Chapter 6

Kolom komentar:

pengen nangis …. :'( :'(  -vampiredps

Kasihan ya si ben… Masih aja senyum liat perlakuan keluarganya. i’m crying!…dapat istri yg sombong juga  @FiaPermata

===============================

       “Dia hanya sampah Jasmine. Dia hanya orang kotor yang di bawa kakek masuk kerumah ini. aku tidak tau apa yang buat kakek menjadikan orang sekotor dia menjadi pewaris hartanya”

       “Aku tidak mengerti maksudmu Cat!” aku memandang heran ke sahabatku ini, kenapa dia mengatakan kakaknya adalah orang kotor.? Aku dan Catrine sedang berada di kamarnya sekarang, aku menuntut penjelan atas apa yang terjadi tadi di meja makan tadi. Kamarnya sama sepeti Benedict ada ruang tidur dan ruang nonton yang besar dan terpisah

            “Butuh berapa kali aku katakan kepadamu Jasmine.? dia bukan kakak tiriku dia menjijikkan. Dia-Men-jijik-kan. Sangat! ” Catrine berdecak sebal. Dia menghembuskan nafas frustasi saat melihat kebingungan masih terlukis nyata di raut wajahku.  Dia bangkit berdiri untuk pindah ke sofa di sebrangku. Matanya menyipit, senyumnya terlukis sinis dan dingin

      “Aku sangat ingat jelas saat pertama kali melihat wajah menjijikkan itu. Saat itu umurnya 13 tahun. Dia datang kerumah ini dengan kedua mata besar berbinar menatap Daddy menatap Damien, menatapku dan menatap Mom dengan wajah berbinar, bibirnya slalu saja tersenyum, entah dia memang tolol atau tidak mengerti apa itu arti anak haram.  Dia tidak memperdulikan tatapan Jijik yang di berikan Damien. Dia tidak memperdulikan aku dan ibu yang juga memberikan tatapan sinis ke arahnya. Dia tertawa dan mengatakan senang memiliki keluarga yang utuh.Haha  bukan hanya pakaiannya yang sangat kumel dan bau ternyata dia juga sangat naif”

     “Jadi semenjak umur 13 tahun dia di perlakukan seperti itu.? em maksudku, apa yang terjadi saat kita makan bersama tadi”

      “Ah tidak. Biasanya dia cukup tahu diri untuk tidak makan di satu meja bersama kami.  Aku tidak tau biasanya dia kemana, apa dia mencari makan diluar atau dia makan bersama para pelayan di Vaviliun.  Haha kau tau Jasmine? dia sama seperti ibunya. Ya, dia membuktikan kepada kami bahwa didalam darahnya mengalir sangat kental darah pelayan. Dia sangat dekat dengan pelayan-pelayan rumah ini. ibunya adalah seorang pelacur” Ucap Catrine sarkastis . Ia memperbaiki posisi duduknya. Kini tanganya menggenggam gelas kristal berisikan anggur merah. “aku rasa dia sangkin bahagianya memiliki istri sepertimu, dia lupa sesaat posisinya dirumah ini. Dia pikir dengan Dad hadir di pernikahanya, Dad telah mengganggap dia salah satu darah dagingnya”

       Aku tertegun mendengar penjelasan Catrine, mendengarnya saja aku sudah dapat merasakan sesakit apa yang di rasakan Benedict. Seperti ada tangan yang tidak terlihat meremas hatiku, Sakit!  Sekarang aku dapat dengan jelas kepedihan yang di rasakan Benedict tadi saat keluarganya pergi meninggalkanya.

Begitu bahagianya dia karena telah menikah.? Pikiranku terlintas Bayangan wajah bahagia Benedict saat di acara pernikahan kami, dia menatap ayahnya dengan sorotan mata berbinar. Apa dia merasa dengan ayahnya sudi datang di acara pernikahannya maka semua akan menjadi berubah.? Apa dia pikir dengan  ayahnya datang dia telah diterima.? Dasar bodoh! Kalau aku menjadi dia pastilah aku mikir tiga kali dari pada dapat penolakan yang menyakitkan seperti itu. 

      Catrine berusaha untuk melanjutkan uacapanya setelah cekukan beberapa kali.  “Kau tau.? Dad bilang dia adalah kesalahan terbesar yang pernah ada di Hidup Dad, haha. Aku tidak habis pikir Mine, apa yang ada di pikiran di berengsek itu tadi. Berani sekali dia untuk bergabung bersama kami haha dasar menjijikkan” Maki Catrine di sela cekukan-nya. Dia telah tidak sadarkan diri, dia sangat mabuk. “Dia seharusnya tau posisinya” Ucap Catrine

              ******

Apa dia baik-baik saja.? Itu yang terlintas di pikiranku sedari tadi. Setelah mengganti Piyama tidurku, aku berbaring di ranjang. Dia, suamiku Benedict tidur memunggungiku.

Aku meringkuk menghadapnya, aku ingin menyentuh punggung itu.  Melihat punggung itu aku dapat merasakan dengan persis apa yang dia rasakan.  Aku dapat merasakan kesedihannya, aku dapat merasakan kesepiannya, aku dapat merasakan kepedihan di hatinya.

      Aku ingin menanyakan apa dia baik-baik saja.? Bagaimana dia bisa bertahan hidup dirumah ini.? sebenarnya apa yang dia pertahankan untuk tinggal dirumah ini.? saudara-saudarahnya, bahkan ayah-nya tidak menginginkannya. Dia di hina, dia di perlakukan seperti orang asing. Apa yang ada di pikiran lelaki ini.? apa yang membuat dia terus bertahan.?

    Mengingat kalimat terakir yang di ucapkan Catrine, pikiranku terlintas kembali wajah Benedict saat dengan jelas Suara berat pria ini mengucapkan bahwa ia tau posisinya. Baiklah, aku tau posisiku”

      “Baiklah, aku tau posisiku” kalimat itu terus terulang di kepalaku. Dan kembali ke ucapan Catrine “Dia seharusnya tau posisinya”. Jadi itu penyebab dia benar-benar mengerti akan posisinya.? Maksudku posisinya sebagai suamiku. Dia melakukan dengan baik seperti dia tau posisinyadi rumah ini. dia melakukan dengan baik seperti dia tau posisinya terhadap Ayah, Ibu dan saudara-saudaranya.

       Dia tidak pernah menggangguku atau menyusahkanku, dia tidak pernah menyakitiku. Meski dia memberikan aku  kartu kredit unlimited dan mengembalikan seluruh harta kakek menjadi atas namaku yang mana seharusnya dia lakukan setelah setahun pernikahan kami. Namun Dia mengikuti perlakukanku yang mengganggap dia tidak ada.

Apa dia mengira dia tau posisinya itu sama seperti posisinya dirumah ini.? apa aku juga menyakitinya.? Apa dia juga merasakan hal yang sama saat dia mengucapkan  dia tau posisinya  padaku?

Ha, kenapa juga aku harus peduli dengan apa yang terjadi dengannya.? Hatiku seharusnya tidak sesedih ini saat merasakan kepedihan di sorot matannya. Aku tidak boleh terpengaruh dengan apa yang terjadi di rumah ini. cepat atau lambat aku pasti keluar juga.

**********

           =Authore Pov=

       Benedict membuka dasi di kerah bajunya dengan mendesah. Wajahnya terlihat sangat lelah, selama seminggu  telah melakukan perjalanan bisnis ke asia timur. Setelah dasinya terlepas, Benedict membuka baju kemeja kerjanya dan kaus putih tipisnya. terlihat tubuh Benedict yang terpahat dengan sempurna. Otot di lenganya dan otot perutnya yang terbentuk six pack. Seluruh badanya terlihat berotot tetapi tidak ada otot yang berlebihan. Bentuk tubuh yang ideal. Benedict menutup matanya dan memutar-mutar kepalanya perlahan, meringankan tegangan otot-otot lehernya yang terasa sangat pegal.

    Memakai T-shirt putih tipis yang di ambil dari lemari sambil berbalik dari sisi lemari. Saat kepalanya  timbul dari T-shrit yang dipakainya ia melihat Cludia Jasmine istrinya sedang mematung dengan tubuh terlilit handuk putih di depan pintu kamar mandi mereka.

     Benedict menaikan alis-nya sebelah, melihat istrinya yang terlihat sangat seksi itu masih mematung menatapnya terpaku. “Apa kau baik-baik saja.?” Tanyanya ke gadis itu sambil mebenarkan T-shirt  yang sedikit menggulung di perutnya.

      “A.. ah . ti tidak apa apa” Jawab Jasmine  terbata, tapi matanya masih menatap kosong ke perut suaminya.  Jasmine  menggelengkan kepala pelan dan dengan  panik Ia seperti mencari sesuatu, tapi ketika sadar tidak ada yang ia cari, Jasmine langsung lari memasuk kembali ke kamar mandinya.

     Nafasnya memburu, tubuhnya berkeringat. Padahal baru saja selesai berendam di Bath-up. “Hah, sialan kapan dia pulang.? Double sialan, kenapa dia se-seksi itu?!” muka Jasmine  memerah menahan malu, serasa Benedict melihat tubuhnya telanjang. Setelah dia merasa nafasnya telah teratur Jasmine  memakai Handuk piama dan keluar dari kamar mandi. Saat keluar dia tidak melihat keberadaan Benedict di kamar. Diruang nonton juga tidak ada, mungkin saja pria itu ada di ruang kerjanya.

———-

      Jasmine  jalan menuruni anak tangga. Langkahnya terhenti saat merlihat Benedict sedang duduk di sofa, berjarak beberapa langkah di tempat duduk ayahnya yang sedang duduk sendirian. mereka seperti sedang membicarakan bisnis. Nada bicara ayahnya sangat dingin dan sangat formal, seperti tidak sedang mengobrol dengan darah dagingnya sendiri.

Ada pelayan tua di antara mereka. Pelayan itu menuangkan angur di gelas Benedict.

     “Baiklah kalau begitu. Biar aku yang mengurus selebihnya” kata pria itu dan beranjak hendak meninggalkan ruangan itu.

        “Dad!” panggil benedict cepat.

        “Hemm.?”  Ayahnya Russel Heard  berhenti berjalan,  berbalik saat mendengar Benedict memanggilnya. Tetapi ternyata yang di panggil Benedict adalah pelayan tua yang menunggkan angur tadi, bukanlah dirinya.

      Dengan tanpa menyadari Ayah kandungnya yang sedang menoleh ke arahnya, Benedict melangkah dan merangkul pundak pelayan tua itu,  sambil bercanda mereka berjalan hendak menuju kedapur. Meninggalkan tuan Russel Heard yang mematung menatap Anaknya yang  memanggil Ayah ke seorang pelayan setianya.

      Jasmine tidak dapat mengartikan raut yang tertera di wajah orang tua itu. Jasmine menelan ludah dengan berat saat menyadari mertuanya menyadari kehadiran dirinya yang sedang berdiri di tangga. Jasmine hanya diam, tidak tau harus melakukan apa atas kejadian barusan. Akhirnya ayah mertuanya dengan diam meninggalkan ruangan itu.  Jasmine  menghembuskan nafas legah “Ha.. dingin sekali orang tua itu”

                    **************

     “Hei Mine, apa kau telah tidur denganya.? Ah kau tau yang kumaksud dengan kata tidur Mine“ Goda Catrine ke Jasmine . Jasmine  hanya tertawa mendengar pertanyaan Catrine “Sialan kau Cat. Aku berbeda denganmu!” ucap Jasmine tegas.

     “Apanya yang berbeda.? Kau juga manusia yang punya gairah bukan.? Yah, meskipun aku muak dengan suamimu itu tapi jelas sekali dia adalah pria seksi yang pernah ada” puji Catrine lagi menggoda Jasmine

     “Aku tidak! Ah, kau tau Cat, aku tidak akan pernah melakukan itu dengan orang asing. Apa lagi Benedict yang masih sangat asing untukku!”

    “Apa kau tau.? Sensai bercinta dengan orang asing sangat luar biasa Jasmine! Haha kau sepertinya memang perlu merasakan dahulu apa itu seks, baru kau akan sangat ketagihan!” Ucap Catrine kesal karena Jasmine masih saja berlagak Seks adalah hal tabu

      “Ah sialnya yang menikahimu adalah si Benedict yang banci itu. sampai kau tidak menggodanya maka kau tidak akan pernah disentuhnya Mine!”

      “Hei, apakah bisa ganti topik.? Aku masih di bawah umur” Jasmine dan Catrine tertawa mendengar ucapan Niky. “kenapa tidak kau saja yang pergi dari sini gadis kecil.?” Sahut Catrine. Niky tidak beranjak. Dia hanya mencibir kakanya yang mengusirnya.

     “Hai Jasmine” sapa Damien yang tanpak baru pulang dari bekerja. “aku harap selama dua bulan dirumah ini kau nyaman, maaf aku sangat jarang dirumah, aku baru saja pulang dari perjalanan  bisnis ke dubai” ucap Damien ramah. Damien melonggarkan simpul dasinya dan ikut duduk di ruang keluarga itu.

  “Ah tidak apa Damien, ada Cat dan Niky selalu menemaniku” ucap Jasmine . Jasmine  mengenal Damien sama baiknya mengenal Catrine, Damien sama saja dengan James, maniak Seks. Dan karena ketanpanan dan kekayaanya ada banyak wanita dengan suka rela di lecehkan olehnya.

Damien dulu sering mendekati Jasmine tapi Jasmine menolaknya dengan halus karena Jasmine mencintai Peter kekasihnya. Jasmine tidak suka dengan type pria seperti Damien yang selalu saja menggunakan kekuasaan keluarganya untuk merayu para wanita.

        “Mulai kini aku akan sering menemanimu Jasmine ” ucap Damien sambil memberikan cium di pipi kiri Jasmine . 

       “aku harap kau tidak punya niat terselubung Damien” selidik Catrine ke arah Damien. Mereka tertawa serempak saat mendengar kecurigaan Catrine. Dan tiba-tiba Benedict juga muncul di ruangan itu. Niky memperbaiki posisi duduknya, Catrine menghentikan tawanya, Damien meski terlihat juga menyadari kehadiran Benedict tapi dia masih menggoda Jasmine  dengan senyumnya.

       Jasmine merasakan hawa dingin lagi saat semua terdiam. Saat mata biru itu bertemu dengannya mata itu hanya menatapnya sekilas dan melanjutkan langkahnya menuju ke lantai atas. Dia sepertinya tau adanya perubahan saat dia memasuki rumah, tadinya terdegar suara tertawa kemudian terdiam saat keberadaanya di sadari. Sepertinya kejadian seperti ini sudah biasa dirumah ini. Jasmine memandang pilu ke suaminya yang kini sudah memunggunginya.

     “Hei Jasmine” Jasmine memutar matanya ke arah Damien yang tanpak membuyarkan lamunanya “Apa kau ada waktu untuk makan malam diluar denganku.?” Tanya Damien merayu istri kakaknya tersebut

     “Damien, kau akan di gantung kakek jika melakukan itu!” tegur Niky. “Aku tidak peduli” jawab Damien tegas. Damien mengucap-ngusap telapak tangan Jasmine, Matanya tanpak jelas merayu Jasmine. Jasmine merasa sedikit gugup melihat perubahan Damien yang sangat tanpak memujanya. Dia menoleh ke arah Catrine, untuk meminta bantuan menghadapi pria yang sedang merayunya ini. tetapi Catrine pura-pura tidak tau.

      “Emmm Damien, seperti yang kau tau, aku sudah menikah” Jasmine menarik tanganya dari tangan Damien “Tidak mungkin aku makan malam berdua denganmu” Jasmine mencoba menolak rayuan Damien

      “Ya, Kau seharusnya menikah denganku Jasmine! Akulah seharusnya yang menjadi suamimu, bukan anak pelacur  itu” desis Damien tajam “Aku menginginkanmu Jasmine, aku selalu memikirkanmu” Damien menarik tangan Jasmine lagi untuk dia kecup. Jasmine melihat mata Damien berubah menjadi gelap. Jasmine sedikit ngeri melihat Damien yang terlihat dingin sekarang.

      “Em. Aku mau istirahat dulu. Bye guys” Ucap Jasmine menghindari Damien. Jasmine sedikit berlari menaiki anak tangga, dia merasa Damien masih tak lepas menatap kearahnya.

     “Jasmine masih perawan Damien, kau bisa memilikinya jika kau berhasil menendang si brengsek itu dari rumah ini” yang dimaksud Catrine si brengsek pastilah suami Jasmine saat ini. Niky terdiam saat mendengar ucapan kakaknya itu. Menoleh juga ke arah kakaknya Damien. Rahang Damien tanpak mengeras, entah apa yang sedang dipikirkannya saat mendengar ucapan Catrine. “apa kalian merencanakan sesuatu yang buruk.?” Tanyanya hati-hati

         “kau masih di bawah umur Nic” Ucap Catrine cuek, memutar  ucapan adiknya tadi.

      “Bukan sesuatu yang buruk Nic. Menendang anak itu keluar dari rumah ini adalah impian semua orang dirumah ini” desis Damien tajam. Catrine hanya tersenyum penuh arti mendengar pernyataan Damien.

                       **********

—————-To be continued ————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *