Chapter 35

yeyyyyy udah mau tamat

*************

          “AAAAAAAAaaa… Peeeeeeet”  jeritan suara gadis-gadis di Cielo NYC New York’s Most Legendary Club itu menggema saat Peter Derulo baru saja menyelesaikan permainan Dj-nya untuk club itu. Tedd Patterson  mengantikan Peter Derulo untuk mengisi musik. Deru musik kembali sangat terdengar keras.

        Peter turun dari stage Dj sambil  tersenyum simpul kepada gadis-gadis yang masih berada di Dance floor. Ia hendak menghampiri Jasmine yang tadi ia tinggalkan di sofa hitamnamun langkahnya terhenti saat Miley, sahabat gadis itu berdiri menatap Jasmine yang sedang muntah di dalam ember kecil tempat es batu. Lauda membantu Jasmine menyingkirkan helaian rambutnya  yang terkena muntahan. Miley melipat kedua tangannya di dadanya, menghela nafas melihat keadaan Jasmine yang begitu kacau.

       “Tugasmu sebagai sahabatnya saat ini adalah mendengar semua keluh kesahnya, tidak menghakiminya Miley” ucap Peter melewati Miley. Ia duduk di samping Jasmine dan membersihakan muntahan di bibir gadis itu.

      “Demi Tuhan Peet! dia sahabatku tapi aku hanya tau tentangnya hanya dari surat kabar dan infotaiment! Dan aku baru bisa tau keberadaanya dari tweet orang-orang yang memfotonya sedang mabuk!” triak Miley tertahan.

        “Dia akan baik-baik saja, setelah dia puas mabuk maka ia akan dapat melupakan pria itu dengan cepat”

       “Apa yang membuatmu berpikiran Jasmine harus melupakan pria itu?!” tanya Miley terkejut, ia ikut duduk di sofa berwarna hitam tersebut.

     “He fuck with a WHORE” Lauda menjawab datar sambil meminum kahlua cream yang di tangannya.

     “Oh..No way!” Ucapnya menggeleng tidak mau percaya.

    “Oh..Yes He Did!”   

      “Who’s The Whore? Oh… my… God…!“ Miley menutup mulutnya tidak percaya. Lauda mengangguk seakan dapat membaca nama yang tertera dalam pikiran Miley.

“Really? Taylor?” Tanya Miley menoleh ke Peter. Peter mengangguk kecil. “Tapi bagaimana mungkin? Pria itu pria yang terbaik yang pernah ada dan begitu juga dengan Taylor!!”

      “Ini memang sungguh sulit di percaya dan yang membuat dia sehancur itu karena kita tau Jasmine adalah gadis “ter-aneh” se Amerika Serikat karena dia mungkin satu-satunya gadis  yang masih Virgin di umurnya 27tahun ini” Jawab Lauda serius.

     “Oh Mine” Miley mendorong Lauda yang duduk disamping Jasmine dan ia menarik Jasmine kepelukannya. ”Jasmine.. kenapa kau memendam perihmu sendiri huh? Kau pikir kami tidak dapat mengerti prasaanmu? Lihat keadaanmu.. You look shit! is that the style now?”

    “Miley? Ah aku tidak mau kau, aku mau Naya” ucap Jasmine meracau mendorong tubuh Miley yang memeluknya.

    “Naya masih terjebak badai salju Strasbourg, Francis Jasmine, tidak tau kapan ia akan tiba” ucap Lauda menjauhkan gelas martini yang hendak di gapai Jasmine.

     “Ibumu itu Karlie Doukas Bodoh bukan Naya Dornan!” tambah Miley menarik botol alkohol Martel VSOP dari tangan Jasmine. “Seharusnya yang kau butuhkan itu ibumu, bukan Naya!”

    “Berikan aku.. aku butuh alkohol untuk melupakan sakit ini aku mohon Miley berikan padaku” ucap Jasmine merengek menggapai gelas martini-nya.

    “Tidak Jasmine kau bisa mati jika dalam 24 kau habiskan untuk mabuk!” triak Lauda menyingkirkan semua minuman di meja itu.

      “Kau membiarkan dia mabuk selama 24 jam?!” triak Miley mencoba mengalahkan deru musik ke Peter.

      “Guys.” Peter mengusap Wajahnya penat.” Aku tidak tau harus bagaimana, dia meneguk habis satu botol Chivas setiap harinya. Jika dia terbangun dia tidak mengeluh sedikitpun karena efek alkohol membuat kepalanya sakit. Dia hanya berdiam diri, tatapannya kosong tanpa berkedip. Dan jika air matanya berlinang dia langsung meneguk alkohol hingga tak sadarkan diri dan dia akan mengulang kejadian itu dalam satu minggu lebih ini”

      “Ini terasa aneh untukku, mengapa dia sempai sehancur itu hanya karena pria itu? tidak lebih dari tiga bulan bukan dia menikah? Dia terlalu berlebihan, dalam tiga bulan tidak mungkin dia memiliki prasaan sekuat itu untuk si brengsek itu” seru Miley menyalak. Peter yang tau Jasmine memiliki prasaan terpendam pada pria kaya itu hanya diam tidak ingin memberi tanggapan.

              ************

           Diruang VIP Room Mount Sinai Medical Center, New York. 

        “Kenapa kau tidak makan? sariawanmu sudah sembuh bukan?” tanya Raymond dari tempatnya duduknya. Benedict diam tidak menjawab, ia memiringkan kepalanya lagi saat Taylor hendak menyentuh kepalanya. Taylor tetap mengulurkan tangannya lagi hendak menyisir rambut Benedict yang berwana coklat dengan jemarinya.

       “Kau tau Aku tidak suka kepalaku di sentuh Ry!” desis Benedict pelan. Matanya menatap marah ke Taylor karena ia merasa pusing harus memiringkan kepalanya untuk mengindar. Taylor menghela nafas karena Benedict masih bersikap dingin kepadanya. “aku merindukanmu Ben! Jangan menghindariku terus menerus” Pinta Taylor terluka.

      “Apa benar bibirmu masih perih sebabnya kau tidak makan?” tanya Sergio mengelurkan suaranya. Ia berdiri di samping kanan Benedict, kepalanya bergerak memeriksa bekas bekas cakaran yang ada di leher Benedict. “Kau ini bercinta dengan wanita atau srigala huh?  Untung cakaran di tubuhmu telah hilang. Ckck dasar wanita jalang itu seha—”

     “KAU!!!…” Dengan kecepatan kilat Benedict menarik wajah Sergio dengan genggemannya. Ia mengatupkan rahangnya degan keras, sekeras ia mencengkram kedua pipi Sergio. Pupil matanya membesar menatap sahabatnya dari kecil itu. “Cukup ini kali terakhir aku mendengarmu mengatakan dia wanita jalang” Benedict semangkin memperkencang cengkramannya. “KAU MENGERTI?!” Ancamnya penuh amarah.

Tangan Benedict terlepas saat Raymond menghentakkan tangannya kasar.   “Kau memilih gadis yang meningalkanmu membeku di tepi danau dari pada orang yang menyelamatkanmu hah?! Dia pantas di katakan wanita brengsek sama brengseknya denganmu!!” triak Ramond terbawa emosi.

      “Dia tidak bermaksud menyakitiku. Dia tidak tau bahwa aku sekarat” elak Benedict masih membela istrinya.

     “Teruslah kau hidup dengan de Clerambault’s syndrome-mu itu!!

     “Aku tidak memiliki kelainan itu!” jawab Benedict lelah.

     “Ya kau sakit! kau terus berhayal bahwa dia mencintaimu kau terus berhayal bahwa dia menyukaimu itu disebut Erotomania! Bahkan kau memaksa takdir agar gadis itu menjadi istrimu. Tidak akan ada yang bisa melawan takdir Ben! Pada awalnya kau tetap kalah! Kau sakit!! Sudah saatnya kau melepas wanita itu! Lupakan dia!” Bentak Raymond muak.

      “Sudah tenanglah. mari kita keluar” Williams menarik Raymond dan Sergio keluar kamar. Benedict mencengkram tangannnya geram. Sangkin dekatnya mereka Ia merasa sahabat-sahabatnya terlalu banyak ikut campur dalam kehidupan pribadinya. Namun kondisinya sendiri masih belum kuat untuk membrontak. Pandangan Benedict beralih pada Nathaniel yang duduk di sofa

      “Kenapa kau tidak juga membawa Hagler kemari?” tanyanya pada Nathaniel. “Aku belum mengucapkan trimakasih padanya”

      “Dia sudah Tewas” jawab Nathaniel mendekati ranjang tidur Benedict. Benedict mengerutkan kening tidak mengerti. “Aku akan memberikanmu waktu sekali lagi untuk membentuk takdirmu sendiri” ucap Nathaniel menghembuskan nafas berat. Benedict menatapnya bingung, Nathaniel terdiam sesaat, mendesa dan mengusap mulutnya dengan dua jarinya. tanda-tanda bahwa pria itu sedang berpikir keras atau menimbang sesuatu.

     “Hagler Tewas?” Tanya Benedict mulai tidak sabar.

     “Aku tidak tau harus memulai dari mana, mungkin jika kau membacanya kau tau yang harus kau lakukan” Nathanie menarik surat kabar dari dalam jasnya. Benedict hendak mengambil surat kabar itu namun Nathaniel kembali menariknya “Ini terakhir kalinya aku berada dipihakmu oke?” tanyanya mengancam.

        Benedict tidak menjawab ia kembali menarik surat kabar yang memiliki Headline News berjudul Penyerangan Supermodel Claudia Jasmine di The VIP Club New YorkDengan cover wajah istrinya, terlihat jelas leher gadis itu memerah seperti bekas ikatan yang sangat kuat meski beberapa orang berusaha menutupi gadis itu dari paparazi. Dengan tergesa-gesa Benedict membuka halaman-demi halaman mencari tempat berita itu tertuliskan.

    “Dari sumber yang ingin namanya dirahasiakan mengatakan Supermodel Claudia Jasmine sedang kacau dan mabuk-mabukan di The VIP Club New York. dan tiba-tiba ada pria misterius  menyerang pewaris dari kekayaan Anthony Ecclestone itu. Perkelahian antara bodyguard gadis itu dan pria berkepala pelontos itu tidak dapat terelakkan.      

   Baku tembak kembali terjadi karena penjaga pihak Club berdiri untuk bodyguard dari anak pasangan Hollywood Star Karlie Doukas dan Arnold  Ecclestone tersebut. 4 tewas dan banyak pengunjung yang terluka parah.Dan dari wanita sumber yang dapat dipercaya, Pria misterius itu mencekik leher CJ menggunakan dasinya. Tidak ada perlawanan yang berarti dari gadis itu. Namun tiba-tiba pria misterius itu berhenti mencekik, mungkin karena Claudia Jasmine hanya diam seperti juga menginginkan kematian untuknya.        

Pria itu pergi meninggalkannya, namun hanya beberapa langkah tanpa berbalik pria itu kembali melepaskan  tiga kali tembakan ke arah Claudia Jasmine. Meski yang tertembak adalah bodyguardnya namun sayang satu peluru mampu menembus badan besar dan berkulit hitam itu hingga peluru itu tetap mengenai bahu kanan Claudia Jasmine Ecclestone.”  

      Tangan Benedict gemetar meremas surat kabar itu hingga remuk.  “Sergio” Desisnya serak, Benedict tau pria misterius itu adalah sergio, bahkan seluruh Amerika pun tau bahwa pria itu adalah Sergio meski di rahasiakan identitasnya, pihak manapun tidak akan berani menyebut namanya jika anak mafia itu membuat keributan.    

   Benedict melepas selang oksigen dan infus dari tangannya, berjalan cepat keluar kamar mencari Sergio.   

   “SERGIOOO!!!” Triak Benedict menggelegar saat melihat Sergio yang berjalan di lorong arah barat rumah sakit. Sergio berbalik terkejut melihat Benedict dengan tampang mengerikan. Berjalan hendak menerkamnya     

   “Ada apa dengannya?” tanya Sergio waswas. “Hei tahan dia!” perintah Sergio pada bodyguardnya. Dengan sigap pria berbadan besar berlari menghampri Benedict menendang lututnya dari belakang dengan keras, memaksa agar Benedict berlutut dengan menekan punggungnya kuat.       

“Tidak, jangan sakiti dia brengsek!!” perintah sergio marah. Benedict terlepas dengan mudah, ia menarik pistol dari belakang pria itu dan menembakkan kedua kaki pria itu di tempat yang sama, satu senti dari atas kiri lutut mereka. Begitu juga dengan tiga bodyguard lainnya.     

    Dengan Keahlian belajar menembak dari kecil bersama Sergio dan Liam Sande ayah sergio ia dapat menembak sisi kaki mereka semua tanpa melihat. Bodyguard lainnya tidak melawan, sadar Benedict hanya ingin mereka tidak ikut campur, karena bisa saja dia  langsung menembak jantung mereka jika pria itu mau.

  Benedict langsung mengarahkan pistolnya pada kepala Williams untuk tidak ikut campur dalam urusannya.      

  “Menyingkirlah, aku tidak ingin menyakitimu” ucapnya dingin. Kemudian ia melepas tembakan tepat di sisi daun telinga Sergio karena pria itu hendak melarikan diri. Ia berlari dan menerjang punggung Sergio hingga terpental jauh dan tersungkur dilantai.     

   Benedict melangkah mendekati Sergio yang tidak bisa lari karena tepat di hadapan pintu lift. Ia menginjak kepala Sergio hingga pria itu memiringkan wajahnya meringis. “Sudah aku katakan bukan? jangan pernah menyentuh keluargaku lagi” Ucapnya mengarahkan pistol ke arah wajah Sergio.      

   Ia semangkin menekan kakinya di pipi kanan Sergio dengan keras. “Berapa peluru yang kau lepaskan saat itu?” tanyanya dingin.       

  Benedict mengokang pistolnya dan langsung menembakkan dua kali tepat di samping pria itu. Sergio menutup erat matanya gemetar, desingan peluru itu sungguh memekak-kan telinganya. Pecahan lantai granit mengoyang kulit wajahnya.    

   Benedict melepaskan injakannya, berjongkok, satu lututnya menumpu di lantai granit dan kembali mencengkram pipi Sergio untuk menarik mendekat ke arahnya. ia juga menekan pistol ke mata kanan Sergio kuat. “Apa perlu satu peluru ini kewajahmu? Ah tidak.. kau ingin mati tetap terlihat tampan bukan?” tanya Benedict terkekeh kosong.  

     Benedict melemparkan pistol itu kebelakangnya hingga terhempas tepat di wajah Raymond yang ia tau sedang berlari ke arah mereka. Kedua tangannya mencengkram leher Sergio kuat.        Sergio mencoba menarik tangan Benedict yang mencekiknya, namun terasa seperti menyingkirkan beton yang kokoh.  

Benedict tetap tidak merasa kasihan pada sahabatnya itu meski Sergio mengeja namanya terbata-bata. “Setelah membunuh kedua adikku Harry dan Joychelin kini kau hendak membunuh istriku huh?” Tanyanya dengan mata menyorot keji.

“Kau yang harus mati anak bodoh! Amerika akan bahagia jika kau mati” desisnya dingin, semangkin kuat mencengkram leher Sergio, teriakan Williams dan Raymond terdengar jauh untuknya meski jarak mereka hanya beberapa senti meter.      

  “KAU BISA MEMBUNUHNYA BENEDICT!!!” Triak Raymond semangkin murka menarik tangan Benedict dari leher Sergio.   

      Cengramnya terlepas dari leher Sergio saat ia melihat air mata menetes dari mata Sergio yang sudah terlihat memerah.     

  Tangannya gemetar, seakan dapat melihat apa yang ada di mata Jasmine saat Sergio mencekik leher istrinya waktu itu. Dengan nafas tersengal-sengal ia merangkak mundur memberikan ruang untuk Raymond yang mendekatkan telinganya ke mulut Sergio.  

     Nathaniel cepat-cepat memberikan selang oksigen untuk pernafasan Benedict.         Raymond tidak menemukan adanya pernafasan dan denyut nadi yang berarti sistem pernafasan, dan sistem sirkulasi darah Sergio terhenti. Kemudian dia menarik kepala sergio sedikit ke belakang.  Menjepit hidung Sergio dengan jari tangannya yang menekan dahi. Dengan lembut ia mengangkat rahang bawah Sergio dan hembuskan kuat-kuat udara ke dalamnya. “Bernafaslah brengsek bernafas!!” perintah Raymond panik.     

    Ia kembali mendekatkan telinganya di mulut Sergio. “Gie aku tau kau mendengarku! Bernafaslah bodoh!!” Triak Wiliams tidak kalah gusar. Raymond menekan-nekan dada Sergio, memompa jantung Sergio untuk kembali berdetak. “Demi Tuhan bernafaslah!!!” Triak Raymond frustasi.    

   Ia kembali memberikan nafas bantuan kemudian kembali lagi melakukan resusitasi hingga Sergio tersedak, kembali bernafas. Raymond bernafas legah ia terkulai lemas di lantai.        Williams tertawa senang memeluk kepala Sergio “Haha anak pintar. Good Boy! Kau memang anak yang baik!” ucapnya legah luar biasa. “Aku butuh tabung oksigen untuk si sialan ini” pintanya berseru pada siapapun yang menonton mereka.   

    Benedict juga ikut bernafas legah melihat Sergio yang terbatuk. Ia melihat Taylor berbaik menghadapnya, berjalan menghampirinya dan menampar pipinya kencang. “Kau puas hampir membunuhnya?!!” tanya Taylor dengan mata melotot marah “Kau diam!!” Triaknya pada Nathaniel yang hendak menariknya. Pandangannya kembali pada Benedict yang masih kesulitan bernafas.     

 “Sergio adalah pria malang yang terus menyimpan rasa bersalah padamu seumur hidupnya!! Bukankah kau sudah berjanji untuk tidak membahas kematian adikmu itu?! Dia selalu dan selalu berusaha menjadi guardian angel untukmu! seharusnya dia membiarkanmu mati di tepi danau itu!! Stop menyalahkannya karena istrimu itulah yang terlalu naif dan MUNAFIK tidak mengetahui seperti apa dirimu yang keji ini sebenarnya!! Lupakan gadis itu atau kau mati saja bersamanya!!” Maki Taylor kencang.                                                                                                                       

       “Ayo Tay.. biarkan dia ingin melakukan apapun yang ia mau. Dia bukan lagi bagian dari kita” ucap Raymon menarik lengan Taylor, matanya hanya sekilas memandang tajam ke Nathaniel yang membuat kekacauan di antara mereka.

      “Aku menyuruh menemui istrimu bukan membunuh si bodoh itu!!” Desis Nathaniel marah setelah melayangkan tinjunya ke wajah Benedict hingga terjatuh.

      “Dimana istriku” tanya Benedict memegang dadanya dengan nafas tersedak-sedak bangkit berdiri. Nthaniel mendesah

      “289 10th Ave, New York,Marquee Club. 10 menit dari apartemennya.” Jawab Nathaniel membantu memasangkan kembali selang ke hidung Benedict, kemudian ia membantu memakaikan mantel tebal berwarna hitam  di tubuh pada pria itu.

     Mantel itu panjang hingga batas lututnya dan menggulung kain panjang di leher hingga menutupi selang dan hidung sahabatnya “Suhu udara diluar -5 derajat celcius. Usahakan agar tidak kedinginan dan berusahalah untuk mengendarai mobilmu dengan baik karena malaikat pelindungmu sudah hampir mati di tanganmu sendiri.” Lanjutnya memberikan petuah sambil membukakan pintu mobilnya untuk Benedict.

          Benedict mengabaikan segala ucapan Nathaniel ia hendak menutup pintu mobilnya tapi tangan Nathaniel menghalanginya “Jangan pernah sekalipun melepas oksigen itu dari tubuhmu kau mengerti?” Benedict masih tidak bergeming, ia menarik lagi pintu itu namun lagi-lagi Nathaniel menariknya “Jangan membuat aku menyesal karena berada di pihak Jasmine. Jika kau tidak bisa membujuk istrimu itu. Maka sudah saatnya kau lupakan gadis itu” Benedict menghela nafas mendengar “Lupakan gadis itu” untuk ketiga kalinya, ia menarik paksa pintunya dan terhempas keras. Ia menyetir dan meninggalkan Nathaniel yang masih menatap kepergiannya.

         “Ikuti dia dan jangan biarkan dia melakukan pergerakan yang berlebihan” Perintah Nathaniel pada Bodyguard Sergio yang berjaga.

             *********

          Benedict mengentikan mobilnya tepat di  289 10th Ave, New York. Ia membuka  scarf  yang melingkar di lehernya. Melepas ventilator dan keluar dari mobil, dia hanya diam saat mengenali orang-orang yang mengikutinya dari belakang. Saat memasuki Marquee Club Benedict menyapu pandangannya ke seluruh ruangan.

       Club itu sungguh sesak dan gelap karena hanya lampu laser biru yang memberikan penerangan.Teriakan orang-orang di dancefloor melebur di besarnya musik Dj. Benedict melihat bodyguard Sergio membawakan seorang pelayan kehadapannya, ia sedikit menunduk untuk mendengar informasi yang di berikan wanita itu padanya. “Istri anda di lantai dua tuan,” ucap pelayan wanita padanya. Ia hendak berjalan menariki tangga tetapi Pedro pria tua namun berbadan besar dan bertampang sangar dan tiga bodyguard dari keluarga Eccstlone menghadangnya.

       Benedict memegang dadanya yang kembali terasa sesak karena penuhnya club malam itu. “Namanya Pedro Tuan” ucap Seseorang pria di samping kanan Benedict.

      “Tuan Pedro, Aku hanya ingin membawa istriku pulang tolong jangan paksa aku membuat keributan” ancam Benedict sopan. “Aku mohon” pintanya tulus. Namun Pedro beserta antek-anteknya malah semangkin merapatkan diri. Benedict menutup mata manahan diri, mengatur nafasnya yang masih terasa sesak.

“Kau boleh menyingkirkanku jika istriku nantinya menolakku” pinta Benedict memberikan janji. Pedro seperti tampak berpikir. “Dia istriku! Dia menginginkanku!” Desis Benedict geram.

        Benedict menerobos barisan mereka tanpa ada perlawanan sedikitpun dari pihak Pedro. Ia naik ke lantai dua, lantai itu hanya terliat sebagian lantai untuk orang minum, karena sebagian lantai lagi langsung dapat melihat ratusan orang sedang menari di bawah atau dace floor.

        Lantai dua itu sepertinya sudah di pesan untuk private, karena hanya ada lima orang disana. Lauda, Miley dan dua pria lain yang tidak ia kenal. “Jasmine” gumannya tanpa sadar saat Jasmine terlihat sedang menjauhkan kepala seorang pria pakai sebuah botol. Miley dan Lauda tertawa melihat Jasmine yang mabuk berat namun tetap sadar saat pria itu hendak mencumbunya. “Pergilah brengsek! Keringatmu sangat bau”

       Benedict tersenyum tipis karena dapat melihat kelakuan istrinya lagi. Pandangannya kembali terarah ke Lauda dan Miley Yang membentuk barisan menghadangnya. Mereka menatap ngeri pria yang di belakang Benedict mengarahkan pistol ke arah mereka. Namun tidak membuat mereka mundur sedikitpun. ”Aku tidak perduli bahwa kau adalah Russel Heard. Yang kami tau kau membuat Mine hancur! Dia terus memaki namamu saat mabuk”   Benedict menatap tajam ke mata hazel milik Miley dengan mengatupkan rahang keras.

      Miley dan Lauda bersamaan menelan liur karena dapat melihat pria yang menjadi topik wajib para sosialita Ameria itu dalam jarak sedekat itu. Dari alisnya, bola mata yang biru jernih, hidungnya, kulit yang tidak tampak pori-pori sekecil apapun dan bibir yang pucat seakan memaksa mereka untuk goyah dengan senang hati. “Demi Tuhan Rush kami tidak akan berkhianat dengan Mine hanya karena kau sialan indah!!” ancam Miley serius.

     “Aku merindukannya setengah mati” Ucap Benedict dengan sorotan mata sendu menatap Jasmine yang duduk di sofa. Suara Benedict yang terdengar bergetar membuat Miley dan Lauda tertengun. “Aku tau dia tersiksa menunggu kedatanganku, dia pasti juga merindukanku” Lanjut Benedict terdengar sedih. “aku sangat merindukannya, aku mohon izinkan aku membawa istriku pulang” pintanya melewati Miley dan Luda tanpa perlawanan lagi.

     Benedcit melangkah mendekati Jasmine yang menundukkan kepalanya. Ia berjongkok di hadapan Jasmine, satu lututnya menyentuh karpet hitam di lantai. Tangannya bergerak menyentuh tangan gadis itu lembut namun Jasmine refleks memukulkan botol alkohol merek Martel VSOP yang ada di tangannya ke-kepala Benedict kuat. “Aku katakan jangan menyentuhku brengsek!!” Teriaknya marah.

    Benedict langsung mengangkat tangannya karena melihat para pria berjubah hitam hendak membantunya. Ia mengayungkan jemarinya untuk mengusir mereka. Ia mendesah, mengusap darah kental yang menetes di keningnya.

      Ia menarik paksa botol Martel VSOP  dari tangan Jasmine. Memaksa kepala gadis itu agar menatapnya. Menyingkirkan rambut hitam yang menutupi wajah Jasmine.  “Mine, kau dengar aku sayang? Ini aku” Ucapnya menatap begitu sendu. Jasmine mengerjapkan matanya, mengerjapkannya lagi perlahan.

     “Benedict?” tanyanya pelan menyentuh wajah suaminya gemetar. Benedict menggenggam tangan  istrinya seakan meyakinkan bahwa gadis itu tidak sedang dalam hayalannya. “Iya sayang, ini aku”  jawabnya tersenyum legah.

     “Kau masih hidup?” tanya Jasmine perih meneteskan air mata. Benedict mengangguk sambil tersenyum, air matanya mengalir melihat kepedihan di mata istrinya. Hatinya terasa ter iris perih melihat kehancuran Jasmine tanpa dirinya.

      “Iya sayang. Ini aku Mine” jawabnya mengusap air mata Jasmine dengan jemarinya. Ia merengkuh kepalaJasmine kepelukannya. “Aku merindukanmu sayang, maafkan aku karena terlalu lama menjemputmu, maafkan aku karena terlalu lemah” ucapnya terisak mencium kepala gadis yang amat ia rindukan selama ini.

      “Aku setengah mati merindukanmu Ben” ucap Jasmine ikut menangis, memeluk tubuh suaminya serasa tidak percaya. “Aku rindu dimilikimu Ben. Demi Tuhan aku rindu melihatmu. Aku rindu mendengar suaramu.” rengeknya terisak. Rindu yang teramat menyakitkan mendesak air mata mereka keluar.

     “Iya” Benedict mengangguk lagi “Aku juga sangat merindukanmu Mine” ucapnya mencium mata Jasmine sepenuh hatinya. “ayo kita pulang” ucapnya menggangkat tubuh istrinya dengan mudah. Ia berjalan meninggalkan Miley dan Lauda yang terperangah melihat langsung kekuatan iktan prasaan itu.

      Benedict dapat berjalan dengan mudah di antara orang-orang di club malam itu karena para pengawal keluarga Sande membentuk sebuah barisan untuk mereka. Benedict tidak memperdulikan sedikitpun pada orang-orang yang melihat ingin tau dan blitz kamera yang mengambil gambar mereka, ia juga mengabaikan darah yang mulai mengalir lagi di wajahnya.

         Saat keluar dari club itu ia langsung menempatkan Jasmine yang sudah tak sadarkan diri karena alkohol kedalam mobil, ia memakaikan syal yang ia pakai tadi ke leher istrinya. Waktu hendak menutup pintu tiba-tiba bahunya ditarik kuat dan sebuah pukulan menghantam wajahnya. Benedict terjatuh, belum sempat menyadari apa yang terjadi dengannya, perutnya terasa sakit kerena di injak dengan keras. Saat kaki itu hendak menginjaknya lagi dengan cepat Benedict memegang kaki itu dan mendorongnya kuat.

        Orang yang menyerangnya tiba-tiba tadi terjungkal kebelakang, Benedict berdiri, ia melihat Peter Derulo yang menyerang itu hendak bangkit berdiri namun Benedict langsung melayangkan sepakan kakinya ke kepala pria itu sekuat tenaganya.

       Peter tersungkur jauh, darah keluar dari kedua hidungnya, pandangannya buram melihat Benedict yang seperti kesusahan bernafas mendekatinya.

         Benedict menunduk menarik bajunya dan melayangkan tinjunya keras ke mata pria itu. Tak cukup satu kali, tiga kali pukulan dengan kecepatan yang sama ia layangkan tepat di mata Peter derulo. Lalu melepas dengan mendorong kepala Peter ke aspal yang keras.

      Tangannya kembali memegang dadanya, Benedict berbalik, berjalan kembali ke mobil namun Peter memegut satu kakinya. Benedict menutup matanya kesal “Lepas” perintahnya dingin.

      “Aku tidak akan membiarkanmu menyakiti kekasihku lagi” teriak Peter dengan mulut penuh darah. Secepat kilat Benedict mengangkat satu kakinya hendak kembali menginjak wajah Peter namun Peter menyembunyikan wajahnya di kaki Benedict yang ia pegut. Benedict mendengus kosong. Saat berhasil menarik kakinya dari pegutan Peter. ia berjongkok menepuk pipi Peter pelan.

      “Maaf karena aku melukaimu” ucapnya kesusahan bernafas, uap dingin yang keluar dari mulut pria itu menyapu wajah Peter. “Dia istriku, aku tidak akan menyakitinya” ucapnya berjanji.

      Benedict kelelahan, kakinya tak mampu berdiri, ia terkulai lemas di dekat Peter sambil memegang dadanya. Peter mengerutkan dahi melihat Benedict yang tergeletak menatap angkasa, dadanya naik turun dengan ritme cepat, uap dingin dari mulutnya memperlihatkan bahwa pria itu sangat sulit bernafas.

        Para pria berjubah hitam mendekati Benedict, dengan sigap mereka memasangkan ventilator ke hidung pria itu.  “Tenang tuan jangan panik. Benafaslah dengan hidung anda” ucap pria itu karena Benedict menarik udara sebanyak-banyaknya dengan mulutnya yang terbuka “Bernafaslah dengan pelan ya seperti itu, pelan, pelan.” Ucap pria itu mengusap-usap dada benedict memberi intruksi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *