Chapter 37

ini aku Re-post disini dari skuel Claudia Jasmine yang berjudul IM not monster. alias cerita Sergio Dan Naya

——–

             Naya berjalan di sekitar taman Central Park New York yang di penuhi oleh salju, setiap sudut taman kota itu dipenuhhi oleh salju yang tebal. Dan salju juga menumpuk di ranting-ranting yang terliat membeku seperti Es yang dingin. Taman itu bukanlah lagi tempat orang-orang mencari udara segar dan melepas penat. Tidak ada lagi orang-orang membawa anaknya untuk sekedar bermain bola.  atau membawa binatang peliharaan mereka untuk bermain atau olah raga di taman.

         

  Udara di bawa titik ter-rendah Amerika Serikat.  Hampir Semua orang menghindari untuk keluar rumahnya yang di pasangkan penghangat udara. Bahkan tidak terlihat satupun orang ada yang menginjakkan kakinya di taman yang di penuhi salju itu. Naya merasa mendapat sedikit kehangatan dengan memegang dua gelas kopi yang terbuat dari kertas. Ia sedikit mempercepat langkah kakinya saat melihat pria yang menelponnya tadi.

         Pria itu Sergio Sande, duduk menatap kosong ke danau yang membeku. Naya tidak tau mengapa ia akhirnya melangkahkan kakinya untuk memenuhi panggilan pria itu padanya tiga puluh menit yang lalu. Meskipun taman itu tepat berada di depan gedung apartemen sahabatnya Calaudia Jasmine namun Naya merasa berat menemui pria yang selalu membuat onar itu. Suara serak khas pria itu terdengar beda saat menelponnya tadi. Tidak ada nada sombong atau nada egois seperti apa adanya dia yang memiliki nama Sergio Sande. Suara itu terdengar frustasi, dan tempat yang dipilih pria itu untuk bertemu juga memperkuat sefrustasi apa pria itu sekarang.

      Naya duduk di samping pria itu. Merasakan dinginnnya bangku yang terbuat dari besi itu menyambutnya. Pria yang ada di sampingnya masih menatap danau yang beku. Tatapannya kosong namun seperti menyimpan rasa sakit yang teramat menyesakkan hatinya.  Perlahan kening pria itu berkerut, namun secara bersamaan dia menarik kerutan itu ke atas. Dia seperti melihat jenasah ibunya terbaring kaku di danau yang tidak menyisahkan air setetespun itu. Tatapannya senduh seperti hendak menangis.  Siapapun yang melihatnya pasti tau bahwa pria itu seperti sedang dalam masa-masa buruk dalam hidupnya.

          Naya memutar matanya cepat dari pemandangan yang ia lihat, Tidak Naya tidak… jangan bawa hatimu jika bersama pria brengsek seperti dia. “Ini minumlah” ucap Naya menyerahkan kopi yang masih lumayan hangat pada pria itu. Pria itu menoleh padanya. Sorotan matanya memperlihatkan bahwa pria itu baru menyadari kehadirannya.

       “Kau datang?” Tanya suara serak dan berat itu padanya. Hembusan uap dingin dari nafas pria itu mengenai wajah Naya yang memerah karena menahan dingin. Naya memutuskan mengangguk kecil. Ia masih berat untuk berbicara pada pria itu. Ia masih menyimpan kesal terhadap pria kaya dan menyebalkan itu, karena pria itu mencekik leher sahabatnya Claudia Jasmine. Sahabatnya terancam gila karena kelakuan pria itu.

      Naya menghembuskan nafas keras, udara yang dingin seperti mampu menusuk prasaannya. Pria itu kembali terdiam setelah menerima kopi darinya. Untuk beberapa waktu mereka saling terdiam.

       Naya bosan jika harus berdiam diri, dia butuh mengalihkan rasa dingin yang mulai membekukan tubuhnya. Naya mengikuti arah pandangan pria itu, namun tidak menemukan alasan yang mampu membuat pria itu tidak dapat keluar dari lamunanya. Mata Naya menelusuri bentuk wajah pria itu. Dari kepalanya yang hanya di tumbuhi rambut-rambut pendek.

           Alis matanya yang tebal. Bola matanya yang berwana abu-abu yang biasanya menatap tajam dan mengintimidasi  lawan bicarannya tidak lagi memperlihatkan itu. dan Jambangnya yang meniggalkan rambut-rambut kecil.

        Dahi Naya sedikit berkerut heran melihat tanda merah di bagian leher pria itu yang sebagian  tidak tertutupi syal. Lagi-lagi Naya membuang tatapannya dari pria itu. Ia berusaha tidak memperdulikan apa yang membuat pria yang biasanya selalu bersikap menyebalkan ternyata punya sisi dimana dia ingin menangis seperti anak kecil yang terpisah dengan ibunya di sebuah pusat perbelanjaan yang besar.

           Sergio menoleh pada tangan kanan-nya yang tiba-tiba terasa hangat. Tatapannya bergantian melihat Naya dan Tangan Naya yang menggenggam tangannya erat. Secara perlahan namun pasti Sergio membalas genggaman tangan lembut itu. Namun secepat kilat Naya menarik tangannya. Wajahnya semangkin memerah, namun mendadak kaku. “Kenapa kau menyentuhku?” hardik Naya gusar.

        “Kau yang menyentuhku!” balas Sergio bingung.

        “Aku tidak!” Naya bersikeras membantah, Sergio mengerutkan dahinya, tatapannya berubah mengintimidasi Naya yang juga terlihat bingung.

           “Jelas-jelas kau yang menggenggam tanganku terlebih dahulu!”

          “Aku tidak melakukan itu!”  Naya semangkin gusar. Naya menyangkal karena tidak ingin Sergio tahu jika dia memiliki penyakitnya sindrom tangan alien yang membuat tangannya bergetak tanpa ia kendalikan.  “Bagaimana keadaan sahabatmu yang bajingan itu?” tanya Naya mengalihkan pembicaraan mereka.

Mata Sergio mengeejap pelan, lalu menghembuskan nafas lelah.  “Ayahku membawanya ke Rusia, disana ada ahli organ paru-paru yang ia percaya” Jawab Sergio meminum kopi dari sedotan yang memiliki lubang sekecil lidi. Ia mendesah karena mendapatkan kopi yang sudah tidak hangat lagi “Bahkan aku tidak layak mendapatkan kopi yang hangat?” gerutu-nya seperti membeci sang takdir yang telah terlukis untuknya. Ia menoleh ke arah gadis yang duduk di sampingnya. “Ba-bagaimana kabar sahabatmu i.. itu” tanya Sergio sedikit takut.

        “Kabar apa yang kau harapkan untuknya?” tanya Naya dingin. “Apa kau berharap dia bunuh diri?”  Tanya Naya menoleh melihatnya. “Dia hampir gila, dia mengalami depresi yang cukup parah. Dan itu semua karena kalian. ugh dasar brengsek!!” Maki Naya kesal

      “Aku menyesal Naya,” Sergio mengusap wajahnya resah. “Aku tidak tau bahwa dia—  ternyata dia memendam prasaanya selama ini. Aku— aku kira dia hanya gadis yang egois dan mementingkan dirinya sendiri. Aku tidak tau ternyata dialah yang di sakiti oleh Ben selama ini”

      “Bagaimanapun dia, tidak seharusnya kau memaki-makinya dan mencekik lehernya sekuat itu!! bahkan kau menembaknya!” Desis Naya muak. “ Bahkan aku sendiri masih ingat dengan jelas selama ini melihat kau dan teman-temanmu brengsekmu itu membuat onar di party. Dan melihat pria terbaik itu di gerayangi oleh Taylor hampir setiap kesempatan! Kau dan sahabatmu bajingan sejati Mr.Sande.! ”

       “Tidak satupun dari kami menyadari prasaan gadis itu Naya, kami  juga tidak tau kalau Taylor benar-benar menunjukkan Video bercintanya dengan Benedict Pada Jasmine. Kami baru tau kalau Taylor yang membuat Jasmine meninggalkan Benedict sendirian di tepi danau. Kami baru tau keseluruhan apa yang terjadi  saat Benedict berteriak frustasi karena tau ternyata gadis itu amat sangat mencintainya selama ini.” Ucap Sergio terlihat putus asah. Naya menarik tangannya dari genggaman Sergio.

          “Jangan katakan maksud kau menyuruhku datang kesini untuk menyuruh Jasmine kembali pada bajingan itu ha?” Sergio menggeleng panik. Namun menerima pelototan dari mata Naya dia mengangguk pelan.

       “Haha” Naya tertawa kosong menatap angkasa. “Hanya di mimpimu Mr. Sande” ucap Naya sakartis. ia berdiri, meninggalkan sergio.

       “Naya.. Naya sayangku Benedict sangat terpukul saat tau ternyata gadis itu mencintainya. Kaukan sahabatnya tolong bantu kami menebus rasa bersalah kami” Mohon Sergio mengikuti langkah kaki Naya. Beberapa kali Naya menepis tangan pria itu namun Sergio tetap mengejarnya. Naya berhenti, mengatur deru nafas kesalnya.

        “Pertama jangan panggil aku sayang. Kita tidak sedekat itu! dan yang terakhir, bukankah ini yang kau dan teman-temanmu inginkan? Perpisahan untuk mereka. Bersuka citalah atas perih yang di alami sahabatmu itu!” ucap Naya tersenyum sinis.

        Sergio menarik tubuh gadis itu hingga terhempas pada pada tubuhnya. Naya membrontak marah namun tidak terlihat berarti karena tubuh Sergio yang mengekangnya “Tidak satupun dari kami menyadari prasaan gadis itu sebenarnya. Jika aku tau prasaanya juga begitu besar terhadap Benedict aku tidak akan berbuat sekejam itu padanya”

      Naya menatap tajam mata abu-abu yang menatapnya “Nikmatilah penyesalanmu seperti Jasmine memilih gila karena menikmati rasa sakit hatinya” ucap naya mendorong tubuh pria itu kuat.

     “Naya!!” Triak Sergio geram menarik satu tangan Naya kembali. “Benedict sedang sakit! Tidak seharusnya dia se-egois itu meninggalkan suaminya yang sedang—”

    PLAAAK!!

      Tamparan keras Naya melayang di pipi Sergio yang dingin. Seketika darah sergio naik ke kepalanya dan mendidih akibat perlakuan kurang ajar terhadapnya. Alaram kekuasaannya yang tersetting untuk tidak membiarkan satu orangpun melawannya berdering kencang. Pupil matanya membesar menatap Naya penuh amarah. Nafasnya naik turun menandakan kemarahan yang bergitu melanda tubuhnya

        Naya tidak mundur sedikitpun menerima tatapan mematikan Sergio. Meski ia sedikit takut dengan anak-mafia yang di sandang pria itu. Matanya tetap membalas mata itu tidak kalah tajam.

      “Kau masih egois hanya memikirkan sahabatmu itu saja!! Jangan pikir karena fisik pria itu sakit maka sahabatku harus memaafkan kesalahan fatal yang telah ia perbuat!! Apa kau hanya butuh belas kasihan pada pria bajingan itu heh? Jasmine juga harus menjalani serangkaian terapi karena depresi yang ia derita karena kalian brengsek!! fisik sahabatmu itu masih bisa di obati lalu bagaimana dengan kejiwaan sahabatku?!”

       Mata Sergio seketika bergerak liar, ia menyadari keegoisan yang di maksud gadis itu. Ribuan kata-kata yang menari di pikirannya tidak kunjung bersatu menjadi sebuah kalimat yang layak untuk meminta bantuan pada gadis itu. Semua kalimat yang ada serasa semangkin memojokkan ke egoisan untuk pihaknya.

       “Apa kau tau kalau Jasmine yang paling tersakiti disini?? Apa kau pernah dihianati? Apa kau tau rasa sakitnya di hianati itu seperti apa ha!?  sakitnya itu… itu di… di.. Ah” Naya mendesa frustasi.

    “Apa perlu aku menceritakan padamu waktu aku di hianati mantan kekasihku Ryan Gosling sambil menusuk mataku memakai  garpu agar  kau benar-benar melihat air mata darah menangis kejer itu seperti apa persisnya ha???” Triak Naya menyalak. Sergio terlihat menahan diri agar tidak tertawa mendengar omelan gadis itu. Gadis itu terlalu berlebihan membuat umpama memakai aktor Ryan Gosling.

      “Aku tidak sedang bercanda bodoh!” Grutu Naya kesal melihat senyuman geli itu. “Terkadang Kita memang seharusnya Mengendalikan takdir kita sendiri. Terkadang takdir adalah masalah kesempatan. Takdir adalah masalah pilihan. Dan Takdir juga bukan sesuatu yang harus menunggu, takdir adalah hal yang ingin dicapai setiap orang. Dan itulah yang di lakukan sahabatmu pada sahabatku Jasmine. Tapi apa kau tau? hal yang lebih menyenangkan itu adalah saat kita mengucapkan – dear destiny, i am ready now! surprise me!! – Apapun itu terjadilah menurut kehendakmu, apa kau mengerti Mr.Sande?” tanya Naya melihat raut wajah Sergio mulai serius kembali.

      “Jangan mencoba mengusik sahabatku lagi. Jika memang mereka di takdirkan bersama biarlah takdir itu berjalan semestinya. Dan untuk dirimu Mr.Sande., belajarlah menjadi pria dewasa dan jatuh cintalah, maka kau akan tau rasa sakitnya di hianati itu seperti apa.”

—tbc—

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *