Chapter 11

Stupid game

      “Hei Taylor, itu Claudia Jasmine bukan?” Tanya gadis berkulit hitam yang melihat Jasmine memeluk kakaknya tidak jauh dari tempat mereka.

       Taylor menoleh melihat gadis yang di tunjuk temannya sekilas, Tylor hanya mengangguk malas, tatapannya kembali menatap kekasihnya yang sedang menatap ke laut lepas sedari tadi itu.

        “Aku mendengar dia telah menikah dengan kekasihmu Taylor, apakah kau tidak mengetahui itu?” Tanya gadis yang berkulit hitam.

 Mendengar itu gadis lainnya terkejut dan takut memandang reaksi yang akan di berikan Taylor      “Apa? Hei Ka-kau sadar apa yang kau ucapkan itu?” tanya gadis di samping Taylor ngeri menatap reaksi Taylor. Taylor tersenyum remeh ke arah Jasmine

       “Jaga ucapanmu atau kau ku tendang dari kehidupanku Amber” ucap Taylor dingin. Gadis berkulit hitam bernama Amber itu langsung tecekat dan menutup mulutnya rapat. Takut membuat Taylor meledak

                    —–

      Suara musik Dj tiba-tiba mengecil. “Hello Guys…. Perkenalkan.., Aku… Peter Derulo” ucap Peter memperkenalkan diri dengan berteriak mengiringi musik, mendengar nama Peter Derulo  langsung terdengar  sorakan senang dari memuja Dj terkenal itu, ada banyak orang tidak menyangka DJ terkenal itulah  yang sedang bermain dari tadi. Peter adalah DJ terbaik yang pernah ada, pria itu mendapatkan banyak pengakuan di seluruh dunia.

      “Oke.oke.. aku tau kalian sangat mencintaiku haha” ucap Peter percaya diri, terdengar suara riuh lagi dari beberapa orang yang menyukai DJ itu. “aku akan memainkan satu lagu yang sangat amat special untuk gadis-ku yang di sebelah sana. I love you Claudia Jasmine!!” seru Peter menunjuk Jasmine yang sedang memeluk James

      Jasmine mendengar itu langsung melepas pelukannya dari tubuh James, dia tidak bisa menahan tersenyum saat semua mata memandang ke arahnya.

       Banyak yang bertepuk tangan dan memberi semangat dan mengoda atas pernyataan cinta Peter ke Jasmine. Peter memainkan lagu lama FABRIZIO Faniello yang berjudul I’m In Love dan memizxnya dengan lagu RnB. Permianannya sangat apik dan membuat banyak orang yang turun ke lantai untuk Dace bersama patnernya

      Mendengar pernyataan cinta itu membuat Taylor tersenyum sinis ke gadis berkulit hitam yang tak lain temannya itu. “kau mendengarnya? Dia kekasihnya Peter Derulo” Ucap Taylor dingin untuk memperjelas bahwa apa yang dikatakan Amber tadi salah

————-

      Peter terus tertawa gembira melihat Jasmine dari panggungnya. Orang-orang banyak menikmati musik yang keren itu.

      Tibat-tiba ada botol wiskey Johnny Walker mendarat tepat di kepala Peter Derulo. Pria itu terjatuh saat menerima hantaman botol tepat di kepalanya.

       Dengan jatuhnya Peter suara musik agak terganggu, asisten Peter dengan cepat memberhentikan alat musik itu saat melihat botol itu ternyata berasal dari Sergio, laki-laki tersombong karena anak orang terkaya.

       Orang-orang berhenti menari, semua berseru marah karena suara musik tiba-tiba mati. Namun kemudian bukan hanya musik yang diam, mulut mereka pun terdiam bisu saat mengetahui ternyata Sergio Sande-lah yang penyebap matinya musik itu.

       Siapapun yang mengenal Sergio Sande akan berpikir 7 kali untuk ribut dengan pria sombong itu, karena pria sombong  itu akan slalu membuat musuhnya menyesali tujuh turunan karena telah berani melawannya, dan dia di dukung penuh oleh ayahnya yang terkenal sebagai mafia sadis

      “Beraninya aku menyebut Claudia Jasmine itu gadismu?! Dia Istri Sahabatku Russel Heard, brengsek!! Sekali lagi kau berani menyentuh atau bahkan menyebut namanya kau akan mati di tanganku sendiri” Triak Sergio marah ke arah panggung.

       Orang-orang yang mendengar itu terkejut menatap Sergio, Peter, menatap Benedict dan juga Jasmine bergantian.

       Jasmine menahan nafas dalam saat melihat Benedict juga menatap ke arahnya, pria itu memakai celana hitam selutut, baju kaos berkerah V warna orange dan sepatu sport putih. Suaminya itu terlihat sangat tampan dan terlihat jauh lebih muda saat memakai pakaian casual. Benedict juga memakai kacamata hitam, membuat Jasmine tidak dapat melihat ekspresi pria itu dengan jelas.

      Jantungnya berdetak kencang, ia menelan liurnya dengan susah. Bagaimana pria itu benaran ada di Party itu, bagaimana prasaan pria itu saat mendengar pernyataan cinta Peter ke padanya.

      Entah mengapa ia ingin tau reaksi Benedict saat mendengar pernyataan cinta itu. Jasmien juga menatap ngeri ke teman-temannya yang menatapnya tidak percaya. ia ngeri memikirkan kemungkinan yang akan ia terima atas reaksi sahabat-sahabatnya itu, seperti kucing betina yang marah karena kucing jantan mereka ternyata telah direbut kucing betina lainnya.

Melihat Catrine yang hendak pergi dari party itu dengan malas, Jasmine memutuskan untuk mengikuti adik iparnya itu. Dia ingin pergi dari orang-orang yang ingin tau kebenarannya

      ia tau ada banyak orang sedang membicarakannya, ada yang memandang tidak percaya dan ada banyak pasang mata menatap tidak suka kearahnya. Dia juga tahu setelah ini akan ada banyak berita di internet tentang kejadian hari ini.

       Tidak terkecuali Taylor, teman-teman gadis itu malah jauh lebih ngeri menatap reaksi Tayor karena ternyata ucapan gadis berkulit hitam itu tadi benar adanya. Musik telah kembali di mainkan oleh asisten Peter. Taylor menghempaskan galas anggurnya dengan geram dan menyusul Jasmien yang melarikan diri.

           ——-

       “Kau lagi.” Ucap Jasmine malas, jantungnya masi berdegub tidak nyaman saat Taylor menarik tangannya untuk menghadap gadis itu. mereka telah berada di parkiran lumayan jauh dari lokasi Party

          Plaak!!

      Taylor menampar Jasmine sangat keras.  Jasmine sangat terkejut menerima tanparan keras itu, seumur hidupnya ia tidak pernah menerima tanparan sekalipun, apa lagi sekeras musuh bebuyutannya itu menamparnya barusan. Pipi Jasmine memerah, tangannya gemetaran menahan keterkejutannya.

      “Apa masalahmu?!”  triak Jasmine menahan tangisnya. Ia tidak menangis karena kalah, namun ia menangis karena tanparan itu sangat mengejutkn baginya, apa lagi masalah saat kekasihnya itu di lempar botol

      “Aku seharusnya yang bertanya. APA MASALAHMU HINGGA BENEDICT MENJADI MAINANMU HA?!” bentak Taylor keras. Ia benar emosi mendengarkan kabanaran itu di telinganya langsung.

      Jasmine semangkin gemetaran menerima bentakan sekuat itu, ia tidak penah menerima kekasaran yang berlebihan seperti itu

      “Kenapa dia?! Kenapa pria itu yang kau permainkan?! Brengsek kau Jasmine” Taylor menendang keras tulang kering kaki Jasmine. Jasmine melengguh kesakitan saat tepat di tulang keringnya di tendang oleh Tayor

      “Kau salah paham. Awwhh ini sangat sakit bitch!” ucap Jasmine mengusap-usap kakinya

      “Aku tau kau sangat iri karena akulah yang menjadi jauh lebih tenar darimu, aku tau kau slalu hidup di bayang-bayangi oleh kesuksesanku Jasmine. Tapi tidak dengan begini, Jangan pria itu. aku mohon, Pria itu pria terbaik yang pernah ada, aku mohon jangan menyakitinya. Jangan kau membalas dendam-mu dengan menyakitinya” mohon Taylor menangis .

      Jasmine tertengun karena baru pertama kali melihat seorang Taylor menagis terseduh-seduh begitu, selain dalam film-filmnya tentunya. Taylor mengusap air matanya dengan kasar, itu membuat maskaranya sedikit berantakan.

      “Aku bersumpah Jasmine, kau akan kubunuh jika menyakitinya.” Taylor mencengkram kedua bahu Jasmine dengan kuat “Dia, Pria terbaik yang pernah ada.” Tambah Taylor berdesis dingin.  “Aku akan mengakui kekalahanku di depan public jika itu motifmu mendekati Benedict” ucap Taylor lagi. Jasmine tidak dapat berkonsentrasi antara Taylor dan keriuhan yang kembali terjadi di Party itu.

      Jasmine menepis tangan Taylor dari tubuhnya dengan kasar,ia kesal karena kenarsisan gadis itu yang sangat akut.

      “Dengar Taylor. Pertama, aku tidak pernah merasa terbayang-bayangi oleh karirmu dari saat kita kecil! Kedua, aku tau pria itu pria terbaik yang pernah ada. Aku tidak mencintainya tapi aku juga tidak ingin menyakitinya!” ucap Jasmine tegas, ia tidak tau ia benaran percaya atu tidak  dengan ucapannya barusan

      “Ho ya. Trus apa yang aku lihat tadi? Apa yang di lihat ratusan pasang mata itu huh?! Peter mengakui cintanya di depan umum. Dan kau pikir bagaimana prasan Benedict sekarang ha?! Dia pasti merasa di lecehkan akibat ulahmu. Itu yang kau mau kan?!” bentak Taylor lagi. Jasmine tertengun mendengar ucapan musuhnya itu. ia tidak dapat mengelak atas kebenaran itu.

      Taylor seketika tertawa setelah diam sesaat, Jasmine menatap was-was ke  gadis yang tertawa namun juga menangis secara bersamaan itu. “aku baru mengerti sekarang arti tatapan dia tadi” ucapnya sakartis.

“Tatapan apa? Tatapan siapa yang kau maksud?” Tanya Jasmine tidak mengerti

      “Brengsek kau Jasmine” pekik Tylor kencang langsung menampar Jasmine dengan kuat.

      Jasmine meringis karena menerima  tanparan  sangat kuat itu, bibirnya telah berdarah namun ia tidak punya waktu untuk berpikir karena kesulitan menahan Taylor yang berubah dari artis papan atas menjadi seperti wanita barbar yang tidak berpendidikan memukulinya dengan liar.

      “Stop Taylor. Kau telah sangat menyakitiku Taylor!!”pekik Jasmine kelelahan menagkis pukulan Taylor bertububi-tubu ke arahnya “Seseorang, tolong bantu aku menahan wanita gila ini!!” pekik Jasmine frustasi, seperti Tuhan menjawab permohonan Jasmine yang frustasi dengan cepat Jasmine merada ada seorang pria yang memeluknya, pria itu tidak berusaha menahan Taylor tapi hanya melindungi dirinya dari pukulan Taylor dengan punggungnya. Jasmine mendongkakkan kepalanya melihat tubuh pria  yang menolongya.

      “Oh James! Trimakasih Tuhan” ucap Jasmine dalam hati. James hanya tertawa berada di tengah dua gadis yang sedang berkelahi itu. “James ini tidak lucu berhentilah tertawa! Tarik tubuhnya menjahuiku!!” Bentak Jasmine kesal. James langsung berbalik dan menangkap tubuh Taylor yang juga tampak mulai kelelahan.

      “Berhentilah Taylor, kau telah melukai adikku lihatlah dia!” ucap James menarik Taylor dari belakang menjahui Jasmine. Taylor melihat bibir Jasmine yang telah berdarah akibat pukulannya. Namun  tidak sedikitpun ia merasa bersalah.

      “Dia pantas mendapatkan itu” desis Taylor muak

      “Apa yang salah denganmu ha?!” Bentak Jasmine tidak terima. Taylor tidak menjawab pertanyaan Jasmine, ia hanya mengepalkan kedua tangannya degan geram, tatapan mematikan terpancar dari kedua matanya. mulutnya keluh, ia tidak sudi untuk mengatakan kalau  Benedict tadi melihatnya berciuman dengan Peter sesaat setelah gadis itu menabraknya.

      Taylor menendang ban mobil yang ada di hadapannya. Ia menghentakkan giginya untuk menahan air matanya agar tidak jatuh, ia tidak sudi Jasmine yang menjadi istri Benedict mantan kekasihnya. Hatinya begitu sakit mengartikan arti dari tatapan Benedict tadi.

      Jasmine tidak mengerti kenapa Taylor berubah begitu drastis, biasanya gadis itu slalu menjaga citra namanya. Dia selalu berprilaku bak putri kerajaan. Tapi sekarang ia lihat Taylor berubah seperti wanita tidak berpendidikan, seperti gorila yang mengamuk karena anaknya telah di culik.

      Dengan kesal Jasmine membersihkan darah yang keluar dari bibirnya yang perih akibat luka di ujung bibirnya. Entah kenapa Taylor dengan wajah cemas berlari memasuki area Party.

      “Hei Jems, kemana wanita barbar itu?” tanya Jasmine ke James yang tadi menenagkan  Taylor

      “Dia pergi mengejar Benedict” James memeriksa luka Jasmine “Apa kau baik-baik saja Mine?”

      “Ya, darahnya sudah berhenti” ucap Jasmine merapikan rambutnya. “mau apa dia mengejar pria itu?” tanya Jasmine seperti tidak peduli

      “Oh. Paris, kau tau kan dia mantan pacarnya Sergio. Dia tidak terima Sergio merusak acaranya itu alasan dia menantang agar Benedict dan Peter bersaing secara adil untuk mendapatkanmu” ucap James datar, ia ikut merapikan keada-an Jasmine yang sedikit brantakan akibat ulah Taylor

      “APA?! Lalu kenapa kau malah memberi tahu Taylor ketimban aku?! Aku istrinya idiot!” Hardik Jasmine tidak percaya dengan ulah kakaknya.Jasmine menepis tangan James yang merapikan rambutnya dan langsung berlari memasuki area party.

      “Aku pikir aku tidak peduli dengannya” triak James mengikuti Jasmine yang telah menjahuinya.

***********

       Jantung Jasmine kembali berdebar ketakutan, tadinya berdebar karena tamparan Taylor yang amat keras kini berdebar karena  mendengar ulah Paris. “Dia menantang Benedict dan Peter. Arggh gadis itu sedang kesal dengan sikap Sergio tetapi kenapa Benedict yang kena amukannya. sial!” maki Jasmine kesal.

       Saat Jasmine memasuki area party terdengar suara sorakan di daerah panggung, langit telah gelap menyisahkan cahaya senja hamparan laut luas. Meski di area panggung yang tidak memiliki atap itu rame, namun banyak gadis dan pria tidak perduli dengan keadaan disana. Mereka asik dengan kesibukan mereka sendiri.

      Saat melihat ada Benedict bersama Taylor berdiri di pinggir panggung ia melangkah ke arah suaminya. tapi kemudian pandangan Jasmine teralih ke atas panggung saat melihat Sergio tengah memukuli Peter Derulo dengan brutal.  Jasmine  berubah pikiran, melupakan Benedict dengan mempercepat langkahnya menaiki panggung, ia takut  Peter bisa mati di tangan Sergio, tidak akan ada yang berani menghentikan seorang yang bernama Sergio.

      “Fuck off Sergio!!” seru Jasmine 

       Ia tidak peduli status Sergio untuk saat ini. Ia mendorong tubuh pria yang terkenal sombong itu dengan keras, dengan panik Jasmine memeriksa keadaan Peter. “Pet, kau baik-baik saja?” tanya Jasmine mengusap darah dari bibir Peter. Muka peter telah banyak lebam akibat tangan Sergio

      “Guys! Lihat, Claudia Jasmine berlari ke Peter Derulo kesasihnya! Haha come’on Sergio kau melihatnya sendiri kan” ucap Paris centil di microfon yang ada ditangannya saat melihat Jasmine dengan panik menghampiri Peter yang di pukuli Sergio. “Sahabatmu itu mungkin suaminya Jasmine, namun Peter Derulo-lah yang ada di hatinya haha” Paris semangkin semangat membuat muka Sergio memerah menahan marah menatapnya.

      Mendengar pernyataan Paris itu, Jasmine seperti tersadar ia  menoleh ke arah Benedcit yang juga menatap ke arahnya. “Ben” ucapnya takut, ia tidak ingin menyakiti pria itu saat tau peter adalah kekasihnya, setidaknya ia ingin mengatakan sendiri ke pria itu, bukan dalam keadaan seakan-akan dia lebih memilih Peter dari pada pria itu. Ia ingin menyampaikan ke suaminya itu kalau alasan dia mengejar Peter karena Sergio bisa saja membunuh Peter dengan tangannya sendiri  jika tidak ada yang menghentikanya.

      “Paris kau bisa aku bunuh jika kau terus melampiaskan amarahmu ke Benedcit!!” Bentak Sergio ke Paris “Kemarilah, tanpar aku!” seru Sergio marah.

      Paris merasa jauh lebih gembira saat melihat rahang Sergio mengeras menatapnya dengan penuh amarah, ia tau satu-satunya cara untuk menyakiti pria sombong yang berkuasa  itu adalah dengan menyakiti Benedict sahabat terbaiknya. Siapapun tau entah mengapa Sergio slalu bersedia menyerahkan nyawanya untuk melindungi Benedict.

      “Oke baby baiklah, untuk hasil yang adil bagaimana jika sahabatmu itu sendiri yang berjuang mendapatkan istrinya kembali, bukan kacungnya seperti dirimu” ucap Paris masih centil namun senyumnya meremehkan Sergio.

      “Paris!! kau-“

      “Bagaimana Guys. Kalian setuju?” Tanya Paris memotong ucapan Sergio ke tamu yang tampak mulai tertarik dengan apa yang terjadi di panggung. Semua berseru setuju, orang-orang yang masi duduk di gazebo-gazebopun juga turut memberikan suaranya. Sangat tertarik dengan kehidupan orang-orang populer itu

      “Oke Serigo kau harus setuju. Permainannya simpel, siapa yang bisa membuat gadis-gadis disini menjerit histeris dalam hitungan 1 menit atau maxsimal 10 menit dialah pemenangnya. Dialah yang akan membawa Jasmine pulang malam ini hahah. Kita mulai 3 menit lagi” Ucap Paris tersenyum ke Sergio dan menaik turunkan alisnya nakal.

      Rahang Sergio tampak semangkin mengeras menerima tantangan dari gadis yang dicintainya itu. Sebenarnya bagi Sergio mudah membuat mantan kekasihnya itu jinak dan menghentikan sikap keterlaluannya saat ini. 

      Karena Sergio tau gadis itu hanya memberontak dengan sikapnya  yang dikira Sergio tidak mau menikahinya. Padahal sebenarnya Sergio baru saja membeli sebuah pulau cantik untuk mempersiapkan tempat proses pelamaran gadis itu, tapi sepertinya Sergio akan menghancurkan dengan tangannya sendiri rencananya. Ia tidak terima sahabat terbaiknya menjadi tempat pelampiasan gadis itu. ia akan membuat gadis itu menyesali perbuatannya.

      Sekarang ia bingung memikirkan bagaimana cara untuk melindungi sahabatnya itu lagi. Benedict yang dia tau adalah pria yang kalem dan menyedihkan, sangat sulit pasti bagi Benedict untuk membuat gadis-gadis yang ada itu menjerit histeris, apa lagi dalam hitungan menit.

      Tidak beda dengan Benedict, saat melihat Peter dengan semangat di depan laptopnya Jasmine juga cemas memikirkan apa yang bisa membuat gadis-gadis kalangan sosialitas atas itu untuk tidak menjaga image mereka dengan baik. Segelintir gadis-gadis itu pasti banyak yang bisa menjaga status, menjaga reputasi, menjaga kelakuan, atau menjaga penampilan mereka agar tidak terlihat murahan berteriak histeris meski mereka mengagumi Benedict.

      Jasmine turun dari panggung dan menghampiri Benedict yang ada di samping Taylor dan dua sahabatnya. “Ben, kau tidak akan menerima tantangan itu kan?” Tanya Jasmine cemas “Ah tidak. Kau Jangan menerima tantangan bodoh itu oke!” ucap Jasmine penuh perintah. Ia merasa percuma marah ke Paris karena dijadikan taruhan, karena memang sangat tidak mungkin Paris mau mendengarkannya, salah satunya adalah menyuruh suaminya itu berhenti agar tidak tersakiti karena kalah melawan Peter

“Apa kau tidak ingin aku berjuang untuk mempertahankanmu Mine?” Tanya Benedict menatap jauh ke mata istrinya

      Jasmine menelan ludahnya dengan sulit saat menerima tatapan mata suaminya itu. ia terdiam sebentar saat ia merasa tenggelam masuk ke mata biru itu. “Tidak!” jawabnya, raut wajah Benedict berubah mendengar ucapan istrinya itu. 

      Jasmine menggelengkan kepalanya agar ia tidak kembali sadasar dari melamun akibat memandang mata itu. “Ah Tidak, Ya aku ingin Ah Maksudku, Lupakan omong kosong semua ini. Apapun hasilnya aku istrimu Ben!” Ucap Jasmine memohon. Ia tidak ingin menyakiti pria itu, selama mengenal pria itu cukup dekat ia merasa pria itu menyedihkan di rumahnya, ia tidak ingin di luar ia juga menerima perlakuan buruk dari siapapun

===========bersambung–

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *