Chapter 1

Gigi Hadid As
Claudia Jasmine Ecclestone

1. I’d have lost my bf

 

  Aku melenguh saat mataku tidak mampu menyesuaikan cahaya yang begitu terang masuk melalui jendela kamarku. Ternyata pelayan pribadiku yang membuka gorden, ia sambil memegang ponsel agar tetap siaga berada di telinga kirinya.

 Melihat aktifitasnya aku kembali melenguh, bangkit untuk duduk dan mencoba mengumpulkan nyawaku yang masih berada di alam mimpi.

 “Nona, tadi nona Aline mengatakan bahwa ada pemotretan untuk Balenciaga-brand tepat pukul 11am.”

“Hmm suruh dia membatalkan itu, Mood-ku sangat buruk saat ini ” jawabku dengan malas. Aku meraih gelas yang berada  di sisi ranjang tidurku, meneguknya hingga habis. Kemudian aku melangkah menuju kamar mandi namun saat mengingat sesuatu langkahku terhenti. Aku berbalik menatap pelayan pribadiku. “Apa kau berhasil menghubunginya.?” 

“Saya sedang mengupayakan nya nona”

“Oke baiklah” aku kembali melangkah memasuki kamar mandi, lalu berteriak “Janet, suruh yang lainnya untuk menyediakan sarapanku dan pantau langsung jangan sampai pelayan bodoh itu melakukan kesalahan”

“Baik nona”

————————————————

         Aku berjalan menuruni tangga menuju ruang makan rumahku. Ah tidak, aku harus meralatnya. Rumah  Ini atau lebih tepatnya mansion megah yang lebih dikenal The Blue Mansion  Ecclestone  yang berlokasi di Los Angeles, California. Tepatnya di Holmby Hills.   Ini bukanlah rumahku dan juga bukan rumah ayah atau tidak juga milik ibuku.

         Kakek-ku Anthony Ecclestone yang kejam, keras kepala, otoriter dan selalu sok berkuasa itu tidak segan segan selalu mengatakan, Ini rumahku, aku yang memiliki peraturan. ini kerajaanku, aku yang memiliki kuasa. Semua ini milikku, Jangan mengira karena kalian darah dagingku maka kalian memiliki semua ini. Ingatlah kalian hanya menumpang di istanaku, jangan bersikap seakan-akan jika aku tiada maka warisanku akan jatuh ketangan kalian! Dan bla bla bla, ada banyak kalimat yang begitu kejam mampu ia katakan kepada ayahku dan kami sebagai cucu-cucunya alias darah dagingnya sendiri.

      Meskipun begitu aku menyayangi pria tua itu. Dan jangan heran karena sikap kakekku yang begitu tega kepada putra semata wayangnya itu. Meskipun ayahku satu-satunya keturunan yang dimiliki kakekku tetap saja kakekku tidak sudi memberikan jabatan Chief Executive Officer untuk putra semata wayangnya itu.

      Ia lebih memilih anak angkatnya, yaitu paman Felix yang sangat tampan untuk menjabat gelar Eksekutif Tertinggi di seluruh perusahaannya. Ayahku hanyalah anak manja yang hanya tau menghabiskan uang kakekku. Dia tidak pernah benar-benar bekerja. Jabatan President Director perusahaan yang ia sandang hanyalah ilusi.

      Meski umurnya telah masuk lima puluh tahun, ayahku tetaplah pria hidung belang yang tergila-gila dengan seks. Bahkan seseorang yang mengakui sebagai temanku pernah mengakui bahwa dia pernah tidur dengan ayahku. Eww menjijikan sekali bukan? Ya begitulah ayahku. Ayah teman-temanku dan mungkin seluruh pria manja yang hanya menikmati kekayaan orang tuanya yang tidak pernah habis. Percayalah mereka semua memiliki pelacur.

       Kembali kediriku okey, bagaimana definisimu tentang cantik? Apa kau berpikir cantik itu adalah gadis yang memiliki tubuh selayaknya Supermodels? Jika ya, berarti aku masuk dalam kategori cantik versimu. Karena aku adalah supermodel. Yah Meski menurutku sendiri cantik itu relatif.

      Lalu bagaimana dengan inner beauty? Oh tolong jangan tanyakan itu kepadaku, jika kalian bertanya tentu saja aku memuji diriku sendiri dengan mengatakan aku memiliki hati yang lembut, tulus dan suci, right?  Maka dari itu, tentang inner beauty sebaikanya kalian harus mengenalku terlebih dalam dahulu. Barulah kau berhak menilai inner beauty ku, alias jangan percaya dengan gosip seperti yang di katakan majalan gosip murahan sialan itu. Please, Be smart!

     Seperti yang aku  katakan tadi. Aku cantik, aku bukan bermaksud sombong, tapi aku memang merasa diriku cantik. Dan seluruh wanita di bumi ini harus mengakui sendiri bahwa dirinya cantik. Please jangan terlalu munafik untuk mengakuinya dear. Jangan biarkan ada orang yang mengatakan dirimu tidak menarik oke? Kau menarik, kau cantik.!

     Namaku Claudia Jasmine Ecclestone, kelahiran Croydon, Inggris. Aku putri dari Arnold Ecclestone atau salah satu pewaris raja perhotelan di seluruh eropa Anthony Ecclestone. Profesiku adalah seorang supermodel yang memiliki bayaran termahal saat ini. Mother Agency-ku adalah Storm Model. Hingga sampai ini Aku pun masih terdaftar sebagai salah satu model untuk beberapa agency besar, yakni di Marilyn Model Agency,  IMG Models, Why not (Milan ), Elite (Milan, Barcelona, stockholm) dan Next (London). Jadi tidak mengejutkan lagi kalau pada fashion week tahun ini aku menjadi catwalk queen!

        Aku sudah pernah tampil di banyak majalah dan berjalan di ratusan runway sejak aku berumur 10 tahun. Hingga dewasa berlanjut dengan menjadi model untuk brand-brand fashion besar seperti  Gucci, Dolce & Gabbana, Calvin Klein,  Burberry, Chanel, Rimmel, Louis Vuitton, Alexander McQueen, Bulgari.  Total kekayaanku pribadi sebesar US$ 48 Jjuta. (Rp 432 Miliar) 

      Jika teman-temanku berada di jejeran Top Models saat ini dulunya bekerja keras bahkan pernah ditolak 42 kali di agency model, maka berbeda denganku. Tidak ada kisah menyedihkan dalam hidupku. Aku terlahir dalam keluarga berada, ibuku adalah artis papan atas hollywood sangat terkenal di masanya. Saat dia mengandungku, tepatnya mengangungku selama 6 bulan ia di kontrak secara eksklusif oleh majalah ternama untuk mengikuti perkembangan janinnya.

       Katika aku lahir paparazi selalu meliput kegiatanku, aku menjadi amat terkenal karena ibuku adalah Karlie Doukas dan juga karena Ayahku Arnold Ecclestone yang terkenal dengan ketanpananya dan kekayaan orang tuanya. Meski ia bukan public figure namun ia kerap masuk majalah terkenal karena sikap playboy menjijikan itu. Kehidupanku benar-benar terekspos meski pembritaan itu bukan keluar dari mulutku sendiri

Prinsip hidupku adalah. “I’m tough, I’m ambitious, and I know exactly what I want. If that makes me a bitch, okay.”  

“Janet bagaimana?” Aku bertanya pada Janet, dia pelayan pribadiku yang umurnya lebih muda tiga tahun dari umurku. Dia mungkin terlihat aneh dengan menggunakan seragam pelayan hitam putih yang penuh renda itu, namun ia memiliki wajah yang manis, dia telah menjadi sahabatku dari kecil.

“Belum tersambung nona”  Janet fokus mencoba menelpon kembali. Aku menghembuskan nafas kecewa. Dari kemarin dia mencoba namun belum juga memberikan hasil.

       Aku memasuki ruang makan keluargaku. Di tengah ruang ini ada satu meja makan berwarna coklat yang sangat panjang. Jika di hitung sisi kanan dan kiri meja ini memiliki tujuh kursi. Jadi bisa menebak panjanganya meja makan ini bukan? Para pelayan berjejer di sisi kanan siap untuk melayaniku.

       Aku memilih duduk di kepala sisi kanan meja. Dan biasanya kakeku akan makan di ujung kepala meja lainnya. Membuat aku sering berteriak karena tidak mendengar suaranya.

        Dengan cekatan dua pelayan langsung menata rapi makanan yang memang sudah menjadi menu permintaanku hari ini. Dengan angun aku menyesap air putih dari gelas kristal sebelum siap menyantap makananku. Mataku kembali melirik pelayan pribadiku yang masih tanpak mencoba menelpon. Janet menggeleng sebagai jawaban atas arti pandanganku. Lagi-lagi aku kembali harus menelan rasa kecewa di hati.

 “Ah Nona, ini telah tersambung” Janet memberikan ponsel ke hadapannku. Aku dengan cepat pula menyambar ponsel yang ia berikan

 “Baby Hallo. Pet Sayangku!!” Ucapku berteriak gembira  “Peet kau disana? Hallo?!” Aku berteriak tidak sabar

 “Ya.” Suara datar pria terdengar di ujung telpon

“Oh Trimakasih Tuhan” aku bersukur karena orang yang sejak tadi aku panggil di telpon akhirnya menjawab. Tapi tiba-tiba sepertinya Peter mendesah malas dan hendak mematikan sambungan.

 “Tidak! Jangan lakukan itu! Jangan putus sambungan ini, aku telah bersusah payah mencoba menghubungimu babe, aku mohon Pet” Nadaku panik memohon.

 Janet mencibir sebal kearahku tanda protes karena padahal Janet-lah yang mencoba menghubungi Peter sedari tadi. Haha dia tanpak lucu dengan bibir seperti itu, aku mengibaskan tangan tanda agar ia tidak mengusikku

 “Ya, Bicaralah” 

 “Pet, kau ada di mana saat ini? cepat katakan padaku!” 

“Berlin, Mungkin?”  Jawab Peter pura-pura tidak yakin.

 “What??? Berlin???? Kau gila meninggalkanku begitu saja?!” Aku tidak percaya dia begitu tega meninggalkanku.

  “Maaf, apa aku tidak salah dengar?” Nada bicara Peter terdengar malas. Uh dia tanpak benar-benar marah saat ini.

 Aku mendesah frustasi.  “I cannot lose you beib” ucapku melembut tidak menghiraukan nada Peter yang terdengar dingin dan sebal.

 “Sudah? Hanya itu yang ingin kau ucapkan?” tanya Peter dengan nada yang amat sangat datar.

“Please Peeet I cannot lose you, cause if I ever did, I’d have lost my best friend, my soul mate, my smile, my laugh, my everything. please jangan pergi! aku mohon!”  aku berkata sejujurnya, air mataku menggenang mengeluarkan isi hatiku.

Di ujung telpon Terdengar suara desahan lelah. “Sweet..” panggil Peter dengan lembut. 

Hmm sepertinya kekasihku ini kembali luluh. “Ini juga teras sulit untukku, jika kita memang ditakdirkan bersama kapanpun itu kita pasti akan bersama”

“Apa maksudmu?” Aku tidak mengerti, aku tidak percaya dia sungguh-sungguh ingin meninggalkanku.

“Aku tidak tahan dengan teror kakekmu, dia sangat menganggu.”

“Jangan katakan jika kau—“

  “Maafkan aku sweet” ucap Peter memotong ucapanku dengan cepat.

 “Setelah apa yang telah kita lalui bersama? kau meninggalkanku?” tanyaku nyaris terisak.

 “Sweet.. ” ucap Peter tampak mendesah penuh penyesalan setelah terdiam beberapa detik. “Aku sangat berterimakasih atas semua yang kau lakukan untukku, hari-hariku bersamamu tidak akan pernah aku lupakan”

 “Lalu kenapa kau meninggalkanku? Aku tidak tau kau sepengecut ini!!” Aku berteriak emosi. Kemarahan kembali memuncak naik ke kepalaku

“Aku sangat tertekan dengan segala teror kakekmu dan kau sangat tau itu, dia sudah sangat menyakitiku Jasmine”

AKu terdiam sesaat, aku tau tentang teror itu. Aku sangat menyesal apa yang telah kekekku lakukan. Namun aku tidak ingin dia pergi meninggalkanku. “Bertahanlah sebentar lagi, aku akan membereskan semuanya” Aku mencoba membujuk.

 “Maafkan aku sweet”

“Berikan alamatmu, aku akan segera kesana” pintaku masih bersih keras, namun tiba-tiba terdengar bahwa sambungan telpon terputus. Aku menggeleng tidak percaya.

  “Hallo, Babe kau disana?” Aku mencoba memanggil lagi namun tidak terdengar jawaban “Tidak-tidak… hallo Pet! Peeet!!” panggilku kembali gusar.

“Peter!!!” Triakku menjerit. Peter tidak menjawab, dia sungguh memutuskan sambungannya, aku melempar ponsel ke dinding dengan kesal. Ponsel itu berantakan menjadi puing-puing yang sudah tidak berbentuk. Seseorang pelayan dengan cepat memunguti serpihan ponsel yang bertebaran di lantai.

     “Arrrgh!!” Teriakku emosi, aku mengambil gelas bening yang berisikan jus jeruk dan melemparkan  ke dinding dengan sekuat tenaga. Kemudian  semua piring beserta makanan yang tersedia dihadapanku kembali menjadi sasaranku berikutnya. Para pelayan yang ada disekitarku hanya diam menunggu sampai emosiku mereda.

 Lagi-lagi Aku menghembuskan nafas dengan frustasi, kejadian pertemuan dengan Peter dan kakekku  itu terus terulang di kepalaku

 Saat itu aku memasuki sebuah restoran yang esklusif  dengan Peter kekasihku, di hari pertama kali bertemu saja dia sudah sangat terlambat, bagaimana selanjutnya? Satu pointpun tidak akan diberikan kakek untukknya. Alias itu pertanda buruk.

 Telah tujuh menit kami duduk berhadapan dengan kakekku namun Kakekku tampak diam dan mengintimidasi kekasihku yang tampan dengan tatapan dinginnya. Sekujur tubuh Peter  yang dipenuhi tatoo mulai berkeringat.  Aku megenggam tangan Peter dengan erat agar memberi ia kekuatan batin yang kupancarkan

“Kau..” ucap kakek mencoba membuka pembicaraan. “Apa pekerjaanmu?” Tanya kakekku yang telah  berumur 71 tahun tersebut dengan suara datar ke pemuda yang tidak lain adalah Kekasihku, Peter Derulo

  “Em.. a.. aku..sa.  Aku saya seorang DJ di salah satu club ternama Kek. Pak, emmm maaf tuan” Jawab Peter terbata. Ia menyekah  keringat di keningnya,  tampak jelas ia sangat gugup berhadapan dengan pria yang mengintimidasi-nya hanya dengan tatapan dingin. Kakeku memang menyebalkan.!

Its cool right?” Ucapku menambah jawaban Peter  dengan senyum mengembang, dengan mata berbinar aku membanggakan pekerjaan Peter. ” Peter DJ terbaik yang ada  Kek. Profile peter ada banyak di majalah populer, nanti kita pulang akan aku tunjukan ke kakek dan—“

“Ehem… ” Anthony berdehem. Pria tua yang menyebalkan namun aku cintai itu memotong omonganku yang tidak ada henti, dia menyandarkan punggungnya di sofa yang nyaman tersebut dan menyimpulkan kedua tangannya di dadanya

 “Berapa penghasilanmu anak muda? Apa kau tahu aku memberikan berapa dolar untuk menghidupi cucuku yang manja ini? Kurang lebih hidup cucuku yang kurang ajar ini sepekan angka lima puluh ribu dolar dia buang dengan percuma. Jika ya,  aku akan mengizinkanmu menikahi cucuku” ucap Anthony dingin.

Aku tidak keberatan dengan syarat itu, justru aku senang dengan ucapan kakeku tersebut. Dengan wajah bahagia aku memeluk mesra lengan Peter “Tenang saja kakek, bayaran Peter sekali manggung cukup besar, dia bisa menyanggupi syarat kakek” Ucapku bangga dengan menunjukan senyum lebarku

     “Tetapi tidak dengan hasil ‘Dj’mu itu. Saya tidak akan membiarkan keturunanku hidup dari uang ‘pria penghibur’ sepertimu”  lanjut  Anthony tanpa melihat dan mendengarkan perkataanku.

Kakek seperti tidak menganggapku ada. Mata kakek lurus menatap Peter  yang tampak menegang, dia merasa di rendahkan tetapi ia tidak memiliki keberanian untuk menunjukkan rasa tidak sukanya.

 “Kakek!” Sergaku tajam. “Apa maksud kakek mengatakan Peter pria penghibur? Peter seorang DJ! Itu hal yang mengagumkan, banyak yang suka permainan Peter! Dan itu pekerjaan yang sangat mudah tetapi menghasilkan banyak uang kekek tau! Hanya dengan memainkan lagu Peter di bayar mahal. Kakek jangan membuat alasan yang sangat tidak masuk akal seperti itu, menyebalkan!”

Kakekku terkekeh mendengar ocehanku “Itulah maksud kakek sayang, pekerjaannya menghibur, dia pria menghibur, dia hanya memainkan lagu dan mendapat bayaran. Itu sangat rendah sayang, dia menghibur orang orang yang membuang uangnya dengan cuma cuma, kakek tau kau mengerti maksud kakek”  

Bagaimana aku bisa mengeri maksud ucapan itu? Sangat jelas itu adalah analisa yang sangat di buat-buat olehnya. Keningku berkerut karena merasakan nada pelecehan dengan ucapan kakekku. Mataku  menyipit geram memandang curiga atas apa maksud dari kakek yang menyebalkan ini

“Maksud kakek apa dengan analisa yang tidak bermutu seperti itu? Baru petama kali aku mendengar analisa tentang seorang Dj seperti itu! Kakek jangan konyol!”

“Apa kamu tidak berniat kerja anak muda?” tanya Antony tenang dan masih saja seperti tidak terusik keberadaan dan tatapanku. Kakek benar-benar menyebalkan!

“Ah come’on kek! Peter seorang DJ! Itu pekerjaan, dia bisa menghasikan uang dan aku bekerja, kami bisa menghidupi kehidupan kami. Aku bukan anak manja yang mengharapkan pria  belimpahan harta, aku membutuhkan orang yang mencintaiku! Aku hanya butuh Pria yang bertanggung jawab, tampan dan keren dan tentu saja dia menyayangiku. Aku telah bersama Peter selama tiga tahun! Meskipun dia hanya seorang DJ tapi  Peter menghormati aku! 100% kami tidak pernah melakukan seks. Please sudahi omong kosong ini!” ucapku  membentak, aku tau aku  keterlaluan karna kakekku pasti merasa tidak di hargai di depan Peter tapi aku  tidak peduli, aku sudah lelah dengan pertemuan yang membosankan ini.

Kakek terkekeh meremehkan perkataanku. “Jangan bercanda Jasmine, kau bekerja? haha  Seorang model? Itu kau sebut pekerjaan?”

Aku mengangguk ragu.

“Pengeluaranmu lebih besar dari honormu Jasmine!!  DJ? Itu profesi?” sesaat Anthony berhenti berbicara dan mengambil berkas  yang di berikan sekertarisnya Juan. Kakek tua itu melempar tumpukan kertas di hadapan kami.

 “Baiklah, profesi DJ menghasilkan uang, itu semua berkas club-club malam tempat dia manggung, tidakkah itu menjijikan bagimu Jasmine? Ketika orang tidur dia bekerja, ketika orang menghambur hamburkan uang hanya untuk kesenangan semalam dia menghibur dengan musiknya itu. Kau tau kakek lebih menghargai perkerjaan pelayan di restoran ayam dari pada DJ itu. Dan lihat berkas itu tertera berapa upahnya dan upahmu sebagai model.  Cih, pengeluaran kalian lebih besar dari pada gaji kalian”

Kakek  duduk tegap memasang kancing jasnya yang terbuka dan bersiap untuk pergi.

 “Oke mari kita sudahi omong kosong ini. Mulai hari ini jangan sampai aku tau kau masih punya hubungan dengan pecundang ini,  jelas jelas dia tidak bertanggung jawab, mempertahankanmu saja tidak bisa. Lihat, dia hanya diam seperti anak anjing ketakutan,  aku yakin dia tidak melakukan seks kepadamu tapi ke gadis lain? Hem, apa perlu aku beri berkas itu juga? Akan ku kirimkan ke apartemenmu jika kau mau.”

Kekek  sudah berdiri siap pergi, sudut bibirnya masih sinis memberikan senyuman merendahkan  ke Peter yang masih mematung. Kemudian dia menatapku.

 “Hari sabtu aku akan mengundang ayah dan ibumu untuk kumpul. Jadi setelah ini kau harus tinggal di rumah kakek, kau tau apa yang terjadi jika membantah sayang” Anthony  melangkah pergi diikuti 2 pengawalnya yang juga berjas hitam, aku  juga diam  mematung. Wajahku  mengeras menahan kesal sampai sampe air mataku jatuh dan cepat mendongak keatas. Aku  tidak ingin menagis menerima kekalahanku.

            ****

 Aku  menghempaskan tubuhku di ranjang,  menghembuskan nafas frustasi lagi. Semua yang dikatakan kakek benar. Honorku sebagai supermodel  tidak lagi jutaan dolar, aku malah membuat kakeku nyaris bangkrut. Karena aku kerap sekali membatalkan kontrak yang seharga jutaan dolar itu dengan alasan tidak penting.

  Contoh kecilnya, hanya demi menonton konser Peter aku tidak datang saat peragaan busana yang telah membayarku mahal. Akibatnya aku harus membayar denda yang jauh lebih besar dari honorku. Meski begitu aku tidak perduli, yang jelas aku tidak mau di atur oleh manager-ku atau siapapun itu. Hidupku adalah milikku, aku bebas melakukan apa yang aku inginkan. Kakek tua itu tidak pernah lelah menentangku

 Kepalaku  terasa hendak pecah memikirkan Peter yang memilih mundur dari kehidupanku. Saat pertemuan itu, dia tidak  minta maaf karna diam saja selama ada kakekku. Tapi justru  dia marah marah, tidak terima perlakuan kakekku  yang melecehkannya. Karena masalah itu dia minta kami berakhir. Dasar banci, argh!!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *