Chapter 14

14. Without you by my side

      “Hi Mine”

aku menoleh saat mendengar seseorang menyapaku. Benedict, dari mana pria ini tau aku ada disini?

       “Minum?” tawarku untuk membalas sapaan ringannya. Di menolak tetapi ikut duduk di sisiku di dekat meja bar. Kami saling diam menikmati musik akustik yang berjudul  fall for you secondhand serenade terdengar merdu dari panggung. Dari ujung mataku aku tau dia tak lepas menatapku dengan senyuman manisnya, aku menghindari pura-pura asik melihat si pemain gitar akustik. Aku tidak mau jika dia menyadari aku yang tengah termenung lagi menatap mata itu

        “Apa kau tidak mau aku kenalkan ke teman-temanku yang berada disana? Mereka sedari tadi memintaku membawamu” ucap Benedict memecah keheningan di antara kami. Hah, dia mendatangiku hanya karena teman-temannya? Apa desakan teman-temannya juga yang membuat kakinya melangkah mendekatiku?

      “Apa itu perlu? aku rasa aku tidak punya alasan untuk mengenal teman-temanmu. Tidak penting mengenal orang orang yang ada di sekitarmu” ucapku berusaha untuk sedatar mungkin tanpa membalas tatapannya.

        “Oh, baiklah aku mengerti, aku tidak akan memaksamu” ucap Benedict terdengar kecewa, aku melihat dia memaksakan sebuah senyuman kaku di wajahnya dan berdiri  hendak pergi. Polos sekali pria ini, apa dia tersinggung dengan ucapanku?

        “Kau mau kemana? Tetaplah duduk disini” ucapku  membuang tatapan ke pemain musik “Temani aku” lanjutku pelan. aku tidak ingin mengenal temannya karena itu memang tidak penting, apa ada yang salah di kalimatku? aku lebih suka berdua dengannya meski tidak banyak mengobrol sekalipun. Apa dia tidak merasakan hal yang sama? Uh!

        “Aku hanya ingin mengambil air mineral di sampingmu Mine. Atau kau bersedia  meraihnya untukku?”  ucap Benedict mengulum senyum.  Sial! Apa sikapku yang  aku ingin ditemani olehnya terbaca sangat jelas? aku  menggeleng pelan dan mengatupkan kedua bibirku menahan malu.

       “Sorry” ucapnya cepat sambil berusaha untuk meraih air mineral yang ada sedikit jauh di sampingku. Haha dasar, namanya pria tetaplah pria. Dia mengambil kesempatan memelukku saat meraih air mineral yang ada di sisiku.

      Saat sudah meraih botol air itu tangan kirinya masih saja di letakkan di meja Bar,di belakang punggungku. Membuat dia seperti merangkul tubuhku. Aku melirik heran ke arahnya, dia membalas lirikanku dengan senyuman jahil sambil meminum air botol itu, senyumnya seperti menjawab tebakanku. Haha Aku tidak bisa menahan senyum melihat dia jahil seperti ini, aku tidak percaya dia melakukan taktik murahan seperti itu untuk mengambil kesempatan memelukku.

        Aku menyandarkan tubuhku untuk bertumpu di bahu kirinya. Mengabulkan permintaanya. Wangi makulinnya terasa lembut di penciumanku, harus aku akui aku suka bersentuhan dengan tubuhnya. Ada di dekatnya seperti ini membuat semua  terasa sangat benar. pria ini dengan sangat lembut dan kesederhanaanya kembali membuat aku nyaman. Dari dekat ini dia juga terlihat sangat tampan. Alis matanya, hidungnya, senyumnya, bahkan kulitnya tidak menampakkan pori-pori yang besar seperti laki-laki kebanyakan. Perpaduan yang pas membuat dia tampak sempurna. Kenapa aku tidak pernah menyadarinya saat semua gadis memujanya?

        “Mine”

        “Hmm.?”

       “Stop pandangi aku seperti itu” ucapnya tampa membalas tatapanku. Sialan aku kelepasan lagi, aku memutar kepalaku dari memandangi wajahnya. namun ia menarik wajahku agar kembali menghadapnya

        “Lehermu kenapa menjadi seperti ini?” Tanyanya panik

    “Oh itu ulah Taylor, dia menyerangku. Aku tidak tau kau memiliki hubungan denganya?” Tanyaku sambil menepis tangannya yang menyentuh lukaku. Oke Aku perbaiki kalimatku, sentuhan tanganya di kulit leherku menimbulkan sedikit sengatan listrik. Itu alasan aku menepisnya

      “Apa dia sangat menyakitimu? Bibirmu ini juga ulahnya.?”

    “Kau pikir ulah siapa lagi? ciumanmu tadi huh?” Tanyaku cepat, namun sebenarnya membuat aku malu mengingat ciuman panas yang ia berikan.

        “Ya mungkin ada yang menciummu selain aku hari ini” ucapnya dengan nada mengantung. Ah apa dia mengira luka di ujung bibirku ini karena berciuman dengan Peter? Apa dia melihat ciuman itu? aku mau tau dia melihat atau tidak, tapi bagaimana cara menanyakannya  

        “Ka-kau melihatnya?” Tanyaku berhati-hati

   “Apa ada yang haru aku lihat?” tanyanya dengan ekspresi datar. Ught apa dia sedang memancingku untuk berkata jujur?

     “Lupakan”

     “Aku berjanji Taylor tidak akan dapat menyentuhmu lagi Mine.”

     “Oke tapi-“ belum sempat aku menyelesaikan ucapanku telah terpotong oleh bunyi ponselnya. Dia mengangkat telponya setalah aku memberikan dia waktu untuk berbicara. Dia menelpon tampa beranjak dari sampingku. Dalam rangkulannya seperti ini membuat telingaku geli karena nafas dan suaranya tepat di daun telingaku. Aku menikmati duduk berdua denganya seperti ini. tanpa terasa area Party mulai sepi.

     “Sepertinya Sergio membuat masalah lagi, aku harus melihatnya” ucap Benedict memohon beranjak. Hah, si pria arogan itu lagi, dengan berat aku mengangkat punggungku yang menindih lengan kirinya. Dia meninggalkanku dengan panik. Kenapa dia sepanik itu? Sergio? Jangan bilang dia menghajar Peter lagi

        Astaga!!

                  ***********

Author  pov

     “Fuck Off.!! Menjauh darinya!!!” Jasmine mendorong tubuh Benedict  yang tengah memeriksa keadaan Peter. Dengan panik Jasmine menghampiri Peter yang telah kelelahan menerima pukulan Sergio.  Wajahnya telah lebam dan banyak mengeluarkan darah

     “Kau tidak apa-apa Pet? Ya, tuhan kau banyak mengeluarkan darah, bertahanlah sayang aku akan membawamu ke rumah sakit”  ucap Jasmine panik melihat kondisi Peter yang memprihatinkan

     “Jasmine!! Tidak sepantasnya kau bersamanya!!” Jasmine  menepis tangan Sergio dengan kasar saat pria itu menarik tubuhnya  menjauh  dari Peter yang berbaring lemah.

     “Apa lagi masalahmu ha?!!”  Jasmine menatap geram Sergio “Apa masalahmu Brengsek?! “ Bentak Jasmine Keras. Ia ingin menunjukkan jika dia tidak pernah takut untuk menghadapi anak mafia mengerikan seperti Sergio

     “Kau istri sahabatku, bukan pecundang itu!!!” Bentak segio tak kalah kuat. Dengan cepat Jasmine berdiri menghampiri Sergio dan menampar keras tepat di pipi pria sombong itu

     PLAAAAAK!!

     Tamparan itu sukses membuat orang-orang terdiam, memandang ngeri atas apa yang mereka lihat sendiri. Memandang ngeri melihat wajah Sergio yang tampak mengerikan, wajah pria itu memerah, rahangnya mengeras. Memandang benci ke wajah Jasmine yang menatapnya tidak gentar sedikitpun. Ia tidak percaya seumur hidupnya akhirnya ada yang berani menamparnya bahkan dengan sangat keras dan di depan umum

     “Itu bukan urusanmu!! Sedari tadi semua orang telah tau aku istri sahabatmu dan sekarang apa masalahmu?! Apa alasan yang membuatmu memukulinya lagi ha?!!” Bentak Jasmine geram tepat di wajah Sergio.  ia kembali melangkah menghampiri  Peter yang telah  kehilangan kesadarannya.

     “Ayo kita pergi” ucap Benedict manarik tangan istrinya untuk pergi dari keributan yang terjadi di parkiran itu.

     “Jangan sentuh aku!” Jasmine menepis tangan Benedict dengan sangat kasar. Benedict sedikit terkejut namun tidak menghiraukan bentakan kasar dari istrinya, ia tetap meraih pergelangan Jasmine dan hendak membawa istrinya pergi dari tontonan orang-orang

     “Aku bilang jangan sentuh aku!!!” Jasmine mendorong tubuh Benedict  menjahuinya dengan keras.  Jasmine menoleh lagi ke Sergio dengan geram.

     “Baikalah biarku perjelas” Ucap Jasmine tertawa sakartis, ia bangkit berdiri dan menghampiri Sergio. “Aku memang istrinya. Tapi bukan berarti aku harus mencintainya. Kenapa kalian hanya memandang dia?! Kenapa kalian tidak pernah memikirkan perasaanku dan prasan Peter?! Apa kesalahan yang telah Peter lakukan ha?! Kenapa kalian hanya menyalahkan dia?! Aku mencintainya, aku menyakitinya dengan menikahi sahabatmu!!. Bukan berarti aku menikahi sahabatmu maka aku harus mencintainya. Kenapa harus sahabatmu yang harus di nomor satukan?! Dialah orang asing di hubunganku dengan peter! Bukan Peter! aku tidak pernah mencintai sahabatmu!! Jika ada orang  yang patut di sakiti orang itu adalah aku, bukan Peter! Aku akan membunuhmu jika kau berani menghajarnya lagi!! aku tidak akan pernah takut untuk menyentuh anak manja sepertimu brengsek!!” maki Jasmine dengan penuh penekanan di setiap kalimat yang ia ucapkan ke Sergio. Dan tidak lain dia juga mengatakan itu semua orang yang menonton keributan itu.

     Ia berbalik, melangkah meninggalkan Sergio yang terdiam menahan emosinya dengan geram. Langkahnya terhenti untuk sesaat, Jasmine melihat Benedict berdiri masih di tempatnya. Meski  ia dapat melihat  tatapan terluka di mata suaminya, ia tetap melangkah melewati pria itu tanpa menatap dan menghiraukan pria yang telah terluka oleh pengakuannya.

     Ia tidak perduli lagi  jika pria itu akan tersakiti oleh ucapannya. Ia  sangat tidak perduli jika prasaan pria itu akan sangat terluka. Ia tidak peduli lagi jika orang-orang akan menganggap rendah ke Benedict. Ia tidak memperduli akan banyak pasang mata yang memandang benci ke arahya. Dia juga tidak perduli seluruh dunia akan kembali memberitakan namanya dengan berbagai macam headline.

      Yang ia tau, ia sangat sakit melihat Peter yang tidak berdosa terus di hajar oleh Sergio. Ia tidak terima jika Peter yang di anggap pengganggu. Dialah yang telah menyakiti kekasihnya itu kenapa harus Peter  yang terus tersakiti.

     Dengan bantuan Naya Jasmine memapah Peter ke mobilnya. Meninggalkan kerumunan orang yang ada di parkiran mobil itu.

                  **************

          =Claudia Jasmine Pov=

       Setelah menemani Peter di rawat selama semalam, siang harinya aku mengantarkan Peter  pulang ke kediaman orang tuanya. Untunglah dia tidak mendapati luka serius.  Saat malam aku baru memutuskan untuk pulang ke kediaman rumah suamiku.

      Hah, Benedict, apa aku telah sangat menyakitinya? Aku tidak tau harus mengucapkan apa di hadapannya nanti. Huft terserahlah jika dia akan memaki makiku nantinya, terserah.

     Saat aku keluar dari mobilku aku melihat Benedict juga keluar dari mobilnya, benar ini waktunya dia pulang kereja. Saat melihatku dia hanya memberikan senyum tipis, dan kami berjalan bersama memasuki rumah bersar ini dengan di ikuti oleh dua pengawalnya di belakang. Kami berjalan tanpa kata sedikitpun, aku pikir pria ini akan memaki makiku saat pertama melihatku, ternyata tidak. Dia bersikap seperti tidak terjadi apapun di antara kami. Ya, Baguslah

     Saat memasuki rumah aku melihat ada Ayah dan ibu mertuaku duduk berada di ruang keluarga dan ada Niky dan Damien. Mereka tersenyum dan menyapaku hangat. Dengan Pasrah meskipun enggan aku membalas sapaan mereka dan memutuskan untuk ikut bergabung bersama mereka sebelum naik ke kamarku.

      Aku melihat Benedict langsung melangkah menaiki tangga karena mungkin ia sadar, keluarganya tidak menginginkan dirinya untuk bergabung bersama mereka.  Untuk pertama kalinya aku ingin bertukar tempat dengannya, aku ingin menjadi seperti Benedict, aku tidak perlu selalu berbasa basi ke keluarga ini, apalagi jika dalam ke ada-an mood yang sangat buruk seperti yang aku rasakan sekarang.

————–

     Pria itu telah kembali menjadi Russel Heard Benedict yang pendiam, kaku dan dingin. Sudah seminggu lebih Dia kembali tidak memperdulikan aku yang ada di kamarnya, dia juga menghindariku. Saat aku duduk di depan tv sepertinya dia bangkit berdiri dan meninggalkanku ke ruang kerjanya. Sesekali keluar dan melewati ruang Tv tanpa menatapku.

     Jika aku bertanya dia hanya menjawab singkat  dan selalu menghindari tatapanku. Dia sekarang lebih suka pulang larut malam yang berbeda dari biasanya. Kalau dia marah kenapa tidak langsung menamparku saja? Dia tidak perlu memendam emosinya seperti itu. aku akan menerima jika dia memaki-makiku.

     Dan Bahkan termaksuk hari ini, telah 5 hari ia tidak pulang. Dia sepertinya benar-benar marah saat ini. aku akan menerima jika dia mendiamiku selama seminggu, atau bahkan sebulan kalipun tidak masalah yang penting dia ada bersamaku, aku dapat melihatnya meskipun dia menghindariku. Atau setidaknya aku tau dia berada di mana saat ini. apa dia berada di dubai? Atau ke asia timur lagi perjalanan bisnisnya?

     aku ingin tau dia dimana, sedang apa dan bagaimana keadaanya  tapi tidak tau harus menanyakan kepada siapa. Ke Demien tidak mungkin, ke asistennya tidak mungkin juga aku tidak pernah mengenal dunia kerjanya. Nanya kekakeknya memiliki sedikit kemungkinan, tapi pria tua itu nanti malah melaporkan ke cucunya itu kalau aku mencarinya, ah tidak.

Huft, kita tunggu saja sampai berapa lama dia betah menghilang tampa kabar seperti ini.

                       .

                     .

————————–

     Hatiku terasa sangat kosong saat menyadari untuk kesekian kalinya tidak melihat sosok itu di ranjang ini. Terhitung hari ini, Sudah  sepuluh Hari ia menghilang. Lelah aku menyangkal bahwa aku tidak merindukannya. Lelah aku menyangkal bahwa aku tidak merindukan melihat punggung itu lagi, Lelah aku menyangkal bahw aku tidak merindukan wangi tubuhnya. Lelah aku menyangkal bahwa aku  tidak merindukan dia tidur di sampingku. Lelah aku menyangkal bahwa aku  tidak rindu mendengar dengkuran halusnya.

       Aku benci prasaan seperti ini. 

      Aku hanya bisa pasrah menerima prasaanku ini seperti ada sesuatu yang hilang di relung hatiku. Telah  aku lakuin banyak cara. Tidak ada jalan keluarnya. Hanya bisa menunggu terus menunggu kapan akan bisa melihat mata biru itu lagi, kapan bisa medengar suaranya yang tedengar merdu di telingaku.

        kapan aku bisa melihat senyum itu lagi? Aku merindukan pria itu. Demi Tuhan aku merindukan dia. Meski saat menutup mata aku melihat dalam ingatanku  namun tetap seperti ada yang menekan hatiku dari dalam

     Kemana pria itu? kenapa dia  harus memperlakukanku seperti ini?! Jika dia memang marah dengan kelakuanku kenapa tidak langsung  menamparku saja? Kenapa membuat aku frustasi seperti ini!! Dasar pria Brengsek!!! Demi Tuhan ada dimana pria itu!!! kenapa dia harus menyiksa batinku seperti ini?! kenapa dia tidak langsung saja melampiaskan amarahnya!! Dasar brengsek!! Dia membuat hatiku sangat sakit. Perasaan ini, kenapa membuat hatiku  kenapa sangat perih. Ya Tuhan kenapa aku harus merindukanya seperti ini!!

        Aku mengatupkan rahangku kuat agar air mataku yang berlinang tidak mengalir jatuh. Dia tidak akan berhasil membuatku menangis karenanya. Tidak akan! Tapi aku tidak bisa menyangkal bahwa aku menginginkannya. Aku membutuhkannya, aku memimpikannya setiap malam. Aku tidak bisa bernafas tanpanya, aku begitu kesepian. Dia slalu ada dalam pikiranku Di malam-malam sepiku dan hatiku

       Aku memukul-mukul dadaku dengan frustasi, berharap tangan yang tak terlihat yang tengah meremukkan hatiku itu akan dapat menghilang atau setidaknya ia menurunkan frekuensi kekutan tangannya agar tidak telalu kuat meremuk hatiku. Sakit, aku merindukannya, aku sangat merindukannya.

         Air mata sialanku ini tidak dapat lagi terbendung olehku,  tadinya hanya ingin mengeluarkan sedikit saja namun malah membuat dadaku sesak dan memompa banyak air untuk keluar.  terlalu lelah aku menahanya agar tidak terjatuh selama ini. Mungkin jika sudah puas menangis akan membuat prasaanku puas dan lepas. Ah ini karena si brengsek itu!! Kenapa pria itu harus menghukumku dengan menyiksa batinku?  Setidaknya aku akan betah menerima sikap dinginnya sampai kapanpun tidak masalah selama aku dapat melihatnya, aku dapat mendengar suaranya.

—– to be continued 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *