Chapter 20

In love
Jasmine POV

—Scane Jasmine pulang dan bertemu  Niky yang bermesraan dengan Luke adenya Jasmine

 dan Luke yang naksir Catrine aku potong aja yaa… biar ke intinya saja hehe..meski aku potong alur cerita gak ada yang hilang ko

-Claudia Jasmine pov-

    Aku memarkirkan mobilku tepat di parkiran rumah sakit tempat mobilku terparkir tadi malam di. AKu keluar dari mobilku dan berjalan dengan lesu, pikiran dan hatiku berkecamuk. aku kesal karena masalah yang aku hadapi dirumah.

        Pertama, mengetahui fakta Catrine yang bermain-main dengan adikku Luke membuat tubuhku terasa terakar emosi. Bagaimana bisa seorang Catrine yang sangat aku kenal begitu tega mempermainkan Jems bersamaan dengan Luke, bahkan wanita dingin itu hendak menghancurkan pria yang aku cintai.

          Dulu karenanya aku hanya bisa memandangi pria itu dari jauh, kini dia juga ingin menghalangi jalanku lagi!  Kedua, aku  tidak berhasil membawa Nicole karena Nicole sedang terkena demam karena terus menangis semalaman. Seingatku dokter Karina mengatakan agar Benedict jangan terkena flu atau demam. Jadi meski berhasil membawa Nicole dari ibu mertuaku, aku masih tidak bisa membawa gadis kecil itu menemui kakaknya. Benedict tidak boleh tertular flu adiknya.

         Ketiga aku tadi membuat keributan di dapur rumah itu karena tidak berhasil membuat satupun masakan untuk aku bawa ke rumah sakit dan para pelayan itu menjadi menertawakkan kelakuanku dengan geli.  Ke empat hatiku juga gundah terus  memikirkan apa yang ada di hati pria itu. Siapa yang ada di hatinya? Ada berapa gadis di sekitarnya saat ini?

       Belum sempat kakiku memasuki gedung rumah sakit aku melihat Benedict duduk di kursi taman dengan di temani dua orang berjas hitam berdiri di belakangnya. Prasaanku  kambali membaik hanya melihat pria itu dari jarak yang cukup jauh ini. Lambat laun bibirku terseyum melihat si pemilik hati ini. 

Langkahku terhenti  saat  melihat pria yang aku cintai tengah diam seperti sedang berfikir.  Mata pria itu menatap kosong pada hamparan rumput. Kemudian dia menengadahkan kepalanya ke langit.  Mata pria itu tertutup seperti meresapi  setiap  hangatnya cahaya matahari yang menyinarinya wajahnya. Jantungku terasa kembali berdebar hanya melihat wajah yang sangat tenang itu. Bagaimana mungkin ada  seorang pria terlihat sangat indah seperti dia? Dia slalu sukses membuat aku mematung hanya menatapnya.

      Sebenarnya Benedict bukanlah type pria idamanku, aku sangat suka type pria seperti Peter, hidup bebas tanpa memikirkan pandangan orang lain terhadapnya. Di saat banyak orang sukses dalam artian begelimangan harta mencibir jurusan seni musik yang di anggap mereka jurusan sampah namun Peter sangat bahagia hidup hanya dengan musiknya.

      Orangtuanya yang masih dalam tahan golongan menegah tetapi Peter tidak pernah membanggakan hartanya. Aku sangat menyukai Peter saat dia mendekatiku dengan ribuan rayuan manis. Dia benar-benar mewujudkan mimpiku yang ingin hidup secara sederhana. Itulah yang membuat aku tertarik kepadanya.

         Karena aku bosan hidup sebagai seorang putri yang selalu mendapat  perlakuan khusus. Aku merasa semua yang di berikan kakekku tidak lagi terlihat istimewa saat aku tau ternyata orang tuaku tidak saling mencintai satu sama lain. Aku tidak mengerti apa itu cinta, yang aku tau aku memiliki banyak pelayan yang menjadi orang tetap yang selalu ada di rumah. Aku hanya tau apapun keinginanku pasti akan selalu terpenuhi dalam segala cara. 

        Peter memiliki style berpakaian layaknya seorang Dj. Kadang brantakan terkadang rapi. Kaus oblong hitam yang kerap bertuliskan kalimat sakartis dan jeans yang berbulan-bulan tidak di cuci. Anting anting hitam di kedua telinganya. Tatto tattonya keren di beberapa tubuhnya. Tentunya tatto namaku di kiri tubuhnya

         Alisnya yang hitam tebal dan yang paling aku suka jika dia tertawa sudut matanya akan berkerut. Dia sangat kontraks denganku yang slalu memperhatikan penampilanku. Namuan aku menyukainya. Dia sangat keren, dan sangat populer dan masuk dalam daftar pria idaman para model, meski di daftar urutan terbawah. Dia hidup dengan semaunya tanpa memikirkan apa yang akan terjadi di kehidupannya yang akan datang.

         Sangat Berbeda dengan Benedict. Pria yang slalu berpakaian rapih. Semua pakaiannya di ukur sesuai bentuk tubuhnya oleh disainer terbaik. Jenis kain yang mahal, bahkan orang awampun dapat langsung mengenali itu kain terbaik diciptakan.

         Gaya rambutnya yang terkenal dengan style  rambut pria yang  tren mode masa kini namun selalu tersisir rapih.  Sebenarnya aku tidak menyukai pria seperti dia, pria tampan dan kaya. Pria yang akan menempati urutan pertama dari daftar incaran gadis-gadis cantik. Aku tidak suka pria yang selalu terlihat sempurna.

       Namun sikapnya yang selalu tenang dan bibirnya yang selalu mengucapkan sedikit kalimat tidak pernah berubah dari kecil. Dia sekarang dan dia yang dulu tetap sama, pria yang dingin, sangat jarang berbicara. Dia seperti memiliki dunianya sendiri di alam bawah sadarnya. Dia teman sekolahku. Ah Sebenarnya dia dua tahun di atasku.

        Saat pertama kali melihatnya aku mengira dia sangat berbeda. Dia pendiam dan penyendiri. Aku rasa tidak ada satupun yang ingin berteman denganya. Namun meski dia kutu buku, dia seperti memiliki magnet untuk menarik mataku agar terus meliriknya.

      Dan rasa penasaranku bertambah saat justru putri dari Raja Bangsawan alias pewaris utama kekerajaan putri Victoria selalu mengikutinya kemanapun dia pergi. Jadi sebenarnya pria itu tidak ada yang ingin berteman dengannya atau dia yang anti sosial? Atau dia hanya ingin berteman dengan bangsawan?

       Kini baru aku tau. Dia dan keempat sahabat-sahabatnya adalah orang yang sangat di segani dan di hormati layaknya ‘orang tua’.  Dari banyak club-club pria tampan dan playboy yang aku ketahui, semua mereka tidak mau bahkan tidak bisa untuk bergabung dalam kelompok lima orang itu.

       Antara segan dan tidak percaya diri untuk berdiri bersama mereka padahal sama-sama menjadi CEO di prusahaan mereka. Di kalangan sosialita mereka terkenal dengan pesonanya masing-masing. Jika mereka menghadiri Party private untuk kalangan sosialita mereka akan meperlihatkan masih adanya perbedaan kasta

         Ya tentu saja mereka sebagai raja yang memiliki tahtah dan club-club pria tampan dan playboy lainnya seperti budak. Tidak berani untuk sekedar bergabung ke kelompok mereka. Padahal teman-teman Benedict kelakuannya tetaplah sama. Pria brengsek, maniak seks, dan playboy menjijikan bagiku.

        Kini harus aku akui. Bahkan saat kami  dewasapun aku tetap meliriknya secara diam-diam jika bertemu di acara-acara partty yang kami hadiri bersama. Dia yang telah tumbuh menjadi pria dewasa yang tetap pendiam dan kaku namun penuh kekuasaan.

          Meski dia bukan typeku namun dari pertama kali melihatnya waktu kecil aku sudah sangat menyukainya. Hati dan mataku selalu tertaut ke arahnya. Hanya sekali menyentuh telapak tanganya membuat seorang Claudia Jasmine kecil selalu bermimpi akan hidup berdua denganya di rumah kecil yang sederhana. Hidup jauh dari kemewahan yang aku miliki saat itu. Aku slalu tersenyum mengingat keluguan pikiranku saat itu. 

       hingga kini daya tarik magnet yang tidak terlihat itu masih memiliki daya yang sangat kuat. Ah apa dia mengingatku? Apa dia mengingat aku si ratu Bully di sekolahnya dulu? Apa dia juga pernah memimpikan masa depan bersamaku? Haaa. . . Aku menutup mataku untuk membuat otakku dapat kembali berjalan dengan normal. Aku seperti gadis yang mikiliki gangguan jiwa karena masih terobsesi pria yang aku cintai semasa kecilku

……………

……

           Benedict membuka matanya saat merasa seseorang menghalangi cahaya matahari untuk menyentuh wajahnya. Ia membuka kedua matanya perlahan dan tersenyum saat matanya bertemu dengan mataku yang sedang membungkuk tepat di atas wajahnya. Aku ikut tersenyum tipis dan mengecup keningnya dengan lembut. Saat dia menutup matanya lagi saat itu aku kembali merasa getaran dihatiku. Dia menerima ciumanku

        “Kenapa kau ada di sini?” Tanyaku pelan setelah melepas ciumanku.

        “Berjemur” jawabnya singkat, selalu singkat

          “Dan mereka siapa?” Tanyaku ke dua pria yang berjas formal. Aku tau itu bukan dari pengawalnya. Benedict mengikuti arah pandanganku  yang telah duduk di sampingnya dan sedikit terkejut menatap dua orang itu

          “Maaf tuan, kami melihat tuan tampak menikmati panasnya cahaya matahari yang menyinari tuan jadi kami memutuskan untuk menunggu tuan” Jawab salah satu pria.

         “Ah. Maaf membuatmu menunggu Robbie. Mana berkasnya” Ucap Benedict merasa bersalah dan meminta berkas pekerjaan yang harus ia tanda tangani.

       Aku menompangkan dagu dengan tangan yang bertumpu di kakiku yang berlipat. Aku tersenyum menatap  suamiku tengah serius membaca berkas-berkas itu. Pria itu sudah sangat sehat, tidak lagi ada selang infus di lengannya, tidak lagi terihat pucat.

—–

One thought on “Chapter 20

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *