Chapter 15

bisa dengar lagunya sambil baca

-Authore Pov-

“Nona”  panggil Janet pelayan pribadi Jasmine ke tuannya yang masih menangis. “Nona, apa nona baik-baik saja?” tanya Janet lagi.  Tetapi tuannya hanya tetap diam, menggelengkan kepala pelan, air mata perlahan mengalir lagi.  “Nona kenapa? nona membuat aku takut, nona bisa mengajak aku menjadi tempat curhat seperti biasanya nona” ucap Janet membujuk lagi. Yang di ajak bicara tetap diam, dalam tangisnya ia meremas slimut yang menutupi dadanya.  

     Semenjak kemarin tuannya berprilaku aneh, menjadi pendiam dan murung, tidak keluar dari kamar dan tidak mau memakan makanan nya. Saat Jasmine pulang kerumah kakeknya, Janet pelayan pribadi Jasmine langsung memeluk tubuh tuannya erat karena sangat merindukan tuannya, Janet bingung karena Jasmine tidak biasanya membalas pelukan dengan menangis, biasanya tuannya itu periang dan cerewet. Namun ia tidak bisa berbuat apapun, karena tuannya hanya diam menyimpan sakitnya sendiri.  

                Para pelayan dirumahnya mengira Jasmine telah berpisah dengan suaminya atau Jasmine tersiksa di rumah suaminya itu makanya tuan mereka kembali lagi kerumah kakeknya. Dan menjadi gadis pemurung  

—————-  

“Pagi nona Naya, Pagi nona Lauda” sapa Janet saat menyambut Naya dan Lauda di depan pintu kediaman tuannya.

“Pagi sayangku Janet, ada dimana pacarku itu sekarang?” tanya Naya memberikan pelukan hangat ke Janet, Lauda langsung beranjak ke lantai atas tempat kamar Jasmine berada

  “Nona Mine sedang di kamarnya nona, tidak turun semenjak kemarin” jawab Janet dan berjalan menaiki tangga.

“Dia slalu menangis tapi tidak seperti biasanya, jika dia menangis biasanya slalu berteriak-triak dan marah-marah, memecahkan semua barang, kini dia hanya diam menahan sakitnya sendiri, apa nona Naya tau nona Jasmine kenapa?” lanjut Janet bertanya  

“Tidak apa-apa Janet” Naya memberikan senyum lembut ke Janet “Dia hanya sedang terjatuh” ucap Naya semangkin lebar tersenyum. Janet semangkin bingung mendengar jawaban yang tidak masuk akal olehnya.  

Sesampainya di kamar, Naya melihat Jasmine masih tertidur, padahal sudah jam 10 pagi. “Hei Mine” ucap Lauda membangunkan Jasmine yang ternyata tidak tidur.  “Ya tuhan Mine, kau sangat berantakan sekali” ucap Lauda saat melihat ke adaan Jasmine yang sangat jauh berbeda, matanya bengkak karena sembap, tubuhnya panas.

Naya langsung naik ke ranjang dan memeriksa tubuh Jasmine, merapikan rambut yang menutupi wajahnya dengan lembut.                

   “Bangun Mine, cepat” Dia menarik tubuh Jasmine agar terduduk, Jasmine langsung memeluk tubuh Naya erat. Ia menangis lagi sampai nafasnya sesunggukan. 

“Janet apa dia sudah sarapan?” tanya Naya.   “Mine, apa kau tidak pernah makan.?” tanya Lauda,dia ikut mengusap usap punggung Jasmine. “Sudahlah jangan menangis lagi mine” ucapnya lagi saat Jasmine masih menangis

  “Di sini sakit guys sangat sakit” tunjuk Jasmine ke hatinya sambil menangis sesunggukan. Naya dan Lauda berpandangan dan menghela nafas lelah, tidak mengerti harus bagaimana lagi menghiburnya.  

“Nona Mine belum makan dari kemarin, sedikitpun tidak, bahkan tidak pernah minum air putih saat bangun tidur, tuan James dan Nonya besar sudah tidak tau harus membujuknya seperti apa” ucap Janet.  

“Kenapa kau tidak makan sayang? Pantas saja tubuhmu panas begini” ucap Naya prihatin. Jasmien masih menangis tidak memperdulikan pertanyaan Naya.  

Lauda merasa kesabarannya telah habis. Dia menarik kepala Jasmine dan memaksa gadis itu menatapnya dengan kasar.  Namun melihat mata Jasmine yang memancarkan kesedihannya yang mendalam ia kembali luluh, sangat tidak tega melihat temannya yang mengalami keterpurukannya. “kau bisa mati jika terus begini Mine!” ucap Lauda lembut dan menarik Jasmine kedalam pelukannya  

“aku memiliki satu cerita tentang Russel eh tentang Benedict. Ya itupun jika kau mau mendengarkannya” ucap Lauda. “Apa..? dimana? Dia dimana?? ” tanya Jasmine cepat melepas pelukan Lauda.  

“mm ini sudah lama Mine, mungkin sekitar lebih dua minggu yang lalu.” Ucap Lauda ragu namun Jasmine tampak tidak perduli seberapa lama info itu. “Aku mendengarnya langsung dari Miley, tiga minggu yang lalu dia berada di cicson club dia sangat mabuk sekali. Dan saat ada gadis jalang yang mendekatinya dia berteriak keras mengusir wanita itu dengan mengucapkan “Iam Married” dua kalimat itu membuat Miley semangkin membencimu. Kau telah menyakiti pria itu namun saat di goda seorang wanita terang-terangan ia mengatakan jangan ganggu dia karena dia telah menikah”

mendengar cerita singkat Lauda Jasmien kembali menangis. Naya tersenyum geli melihat Jasmine yang kini menangis seperti anak kecil antara terharu dan sedih.  

“Kanapa kau keluar dari rumah itu? ini membuat seakan-akan kau telah bercerai dengannya” ucap Lauda sedikit kesal karena tindakan bodoh Jasmine  

“Itu rumahnya, aku tidak ingin hanya karena menghindari aku dia tidak pulang  kerumahnya” jawab Jasmine lemah  

“Kenapa tidak kau saja yang mencari keberadaanya?”  

“Aku telah menanyakan ke ayahnya namun ayahnya terlihat sangat dingin dan tidak menjawab pertanyaanku. Aku menanyakan ke Cat, dia menyuruhku untuk pergi saja dengan Peter, ‘aku telah bebas’ ucapnya”  

“Tunggu, apa maksud Catrine dengan mengucapkan kalimat itu?” tanya Naya. Jasmine menggeleng tidak mengerti

  “Apa kau telah menanyakan sekertarisnya? sahabat-sahabatnya?” tanya Lauda, saat mendengar itu Jasmine menunduk dan menutup wajahnya, kembali menangis

  “Aku menyasal tidak ingin kenal dengan teman-temannya, aku menyesal tidak ingin mengenal orang yang ada di kehidupannya” ucapan  Jasmine terdengar tidak jelas karena wajahnya tertutupi kedua tangannya

  “Ya tuhan, kau sangat menyebalkan Mine, Relakan saja dia pergi. Kau akan terus menyakitinya jika kalian terus bersama” ucap Lauda ketus  

“Laudaaa!! Tidak bisakah kalian memaafkanku? Aku harus bagaimana agar kalian mengerti aku menyesal?!” pekik Jasmine tidak tahan dengan ucapan Lauda yang sama ketusnya saat Miley memarahi kelakuannya.

  “Sudah Mine, tenanglah.” Naya kembali menenagkan sahabatnya dengan mengusap punggung Jasmine “Ini sangat aneh Mine, ada apa denganmu sebenarnya? Kau dua bulan tidak bertemu Peter tapi prilakumu biasa saja tapi dua minggu pria itu menghilang kenapa kau sehancur ini? maksudku aku tau kau sedang terjatuh seperti definisimu tapi kenapa kau harus berlebihan seperti ini? saat kita berkumpul kau lebih banyak termenung dan dengan cepat kau mengusap air  matamu yang mengalir diam-diam, kami sahabatmu Mine, kau kira kami tidak menyadarinya?”

  Jasmine menatap heran tidak mengerti ke Naya “sedang terjatuh definisi apa maksudmu?  Aku tidak tau kenapa Naya, semenjak satu minggu yang lalu prasaanku sangat sakit, hatiku sangat sedih, seperti ada yang ah aku tidak tau harus bagaimana menjelaskan kepada kalian, aku seperti ketakutan dia akan meninggalkanku. Aku sangat mengkhawatirkan keberadaannya. Aku resah menunggunya pulang, aku takut, amat sangat takut namun tidak tau apa yang menakutiku”  

“Waaah aku sangat mencintainya ya haha” ucap Lauda tertawa senang. Jasmine membuang pandangan malas dari Lauda.  

“Hei kau masih mau menyangkalnya ha?!” hardik Naya mengerti arti respon yang di berikan Jasmine.

  “Aku harus bagaimana aku butuh saran bukan butuh di tertawakan olehnya!”  ucap Jasmine kesal. Lauda kembali menertawakan Jasmine, Naya juga ikut tersenyum, Jasmine kembali menjadi gadis yang keras kepala bukan seperti mayat hidup lagi  

********** . . .      

  Claudia Jasmine Pov  

“Hei kau, ya kau kemari” ucapku saat pelayan yang aku tunjuk kebingungan karena aku panggil. Mungkin dia tidak menyangka aku yang menyadari pandangannya yang terlihat sangat membenciku.

“Ya nona” ucapanya dingin tampa takut, dia berdiri di hadapanku namun matanya malas untuk membalas tatapanku, sial kenapa pelayan ini sangat tidak menghormatiku?

“Ada apa dengan sikapmu? Apa kau memiliki masalah denganku huh?” tanyaku langsung tepat di inti masalah.  

“Tidak” jawabnya singkat. Palayan ini sangat membuat ku geram, aku merasa tidak pernah memiliki masalah dengannya tapi kenapa sikapnya seperti memusuhiku?  

“Kalau begitu beri aku alasan atas sikap kurang ajarmu ini” ucapku tegas, namun dia hanya diam tidak menjawab pertanyaanku.  

“Akan lebih baik jika kau memberitahuku, maka dengan cepat aku dapat memperbaiki masalah di antara kita” Dia masih diam, membuang  tatapan malas ke samping.

  “Jika kau tidak memiliki alasan sebaiknya kau jaga sikapmu!  Sana, pergilah bekerja  dan berprilakulah selayaknya seorang pelayan” ucapku datar. Dia masih membungkamkan mulutnya namun kini mengepalkan tangannya menahan geram.  

Aku tau ucapanku sangat melecehkannya, tapi dia yang pertama mencari masalah denganku. “Pergi” ucapku malas. Dia berjalan keluar dari kamarku di ikuti tiga pelayan lainnya. Aku sangat yakin setelah keluar dari kamar ini ketiga pelayan itu pasti akan memaki-makiku  

Hah, aku kira dengan kembali kerumah ini akan ada alasan yang membuatku sedikit betah menunggu pria brengsek itu pulang. Rumah ini terasa sangat sepi dan beberapa pelan memadangku dengan benci. Apa mereka menyalahkanku karena tuannya tidak kunjung pulang karena ulahku? Kenapa lama sekali pria itu menghindariku? Seperti pecundang tidak berani menghadapiku. Tidak masalah sampai berapa lama. Aku akan menunggu hingga dia sendiri yang memakiku untuk pergi.

  ————  

  Pukul 21:00 aku turun dari kamarku karena dilanda bosan dan sepi. Saat turun aku melihat Damien Catrine dan Niky adik perempuan sedang duduk menonton bersama.

Damien tampak sedang memarahi Mrs.Melinda “Jika ada yang berani keluar dari rumah ini lagi akan kupastikan kalian kupecat dan tidak mendapat perkerjaan dimanapun. Bahkan aku akan membunuh para pelayan yang berani melawanku  lagi” ucap Damien dingin.

“Kau tidak harus melakukan itu!! Apa kau belum puas dengan sikapmu Damine?! Aku tidak percaya aku bagian dari darahmu Damien!!” ucap Niky keras, dia kenapa tiba-tiba memarahi Damien seperti itu? Niky pergi meninggalkan ruangan dengan kesal.

Saat tatapannya bertemu dengan mataku ia mentapku dengan sinis, kedua matanya menyipit  tajam ke arahku. Tatapan yang sama aku terima dari beberapa pelayan. Dia menghempaskan satu kakinya ke lantai dengan kesal dan pergi berlalu dari hadapanku, ada apa dengan dia? Aku rasa aku tidak pernah memiliki masalah dengannya.  

“Hai Jasmine” sapa Damien lembut. Sangat berbeda saat berbicara dengan Mrs. Melinda. ia memandangku dengan wajah berbinar, tampak gembira. Aku hanya mengangguk kecil menjawab sapaannya.  

“Damien, apa kau baru pulang kerja?” ya mungkin pria itu tau suamiku berada di mana saat ini. aku berjalan duduk di samping Catrine.

  “Ya Jasmien, ada apa?” tanyanya masih dengan ekspresi sama

  “Em..apa kau bertemu Benedict hari ini?” tanyaku hati-hati, Damien tampak terkejut aku menanyakan Benedict kepadanya. Dia memutar matanya ke Catrine namun Cat hanya diam menatap layar besar Tv tampak tidak memperdulikan  tatapan Damien

  “Tidak Jasmine” Jawabnya akhirnya  “Em tapi tiga hari yang lalu ya, aku melihatnya bersama Taylor di hotel.” ucap Damien lagi. Kekesalan menjalar lagi di hatiku saat aku tau ternyata pria itu selama ini sedang bersma Taylor. Dasar brengsek dia bersenang-senang diluar sana sedangkan aku menangis merutuki penyesalanku!!

  “Oh ya, aku yakin dia kini berada di dubai, kau ingin menemuinya? Aku bisa menemanimu kesana. Dan jangan takut aku mengenal negara itu dengan sangat baik.” ucap Damien lagi, aku tidak menjawab pertanyaan Damien hanya diam menahan emosiku. Kesal, sangat kesal mengetahui fakta dia bersama Taylor selama ini!! apa dia tidak memikirkanku? Tidak sedikitpun dia memperdulikanku?!

“Tidak Damien, trimakasih tawaranmu” ucapku singkat. Aku melangkah meninggalkan Damien yang  masih tersenyum manis ke arahku, keputusanku pulang kerumahku dua hari yang lalu aku rasa benar. Aku tidak di harapkan lagi di rumah ini.  

“Damien!!!” aku terlonjak kaget mendengar seseorang bentakan sangat kencang di arah pintu.

S-Sergio?? Kenapa penampilannya sangat hancur begitu? Rambutnya sangat berantakan, bajunya basah oleh keringat, mukanya juga sangat kusut dan panik, dan astaga ada apa dengannya sampai menangis seperti itu?? saat Sergio menyapukan pandanganya ke penjuru ruangan bertemu dengan Damien ia dengan cepat menerjang Damien hingga terpental jauh.

Seketika tubuhku beku, aku mematung sulit untuk bergerak, dapat dengan jelas aku merasakan prasaan amat sedih menjalar di hatiku. Prasaanku mengatakan ada yang tidak beres sedang terjadi. Tanpa aku sadari air mataku mengalir saat melihat Sergio memukuli Damien dengan brutal sambil menangis, dadaku semangkin sesak memikirkan apa yang telah terjadi dengan suamiku hingga Sergio seperti kesetanan memukuli Damien dengan air mata mengalir deras dari matanya. Dia terus mengunjamkan pukulannya di wajah Damien, Meski Damien telah mengeluarkan banyak darah Damien tetap tertawa keras mengejek Sergio.

“Dasar brengsek!! Seharusnya aku tidak memperdulikan larangan Benedict untuk membunuhmu! Seharusnya sejak lama aku bunuh saja kau brengsek!!” Bentak Sergio parau, ia terus memukul wajah Damien tanpa henti dengan sangat keras. Damien juga terus tertawa menerima pukulan Sergio, tertawa senang karena justru orang yang sedang memukulinya yang sedang menangis.

 Air mataku kembali menetes melihat apa yang terjadi. Apa yang membuat seorang Sergio yang terkenal keras dapat menangis pilu seperti itu? apa ada hubungannya dengan Benedict? ada apa dengan Benedictku? Di-dimana dia berada? Apa dia baik-baik saja? Apa yang terjadi dengan Benedictku?! Aku melihat Catrine berharap mendapat penjelasan darinya. Namun Cat hanya diam seperti tidak trjadi apapun, ia menonton dengan tenang

Dengan cepat tiga pelayan pria menjauhkan Sergio dari Damien, Sergio berhasil membrontak, ia memukul tiga pelayan laki-laki itu dengan brutal dan kembali memukuli Damien yang tampak sudah akan kehilangan kesadarannya.

“Cepat keluarkan dia!!” sekarang lima pelayan kembali menarik Sergio. aku melihat ke atas tangga, Ayah mertuaku berdiri ujung tangga, ada Niky di sampingnya menatap dingin ke Damien.

“Dasar brengsek aku tidak akan berhenti sebelum membunuhnya!!” triak Sergio keras, ia tidak bisa lagi melawan lima pelayan yang menahan tubunya hingga Sergio hanya bisa menendang nendang udara dengan brutal “Lepaskan aku!! Aku harus membunuhnya”  ucap Sergio masih emosi

“Sudahlah anak muda, reaksimu terlalu berlebihan.” Ucap Ayah mertuaku dari atas tangga.

“Ka-kau!!” tatapan  Sergio kembali ke ujung tangga. “Anda membuat aku merinding, aku tidak percaya ada mahluk lebih rendah seperti anda dari pada seekor binatang” desis Sergio dingin, matanya membesar menatap Ayah mertuaku.  “Bahkan binatang tidak pernah membunuh anaknya sendiri. Anda menyebut apa diri anda hah?!!”

aku kembali menatap ngeri ke Ayah mertuaku yang kini tampak mengerikan menahan amarahnya. “Ayahku Jauh lebih baik dari pada anda! Dia membunuh banyak orang brengsek sepertimu tetapi ia tidak pernah membunuh anaknya sendiri.” Triak Sergio lagi saat Ayah meruaku berbalik hendak memasuki kamarnya. Pria tua itu hanya mengusir Sergio dengan dua jarinya.

Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa aku tidak dapat mengerti apa yang telah terjadi? Aku melihat Ibu Mertuaku berdiri tidak jauh dariku bersama si kecil Nicole. Sergio telah melepas peganggan para Pelayan dari tubuhnya ia berjalan mendekati Nicole. Menatap Nicole dengan pandangan sulit aku mengerti

“Apakah Russ masih hidup?” tanya Nicole tenang, meski terihat sangat tenang air matanya menetes dengan perlahan.  Maksud ini semua apa? bahkan anak kecil seperti Nicole  tau apa yang telah terjadi.

Sergio perlahan berlutut di hadapan si kecil Nicole. Tangannya gemetaran memegang kedua pipi Nicole dengan lembut, air matanya kembali turun dengan deras. Sergio menunduk, aku dapat melihat tubuhnya bergetar karena menangis. ia  menggelengan kepalanya perlahan. Melihatnya aku kembali tercekat, seperti ada yang merampas oksigen dari paru-paruku seketika, membuat dadaku sesak. A-apa maksudnya ini semua?

Aku ingin mencari tahu dengan melihat Mrs.Melinda. Dia juga diam menundukkan kepalanya, apa  dia juga tau apa yang telah terjadi? Dadaku kembali terasa sangat sesak karena tidak percaya sepertinya semua orang dirumah ini tau apa yang telah terjadi. aku merasa kakiku terasa lemas tidak sanggup menompang tubuhku lagi.

Ya tuhan, apa hanya aku yang tidak mengerti atas apa yang  terjadi disini?! apa hanya aku yang tidak mengetahui keberadaan suamiku saat ini? Dimana Benedict. Bagaimana keadaanya sekarang? Ben, dimana dia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *