Chapter 19

Sergio Sande

Note : yang di multimedia itu Sergio plus hairstyle’nya 

—————

“Bye Jasmine” ucap Sergio tersenyum licik melambaikan tanganya ke mobil Jasmine yang menjauh. Williams dan kedua pengawal Sergio mendekati Sergio yang sedang tersenyum-senyum sendiri.

       “Apa yang kau katakan hingga dia menangis seperti itu.?” tanya Williams  heran.

      “Memberinya pelajaran sedikit” ucap Sergio menyeringai. Williams mengikuti arah pandangan Sergio yang terus menatap mobil Nissan mewah Jasmine.

        “Ah Sudalah, ayo aku sangat ingin menemui Benedict saat ini. bagaimana dengan si cupu Damien? jika bertemu dengannya akan kupatahkan kakinya” ucap Williams kesal.

.

.

       Tiba-tiba langkah mereka terhenti saat mendengar suara decit ban mobil yang mengerem tajam di aspal. Mereka berbalik bersama melihat asal suara tersebut.

        “Ke-kenapa dia kembali lagi?” tanya Sergio heran karena ternyata bunyi decit ban yang mengerem tajam itu berasal dari mobil Jasmine. Ia menelan ludahnya dengan berat saat melihat Jasmine keluar dari mobil dan menghempaskannya dengan keras. Selangkah demi selangkah Sergio berjalan mundur saat  menyadari Jasmine melangkah lebar menghampirinya dengan emosi yang siap meledak. ”Hei dia kenapa?” tanya Sergio  was-was ke Williams  tanpa lepas tatapannya dari Jasmine.

         “Aku tidak tau.” Jawab Williams juga tanpa melepas tatapannya dari Jasmine yang semangkin cepat melangkah lebar mendekati  mereka.

…..

….

Dug. . .

        Jasmine menendang tepat di tulang kering kaki Sergio dengan sekuat tenaga saat gadis itu tiba di hadapan Sergio. Mengakibatkan Sergio melengguh kesakitan. Saat pria itu menunduk menyentuh kakinya yang sakit dan Jasmine langsung menendang wajah Jasmine pakai lututnya hingga membuat Sergio hingga terjungkal jatuh ke kebelakang. Ia melangkah kembali menarik-narik rambut  Sergio dengan geram “Aaaaaaaaaaaaa katakan apa yang kau katakan tadi itu semua bohong!!” jeritnya tidak terima. Belum sempat Sergio menjawab Jasmine kembali memukul-mukul kepala Sergio dengan brutal.

       Williams dan dua pengawal Sergio hanya berpandangan penuh keterkejutan. Kemudian saling lirik Berharap satu dari mereka dapat menjelaskan apa yang harus di lakukan. Sangat syok menatap Sergio yang di hajar Jasmine dengan brutal. Kejadian yang sangat cepat untuk di cerna oleh pikiran mereka.

        “Cepat katakan padaku bahwa kau berbohong!!” triak Jasmine terus menampar-nampar kepala Sergio yang menunduk menyembunyikan wajahnya.  “Ayo cepat akui. jika kau tadi berbohong!!” maki Jasmine menarik-narik baju Sergio dengan kesal. Membuat sergio merasa tercekik akibat kera bajunya yang menjadi sasaran gadis itu.

         “Ba-Ba..”ucap Sergio terbata-bata. Belum sempat  mengungkapkan isi hatinnya Jasmine kembali nampar-nampar  puncak kepala Sergio, menjambaknya dengan geram. Sesekali tanparan Jasmine tepat mengenai telinganya, hingga pria itu merasa telinganya berdenging dan panas. Ya tuhaan aku menyesal telah menjahilinyaaaa jerit Serio dalam hati. Sergio terus menyembunyikan wajahnya agar tidak memar kena tanparan Jasmine. Ia  benar-benar pasrah di pukuli oleh gadis itu, bukan karena menghargai seorang wanita tapi ia memang kewalahan menerima pukulan Jasmine yang tiada hentinya di kepala dan telinganya. Dengan menyerahnya Sergio tidak membuat Jasmine berhenti. Ia tetap menjambak-jambak rambut pria itu dan memukul-mukul kepalanya dengan geram. “Ampun Tuhan. Aku menyesal” jerit Sergio lagi dalam hati

        Setelah merasa puas melampiaskan kekesalannya Jasmine mendorong kepala Sergio menjauh darinya dengan seluruh kekesalan yang tersisah. Gadis itu mencoba mengatur nafasnya yang memburu dan Dengan anggun  Ia merapikan penampilannya yang menjadi ikut brantakan karena menghajar Sergio.

         “Baikah jika kau tidak mau mengakuinya. Akan ku cari sendiri semua informasi tentangnya. Semuanya tentangnya!!”ucap Jasmine sengit  dan melangkah pergi meninggalkan Sergio yang terduduk lemas.

         “Hahahahaha itulah akibatnya mengganggu macan betina man” ucap Williams menertawai Sergio yang duduk lemas. Penampilan pria itu sangat jauh berbeda dari 3 menit yang lalu. Gaya rambutnya tidak lagi rapi terlihat seperti style Pompadour namun sangat brantakan, ia tidak lagi terlihat pria dingin dan mengerikan bahkan  tidak enak untuk di lihat. Kemejanya yang dari semalam telah kusut kini tambah brantakan dan darah segar yang keluar dari hidungnya membasahi sedikit bajunya. Dia seperti baru saja masuk dan berputar-putar dalam badai puting beliung

         “Kepalaku sangat pusing” ucap Sergio menutup matanya. Williams  kembali lagi tertawa keras melihat kekalahan si pemilik kerajaan bisnis gelap. “Dia.. dia” ucap Sergio berusaha menetralkan nafasnya yang memburu dan pening sangat  hebat yang melanda kepalanya. “Tidak ada…”  ucapnya tidak jelas. “Dia..  Seumur hidupku baru kali ini aku di lecehkan seperti ini. Ah kepalaku sangat pusing Tuhan” ucap Sergio lemas mencoba menyelesaikan ucapannya.

         “Hahaha.. apa yang kau perbuat hingga dia semarah itu?” tanya willy tidak bisa menahan tawanya.

         “Kepalaku pusing sekali” ucap Sergio tidak sadar ia telah mengatakan itu untuk ketiga kalinya. Ia menutup matanya karena masih sangat pening,  masih terasa sangat jelas tangan Jasmine yang mengoyang-goyangkan kepalanya dengan menjambak dan mengacak-acak kepalanya.

         “Haha Kasihan sekali kau” decak Williams tidak tau harus prihatin atau justru tertawa keras melihat ekspresi Sergio “Cepat bawa dia ke UGD” perintah Williams ke pengawal Sergio masih tidak bisa menahan senyum lebarnya. Dengan sigap para pengawalnya membawa tuannya untuk mendapat pertolongan pertama.

.

        Setelah dokter keluar dari ruang tempat Sergio di periksa Williams masuk membawakan botol air minum untuk sahabatnya. Di dalam ruangan langsung terlihat  Sergio duduk di atas ranjang, Ia menunduk di antara kedua kakinya yang terbuka

         “Ini minumlah.”  Ucap Williams memberikan air mineral itu.

         “Kenapa kau harus membawaku ke ruangan ini huh?!” serga Sergio sedikit marah “ini  terlalu berlebihan” ucapnya tidak suka, tidak suka karena fakta ia di hajar seorang wanita sampai masuk UGD

         “Jika aku berlebihan seharusnya kau sadar saat di bopong keruangan ini” jawab Williams enteng. Sergio kembali merasa kesal dengan fakta itu, jika dia tidak merasa sangat pusing seharusnya dia sadar dan brontak saat di bawa untuk mendapat pertolongan pertama. Ia menompang kepalanya dengan tangan kirinya. Memijit-mijit kepalanya

         “Sekarang apa kau bisa memberitahuku kenapa dia semarah itu?” tanya Williams melipat kedua tangannya, bersiap mendengarkan penjelasan Sergio

         “Aku benci gadis bar-bar itu” desis Sergio geram

         “Haha bukannya kau mengidolakannya?” tanya Williams jahil

         “Tidak lagi! aku muak dengan keangkuhannya aku muak dengan kesombongannya. Baru kali ini ada yang tidak tunduk akan kekuasaanku!!!”

         “Ayahmu sangat menghormati kakeknya  bahkan  takut menyentuh keluarganya, suaminya jauh lebih kaya darimu, lalu apa yang harus dia takuti dari orang yang masih di bawah levelnya sepertimu.?” Tanya Williams santai.

         “Fuck you!” maki Sergio melempar botol air minum ke Williams dengan kesal. Satu lagi fakta yang membuat dia bertambah kesal

         “Aku mengusirnya. Aku menyuruhnya pergi dari kehidupan Benedict”

         “Apa kau gila? Hei kau tau Benedict sangat menyukai gadis itu!”

         “Apa kau lupa gadis itu telah mempermalukan Ben di muka umum.? Di depan teman-teman kita! Benedict menjadi pria yang tidak memiliki harga diri karena pasangan bodoh itu!! Bukannya waktu itu kau juga ingin mencabik-cabik tubuh gadis itu huh?!” Bentak Sergio marah.

        Williams yang teringat kejadian itu menjadi ikut kesal. Saat itu Williams  juga sangat ingin menabrak mobil yang di kendari Jasmine untuk membawa Peter kerumah sakit. Dia tidak pernah merasa sebenci itu dengan ke-egoisan seorang wanita. Sahabatnya terlalu baik untuk di permalukan di depan umum. Dan rencana untuk menghajar Peter adalah keisengannya dengan Sergio bukan Benedict.

         “Tapi dia sepertinya bersikeras melawanmu tadi? apa dia telah memiliki prasaan ke Benedict hingga dia semarah itu saat kau mengusirnya?”

         “Maksudmu gadis itu telah mencintainya? Dari mana aku tau itu? Aku tidak bisa membaca pikiran orang! Dan dia tidak berusaha menunjukan atau memberi tahu aku tentang hal itu. Yang aku lihat dia terus menggoda Benedict seperti apa yang dilakukan Taylor.! Dia pasti hanya merasa kasihan dengan si bodoh itu” Jawab Sergio tegas.

         “Tapi si bodoh yang kau sebut itu mencintai gadis itu” Ucap Willy mengambang.

         “Kita tunggu saja apa mau gadis itu.” ucap Sergio membaringkan tubuhnya.

         “Baiklah aku setuju. Lalu bagaimana dengan si Brengsek Damien.? Aku sangat ingin membunuh anak cupu itu dengan tanganku sendiri” Desis Williams geram

        Sergio menyeringai licik.  “Franco tengah membuat jebakan untuknya. Aku  akan mengasingkannya ke pulau tak berpenghuni. Hingga hidupnya hanya tergantung takdir yang akan di berikan tuhan”

         “Perfect! Dengan begitu kita tidak membunuhnya dengan tangan kita rendiri bukan.? Benedict tidak akan murka lagi jika kita menyentuh adiknya yang nerd itu” ucap Williams dengan senyum dingin.

……

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *