Chapter 18

18. When I had you there

+AUTHOR POIN OF VIEW+  Flashback Beberapa tahun yang lalu.

Hari masih pagi, udarah masih dingin dan gerimis kecil masih setia turun tanpa henti membasahi bumi. Dari balik jendela mobilnya Seorang  gadis kecil melihat sosok seorang anak laki-laki yang tengah berjalan kaki berlawanan arah dengan mobil yang ia naiki.

Dari jauh tadi matanya tak lepas melihat wajah anak laki-laki itu hingga tatapan mereka saling bertemu di lapisi oleh jendela kaca mobil yang berair akibat terkena gerimis yang turun, mereka saling bertatapan hingga mobilnya meninggalakan anak laki-laki itu.

Mobil yang di tumpangi gadis kecil itu berhenti tepat di gerbang sekolahnya yang berpagari oleh tumbuhan tinggi. Pelayannya membukakan pintu dan memayungkannya agar tidak terkena air hujan.

          “Aku katakan Pergilah!” perintah gadis kecil itu kepada pelayannya dengan keras. Pelayannya mengangguk hormat dan pergi meninggalkan tuannya.

         “Hei kau.” Triak gadis kecil itu memanggil anak laki-laki yang ia lihat tadi. Seperti mendengar triakan itu anak laki-laki itu menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya untuk melihat seseorang yang memanggilnya. Matanya memicing mencoba melihat lebih jelas karena pandangannya terhalang oleh gerimis. Ia melihat seorang gadis berdiri melipat kedua tangannya di dada. Dagunya terangkat tinggi menandakan ia sangat angkuh. Gadis sepantaran umurnya itu memanggilnya lagi dengan menggerakkan jari telunjukknya untuk mendekat.

Anak laki-laki itupun melangkahkan kakinya mendekati gadis kecil itu. Matanya berkali-kali berkedip akibat rintikan hujan yang mengenai matanya. Ia sedikit terkejut saat mengetahui ternyata gadis kecil yang memanggilnya itu ternyata teman sekolahnya.

Gadis kecil itu gadis paling populer di sekolahnya, gadis kecil yang terkenal karena kecantikannya, terkenal karena gadis itu adalah queen bee dari gank “wild blood” yang memiliki arti “darah Liar” alias kelompok gadis-gadis yang suka membully orang yang mereka anggap nerd .

Gadis kecil yang terkenal sombong, egois, keras kepala, angkuh dan menyebalkan tapi juga gadis yang di incar banyak anak laki-laki sepertinya. bahkan anak-anak perempuanpun juga sangat ingin mendapat status menjadi temannya.

Dan juga yang selama ini sering ia pandangi tanpa sengaja. Gadis yang mengembalikan senyumnya yang selama ini hilang. Gadis yang menurutnya sangat lucu jika gadis kecil itu  cemberut atau kesal. Gadis yang ia memiliki alasan untuk bersekolah. Gadis yang ia sukai selama ini

          “Apa kau akan lari lagi?” Tanya Gadis itu menyingkirkan rambut yang menutupi matanya dengan angkuh. Anak laki-laki yang ia tanyai hanya diam karena merasa gugup saat mendengar pertanyaan itu. Ia bingung kenapa gadis itu tau bahwa ia ingin melarikan diri lagi dari sekolahnya. Ia juga gugup tidak menyangka gadis yang selama ini tanpa sengaja ia pandangi terus kini berbicara secara langsung kepadanya.

          “Ini kali ketiga aku melihatmu melarikan diri. Aku tidak tau apa alasanmu hingga membuatmu lari dari sekolah, yang pasti…” ucapan gadis itu terhenti untuk menatap anak laki-laki itu dari atas hingga bawah.

       “Kau lihat papan iklan itu” Anak laki-laki itu mengikuti arah tangan gadis itu yang menunjuk papan reklame yang amat besar menampilkan seorang wanita cantik tengah berpose dengan elegan. “Lihat aku” ucap gadis itu lagi menjentikan jarinya tepat di wajah anak laki-laki itu.

         “Aku kan menjadi wanita elegan seperti dia jika aku dewasa nanti. Aku akan menjadi wanita dewasa yang sangat cantik sekali” ucap gadis kecil itu kembali menunjuk papan reklame.

“Dan Meskipun wajahmu tampan, bahkan jika nanti saat dewasa nanti aku yakini kau pasti jauh lebih tampan,  tapi wanita elegan, wanita cantik seperti kami nantinya tidak akan menikahi pria tampan namun miskin. Seorang pria sejati harus memiliki kecerdasan agar menjadi kaya raya. Kami para wanita nantinya tidak hanya membutuhkan wajah tampan, kami membutuhkan seorang penguasa, kami membutuhkan pria yang mampu  memenuhi semua kebutuhan kami meski ia siburuk rupa sekalipun.” Ucap Gadis kecil itu menatapnya datar.

       “Aku tidak tau apa alasanmu hingga membuatmu lari dari sekolah, tapi  yang pasti kau seharusnya jangan menjadi seorang yang pengecut lari dari masalahmu. Sekolah ini adalah sekolah yang terbaik dalam pengajarannya. Seharusnya kau memamfaatkan semua yang kau miliki untuk mendapatkan banyak pengetahuan. Abaikan apapun yang membuatmu lari, berusahalah untuk menjadi pria sejati yang cerdas dan kelak kau menjadi kaya raya, wanita cantik sepertiku akan dengan mudah kau dapatkan” ucap gadis itu dengan angkuh namun di mata anak laki-laki itu terlihat angun dan mempesona “Tumbuh lah menjadi pria dewasa yang cerdas dan memiliki kekayaan yang sangat berlimpah dan nikahi wanita cantik seperti aku”

Kemudian mereka saling berpandangan dengan diam. Sibuk akan pikiran masing-masing. Gadis kecil itu diam tenggelam di mata biru Anak laki-laki yang menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan bingung. Anak laki-laki itu tidak terlalu mengerti apa maksud dari perkataan gadis cantik itu namun ia hanya menangkap bahwa ia harus kembali lagi kesekolah itu. ia tidak boleh lagi lari dari masalahnya. Harus menjadi pria sejati  

Tiba-tiba gadis kecil itu melangkah mendekat, membuat anak laki-laki mundur dengan gugup. saat Gerimis masih setia membasahi bumi yang mambuat kabut dan udara jauh lebih dingin namun anak laki-laki itu merasa kepanasan. Di udara dingin kulitnya mengeluarkan keringat. Suhu tubuhnya mengalami reaksi yang memberi sensasi panas dingin.

         “Ka-kau mau apa Jasmine” tanya anak laki-laki itu gugup saat wajah gadis itu telah sangat dekat dengan wajahnya. Mendengar namanya di sebut gadis kecil itu menarik mundur wajahnya dan tersenyum senang karena tidak menyangka ternyata laki-laki itu tau namanya. Matanya terlihat berinar dan berkeliaran memperhatikan setiap sudut wajah anak laki-laki itu entah apa yang ada di pikirannya.

Kemudian anak laki-laki itu  hendak kembali melangkah mundur namun satu kakinya berhenti saat dengan cepat gadis kecil itu menarik tali tas di bahunya dan mendekatkan lagi wajah mereka. Si anak laki-laki  menelan ludahnya dengan berat dan mengepalkan kedua tangannya dengan gugup.

Jantungnya berdetak kencang. Ada perasaan aneh menjalar di hatinya. Ia menutup matanya dengan kegugupan luar biasa. Gadis  kecil itu  memiringkan wajahnya dan mendekatkan hidungnya tepat di bawah hidung laki-laki itu lama. Menghirup nafas laki-laki itu dengan nafas dalam-dalam. Setelah mendapat apa yang ia incar gadis kecil itu kembali menarik wajahnya.

          “Kau kenapa?” tanya gadis kecil itu heran melihat anak laki-laki itu menutup matanya gugup. Anak laki-laki itu kembali membuka matanya masih dengan kegugupan dan muka memerah menahan malu.

“Aku hanya membutuhkan virus flu yang keluar dari nafasmu. Aku sangat membutuhkan itu untuk menghindari ajakan kakekku nanti malam. Ah semoga aku juga terkena flu karenamu” ucap gadis kecil itu menatap gerimis yang membasahi tubuhnya dengan penuh berharap.

          “Ayo cepat masuk, jangan membuat waktuku sia-sia karena telah berbicara denganmu” ucap gadis kecil itu lagi, berbalik memasuki perkarangan sekolahnya. Anak laki-laki itu masih diam mematung mengatur debar jantungnya yang tidak karuan. “Cepatlah” ucap gadis kecil itu menghentikan langkahnya.

Anak laki-laki itu mengangguk gugup dan mengikuti gadis kecil yang kembali melangkahkan kakinya dengan anggun di hadapannya. Dengan diam mereka berjalan menelusuri  perkebunan sekolah yang rindang, menelusuri lorong-lorong sekolah yang telah sepi karena 10 menit yang lalu pelajaran telah di mulai.

.

.

*******

      Benedict terbangun dari tidurnya saat kembali mengingat masa pertama kali sosok Jasmine kecil yang agkuh itu mengajaknya berbicara. Kenangan-kenangan itu kerap sekali terputar bagaikan sebuah film di pikirannya. Ia masih mengingat dengan jelas wajah Jasmine kecil. Gadis kecil itu sungguh cantik, bahkan saat ia berada di ujung kematiannya tidak ada kegelapan sedikitpun yang ia lihat. Yang terlihat hanya cahaya terang menampilkan mata dan senyuman gadis itu, terihat bayangan gadis kecil tersenyum simpul.

Melihat bayangan gadis kecil itu malu-malu, melihat bayangan gadis kecil itu tertawa keras bersama teman-temannya. Dan juga melihat bayangan gadis yang telah dewasa itu berteriak marah-marah dan kemudian  Ia melihat dengan jelas gadis itu menangis, gadis itu terus memukul-mukul dadanya dan menangis pedih. Bersanding bersama Tuhan gadis itu juga menyebut namanya.  Untuk pertama kalinya pria itu merasa takut untuk mati. Takut untuk meniggalkan dunia  tempat gadis itu berpijak. Takut tidak bisa melihat wajah gadis itu lagi.

Benedict merasakan seseorang mempererat pelukannya di tubuhnya. Ia tersenyum saat melihat istrinya Jasmine tidur di sebelah kirinya. Dalam tidurnya Jasmine mengusap-usap dadanya yang bidang. Membuat Benedict  mengepalkan tangannya menahan gugup.

               “ckck dasar! Gadisnya tertidur saja masih bisa membuatnya gugup seperti itu” ucap Sergio berdecak dalam hati dari bangku sofa yang ia duduki ia dapat melihat sikap gugup sahabatnya itu dengan jelas.

Namuan ia tetap diam tidak berniat membuat sahabatnya itu menyadari kehadirannya. Benedict kembali menahan nafas karena gugup saat merasakan wajah Jasmine terbenam di lehernya. Nafas gadis itu terasa hangat di kulitnya. Ia menarik nafas dan mengeluarkan dengan teratur, mencoba agar otaknya tetap jernih tidak terbawa oleh gairahnya yang timbul akibat sentuhan  istrinya di pagi hari. Sebenarnya sentuhan yang amat ia rindukan selama ini namun ia tidak bisa mengontrol kegugupan dirinya sendiri.

           Ia membuang tatapanya ke samping kanan. Namun ada yang berbeda pagi ini. Rutinitasnya pagi ini ia tidak lagi hanya melihat dua bingkai foto saja namun ada tiga bingkai foto sekarang. Ia tersenyum melihat fotonya bersama Istrinya juga ada di atas lemari kecil itu. Ia melihat pakaian yang di kenakan Jasmine di foto itu sama seperti yang masih melekat di tubuh gadis itu saat ini, namuan kapan gadis itu mengambil foto mereka? Pikirnya dalam hati. Ia tersenyum kecil melihat beberapa ekspresi konyol Jasmine di foto itu.

             Bingkai foto itu cukup besar dari yang lainnya. Namun bingkai itu terisi empat pose gambar. Yang pertama gadis itu memasang pose silly face atau wajah konyol namun melihat camera. Dalam senyumnya ia merutuki pikirannya sendiri yang mengatakan istrinya tetap cantik meski bergaya konyol seperti itu. Yang kedua ia memasang ekspresi ‘protrude the tongue’ alias menjulurkan lidahnya menatap camera.

Yang ketiga gadis itu tengah mengecup keninggya. Lagi, Russel Heard semangkin tersenyum lebar melihat foto itu. Ada desiran menjalar di hatinya saat mengetahui gadis itu menciumnya diam-diam saat ia tertidur. Yang ke kempat gadis itu mengikuti gayanya yang tengah tertidur. Namun di foto itu terlihat jelas gadis itu mengulum senyum menatapnya yang terlelap.

Ia kembali lagi melihat istrinya yang tertidur di sampingnya. Terpesona lagi akan kecantikan gadis angkuh itu. Alisnya hitam sangat rapih, bulu matanya yang sangat lentik tanpa bulu mata palsu, Hidungnya yang slalu amat ingin ia sentuh, bibirnya yang merah, semua sempurnah jauh lebih cantik saat dari waktu ia kecil. Ia memainkan hidungnya menyentuh hidung gadis itu dengan geli. Ketika gadis itu bergerak Benedict kembali diam membeku.

Sergio dari tempatnya berada menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah sahabatnya “Ckck kenapa dia menjadi pemalu seperti itu.? sialan menjijikan sekali melihat orang yang sedang  jatuh cinta” makinya dalam hati membuang pandangan ke arah lain. Ia masih meragukan ketulusan Jasmine. Ia masih kesal dengan tingkah gadis itu. Rencana untuk menyingkirkan Jasmine terukir jelas di pikiran Sergio. Ya, dia ingin gadis itu pergi menjahui sahabatnya. Benedict bisa mendapatkan gadis jauh lebih cantik dan baik hati ketimban gadis angkuh itu.

—————–

             “Hei..” Sergio mendorong kepala Jasmine yang ada di bahu Benedict dengan ujung jari telunjuknya secara pelan.

            “Hei bangun gadis gila” ucap Sergio lagi mendorong-dorong dahi Jasmine, gadis itu tidak juga bangun ia malah memeluk tubuh Benedict lebih erat, membuat  Benedict tersenyum.  Melihat sahabatnya tersenyum simpul membuat Sergio tertawa kesal. Ia kembali mendorong kepala Jasmine dengan ujung jarinya terus hingga Jasmine membuka matanya. “Menyingkirlah dari sahabatku” ucap Sergio ketus saat mata gadis itu menatapnya.

               “Tidak. Dia suamiku” ucap Jasmine menepis tangan sergio dan kembali membenamkan wajahnya di bahu Benedict dengan manja.

               “Ho. Begitu? Bukankah kau yang mengatakan bahwa kau tidak mencintainya?  Sana menyingkirlah hus..hus” ucap Sergio masih mengusir Jasmine. Gadis itu dengan cemberut melihat Benedict  hendak protes kenapa suaminya tidak melarang Sergio mengganggunya. Namun baru sadar ternyata ada beberapa orang juga berada di kamar itu.

            “Yah.. kau lihat? dia harus menandatangi banyak berkas saat ini maka dari itu kau menyingkirlah” ujar Sergio lagi mengusir Jasmine saat seakan ia mengerti keheranan Jasmine menatap empat orang pria tua yang rapi berjas hitam. Jasmine menahan senyum malu namun bukan Claudia Jasmine jika tidak keras kepala.

        “Tanda tangani saja. Kau bukan seorang kidal kan? tangan kananmu bisa di gunakan bukan?” tanya Jasmine protes. Benedict mengangguk patuh dan mengulurkan tangannya untuk mengambil berkas yang harus ia tanda tangani. Jasmine mengulum senyum melihat suaminya yang terlihat imut ketika menjadi penurut begitu.

               Sergio mendengus tidak percaya dengan sikap sahabatnya. “Sepertinya aku harus mengajari si bodoh itu. Seorang pria tidak boleh tunduk ke istri! Agrh” ucap Sergio kesal dalam hati. Sergio merasa bisa mati menahan kesal karena Benedict menjadi pria yang penurut

Jasmine kembali memeluk Benedict agar tangan kiri pria itu yang merangkul punggungnya dapat menompang berkas yang akan ia tandatangani. Selama Benedict serius membaca Jasmine tak lepas menatap Suaminya yang juga terlihat tanpan di lihat dari samping.

.

Benedict sedikit gugup saat istrinya menggesek-gesekkan ujung  hidungnya di lehernya. Para pekerja Benedict memalingkan wajah ke berbagai tempat dengan kaku saat melihat bos mereka. Merasa malu di perhatikan oleh bawahannya, dengan tangan kirinya ia mendorong kepala Jasmine agar berbaring di bahunya. Ia bingung entah kenapa istrinya seperti anak anjing mengendus-endus kulitnya. Jasmine hanya diam tidak memperdulikan bawahan Benedict yang menahan senyum melihat tingkahnya. Ia menyenderkan  kepalanya di bahu pria itu dan ikut membaca berkas yang di baca prianya.

        Selesai semua berkas Benedict tanda tangani, para pegawainya pamit untuk pergi. Jasmine mencoba menarik perhatian suaminya lagi  “Apa yang kau lakukan?” Tanya Benedict saat merasakan tingkah istrinya lagi.

Jasmine tersenyum malu karena tertangkap lagi menghirup aroma tubuh pria itu. Senyumnya semangkin  lebar saat merasakan tangan kiri  Benedict memeluk tubuhnya mendekat. Ia sedikit gugup saat  pria itu mengeluarkan sisi Badboy’nya. Dengan diam mereka kembali berpandangan, melupakan Sergio yang ada di antara mereka. Mata Benedict bergerak melihat jari jari Jasmine menyentuh bekas luka goresan kecil yang telah mengering di dahinya, hidungnya dan dagunya.

      “My goodness! kenapa kau semangkin terlihat sangat tampan dengan luka-luka ini?” tanya Jasmine membuat Sergio terbatuk dengan keras.

 Ugh! Menganggu saja anak kucing itu! maki Jasmine dalam hati kesal.

Benedict tertawa malu menyadari kehadiran sahabatnya. “Sebaiknya kau pulang Jasmine, kasihan Bendict harus mencium nafas bau nagamu itu” ujar Sergio mengejek. Jasmine menatap takut ke suaminya. Benedict tersenyum kecil dan menggeleng. Aku suka nafasmu, seperti bayi gumannya dalam hati.

“Dia tidak akan mengakuinya, kau pasti tau itu. Pergilah banyak yang harus aku bicarakan bersamanya” ucap Sergio dingin.

       Jasmine enggan, ia masih sangat merindukan Benedict. Ia masih ingin bersentuhan dengan pria itu. Namun perkataan Sergio benar adanya. Ia harus mandi dan yang pertama muncul di pikirannya saat mendengar kata pulang adalah Nicole. Ia sangat berkeinginan membawa gadis kecil itu menemui Benedict. Ia sangat sedih mendengar rengekan gadis cantik itu saat di larang ibunya tadi malam.

         “Baiklah aku akan kembali dengan cepat” ucap Jasmine mengecup pipi Benedict dan turun dari ranjang. Mata Benedict mengikuti setiap gerakan Jasmine.  Merapikan rambutnya dengan jemari-jemari lentiknya, masuk kekamar mandi, mengambil ponselnya yang ada di dekat bingkai foto.

Jasmine tersenyum geli menyadari suaminya tak lepas menatapnya sedari tadi.  Apa dia juga masih merindukanku? Tanyanya dalam hati. Ia mendekat dan merapikan rambut Benedict dengan jemarinya.

“Tidak lama, hanya sebentar” ucapnya tersenyum lembut, ia  menciuman bibir pria itu sekilas Ciuman singkat namun sama-sama memercikan desiran di hati mereka berdua.

Sampai Jasmine melangkah keluar kamar barulah Benedict menyadari Sergio juga menatap kearahnya. Ben tertawa kosong karena berkali-kali mengabaikan sahabatnya.     

   “Ah sudalah” ucap  Sergio memutar matanya malas. Sergio juga keluar dari kamar dan mengikuti langkah Jasmine di lorong-lorong rumah sakit hendak melaksanakan aksinya. Saat bertemu muka di lift ia hanya diam karena ada banyak orang juga di dalam lift itu. Jasmine-pun  juga membuang tatapan malas dari Sergio. Keluar dari lift Sergio juga mengikuti langkah Jasmine ke daerah parkiran taman.

        “Hai Man…. Hei kau mau kemana? Aku baru saja hendak menjenguk  Ben bagaimana dia?” Langkah Sergio terhenti saat Seseorang menepuk pundaknya  “Wooow si nyonya Russel turut hadir ternyata” ucap pria itu.

           “Menyingkirlah Wil. Ada yang harus aku selesaikan” ucap Sergio menepis tangan sahabatnya. Meski heran pria itu tetap menuruti printah Sergio. “Kalian juga!” perintah sergio ke dua pengawalnya.

.

     ****

    “Berhenti.. kau dengar aku?” tanya Sergio mempercepat langkahnya  “Berhenti Jasmine” ucap Sergio menutup kembali pintu mobil yang di buka Jasmine.

      “Apa maumu?” Tanya Jasmine dingin.

        “Menjauhlah darinya” ucap Sergio tak kalah dingin. Jasmine tidak menghiraukan perkataan Sergio namun kembali pria itu menutup pintu yang di buka  Jasmine dengan kasar.

        “AKU KATAKAN MENYINGKIRLAH DARINYA! Aku tau kau tidak tulus bersamanya!!” bentak Sergio keras membuat Jasmine terkejut. “Kau hanya kasihan!!  itu hanya prasaan kasihan!!” Bentak Sergio keras saat Jasmine hendak mengatakan sesuatu.

Jasmine menelan liurnya dengan berat mencoba mengartikan prasaanya sendiri dengan ucapan Sergio. Berbeda, itu bukan kasihan dia sudah lama menyukai pria itu. Bahkan saat pria itu kecil ia sudah menyukai pria itu. Namun kini baru dia berani mengakui itu cinta. Baru kini dia benar-benar berani mengejar pria itu.

Jasmine kembali  tersikap saat Sergio mencengkram lengannya dengan kuat dan kasar. “Aku bersumpah akan membunuhmu jika kau masih ada di sekitarnya mulai saat ini” desisnya dingin. Williams dan dua pengawal Sergio menatap ngeri atas apa yang mereka lihat  “Aku bisa mencarikan dia wanita jauh lebih cantik darimu” ucap Sergio sakartis melepas tubuh Jasmine dengan kasar.

                  ……

     ……

        “AAAAaaaaaaaakk. Aaak apa.. apa.. apaa apaan kau!! AAAkkkk Ja-Jasmine lepaskan!” ucap Sergio gusar saat Jasmine menarik rambutnya dengan secepat kilat. Williams dan dua pengawal Sergio tersedak sontak tertawa melihat Sergio yang menunduk di hadapan Jasmine karena gadis itu tidak takut dengan ancaman Sergio namun malah menarik rambut pria mengerikan itu.

          “Berani-beraninya kau menyuruhku menjahui Benedict huh. Berani beraninya kau mencarikan dia wanita jauh lebih cantik dariku huh” ucap Jasmine berang. “Jika kau mengatakan akan mencarikan yang jauh lebih baik aku tidak akan semarah ini!!”

          “O-oke baikah sekarang lepaskan tanganmu” pinta Sergio malu karena mendengar para pengawalnya menertawakannya.

           “Tidak! Kau sudah lancang untuk mengaturku kau sudah lancang hendak memisahkanku dengan suamiku!!” triak Jasmine menggoyang-goyangkan kepala Sergio dengan rambutnya.

         “Oke O-oke aku menyesal oke aku menyasal” ucap Sergio menarik diri jauh dari Jasmine. Sergio merapikan rambutnya dengan salah tingkah, wajahnya memerah melihat Williams menertawainya dari jauh dan pengawalnya tidak sanggup menahan senyum.

Ia mengangguk gugup saat Jasmine mengarahkan telunjuknya ke arah Sergio dan menunjukan dirinya sendiri dengan ibu jarinya dan di akhiri sebuah garisan di lehernya. Mengartikan, “jika kau berani melawanku. Kau yang akan mati” Sergio menelan liurnya. Baru kali ini ia menemukan orang yang tidak takut akan kekuasaanya.  Jasmine memang gadis berbeda, gadis itu terlalu angkuh untuk disuruh mengalah. Sekarang ia bingung mengatur rencana agar gadis itu mau berhenti berpura-pura mencintai Benedict

…………

Jasmine berbalik lagi membuka pintu mobilnya namun Sergio lari dan menutup pintu mobil yang dibuka Jasmine lagi dengan cepat. Jasmine menatapnya dengan sengit  “Wow wow wow. Sabar.. sabar Jasmine sabar” ucapnya ngeri bersiap lari jika  Jasmine menyerangnya lagi.  

      Ugght anak monyet ini sungguh mengganggu! Maki Jasmine dalam hati. Ia melihat kedua tanganya di dada dan bersiap mendengar apa lagi yang hendak di katakan pria anak mafia yang banyak di takuti orang-orang itu.

          “A-aku akan membunuh keluarganya jika kau tidak menjauh darinya!” ancam Sergio berusaha untuk terdengar dingin. “Semuanya. Aku akan membunuh mereka semua” tambahnya sok dingin saat merasa berhasil melihat ekspresi Jasmine yang melebarkan matanya terkejut.

         “Aku akan sangat bersukur jika kau melakukan itu dengan baik” ucap Jasmine setuju. Sergio kembali terkejut tidak percaya

        “Ka-kau tidak takut Benedict akan sangat terpukul jika keluarganya semua mati?” tanya Sergio bingung.

          “Kenapa tidak.? Aku bisa memberikan banyak anak untuknya. Kami akan membentuk keluarga baru. Bahkan hanya satu anak aku berikan dia pasti sangat bahagia” ucap Jasmine cuek. “Menyingkirlah, dan lakukan tugasmu itu” ucap Jasmine mendorong Sergio yang menutupi pintu mobilnya. Sergio menurut, mengaruk kepalanya bingung memikirkan alasan apa lagi. apa yang bisa membuat gadis itu takut

          “Tapi bagaimana jika dia tidak mencintaimu?” tanya Sergio ragu namun ternyata berhasil membuat Jasmien terdiam mematung. Terdapat sebuah seringai licik di wajah Sergio saat merasa berhasil membuat Jasmine terdiam.

Berbohong sedikit tidak apalah ucapnya dalam hati. “Bukannya kau mengatakan kau tidak mencintainya di depan umum? Dia juga tidak mencintaimu, jangan tahan dia karena keegoisanmu sendiri, kau…”  ucap Sergio berpura-pura menghembuskan nafas frustasi. Memasang muka sedih, tapi dalam hati ia tertawa karena mendapat kelemahan seorang Claudia Jasmine.

        Seorang Jasmine ternyata  tidak akan tunduk dengan kekuasaan dan kekerasan namun akan tunduk jika ia tersentuh atau kelembutan.

“Kau tau maksud dari aku menyuruhmu pergi Jasmine.” Ucapnya berusaha terdengar sedih “Aku tau kau tidak pernah mengalami kesulitan semenjak kau membuka mata di dunia ini namun berbeda dengan Benedict. Saat ia menjadi sel telur ia telah di campakkan oleh ayahnya dengan kejam. Hingga ia dewasa seperti ini ia telah mengalami banyak kesulitan” ucap Sergio berusaha  sedramatis mungkin.

“aku tau kau masih punya hati Jasmine, jangan tambah kesedihan Benedict lagi, biarlah dia berbahagia bersama gadis yang ia cintai”

         “Be-benedict mencintai seseorang?” tanya Jasmine tidak percaya. Sergio mengangguk ragu bingung memikirkan apa lagi yang hendak ia katakan jika gadis itu menanyakan nama, karena sosok yang dimaksud Sergiou adalah Jasmine itu sendiri.

       “Aku tidak perduli” ucap Jasmine tegas. Aku akan membuat dia mencintaiku, di hanya boleh mencintaiku! Gumannya dalam hati

        “Tidakkah ada belas kasihanmu terhadapnya? Setidaknya biarkan pria itu bahagia dia mencintai wanita itu. karena menolong keluargamu yang akan bangkrut dia bersedia menikahi gadis sombong sepertimu. Gadis tidak memiliki hati!”

       “Aku yakin aku bisa jauh lebih baik dari pada Taylor!”

       “Bukan Taylor gadis itu!! namun gadis bisu yang berada di panti asuhan. Renata ya namanya Renata” ya ya ya Renata guman sergio yakin saat terpintas wajah gadis sederhana sahabat karib Benedict saat masih di panti asuhan.

Namun gadis itu kini telah menjadi seorang biarawati.ah tidak apa, Jasmine tidak akan menyadari itu.

“Kau pikir Benedict menyukai para gadis liar seperti kalian? Huh, tentu saja tidak! Dia menyukai wanita anggun, sederhana dan sopan. Bukan gadis centil dan palsu” ucap sergio  terus memohok Jasmine yang tanpak terpukul. Sergio membukakan pintu kendaraan Jasmine dan mempersilahkan gadis itu masuk.

“Jadi aku mohon. Lepaslah dia, biarkan ia hidup bahagia” ucap Sergio sebelum menutup pintu mobil Jasmine. 

Aku tau air matamu sekarang palsu,Aku harap kau berhenti berpura-pura mencintainya gadis sombong maki Sergio dalam hati melihat kepergian mobil Jasmine.

 ——————–

          Di dalam mobil Jasmine mengendari mobilnya dengan esmosi berkecamuk di hati. Marah, sedih, kecewa, hancur secara bersamaan. Berkali-kali ia menyeka air matanya yang mengalir turun. Ia tidak tau kenapa prasaanya jauh lebih sakit dari pada saat pria itu meninggalkannya. Kini pria itu memang besamanya saat ini tapi sangat sakit mengatahui fakta bahwa hati pria itu kini pergi membawa jauh jiwanya. Kenapa rasanya sama sakitnya saat ia hanya bisa memendam prasaanya ke pria itu semasa mereka kecil.

“Ya tuhan.. apa yang harus aku lakukan, Aku tak lagi yakin bisa hidup tanpa dia” ucapnya terisak. Melepaskannya lagi atau tetap bertahan dengan keegoisannya

—-To Be Continued–

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *