Chapter 17

how i can not love you

       “Hai” ucapku menyapanya juga tanpa suara, dia memaksa sebuah senyuman di wajahnya, senyuman yang aku rindukan selama ini. Saat marasakan tangannya terulur untuk mengusap air mata yang ada di wajahku, aku menunduk dan membenamkan seluruh telapak tangannya untuk menyentuh pipiku. Gerakan itu bukannya membuat air mataku berhenti namun membuat air mataku menjadi mengalir deras menerima sentuhan yang amat aku impikan selama ini.

Mata biru itu menatapku dalam diam. Mata yang sangat jernih dan tenang. Mata yang membuat orang akan merasa terlindungi hanya melihatnya. Mata yang mampu menyihir banyak gadis. Mata yang sangat aku rindukan. Mata yang membuatku nyaman hanya melihatnya. Namun lambat laun Mata itu kini di penuhi oleh air yang membendung. Tidak tidak dia tidak dia boleh menangis lagi

Rasa takutku membuat otakku yang mengambil alih pergerakan tubuhku dengan cepat, otakku memerintah sarafku untuk mendekat ke wajahnya, mencium tepat di tahi lalat yang ada di ujung mata kanannya. Kau tidak boleh menangis lagi sayang, tidak mulai detik ini!

Dengan perlahan aku berpindah mencium batang hidungnya. Mencium lebih lama, menghirup aroma tubuhnya lebih dalam, aku butuh aroma tubuhnya jauh lebih banyak untuk mengisi pasokan yang sudah sangat menipis di otak dan paru-paruku selama ini. Jangan pergi lagi. Aku merindukanmu Ben, aku sangat merindukanmu. Jangan pergi dariku.  Aku mencintaimu. Ku mohon jangan pergi lagi aku mohon. Ucapku tertahan dalam hati.

Harus aku akui aku telah mencintainya saat ini. Saat tidak dapat menemukan dirinya dimanapun, aku merasa dia seperti membawa pergi separuh jiwaku. Ada hal-hal yang sebaiknya tak usah diucapkan namun di buktikan dengan perbuatan, seperti perasaanku saat ini, aku tidak tau dia mencintaiku atau tidak, yang pasti aku kan membuat dia mencintaiku, aku akan berjuang agar pernihakan kami nyata adanya.

Dengan enggan aku menarik wajahku, takut pria yang aku cintai tidak dapat bernafas dengan normal karena wajahku yang mengusai wajahnya. Aku menumpukan dahiku di dahinya.

Aku tersenyum geli saat ia mengusap hidungku dengan ujung hidungnya. Haha aku sangat merindukan pria ini, priaku. “Kau merindukanku” ucapnya tersenyum, suaranya terdengar parau namun entah mangapa terdengar seksi di telingaku. Aku mengangguk pelan.

Aku mengangkat wajahku untuk melihat matanya dengan jelas. “Aku pikir kau pergi karena sikapku waktu itu” ucapku manja. Aku sendiri merinding mendengar rengekanku sendiri tanpa sadar. Dia tertawa pelan namun tiba-tiba ia menyentuh dadanya yang sebelah kanan menahan sakit. Apa luka itu?

“Apa sangat sakit?” tanyaku panik. Air mataku kini ingin keluar lagi saat melihat suamiku yang tanpan menahan sakit saat hendak tertawa. Dia menggeleng pelan, bohong dia pasti sedang berbohong. Dia menggenggam tanganku yang menyentuh area lukanya

“Ini sangat sakit kan?” tanyaku dengan suara bergetar hendak menangis lagi.

“Tidak lagi, Jangan menangis Mine” ucapnya lembut. Uh.. aku tidak bisa mengontrol hati ku yang amat sangat menyukai suaranya. Suaranya terdengar merdu menari-nari di gendang telingaku. Tatapan intensnya membuat hatiku mendesir dan jantungku berdebar.

         Pandanganya teralih ke pintu saat ada orang yang memasuki ruangan ini. Aku mengikuti arah pandangannya, seorang dokter wanita masuk dengan berbagai macam alat kedokteran di tangannya. Dokter Karina hanya melihatku sekilas dan berjalan ke sisi kanan Benedict yang tidak terinfus.

        “Maaf jika aku menganggu acara kalian tapi seperti jadwalku biasanya, aku harus memeriksa pasienku saat ini” ucap dokter itu sibuk dengan alat-alatnya. Aku berdiri dari tempat dudukku dan pindah ke kursi besi yang tergeletak di samping ranjang.

        “Hei kau mau apa?” tanyaku gusar saat dokter itu hendak membuka kancing baju suamiku satu persatu. Bukannya menjawab pertanyaanku dia malah membuang nafas malas.

         “Ini saatnya kabel-kabel ini di lepas dari tubuhku Mine” ucap Benedict menjawab pertanyaanku. Dokter itu terkekeh entah menertawai apa.

         “Apa yang kau lihat? Cepat selesaikan pekerjaanmu dan keluar dari ruangan ini!” perintahku saat aku menangkap ia mencuri pandang melihat tanganku yang mggenggam tangan Benedict

         “Ck, aku tidak percaya Russ kau menikahi gadis sombong ini” ucap wanita itu mendengus. “Bagaimana bisa kau yang lembut menikahi gadis angkuh seperti dia? Aku yakin kau juga pasti mendengar kalau gadis ini terkenal keras kepala”

uh! Apa maksud wanita ini mengata-ngataiku tepat di hadapanku? Bahkan di hadapan suamiku! grrrr

         “Nona, aku rasa kau orang yang berpendidikan. Ada baiknya jika kau tidak menilai orang hanya dari gosip yang ada. Kau harus mengenal orang itu terlebih dahulu baru bisa memberi penilaian” ucapku tepat menyindir prilakunya yang seperti tidak berpendidikan. Namun ia terkekeh lagi.

         “Ck, kau lihatkan?” ucapnya menatap suamiku “Bahkan dia tidak mengenalku” Tambahnya cuek kembali mencatat hasil pemeriksaanya.

         “Ya aku tau aku sangat populer. Aku tidak akan menyalahkanmu yang mengenalku. Dan jangan salahkan aku jika aku tidak mengenal para fans rahasia sepertimu” ucapku sombong. Ucapanku berhasil membuat dokter itu mengalihkan tatapannya ke arahku dengan sengit

         “Haha ah aw… aduh” Benedict mengusap-usap dadanya saat kesakitan lagi saat tertawa.

         “Sessst mana? Mana yang sakit?” tanyaku panik ikut mengusap-usap dadanya. Apa yang membuatnya tertawa?

         “Benarkan apa kataku? Gadis yang kau nikahi ini sangat sombong dan sangat menyebalkan” ucap Dokter itu lagi. Mau sampai kapan wanita ini mengajakku ribut?!

         “Kau tidak mengenal dokter Karine Mine? Bukannya Dia temanmu di jurusan kedokteran?” tanya Benedict.

Aaah baru aku mengerti sekarang kenapa dia mengenalku. Apa dia sangat tersakiti karena aku tidak mengenalnya.?

         “Jika kau tidak suka dengan dunia kedokteran lalu apa alasanmu mengambil jurusan kedokteran Jasmine?” tanya Karina sambil menyusun kembali peralatan dokternya. Aku tidak berniat menjawab pertanyaan itu namun melihat Benedict seperti juga menunggu jawabku akhirnya aku menghembuskan nafas menyerah. Baiklah aku akan menjawab untuk suamiku dan untuk dokter cerewet agar cepat meninggalkan kami berdua lagi

         “Kakekku ingin aku belajar bisnis, ia sangat menentang keinginanku yang ingin belajar model di Paris alhasil ada yang menyarankan agar aku mengambil jurusan kedokteran yang pasti akan di setujui kakekku dengan cepat, meski kedokteran itu di Paris.” Jawabku seadanya

         “Jadi itu mengapa kau hanya berjalan sampai dua semester? Karena selain itu kau belajar model secara diam-diam?” tanya Karina. Aku hanya mengangguk malas. “Apa kau tidak ingin kembali mempelajari kedokteran untuk merawat suamimu?” ha, maksudnya mengatakan itu apa? Cerewet sekali dia. Aku tidak berminat bidang medis!

         “Apa telah selesai pemeriksaanya? Ini telah pukul setengah 11 malam ada baiknya jika kau memeriksanya sesuai jadwal seharusnya dokter Karinia” ucapku berusaha untuk mengusirnya.

         “Haha seharusnya dua minggu yang lalu kau mengatakan itu kepadaku, bahkan jika kau mengatakan itu sebagai wali pasienku” ucap Karina mengejekku, sialan wanita ini!

         “Kau jangan biarkan ia tertawa dulu karena itu akan membuat lukanya terasa sakit dan mungkin akan mengakibatkan rusaknya kembali luka yang akan sembuh, jangan buat dia terbatuk ataupun flu, berikan dia istirahan full. Dia belum boleh bekerja dan melakukan perkerjaan yang berlebihan, tolong awasi dia jika nantinya dia banyak menandatangi banyak berkas” ujar Dokter karina panjang lebar, sialan apa dia telah menghafal kegiatan suamiku selama di rawat di ruangan ini?

         “Hem” jawabku singkat dan mengusirnya dengan lambaian tanganku.

         “Tidak lebih dari 10 menit dia akan tertidur karena cairan obat yang aku suntikkan”

         “Ya baiklah, trimakasih dokter Karina” Ucapku penuh penekanan namun di hatiku yang terdalam aku mengucapkan dengan tulus.

         “Kapan aku pulang Karina?” Tanya Benedict sebelum dokter Karina belum keluar dari kamar. Aku membantunya untuk duduk.

         “Hei kau sedang sakit kenapa minta pulang?” Tanyaku tidak suka. Aku melihat dokter Karina untuk mendukung pertanyaanku

         “Dua atau tiga hari lagi jika kau tidak melanggar perintahku Russ”

         “Apa kau gila? Dia masih sakit!” protesku marah.

         “Bersukurlah karena kau tidak melihat kondisinya yang mengganaskan dua minggu yang lalu Jasmine. Kau datang ketika dia telah jauh lebih baik. Kau sukuri saja itu. Ha Istri seperti apa kau ini” Ujar dokter Karina ketus dan sukses membuat hatiku terasa tercabik-cabik.

Aku tidak dapat menahan tangisku mendengar perkataan yang menyakitkan itu. aku menyesal, aku juga ingin ada di sampingnya di saat ia kritis. Aku juga ingin selalu berada di sampingnya. Aku mencintai pria ini, hatiku sakit melihatnya yang selalu gagah kini terbaring lemah. Andai aku bisa memutar balikan waktu maka aku akan ada disaat dia membutuhkanku.

         “Jangan menangis” Ucap Benedict lembut menarikku kepelukannya. Dalam sesunggukan tangisku aku membalas pelukannya dengan sedikit erat, takut menyakitii lukanya. Membenamkan wajahku di lehernya. Dalam tangisku aku tertawa senang karena perlakuannya yang manis. Aku sangat bersukur karena Tuhan telah mengembalikan priaku lagi. dia mengizinkanku menyentuh priaku lagi. Demi tuhan aku suka bersentuhan dengannya. Aku suka sentuhan kulitnya. Aku suka wangi tubuhnya

         Aku merasakan hatiku bergetar saat ia mengelus punggung dan kepalaku. Membalas pelukanku dengan lembut “Aku merindukanmu” isakku menangis.

         “Hem.. ” Dehennya mengangguk, aku merasa dia sedang tersenyum saat ini

         “Aku sangat merindukanmu Ben” Ucapku kembali terisak membenamkan wajahku di bahu kanannya. “Aku merindukanmu demi Tuhan aku merindukanmu, selama ini aku sangat merindukanmu!” ucapku di selingi menciumi bahunya.

         “He’emm Aku juga. Aku merindukanmu” ucapnya tepat di telingaku. Mendengar kejujurannya seperti membuat bongkahan gunung es di hatiku melumer seketika, sangat legah mengetahui pria ini juga merindukanku. Rasanya sangat bahagia. Amat sangat.

         “Apa kau mengalami banyak kesulitan saat aku tidak ada?” Tanyanya kuatir mendorong tubuhku pelan untuk menatap lekat mataku. Ah pria ini, dia yang tergeletak lemah masih saja menghwatirkanku. Aku menggeleng pelan meskipun aku mengalami keterpurukan terbesar di dalam hidupku. Kedua matanya seperti mencari sesuatu di mataku. Apa dia tau aku berbohong?

         Jantungku yang tadinya berdebar sedikit kencang kini terasa berdebar tidak karuan saat berhadapan dengannya sedekat ini. Matanya, Alisnya, hidungnya dan…… bibirnya… aku menelan ludahku dengan susah saat entah prasaan apa yang membuat aku menginginkannya seperti ini. Aku ingin mengecup bibir itu.

         Dengan sedikit ragu dan penuh debaran aneh aku memberanikan diri untuk mendekat dan mencium bibirnya. Prasaan sedikit kecewa menjalar di hatiku saat dia tidak membalas ciumanku namun kembali membuat aku melambung saat merasakan ia menarik punggungku untuk membunuh jarak di antara kami. Haha Aku sangat menyukai kesederhanaan pria ini.

         Ia membalas ciumanku dengan intents, melumat bibirku dengan amat lembut. Ciuman ketiga dalam pernikahan kami, ciuman kedua terpanas di antara kami, ciuman yang selama ini aku mimpikan di setiap tidurku, ciuman yang aku rindukan. Tanpa sadar aku kembali melengguh tak rela saat dia menarik bibirnya jauh, padahal memang semestinya ia lakukan karena sedari tadi aku menahan nafas saat menerima sentuhannya. Ia kembali melumat bibirku dengan lembut dan pelan. Membuat jantungku ingin melompat keluar.

         Sayang, bisakah kau rasakan detakan jantungku? Dia berdebar karenamu. Aku harap ciumanmu memberikan aku kesempatan ‘tuk memulainya lagi dari awal. Sayang, ini sumpahku, aku ‘kan selalu ada untukmu. Percayalah, kata-kata yang ku ucapkan ini sungguh benar. Aku siap ‘tuk memulai perjalanan ini. Aku siap mendampingimu pada setiap jejak langkahmu, ini sumpahku. Aku harap aku masih miliki kesempatan

         “Hei.. Kenapa kau semangkin menangis.? Jasmine…” dia menarik wajahnya mundur saat sadar air mataku jatuh. Ya tuhaaan demi apapun aku sangat menyukai suara pria ini. Aku sangat suka dia memanggil namaku.

“Mine lihat aku” panggilnya lagi. Menarik wajahku agar mendongakkan kepalaku ke arahnya. “Kau kenapa?” tanyanya lembut.  Sialan kenapa aku harus merinding mendengar suara lembutnya. “Kenapa Hem.??” Lanjutnya, matanya kembali berkeliaran menatap mataku.

         “Aku tidak ingin kau pulang kerumah itu lagi. aku benci keluarga itu. aku benci kau di sakiti” ucapku terisak. Ia tersenyum dan mengusap air mataku.

         “Mine, Bagaimanapun mereka keluargaku. Aku sangat mencintai mereka.” ucapnya dengan senyuman. Terbuat dari apa hati pria ini? Bagaimana mungkin dia masih mencintai keluarga yang sudah bersikap kejam itu terhadapnya?

         “Mereka tidak mencintaimu Ben!”

         “Tapi di tubuh kami mengalir darah yang sama. Aku tau suatu hari nanti mereka pasti akan menerimaku dan…..”

         “Tidak! Kita harus keluar dari rumah itu, ini tekatku! Lepaskan saja semua yang mereka inginkan. Aku tidak pernah butuh harta yang berlimpah Ben. Aku tidak butuh pria kaya raya. Kita bisa bersama sama mangumpul kekayaan kita”

         “Lalu, kita akan tinggal dimana nantinya?” Tanya-nya menahan senyum. Aku menyukai senyuman itu tapi apa yang membuatnya tersenyum seperti itu? aku serius dengan yang aku ucapkan!

         “Apartemenku. Aku memiliki sebuah apartemen yang jauh lebih besar dari kamarmu. Dan itu apartemen dari hasil keringatku sendiri. Kita bisa memulai dari awal. Aku bisa membantumu untuk memenuhi kebutuhan kita. Aku bisa bekerja”

         “Oh ya? Apa kau yakin? Kau mau menerima pria miskin sepertiku nantinya?” Dia terlihat jelas menahan senyum. Uh! Apa dia mengira aku sedang bercanda saat ini? 

         “Apa ada yang lucu? Apa kau pikir aku sedang bercanda? aku serius! Aku tidak ingin omongan kita ini kosong. aku ingin kau keluar dari rumah itu titik!” sergaku kesal. Dia menganggukan kepalanya dengan mengulum senyum.

         “Kau yakin apa yang kau katakan?”

         “Ya tentu saja. Ada apa?”

         “Berikan aku waktu. Pada saatnya tepat kita akan keluar dari rumah itu”

         “Pada saatnya tepat? Maksudmu dalam hitungan tahun? Tidak!” aku melipat kedua tanganku di depan dada, menatapnya curiga “apa yang membutmu mengulum senyum seperti itu?” Selidikku penasaran.

         “Karena jika tertawa di sini amat sakit” jawabnya menunjuk dada kanannya. Membuat aku menyerah. Hufft maksudku apa yang membuat dia harus tertawa

One thought on “Chapter 17

  1. Masyaa Allah kak ceritanya menguras ke baperan banyakkk… Udah penasaran sama keuwuan ben dan mine buat saling mendukung dll.. Tolong mine jangan sampai balik sama pet kelihatannya pet buka boy baik. Karena lebih kerasa kaya pelangi ( melengkapi kalau ben dan mine )
    Semoga Allah membalas kebaikan karya baik yg sudah bermanfaat mengisi waktu senggang readers kak tho..aamiin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *