulus, teman-teman kuliahku sibuk memperkembang bisnis keluarga mereka yang memang sudah sukses.

       Sedangkan aku, aku bermain saham dengan modal yang ku kumpulkan dari bisnis-bisnis tugas kuliahku yang telah memperkerjakan ribuan orang. Dan Berbeda dengan kakekku yang memilih membangun gedung di antara gedung pencakar langit di dubai. Aku seperti bermain judi, aku menghabiskan semua uangku untuk investasi, mendirikan gedung pencakar langit pertama  di negara yang bisa di katakan miskin.

       Ternyata aku menang dalam ‘judi’ itu, hingga aku kembali mendirikan mall besar dan gedung-gedung apartemen pencakar langit di banyak negara negara berkembang. Industri yang bergerak di sektor investasi, memang sebagai industri yang paling banyak menghasilkan miliarder dunia

       Setelah semua yang aku capai aku masih berniat untuk menikahinya, seperti apa yang di katakan dulu. Dan ternyata benar, aku tidak heran dia dengan cepat menyetujui pernikahan ini. Namun dia sangat berbeda dengan Jasmine kecil yang menginginkan pria kaya menjadi suaminya kelak.

       Meski terkadang Angkuh dan sombong namun Jasmine yang sekarang tidak lagi seperti Jasmine kecil yang dulu. Dia tidak selayaknya teman-teman seprofesinya yang sangat mengagumkan kekuasaan dan harta. Di hidupnya yang glamaor dia terlihat sederhana karena tidak pernah memikirkan materi.

Apa pria itu yang mengubahnya? Lalu apa yang membuat dia menyetujui pernikahan ini dengan cepat saat itu?

         Aku  membuang tatapanku darinya saat dia juga menoleh ke arahku. Setelah beberapa menit gadis itu mendekat dan duduk di sampingku lagi. Dia menatapku dengan senyuman manisnya namun wajahnya masih  terlihat murung, ia seperti stres memikirkan sesuatu.

        “Ada apa?” Tanyaku lembut menyentuh punggungnya.  Namun dia hanya diam menggelengkan kepalanya. Apa dia type orang yang menyimpan masalahnya sendiri? Apa yang membuat dia begitu murung? Kenapa dia berbeda saat ini?

       Dia seperti mencari kata yang ingin dia ucapkan. Namun lagi lagi dia mundur untuk mengatakannya.

         “Ben” panggilnya pelan terdengar ragu.

         “Hem?”

         “Emm.. Tidak”  ucapnya memutar-mutar iPhonenya terlihat gelisah.

         “Ada apa?”

         “Apa ada gadis yang sedang kau…. em Ben..” panggilnya lagi terdengar seperti heran. “Ben!” panggilnya lagi

         “ Ya?”

         “Apa kau tidak menyukai penampilanku?”tanyanya heran, dia membuyarkan lamunanku yang menatap lehernya sedari tadi. Ah sial, aku memalingkan pandanganku dari tubuhnya. Ha. fokus Ben fokus.!

         “Em.. aku mengikatnya karena tidak memiliki waktu untuk berlama-lama mencucinya tadi. kau tidak menyukainya?”tanyanya terdengar takut. Apa yang membuat suaranya terdengar seperti itu?

         “Aku menyukainya” jawabku singkat. Rambutnya tergerai ataupun tidak daya tariknya tetap sama. Dia terihat tidak bisa menahan senyumnya. Dia sangat cantik, senyuman itu aku suka.

        Dia menoleh kearahku lagi dengan kening sedikit berkerut, ada apa lagi?

         “Jangan menatapku seperti itu” ucapan singkatnya kembali membuat aku tersadar seperti pencuri kecil yang ketahuan mencuri di tokoh buah. Sialan! ya Tuhan aku harus merendam kepalaku agar kembali dingin.

        Dia mendekat ketubuhku, menarik tanganku dan menautkan jari-jarinya di jemariku. Senyumnya saat melihat aktifitas kecil itu membuat hatiku kembali seperti tersengat arus listrik kecil, perasan yang sama seperti saat dia mencium keningku tadi.

        Kini dia hanya diam termenung menatap tangan kami yang saling bergenggaman. Aku mengelus tangannya dengan ibu jariku mencoba membangunkannya dari termenung. Dia kembali tersadar dan tertawa malu. Apa sekarang dia yang sedang menjadi pencuri kecil saat ini?

         “Sekarang ceritakan padaku seperti apa sekertaris yang kau perkerjakan selama ini. Apa dia cantik?”tanyanya dengan senyum masih mengembang.

         “Kata Willy seperti itu, dia sangat cantik” jawabku jujur. Senyumnya sedikit memudar. Matanya menyipit curiga

         “Kau segan untuk mengakui kecantikanya di hadapanku huh? Dia pasti seksi seperti barbie” tanyanya. Bukan bukan, itu bukan pertanyaan lebih tepatnya sebuah pernyataan

         “Tidak, Mine. Apa Menurutmu pekerjaku yang berjas hitam tadi terlihat cantik? Robbie memang memiliki bulu mata yang panjang dan sangat lentik namun aku geli jika aku mengatakan dia cantik.” Jawabku datar namun membuat Jasmine tertawa.  “Justru aku kasihan jika Willy terus menggodanya dengan mengatakan Robbie cantik dan imut. Harga dirinya pasti jatuh”

         “Haha ya Tuhan, aku mengira kau memperkerjakan wanita seksi seperti banyak teman-temanku” ucapnya masih tertawa

         “Pernah beberapa kali, namun mereka sungguh menganggu.”

Sekertaris tidak harus wanita justru banyak dari wanita itu tidak memiliki otak yang cerdas. Mereka hanya memamerkan tubuh mereka baik denganku ataupun clientku. Dan banyak CEO menjadikan sekertarisnya hanya tempat penyalur seks mereka kapanpun dan dimanapun. Seperti si playboy Williams dan Nathan sahabat sahabatku

         “Kau memang sulit di tebak. Boleh aku meminta nomor Robbie?”

         “Untuk apa?” tanyaku heran. Bahkan aku yakin dia tidak mengetahui nomorku tapi meminta nomor asistenku

         “Agar aku tidak kehilangan Tuan Russel Heard Benedict lagi” ucapnya mengulum senyum.

         “Nomorku?” tanyaku tanpa sadar. Ah sial semoga dia tidak menyadari nada suaraku yang aneh. Nomorku tidak di minta?

         “Mana ponselmu?” tanyanya menggigit bibir bawahnya masih menahan senyum.  Apa gadis ini sedang menggodaku huh? Apa yang membuatnya mengigit bibir seperti itu? Aku ingin melumat bibir itu. Ah Tunggu, apa suaraku yang nyaris terdengar manja yang membuat dia beraksi seperti itu? sialan suara itu di luar kontrol otakku!

         “Ponselmu tuan Rusel” ucapnya lagi membuyarkan lamunanku yang tidak lepas menatap bibir itu. ah Ya dimana ponselku? Sudah lama kau tidak menyentuh ponselku

         “Aku tidak tau dimana” jawabku akhirnya.

         “Haha Ponselmu sudah tidak ada tuan muda. Maka dari itu cepat masukkan nomor Robbie di sini” ucapnya memberi iPhonenya. Aku mengambil ponsel dengan tangan kanan karena tangan kiriku yang masih di genggam dan di taruh di panggkuannya

        Aku tersenyum tipis saat melihat foto dimana dia mencium keningku saat tidur menjadi wallpaper di lock screen iPhonenya. Dari ujung mataku aku dapat melihat dia masih tersenyum menatapku. Hemm.. apa ini triknya ingin melihat reaksiku melihat foto itu? jelas-jelas screen ini masi terkunci dan sudah pasti aku tidak mengetahui sandinya

         “Masih terkunci” ucapku menunjuk iPhonenya. Dia jauh mendekat dengan menarik dan memeluk lenganku dengan tangannya yang lain. Menumpukan dagunya di bahuku.

         “The day” bisiknya sensual. 

Meski sedikit ragu namun aku tetap memasukkan digit angka hari pernikahan kami. Dan. . . . Terbuka.  aku tidak bisa menutupi rasa gembiraku dengan perlakuan manisnya hari ini

Yeah sekali lagi dari ujung mataku aku tau dia memeriksa reaksiku atas kejutannya ini. Membuat aku tidak bisa menahan senyum dan ingin menggigit pipinya.    Dasar

————–

.

.

        Awkward momen. Itulah yang terjadi saat ini di kamar rawatku malam ini. Jasmine mengupas buah apel dengan menahan senyum tidak memperdulikan sikap teman-temannya yang canggung. Aku merasa mengenal tiga di antara mereka.

         Seingatku nama mereka Miley Luda Naya dan satu lagi dia tidak mengenalnya. Namun sangat familiar. Aku merasa mereka seperti tidak menyukaiku. Karena jika aku mencoba mengajak mereka mengobrol mereka hanya menjawab sesingkat mungkin dan jika tatapan mereka bertemu dengan mataku mereka langsung menoleh ke arah lain dengan kaku. Aku menjadi mereasa bersalah karena membuat mereka tidak nyaman.

         Setelah Jasmine selesai mengupas buah apel dia naik ke ranjang dan dengan cuek dia Mengecup pipiku dan mengusap-usap jambang tipisku. Jambang yang beberapa hari ini tidak tercukur.

        Aku suka perlakuannya ini, menimbulkan sesasi yang sama saat dia menciumku setelah dia memeriksa ekspresiku melihat isi Iphonenya tadi pagi. Namun aku merasa tidak nyaman semua teman-temannya memandang kami dengan pandangan yang tidak aku mengerti.

        Setelah menciumi pipiku dua kali di tempat yang sama dia kembali menumpukan berat tubuhnya ke tubhku dan dengan cueknya memakan potongan apel sambil menonton Tv. Hei Bukannya dia mengupaskannya untukku?

….

…….

        Seorang pria masuk kekamarku tanpa mengetuk membuat semua mata tertuju kepadanya, kebiasaan Williams sahabatku yang ada di daftar urutan pertama pria playboy di majalah wanita. Dan karena dia adalah pewaris kekayaan ayahnya yang merilis berbagai macam produk mahal mulai dari wines & mobil, fashion, parfum, kosmetik, jam dan perhiasan.

        Sebenarnya ada lagi shabatku bernama Nathaniel dan Raymond dia sama seperti Williams namun ia telah jatuh cinta dengan gadis sederhana dan kini dia sedang bahagia bersama anak pertamanya yang sangat lucu. Aku sangat berharap Williams nantinya akan berhenti mempermainkan banyak gadis lagi. Dan ada Sergio.

        Sergio adalah anak tunggal dari  Liam sande. Liam sande adalah mafia yang di takuti banyak kalangan, bahkan banyak para parlemen takut akan kekuasaanya. Semua bisnisnya sukses  meski semua bisnis gelap yang sangat berjaya di Jepang dan cina dan semua bisnis judi di Las Vegas adalah bisnis ayahnya. Namun kehidupan Sergio sangat kelam.

        Dia sama sepertiku yang kerap merasa di campakkan dan sendirian. Meski ayahnya telah berubah lebih memperhatikannya saat tau dia mengidap Disleksia tapi dia tetap menjadi pribadi yang pemurung dan mengerikan. Namun di balik sikap mengerikannya dia tetap seperti anak kecil di antara kami.

        Tidak ada yang berani menentang perintahnya. Dia tidak pernah tunduk ataupun takut terhadap apapun. Lebih tepatnya dia sangat suka memancing keributan tapi  selalu gagal mencari siapa yang berani menentangnya.

         “Wow.. kau sedang di kelilingi gadis-gadis cantik rupanya” ucap Williams membuyarkan lamunanku, ia terkekeh dan memilih duduk di dekat Miley dan tertawa geli melihat  Miley menghindarinya

         “Kau tidak datang bersama Sergio lagi?” tanyaku mencari tanda kehadiran sahabatku satu itu. Willy seperti menahan senyum menunjuk ke arah pintu dengan dagunya. Tiba-tiba pintu kembali terbuka, aku yakini itu Sergio namun kenapa dia tanpak ragu-ragu untuk masuk? Keningku langsung berkerut menyatu menatap heran dengan penampilan barunya.

         “Kenapa rambutmu?” tanyaku heran pada Sergio yang kini membabat habis rambutnya hingga plontos. Tiba-tiba tawa Williams meledak tertawa terbahak bahak  memegang perutnya

         “Hei ada apa?” tanyaku heran saat Jasmine menutup mulutnya dengan punggung tangannya tertawa tertahan melihat Sergio yang menunduk dan mengusap kepalanya.

         “Apa yang membuat kau mencukur habis kepalamu Gie?”

         “Hahahahahaha. Aduh haha astaga” Jasmine melingkari tangannya memeluk tubuhku dan terus tertawa menghadap belakangku. Apa ada yang terlewati olehku?

         “Andai kau tau apa yang terjadi Ben” ucap Williams masih tertawa meski Sergio memberikan tatapan mematikannya.

         “Aku .. tidak. Ah. A-Aku hanya ingin merubah penampilanku saja” ucap Sergio bersikap tenang namun tidak berhasil sama sekali

         “Hahaha ya. Membuang sial lebih tepatnya haha oh gods this is killing me. Aku tidak bisa berhenti tertawa sedari tadi” ucap Williams tertawa keras.

         “Shut up!!” bentak Sergio marah, seperti juga membentak ketiga teman Jasmine yang ikut menahan senyumnya

          “Kau benar, Kau terlihat imut jika memangkas rambutmu seperti itu” ucapku mengingat pernah yang ia ucapkan

          “Bhahahaha astaga haha aku tidak percaya dia sefrustasi itu” ucap  Jasmine tidak jelas, memukul-mukul tubuhku pelan dan tertawa keras sama seperti Williams

          “Apa ada hubungannya denganmu?” tanyaku ke Jasmine, dia menggeleng dalam tawanya dan di ujung mataku aku melihat Sergio juga menggeleng panik

         Dia terlihat bersih dan tanpak tambah tampan jika berkepala plontos seperti itu tapi kenapa dia tidak suka dengan penampilannya?

          Jasmine berusaha untuk menghentikan tawanya dan kembali menyandarkan punggungya di tubuhku. Namun dapat aku rasakan punggungya kembali bergetar tertawa saat melihat Sergio,dia mengatupkan bibirnya menahan agar suara tawanya tidak terdengar.

          “Ah Sudah!! Aku pulang saja!!” Bentak sergio kesal

          “Hahahaha hei kau mau kemana?”

          “Hahahaha aku tidak kuat karenanya ” ucap Jasmine melepas tertawa keras.

———–  -to be continued. See you guys.

Love Ya!!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *