Chapter 36

Mrs.Melinda tergopoh-gopoh mengikuti Benedict yang menaiki tangga sambil mengangkat istrinya. “Benedict, kanapa kau lepas oksigen itu?!” tanya Melida cemas.  Benedict tidak memperdulikan omelan wanita tua itu. Ia membaringkan tubuh istrinya di ranjang mereka. “Nak, kepalamu berdarah! Sini biar ak—“

    “Bibi stop, aku baik-baik saja” ucap Benedict keras kepala. Mrs. Melinda menarik paksa Benedict untuk menghadapnya. Mendudukkan Benedict di sisi ranjangnya. Memasangkan Ventilator oksigen ke hidung pria itu. “Kenapa kau begitu bodoh melepas selang ini? parumu sedang rapuh Ben ka—“

      “Aku tau” ucap Benedict memotong ucapan Mrs.Melinda dengan nafas memburu. “Aku–“ Benedict berusaha menyelesaikan ucapannya. “Aku tidak ingin istriku melihat keadaanku seperti ini, aku tidak mau” ucapnya takut.

       Mrs Melinda tertengun, tatapannya nanar melihat anak tuannya namun sudah di anggap seperti anaknya itu. Dia memberishkan darah yang ada di dahi Benedict dalam diam. Dan membarikan obat pada luka yang tersembunyi dalam rambutnya. Setelah selesai ia menarik Benedict kepelukannya. “Gadis itu di butakan oleh ke-egoissannya untuk melihat keadaanmu sebenarnya nak. Kenapa kau mempertaruhkan nyawamu demi gadis sombong dan kejam itu?!”

     “Bibi Melinda” ucap Benedict menghentikan wanita tua itu lagi “Aku mohon jangan membuat aku merasa seakan-akan ibuku di surga juga tidak menyukainya.  Aku sangat menyukai gadis itu bibi. Aku sangat menyukainya” ucap Benedict sedih.

     Mrs. Melinda mendesah. “Jika dia mencintaimu dia seharusnya menerima bagaimanapun keadaanmu! Jika dia tidak. Kau harus melupakan gadis itu. kau pantas bahagia meski bukan bersamanya ” ucap Mrs.Melinda berat. Benedict menutup matanya, mendengar kelimat itu lagi sungguh membuat ia frustasi.

      Sepeninggalan Mrs.Melinda Benedict membasuh wajah istrinya pakai kain basah. Bau alkohon tercium jelas di tubuh Jasmine. Ia juga melepas coat abu-abu yang di pakai Jasmine. Tangannya terhenti saat melihat bahu kanan gadis itu ada perban putih tertutup dengan Grey Coat-nya. keningnya berkerut, matanya menatap tajam ke bekas tembakan itu. Rahangnya mengeras mengingat Sergio yang telah berani menyentuh istrinya. Benedict menutup matanya geram, darahnya serasa mendidih di kepalanya. Kemarahannya begitu mencuat melebur bersama rasa bersalah yang hampir membuat pria bodoh itu mati.

     Benedict naik ke ranjang, menarik kepala istrinya agar berpangku di lengannya. Tangannya menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah istrinya dengan lembut. Matanya sendu, hatinya serasa di tusuk belati tajam melihat air mata Jasmine yang mengalir. “Maafkan aku Mine” Ucapnya mencium kepala Jasmine. “Aku ingin memilikimu lagi, izinkan aku melawan takdir untukmu” Benedict menarik tubuh Jasmine kedalam pelukannya. Melepas rasa rindu yang amat menyesakkan.

**************

**************

         Jasmine membuka matanya, kepalanya tertelungkup di bantal lembut, beberapa detik ia menatap kosong bantal putih yang ada di hadapannya. Ia mengerjabkan matanya saat hidungnya seperti mencium wangi yang amat ia kenal. Matanya bergerak melihat sekitar meski tubuhnya tidak bergerak sedikitpun. Dahinya mengernyit saat mengenali ruangan itu. ia bangkit untuk duduk, melenguh saat kepalanya terasa sedikit sakit.

            Matanya mengerjab pelan meneliti ruang kamar itu. Pandangannya jatuh pada Benedict yang duduk di sofa biasa tempat mereka menonton.  Matanya mengerjab perlahan lagi melihat Benedict yang terbatuk mengeluarkan darah dari mulutnya, tidak ada rasa keterkejutan melihat kondisi memprihatinkan pria itu. tidak ada rasa kasihan melihat suaminya yang tampak kesusahan bernafas. Dari ranjangnya ia menatap kosong ke Benedict yang memegang dadanya perih,  tidak ada rasa cinta, tidak ada rasa rindu lagi, tidak ada rasa iba ataupun rasa sayang sedikitpun tergambar di sorotan matanya. Sorotan matanya seperti menikmati melihat pria itu kesakitan.

        Jasmine membuang pandangannya, meraih gelas yang berisikan air dan meneguknya hingga habis, lalu ia berjalan kekamar mandi, mengabaikan suaminya yang membutuhkan bantuannya.

      Di kamar mandi Jasmine membasuh wajah hingga rambutnya. Bayangan Benedict yang sesak nafas tadi sungguh menganggu pikirannya. Jasmine mendesah, akhirnya menarik handuk kimono untuk menutupi tubuhnya yang hanya mengenakan dess span. Ia keluar dan dari depan pintu kamar mandi ia melihat Benedict mengelap mulutnya yang mengeluarkan darah. Ia mendekat dan berjongkok di hadapan pria itu.

      “Masih sakit?” tanyanya membantu mengusap-usap dada kanan suaminya. Benedict mengangguk kecil. “Kau sudah minum obatmu?” ia bertanya sambil membenarkan selang kecil yang bertengker di hidung Benedict.

       “Aku tidak memilikinya” jawab Benedict mengernyit karena dadanya terasa sangat perih. Jasmine memutar kapalanya ke meja dan menemukan sekumpulan botol obat di atas nampan hitam. Ia berdiri dan melangkah mengambil obat tersebut. Ia duduk di meja kayu bercampur kaca, kakinya dilipat sesekali berayun sambil membaca kertas di yang tadi berada di antara botol obat itu.

      Benedict menatapnya bingung. Sikap gadis itu seribu persen berbeda dengan Claudia Jasmine malam tadi ataupun tiga bulan terakir ini. Gadis itu bersikap seakan-akan seperti waktu pertama kali gadis itu ada di kamar itu. Sikapnya dingin dan cuek seakan-akan tidak pernah terjadi hal sekecil apapun antara mereka.

       Jasmine mengangguk- mengangguk seperti bersenandung, setelah mengerti membaca resep itu. ia memilah botol-botol obat itu dan membawa  sembilan butir obat beserta gelas ke dapan suaminya. Ia kembali berjongkok dihadapan pria itu. “ini minumlah” ucapnya memberi gelas itu.

      Benedict mengambil gelas dan langsung menelan sembilan pil yang besar-besar itu. Ia meneguk air sambil menepuk-nepuk dadanya yang terasa sakit akibat obat itu menyentuh tenggorokannya. “Sakit” ucapnya mengeluh

       “Minumlah air terlebih dahulu baru menelan pil itu, dengan begitu pil itu tidak akan terasa sakit jika menyentuh organ dalammu.” Ucap Jasmine memberi nasihat. Benedict mengangguk lagi. Jasmine sesaat terpaku menatap mata itu. tak mampu untuk tidak mengangkat tangannya, sorotan matanya dalam, menyapukan jemarinya di rambut coklat pria yang telah membunuhnya secara perlahan selama ini.

      Pria yang menikam rasa rindu berulang-uang di jantungnya. ‘Aku pasti akan sangat merindukannya. Si penipu  yang manis tak berdosa’ ucap Jasmine tersenyum tipis.

     Benedict menutup matanya, merasakan setiap jemari itu mengusap rambutnya. Tangan itu begitu lembut sehingga mampu menyentuh ke relunghatinya terdasar. Ia merindukan sentuhan tangan itu.

        Jasmine tersenyum sinis melihat pria yang tunduk di bawah tangannya. Melihat suaminya seperti binatang yang mendambakan elusan tangan sang majikan.  Ia teringat Lilian, kucing jantan peliharaannya yang selalu manja minta di elus Jasmine tiap kali ingin tidur. “Apakah kau masih terlalu lemah ‘tuk meneruskan kesalahanmu hmm?” tanya Jasmine dingin.

       Benedict membuka matanya, tertengung melihat pandangan istrinya yang amat sangat berbeda. Mata itu berkobar nyala api kebencian.

        Tidak tahan melihat mata suaminya Jasmine bangit berdiri “Hentikan tangisanmu dan bersaksilah” ucapnya berjalan membelakanginya.

         “Aku tidak mengerti maksudmu” jawab Benedict.

         “Jangan mengelak, bersaksilah jika kau hidup ‘tuk hancurkanku”

        “Apa yang kau bicarakan ini Jasmine?”

       “Apa.? Apa harus aku yang mengingatkanmu bahwa kau dibalik segala kebangkrutan Kakekku?” tanya Jasmine berbalik ke arah Benedict. “Apa harus aku katakan bahwa kau menguntitku seumur hidupku?! kau menyuruh orangmu menyusup untuk menjadi bodyguardku, bahkan dibalik cumbuan peter kau selalu menggagalkan dia untuk meniduriku, kau mengikutiku saat aku keliling dunia. Kau—” Jasmine menekan prasaanya untuk tidak terisak.

      “Kau memperdaya takdir untuk mengikatku dengan pernikahan konyol ini.“

        “Dari mana kau mengetahui itu semua?” Tanya Benedict tidak percaya.

“Jawab, jangan berbalik tanya”

“Lalu dimana letak salahku? aku hanya berusaha agar kau— “

       “AKU MENCINTAIMUU!!!!” Triak Jasmine menjerit histeris, pernyataan cinta itu malah terdengar sebuah caci maki yang memburamkan cinta yang ia ucapkan. Penyataan cinta yang hanya menyisakan luka tanpa ada rasa gembira yang seharusnya menciptakan gejolak cinta yang meletup-letup di hati. “AKU MENCINTAIMU!! TIDAKKAH KAU SADARI ITU?!” Tanya Jasmine meneteskan air matanya perih.

          “Dulu pikiranku selalu bilang kutahu kau ada dimana dan dimana aku bisa menemukanmu.  tapi aku hanya diam, memendam prasaan gila ini. Dulu selalu kukira aku kan siap dan cukup kuat untuk hanya memendamnya saja. Tapi ternyata kau teramat sering menulis takdir untukku agar aku melihatmu. Di setiap aku hendak melupakan prasaan yang begitu sakit ini kau muncul entah dari sudut yang mana, kau sengaja menabrakku tapi sikapmu tidak memperdulikanku sedikitpun! hanya melihatmu di kejahuan kau ubah seluruh duniaku lagi. Kau menghancurkan pertahananku lagi dan lagi. Kau selalu saja membuatku terjatuh dan menangis dalam diamku. Untuk apa kau melakukan itu padaku? Kanapa kau tidak datang saja kedapanku dan katakan cintamu ha?!  KAU— KAU MEMAKSAKU AGAR AKU MENCINTAIMU tapi bersamaan kau bercumbu bersama pelacur itu di hadapanku!! kau membuat aku putus asa, dan membuat aku memendam prasaan ini  yang begitu sakit selama 15 tahun ini!!” Jasmine berteriak serak. Sangat ingin rasanya ia berlari dan menikam pria itu dengan pisau yang ada di keranjang buah.

       “Aku berusaha mengikuti permainanmu utuk tidak saling mengenal di awal pernikahan kita. akal sehatku menenangkan rasa sakit dalam hatiku. Dia memberitahuku untuk bersabar dan terus berharap. Aku berusaha menerimamu dan melupakan prasaan sakit hatiku dulu. Tapi melihat Video kau bercumbu dengan Taylor kau mengingatkanku bahwa kau masih si brengsek Russel yang mencumbu Princess Vitroria selang berapa menit setelah kau menciumku di dalam lemari” maki Jasmine kencang, matanya sinis melihat Benedict yang hanya diam, di dahinya terlihat jelas urat-uratnya menegang.

Benedict  tidak pernah mengira pura-pura tidak mengenal gadis itu ternyata menjadi bumerang untuk hubungan mereka.

     “Apa kau juga  terlalu lemah ‘tuk mengakui kesalahanmu? Apa kau mau menyangkal bahwa kau tidak menceritakan kehidupan pribadi kita ke Kekasihmu itu ha?”

Benedict terdiam beku. “Jawab aku brengsek!!! Mengapa kau menceritakan semuanya kepada mereka?! Apa saat kita terpisah ini kau juga menceritakan pada mereka juga bahwa aku ternyata masih perawan ha?!”

     “Tidak sayang tidak” ucap Benedict menggelengkan kepala mendekati Jasmine. Jasmine mundur, tidak sudi di sentuh pria itu lagi. Matanya menatap asing ke pria yang masih menjadi Suaminya itu

     “Benar kata pelacur itu, aku tidak mengenalmu sedikitpun. Kau pria yang sulit di terka. Aku tidak tau mengapa banyak CEO muda begitu menakutimu, aku tidak tau mengapa kau banyak memiliki bodyguard di sekitarmu. Aku tidak tau pekerjaanmu sebenarnya. Aku juga tidak tau mengapa kau tidak mau aku ajak keluar dari ruamh ini. Atau apakah benar yang Taylor katakan bahwa  kau memiliki kepribadian ganda pada dirimu? ”

     “Aku tidak!” bahtah Benedict tajam.

    “Benarkan? Lalu alter ego apa yang kau miliki?  Apa kau memiliki sihir expecto patronum untuk membunuh Lord Voldemort? Atau kau bisa menghilang dengan cincinmu?”

     “Tidak Jasmine tidak. Kau terla—“

     “LALU SIAPA DIRIMU YANG TERLIHAT SEPERTI MALAIKAT INI SEBENARNYA? Apa jika aku bilang kau telah memuaskan nafsumu terlebih dahulu dengan pelacur di luaran sana baru kau bisa tidur tenang disampingku itu benar? Ha?! Jawab aku Benedict!!!”

     “Tidak” Benedict mengeleng diam. “Aku—aku hanya melakukannya dengan Tay—“

      PLAAK!!

    Tamparan keras Jasmine melayang ke wajahnya sebelum ia selesai menyebut nama itu. Pipinya panas hatinya jauh lebih sakit akibat tamparan itu. Benedict menatap takut ke Jasmine yang terlihat semangkin kacau. Gadis itu terlihat semangkin terpukul. Ia terduduk dan menutup wajahnya yang manangis.

    “Jasmine maafkan aku”

   “Jangan sentuh aku” Jasmine bangkit berdiri saat Benedict hendak menariknya dalam pelukannya. “Aku akan kembali ke apartemeku. Kita cukup sampai disini.” Jasmine berjalan ke arah lemarinya. Benedict mengikutinya dengan panik, ia melepas selang penyaluran oksigen untuk tubuhnya. Ia tidak perduli lagi sesak yang mengancam nyawanya.

  “Tidak bisakah kau menerimaku? Itu masalalu, bahkan kita telah bercinta bukakah itu bukti hubungan kita telah dimulai?”

  Jasmine terkekeh kosong. “Jangan Naif Ben, dua orang dewasa biasa melakukan itu bukan?” tanyanya mengulang kalimat yang selama ini berdenging di telinganya.

    Benedict mencengkram lengan Jasmine kuat. “Di pernikahan itu kita berjanji  kepada Tuhan Jasmine. Tidak akan ada perceraian!!” Ucap Benedict melotot marah.

    Jasmine tersenyum sinis mengingat janji suci yang di maksud suaminya. “Kau tau apa jawabnku saat pastur menanyakan apakah aku menerimamu sebagai suamiku dalam keadaan sehat ataupun sakit? Aku menjawab IYA namun dalam hatiku mengatakan –ia banyak uang untuk mendapatkan pengobatan yang terbaik di belahan dunia manapunDia tidak akan membuatku susah jika ia sakit–” ucap Jasmine tersenyum dingin melihat keterkejutan yang amat jelas di mata pria yang amat ia benci itu.

     “Dan saat pertanyaan apakah aku menerimamu sebagai suamiku  Dalam keadaan kaya atau kekurangan? Kau mau tau jawaban di dalam hatiku huh?” tanya Jasmine semangkin menjadi-jadi ingin menikam hati pria itu

      “Aku mengatakan –Dia Sangat kaya dan sampai 21 abad kekayaan kakeknya tidak akan habis. Tidak mungkin ada masa saat dia kekurangan bukan? Tentu saja aku bersedia haha oh sialan kau Mine jangan tertawa!” ucap Jasmine terkikik menyebalkan.

         Jasmine terdiam sesaat, wajah menyebalkannya berganti ke wajah yang penuh benci menatap suaminya  “Ternyata benar bukan? Karena uangmu, kau masih hidup sampai detik ini. seharusnya kau telah mati di danau itu brengsek” maki Jasmine menatap tajam ke mata Benedict yang terlihat semangkin terluka.

      Benedict menutup matanya, menekan prasaan yang begitu sakit mendengar pengakuan jujur istrinya. Perih di oragan parunya tidak lagi terasa. Hatinya jauh lebih sakit di tikam oleh mata gadis itu yang begitu membencinya.

        “Beberapa detik yang lalu aku sempat berpikir aku dan kau akan menjalani penikahan seperti kedua orangtuaku, namun sayang kau yang pertama kali mengunggapkan kata perceraian. Oke baiklah aku akan mengirim surat itu untuk kau tandan tandatangani”

         “Baiklah, kirimkan surat itu beserta uang  nominal US$40 ,5miliar” balas Benedict dingin. Jasmine menatapnya dengan kening berkerut.

        “Apa? Si bodoh Sergio tidak mengatakan juga padamu bahwa aku menghabiskan US$40,5miliar untuk membelimu dari kekekmu huh? Jangan kau pikir aku akan melepaskan uangku begitu saja” Ucapan datar Benedict sukses membuat Jasmine mengatupkan rahangnya keras. Menatapnya dengan kebencian yang begitu memuncak.

         Balasan yang sangat menghantam jiwanya keras. Benedict membuang tatapannya dari mata Jasmine yang hendak menangis lagi. Ia tidak bermaksud melecehkan gadis yang amat ia cintai itu, ia berpikir hanya itu satu-satunya cara tetap mengikat gadis itu. Dengan kata lain gadis itu harus jadi orang terkaya nomor lima dunia seperti kakeknya Anthony Ecclestone yang memiliki US$40 5miliar  dari mendirikan 2.300 hotel di 76 negara.

      “Kaulah pria brengsek sebenarnya. Kau penipu ulung, kau pria yang menjijikkan!!! Jangan pernah ikuti aku lagi jangan pernah temui aku!! KAU IBLIS BERWAJAH MALAIKAT BAJINGAN!!” Triak Jasmine menjerit frustasi, ia lari keluar kamar dan mengehempaskan pintu itu keras.

       Saat diluar Jasmine terdiam melihat Nicole yang berdiri diam di dekat pintu. Anak manis itu seperti mendengar pertengkaran mereka. Namun Jasmine memilih mengabaikannya, pergi menuruni tangga meninggalkan rumah yang dipenuhi orang yang memuakkan.

        Nicole masuk kekamar, menemukan kakaknya yang terduduk lemas di lantai, ia menarik tabung oksigen yang tingginya tidak lebih dari bahunya di dekat sofa. Dalam diam ia memasangkan oksigen ke hidung Benedict yang memegang dadanya yang amat sangat sesak. Bibir Nicole terlihat berkerut menanhan nangis, ia memeluk kepala kakaknya. Mengusap rambut Benedict lembut “Jangan menangis Russ. Kau telah menyakitinya, lupakan dia. Aku yang akan menjagamu sampai sembuh”

      Benedict menutup matanya, air matanya menetes  mendengar kata lupakan dia lagi, saat adiknya yang masih polos juga mengatakan itu, terdengar seperti takdir yang menegaskan ketelinganya.

 ************

      Pedestrians on 5th Avenue, New York.  Fifth Avenue adalah sebuah jalan sangat ramai di pusat borough Manhattan di New York City, Amerika Serikat. Daerah itu memang memiliki ‘fast-paced’ (kecepatan bergerak) yang luar biasa, karena lebih dari 26.000 pejalan kaki berjalan melewati satu blok 5th Avenue pada jam sibuk seperti itu. Pergerakan harus sejajar dengan mereka. Jika tidak, mereka akan marah karena menghalangi jalan mereka. Semua orang melangkah dengan cepat seperti setiap saat sangat penting dan berharga bagi mereka. Jadi tidak heran jika tidak ada satupun yang memperudlikan Claudia Jasmine pewaris dari Ecclestone sedang meringkuk di pinggir jalan menangis sendirian.

        Naya Dornan mencoba melangkahkan kakinya semangkin lebih cepat meski ia dimaki-maki oleh orang-orang yang menabraknya.  Orang-orang berteriak marah karena Naya menghalangi jalan mereka.  langkahnya terhenti saat melihat kotak telpon umum yang ia yakin tadi Jasmine menelponnya dari telpon itu. Saat ia memeriksa ternyata kotak telpon berwarna merah itu kosong. Naya semangkin panik menelusuri jalan  5th Avenue, di antara orang-orang yang bergerak cepat itu Naya seperti mencari sebuah jarum yang kecil. Naya beberapa kali terlihat menggosokkan kedua tangannya untuk mendapatkan kehangatan karena udara kisaran 4 sampai -5 derajat celcius. Meski Tak sampai turun salju yang lebat, namun udara dingin diperparah dengan hembusan angin.

          Naya Dornan menghembuskan nafas legah saat melihat Jasmine duduk meringkuk di dekat toko fhasion bermerek Diesel  berukiran kepala orang di dinding yang tinggi. Naya cepat-cepat menghampiri Jasmine yang tampak hanya mengenakan sendal rumah di satu kakinya. Satu kakinya langsung menginjak jalanan yang amat dingin itu. Dan ia hanya menggunakan handuk kimono yang putih untuk menutupi tubuhnya dari udara New York yang amat dingin.

        Gadis itu tampak tidak kedinginan sedikitpun meski udara berkisar 5 derajat celcius. Hawa di bawah titik beku yang menusuk tulang. Naya memegang bahu Jasmine pelan namun gadis itu berteriak ketakutan. Naya menatapnya bingung.

“Mine, ada apa denganmu?” tanya Naya takut. Jasmine hanya diam menatap Naya sekilas kemudian ia kembali menelungkupkan kepalanya di antara dua kakinya.

        “Jasmine, ini aku” ucap Naya sedih, namun gadis itu kembali menjerit ketakutan saat Naya menyentuhnya. Naya menarik paksa kepala gadis itu untuk menatapnya “JASMINE INI AKU NAYA!!” Triakan keras Naya akhirnya dapat membuat sorotan Jasmine benar-benar menatapnya.

      “Naya?” tanya Jasmine gemetaran.

     “Iya sayang aku Naya sahabatmu!” ucap Naya memeluk tubuh Jasmine yang sangat kacau. Jasmine berceloteh tidak jelas dengan menyebut nama suaminya. Naya membuka mantel hijaunya dan memakaikan di tubuh Jasmine yang terasa membeku, ia juga membuka syalnya di lilitkan di leher Jasmine agar cepat menghangat.

       Ia juga membuka sepatu bootsnya untuk di kenakan Jasmine. “Ayo kita pulang” ajak Naya membantu Jasmine berdiri namun gadis itu menggeleng kepala takut. “Kita ke apartemenmu. Aku janji kita tidak akan kembali ke Mansion sialan itu!” ucap Naya tegas. Ia menarik paksa tubuh Jasmine agar berdiri. Membantu Jasmine agar tidak tertabrak orang ang lalu lalang di trotoar itu. Kau tetaplah disini aku akan mencarikan taksi ucap Naya meninggalkan Jasmine sendiri, diam menatap aspal yang buram karena air matanya.

      Saat Naya kembali ia tidak melihat Jasmine di tempat semula. Jasmine  berjalan berbalik arah, naya menariknya “Taksinya disana” ucap naya, tapi Jasmine menepis tangannya. Naya menatap Jasmine bingung, rasanya ingin membakar diri hidup-hidup dari pada ia melihat Jasmine mentapnya dengan pandangan tidak mengenalnya sedikitpun. “AKU NAYA!! Saudara another mother mu!!” Naya menampar pipi Jasmine sekeras ia bisa.

      “Pergi tinggalkan aku!!!” Triak Jasmine menjerit histeris. Naya terduduk lemas, ia menangis menelungkupkan kapalanya di antara kakinya. Dia tidak tau apa yang telah terjadi pada sahabatnya itu namun prasaanya begitu sakit melihat gadis itu sungguh berbeda. Sikap Jasmine sungguh membuat dia frustasi.

        Jasmine menatap diam Naya yang menangis, ia menoleh melihat orang-orang yang menatap mereka. Jasmine melangkah memasuki sembarang taksi dan duduk diam menunggu Naya memasuki taksi kuning itu. Naya akhirnya sadar Jasmine sudah menurutinya, ia masuk ke taksi kuing itu “Time Warner Center Sir” ucap Naya menyuruh ke tempat apartemen Jasmine berada.

    “Maksudmu 10 Columbus Circle, New York, NY 10019 Miss?” Tanya pria itu meragukan penampilan dua orang gadis di dalam taksinya itu dan antara apartemen yang memiliki harga USD$ 50 juta itu. Supir taksi itu akhirnya mengangguk karena Naya melotot geram ke arahnya.

   Naya mendesa melihat Jasmine yang menunduk, bahunya bergetar, gadis itu mulai menangis lagi. Naya mengkrusor daftar nomor telpon di ponselnya, pikirannya berkecamuk mencari nama yang harus ia kabari tentang kondisi Jasmine yang memprihatinkan. Ibu dan ayahnya tidak mungkin, orang tua itu pasti hanya menambah bodyguad atau pengawalannyanya saja. Tidak ada yang dapat membantu. Naya menekan nomor ponsel yang ia kira dapat membantu.

     “Haloo. Sheldon aku membutuhkanmu. Apa kau bisa datang ke Apartemen Jasmine sekarang?”

    “……….”

    “Ya dia mengalami ciri-ciri seperti itu. apa yang harus aku lakukan?”

   “……”

   “Tidak brengsek dia tidak gila!!! Dia hanya depresi!! Aku membutuhkan Spikiater sepertimu karena dia orangnya sangat tertutup, sampai mati dia hanya akan menyimpan perihnya sendiri dia bisa benaran gila karena itu”

   “……………………………………”

    “Oke, apapun itu hipnotis atau terapi apapun itu aku mau dia melupakan suaminya secepatnya!”

    “…….”

   “Oh ayolah lakukan sekarang juga. Pewaris Ecclestone membutuhkanmu, kau akan mendapat bayaran termahalmu darinya”

  “….”

 “Ya.. Bye brengsek!!” Seru Naya kesal ke telpon. Ia menarik Jasmine yang masih menangis sesunggukan ke pelukannya.

… TBC…… TBC.to be continued..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *