Chapter 39

dua chapter lagi tamat aaaaaaaa

************

   “Aku benci hujan” Dengus Peter menatap jengah pada ribuan tetesan air yang berjatuhan di kaca mobilnya. Mereka baru saja sampai pada area parkiran tempat party acara amal yang di adakan oleh kerajaan inggris. Jasmine terlihat masih temenung menatap keluar jendela.

     Mengabaikan pria itu, berasyik bersama ceruk cangkir hayalan berisi rindu yang menghangatkan di dinginnya hujan.

      Peter menghembuskan nafasnya pelan.

    “Ayo sweetheart, party itu tidak akan sempurna tanpa kehadiran kita” Peter membuka seat belt-nya. Jasmine tampak belum sadar dari alamnya sendiri. Peter menghembus nafas berat.

“Mine” panggilnya menyentuh lengan gadis itu. Jasmine tersadar dan menoleh ke arahnya. “Kita telah sampai 50 detik yang lalu, ayo kita bersenang-senang hari ini” Peter membantu membuka seatbelt untuk gadis itu.

     Setelah turun dari mobil dan melawan ribuan air yang menghujani atap payung yang di pegang peter mereka memasuki ruang loby gedung itu. Jasmine membuka mantel merah marunnya. Memberi pada pelayan wanita untuk di simpan sampai acara selesai.

     Disamping Jasmine ada tamu, penyanyi remaja yang amat terkenal, digandrungi banyak anak muda jaman sekarang melirik malu-malu padanya. “Hai” sapa Jasmine tersenyum ramah.

     “Aaaak Ya Tuhaan” Jerit gadis itu tanpa sadar. Kemudian dia mengatur sikapnya yang berlebihan setelah beberapa tamu menatap heran padanya. “Owh maafkan aku” Ucap gadis  itu menyentuh dadanya. “Haha aku pasti terlihat aneh saat terus melirikmu astaga ya Tuhan maafkan aku, aku begitu bahagia dapat melihatmu sedekat ini ya Tuhan astaga bagaimana ini” celoteh gadis melonta-loncat kecil ke girangan, sungguh  tidak dapat mengatur emosinya. “CJ, CJ, CJ aaak aku sangat menyukaimu dari saat aku masih di sekolah di menengah atas. Dahulu kau terlalu pelit pada paparazi nona” gadis itu pura-pura marah

    “Namun sikapmu yang sangat menyebalkan itu sangat keren haha” gadis itu terus berbisik dengan heboh. Jasmine tersenyum tipis, dari umur 14 tahun ia sudah sangat hafal melihat ciri-ciri fans yang jika di sapa pasti akan meledak kegirangan, mengeluarkan sifat aslinya, melupakan pura-pura lugu dan malu menunggu di sapa.

    “Dahulu kau hanya dapat terbidik dari kejahuan namun kini, ada banyak majalah dan iklan yang menampilkan wajahmu seakan-akan aku face to face padamu haha. Aku telah beberapa kali mencoba untuk bisa bertemu denganmu tapi selalu tak menemukan waktu yang tepat. Yeah kau tau jadwal tur keliling duniaku yang terlalu berlebihan itu haha” Ucap idola para remaja itu geli, ucapannya tidak terkesan menyombongkan popularitasnya.

    “Bahkan aku menyaksikan dirimu di acara penghargaan musik bersama Peter Derulo, namun aku begitu sangat histeris sampai tak bisa untuk bilang, ‘hai’ kepadamu. Dan kau sepertinya orang yang sibuk da—“

   “Eum, okey” ucap Jasmine menghentikan gadis itu sebelum membuat kegilaan. Namun ia juga merasa geli melihat antusias gadis itu. “i was enchanted to meet you Selena.” ucap Jasmine jujur, dari cara bicara dan tatapan penuh binar, gadis remaja idola para remaja itu terlihat bersikap layaknya fans biasa, dia tidak terlihat jika dia juga pasti digemari banyak orang dengan cara dia menggemari Claudia Jasmine. “I’ve liked you since i met you. Tapi apa kau tidak ingin mengambil bukti bahwa kau telah bertemu denganku?” Tanya Jasmine memberi penawaran. Dia sedikit mengedik geli melihat idola para remaja itu terlalu berlebihan menyukainya.

    Gadis remaja itu seakan teringat, dia mengangguk semangat namun kemudian lemas karena lupa membawa ponsel.

    “Ponselku berada di tangan ibuku, ibuku berada di dalam.” Ucap gadis itu menunjuk ruang dalam gedung “Ah apa boleh menggunakan ponselmu lalu aku memberi emailku agar kau mengirimkannya padaku?” tanya gadis itu seakan sedang meminta kepada sahabatnya.  “Pleaseeee” pintanya memelas lucu.

    Jasmine mengkerutkan hidungnya dan menggeleng geli. “Itu terlalu menghabiskan banyak waktuku” si gadis remaja terkulai lemas. “Bagaimana jika aku langsung memposting ke instagram dan twitterku saja dengan caption ‘New Friend New Hope?’” tanya Jasmine tersenyum geli, tangannya terulur meminjam ponsel Peter

   Mata gadis itu melotot besar.  “Seriously.???!!” Tanyanya tidak percaya.

    “Ya. I ‘ m glad that i met you sweet girl.” Jawab Jasmine merangkul gadis itu. “Ayo tersenyumlah pada kamera”

~~~~~~~~~~~~~~~

      Jasmine mantap bingung pada Peter yang mengarahkan lengan kananya. ‘Ah ya’ ucap Jasmine nyaris tak terdengar. Ia menaruh tangannya di lengan pria itu. Melangkah memasuki gedung yang didekor apik bernuansa merah dan emas glamour. Para tamu dari daftar orang terkaya di eropa dan asia terlihat hadir di acara itu. Judulnya biasa saja dilihat acara pelelangan untuk amal. Tapi dibalik itu semua adalah acara dimana para billionaire memamerkan kekayaan dan kekuasaan. Semua berlomba tuk menjadi penyumbang dengan nilai tertinggi.

     “Tenang saja sweetheart, disini tidak akan ada paparazi, hanya ada camera untuk dokumentasi milik kerajaan.” Ucap peter pelan karena melihat Jasmine yang menatap liar seperti menghindari kamera. Jasmine hanya diam,menarik peter melangkah ke arah meja panjang yang terlihat ada meja air mancur yang terbuat dari coklat.

      “Em Babe, kau yakin akan menyumbang 80% kekayaanmu untuk amal dengan no name?” Tanya Peter di selah langkah mereka. Jasmine lagi-lagi hanya diam. Gadis periang itu memang telah menjadi gadis yang amat sangat pendiam. Dia lebih suka menjawab dengan bahasa tubuhnya. Dia seperti orang yang memiliki alamnya sendiri.

      Jasmine, Claudia Jasmine kekasihnya bukanlah Mine yang dulu. Gadis itu menjadi gadis amat pendiam dan prilakunya membuat sahabat-sahabatnya takut.  Tidak pernah lagi terdengar teriakan kesalnya, tidak pernah ada lagi sifat menyebalkannya. Tidak pernah ada lagi tampak sombong dan keegoisan khas gadis itu. Dia begitu sopan dan lebih memilih mengalah demi menjauh dari keramaian.

    Di muka publik mungkin ia tersenyum, namun sahabat-sahabatnya tau. Tatapan itu begitu kosong, senyum itu rasanya kelam, senyum itu terlihat lebam. Diluar yang tampak baik-baik saja itu, sebenarnnya ada kehancuran yang ia nikmati sendiri perihnya.

    Jika telah berada di dekat sahabat-sahabatnya, senyum itu tidak lagi terlihat. Ia memilih melepaskan topeng yang terukir lengkungan di bibirnya. Memilih melepaskan topeng karena tidak memiliki alasan untuk siapa lagi senyuman itu. Entah kemana sel-sel yang terselubung dalam kulit tuk menarik lengkungan di setiap sudut bibir.  Senyum itu hanya dapat menyelinap didalam pori-pori mimpi.

    Claudia Jasmine bekerja secara gila-gilaan, mengosumsi 11 jenis kapsul suplemen setiap harinya. Setiap malam tidur dengan tangan berselimut selang infus. Dan tidur tidak lebih dari 3 jam perhari. Terkadang ia dapat tidur disela-sela sedang di rias, tertidur sebentar di pesawat jet pribadinya ketika menempuh dua jam perjalanan ke tempat tujuan. Bahkan saat kakinya melangkahpun ia bisa merasa tertidur beberapa detik. Selayaknya pencuri, ia selalu mencuri waktu untuk tidur, kapanpun dan dimanapun di semua jadwal kesibukannya.

    Selayaknya manusia rakus, ia tidak pernah puas untuk menambah lagi dan lagi pundi pundi kekayaanya. Uang, uang, uang, sesuatu yang fana itu seolah pantas tuk menjadi alasan Ia menggorbankan sisa waktu hidupnya yang begitu berharga.  Ia rela mengejar uang itu kemanapun dan kapanpun, tidak perduli lelah tubuh yang mengganaskan menggerogoti jasad itu.

    Terkadang ia bahagia ketika sahabatnya Naya mengejarnya di belahan negara manapun, datang dan menampar keras wajahnya. Memaksanya untuk istirahat dan tidur, memulihkan kesehatan sepulihnya. Namun tekadang juga memaki muak akan paksaan itu. Tidur, masuk ke alam mimpi, membuat ia enggan beranjak dari selimut sayang semu, hanya agar terhindar dari dinginnya sunyi tanpa pria bermata biru itu.  

     Terkadang ia menjerit histeris karena Naya membuat ia  setia bermain, berlari, mungkin terjatuh di dalam mimpi tentang pria bermata biru itu. Enggan terjaga hanya karena terbayang kenyataan tak seindah tanpa pria yang menghunus rindui.

    Luka itu masih bernanah. Di selah nanah yang tak terlihat, ada luka yang darahnya tidak berhenti mengalir, sakitnya tidak kunjung mangkir. Pikiran berteriak menyadarkan bahwa  ia harus bagun dan bekerja, menyeka luka yang harus ditekan demi mengumpulkan apa yang di mau pria itu. Uang seolah pantas menjadi alasan tuk enggorbankan sisa waktu hidup hingga usia menggogoti jasad. Dia harus mencari uang untuk bisa bercerai dari pria itu.

~~~~~~~~~

~~~~~~~~~

     Sergio, Nathaniel, Rymond, Williams dan Benedict terdiam melihat Claudia Jasmine melintas di dekat mereka dengan tangan menggandeng kekasihnya Peter Derulo. Pupil mata membesar, nafas tertahan. Tidak percaya dapat melihat Claudia Jasmine dalam jarak 10 meter.

      Telah berapa lama waktu berlalu?

    4 pria itu menatap sang sahabat yang menatap pilu ke arah istrinya. Pupil mata itu melebar, jantung serasa berhenti berdetak. Air mata rindu menggantung di pelupuk mata.  “J a s m i n e” tanpa suara bibir itu menyebut nama yang telah menghujam rindu di setiap denyut nadinya. Merindukan sosok itu hingga menangis. Tangannya gemetar lemah, kaki ingin melangkah dan meraih tubuh itu kepelukannya, ingin memeluk hingga sesak nafas.

     Nyeri selalu datang tepat waktu. Mengiringi rindu datang dengan gaduh. Rindu layaknya sebilah belati menyuruk masuk kedalam nadi, kemudian setiap denyutan terasa menggerakkan belati tuk mengoyak pembuluh darah seirama setiap denyutan. Jantung itu begitu bergetar, rindu itu begitu beringas. Hati itu kembali terasa di remuk oleh tangan kekar yang kejam. Lagi dan lagi tangan itu semangkin kuat meremas hati yang telah hancur. Semangkin kuat hingga menahan nafas tak tertahankan sakitnya.

      Pelupuk mata tak mampu membenung air mata rindu yang ingin menyeruak keluar. Bintik air mulai membasahi Jas hitamnya. Menunggu,  apa yang lebih pahit dari menunggu yang tidak pasti? Adalah menunggu yang pasti, tetapi sudah jelas akan terasa menyakitkan. Menunggu untuk di maafkan, menunggu untuk di mengerti.  Atau mungkin sedikit saja pahami?  Namun rasanya egois jika meminta di mengerti. Terutama jika yang pergi adalah karena kesalahan sendiri.  Tak ada yang pantas  disalahkan selain diri sendiri. Memutar waktu pun rasanya mustahil karena hidup bukanlah film fiksi. Satu hal yang pasti, sedetik setelah sosok itu pergi, ia  hidup dalam bayang-bayang depresi. Ia telah mencintai tanpa hati. Hampir seluruhnya telah dibawa sosok itu pergi.

     Menunggu sang takdir mempertemukanya pada pemilik hati. Sosok itu telah jauh di depannya, telah menjadi bintang besar dan menjauh darinya. Akan tetapi bayangan sosok itu begitu dekat dibelakang. Bayangan itu begitu lekat. Memaksanya kembali ke masa lalu yang aram, hati dan pikiran terus bertanya-tanya bayangan itu nantinya akan memeluk dari belakang, atau berencana menusuknya dengan belati dendamnya hingga rasa itu akhirnya karam.

*************

       Jasmine tersenyum melihat banyak aneka makanan yang terbuat dari coklat. Ia melepas tangannya dari lengan Peter, menunduk menatap binar pada aneka coklat menggiurkan itu. “Mine” panggil Peter meminta perhatiannya.

   Jasmine mengabaikannya dengan mengambil butiran coklat yang sebesar satu ruang ibu jemari. Melahap dengan menutup mata. “Ehmmm, nikmat sekali” ucap Jasmine tersenyum menikmati coklat itu.

   “Jasmine” Peter menariknya pelan.

   “Hmm?”

   “Kau mendengar apa yang aku tanyakan tadi Jasmine”

   “Aku tidak medengar” Jawabnya berbohong

   “Kau yakin akan menyumbang 80% kekayaanmu untuk amal dengan no name?” tanya Peter mengulang pertanyaan dengan nada geram

   “Ya aku yakin Pet” Jasmine menunduk lagi, menatap bangunan besar yang terbuat dari batangan coklat. “Sepertinya aku telah melalui batas yang aku inginkan” ucapnya tanpa menatap Peter. “Sekarang aku tidak membutuhkan uang-uang itu lagi” lanjutnya kembali melahap coklat dalam bentuk lain.

   Peter mendesah pelan, tidak mengerti maksud dari kekasihnya. ’Telah melalaui batas yang aku inginkan, Sekarang aku tidak membutuhkan uang-uang itu lagi. apa maksudnya.?’ Tanya Peter dalam benaknya. Namun ia memilih diam, tidak ingin mengusik ketenangan gadis itu yang seperti kesenangan melihat coklat.

   Lagipula ia telah memiliki rumah miliaran rupiah dan harta yang melimpah. Dia akan sangat senang jika dapat menangung semua kebutuhan gadis itu nantinya. Peter ikut menunduk, menatap dengan senyum pada gadis yang seperti anak kecil melihat coklat-coklat yang di buat oleh chef terkenal. “Kau tidak takut berat badanmu akan bertambah dengan mengosumsi coklat itu sweet?

   “Hmm?” tanya Jasmine menatap Peter, kembali melahap lava coklat.

   “Coklat itu bisa membuat gendut bukan?” Jasmine tersenyum tipis, ia mengapkan tubuhnya dan mengambil butiran coklat dan menyuruh Peter membuka mulutnya. Peter menerima suapan gadis itu dan menekan butir coklat itu dengan lidahnya. Seketika seperti ada lava di dalam mulutnya. “Pahit” ucap Peter seperti merasa aneh pada mulutnya.

     “Haha ya itulah rasa coklat sesungguhnya Pet” Jasmine tertawa melihat ekspresi lucu Peter. “Ini coklat asli tanpa pemanis, pemanis dari gula itu yang dapa membuat seseorang menjadi gendut, aslinya coklat tidak membuat gendut sedikitpun. Namun dapat membuat pikiran kita nyaman”

    Peter mengangguk mengerti, ia menarik pinggul gadis itu mendekat ke arahnya. Menarik dagu gadis itu dengan tangannya. “Boleh aku mendapatkan pemanisnya sedikit saja?” Tanya Peter menatap bibir Jasmine. “Rasanya sangat pahit”  lanjutnya menatap lekat manik mata kekasihnya. Jasmine hanya diam menantap matanya, entah apa yang ada dipikiran gadis itu. Namun Peter menunggu izin dengan sabar.

   Tangan Jasmine bergerak menyentuh pipi Peter, menggerakkan sendiri wajahnya. Mengecup lembut bibir pria itu. Peter tersenyum dan membalas dengan lumatan pelan. Melepas rasa legah yang luar biasa. Akhirnya gadis itu bersedia disentuh olehnya. Akhirnya gadis yang amat ia cintai benar-benar dapat menerimanya lagi. Gadis kaya raya yang sombong namun tetap mencintainya meski saat itu dia hanya DJ tidak terkenal dan tidak memiliki harta. Kini rasa itu sungguh semangkin memberingas karena gadis itu tetap setia menemaninya merangkak meraih segala yang ia inginkan. Ia telah mempu membangun benteng yang teramat tinggi tuk menghalang siapa saja yang akan memisahkanya.

     Jasmine mendorong pelan wajah Peter, menutup matanya seperti menekan prasaannya. Peter tersenyum, mengusap bibir gadis itu lembut. “I love you Jasmine” ucap Peter mengangkat wajah gadis itu menatapnya. Jasmine hanya tersenyum tipis, selalu hanya merespon dengan senyuman itu. “Jasmine” ucap Peter berat. “I Love You” lanjutnya dengan penekanan. Memaksa gadis itu menjawab pernyataan hatinya kali ini.

    Jasmine menatap diam, matanya bergerak menatap bola mata Peter. “I Love you Pet” ucapnya ragu. Peter tersenyum lebar, menarik tubuh itu kepelukannya. Jasmine membalas pelukannya dengan tersenyum tulus. Pria itu telah mencapai popularitasnya namun tetap manis dan baik seperti Peter-nya terdahulu. Tetap menjadi pria yang selalu dapat ia andalkan. Teman penghilang sedihnya. Pria yang dari dulu selalu menemaninya melakukan hal gila dan hal nekat apapun itu.

      Senyum Jasmine mendadak hilang. Tubuhnya mematung. Mata itu, mata biru yang begitu jernih dan tenang tetapi ternyata menyimpan sesuatu dibalik ketenangan itu.

****TBC

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *